
Siang ini benar-benar panas, tidak
Cuma cuacanya yang panas,tapi juga kepala dan isinya. Ara benar-benar merasa
pusing memikirkan sikap Agra. Seberanrnya tak yakin dengan yang sedang ia
pikirkan , tapi ia yakin satu hal, pasti dia akan menyimpan semua kisah indah
ini jika memang sudah benar-benar berakhir
Tapi cerita yang di tulis dengan mengorbankan hampir lebih dari
seratus malam bersama.
“aku takut. Takut jika dia benar-benar menghapusnya ....” desah Ara
sambil menikmati siangnya
“mungkin semua akan lebih mudah jika aku bisa menghubungimu ....”
Jam sudah menunjuk ke angka
2 siang, udara yanbg panas menembus kulit, matahari sudah mulai codong ke
barat, Ara sudah siap keluar rumah dengan bebagai persyaratan yang harus di
patuhi
“pak Mun ..., antar saya ya ....” Ara sudah masuk ke dalam mobil
dan duduk di kursi belakang
“kita ke mana nona?”
“kita ke mall aja pak, aku ingin jalan-jalan”
“baik nona ...”
Setelah melakukan perjalanan 30 menit, mobil yang di tumpangi Ara
sudah sampai di depan gedung perbelanjaan, rasa panas di luar gedung segera
tersapu dengan sejuknya ruangan yang menjadi surganya para pecinta belanja
‘pak tolong jaganya dari kejauhan saja ya, aku pengen jalan-jalan
sendiri”
“baik nona ...”
Ara pun segera masuk ke dalam mall dan di ikuti oleh dua pengawal
dan pak Mun dari kejauhan
Ara menyusuri semua tempat belanja, tapi tetap saja tak bisa
mengalihkan pikirannya dari Agra, ia ingin sekali melupakan Agra, melupakan
semua tentang Agra agar jika ia pergi maka dapat pergi tanpa membawa luka
Ia membolak-balikkan kartu ATM yang di berikan Agra, tapi entah
kenapa rasanya enggan ia menggunakan kartu itu
“aku tidak berhak atas semua ini, aku harus segera mengembalikannya,
dan segera menutup cerita ini dengan manis”
Ara menaruh kembali kartunya di dalam tas, ia kembali mengeluarkan
kartu tabungannya sendiri, kartu yang isinya uangnya tak seberapa banyak, tabungan yang seharusnya ia gunakan untuk
menikah dengan Dio
***
Di tempat lain Rendi yang sedang duduk di meja karjanya, kemudian
ia mengingat sesuatu,
“sepertinya ada yang tidak beres ...” gumam Rendi
ia segera mengambil
ponselnya, mencari sesuatu di sana, GPS seseorang, seseorang yang diam-diam
selau ia rindukan, dia hanya selalu bisa memandangi foto profilnya dan
mengetahui keberadaannya dengan GPS
“dia keluar rumah, di daerah mana ini?” saat mengetahui tempat
dalam GPS itu
Kemudian Rendi mencari kontak seseorang dan melakukan panggilan,
seseorang yang pasti tahu dimana orang itu berada
Tut tut tut
“hallo tuan ...” dari seberang sana langsung terhubung tanpa
menunggu lama
“hallo pak Mun ..., apa nona keluar rumah?”
“iya tuan, nyonya dan tuan Salman sudah mengijinkan”
__ADS_1
“apa yang di lakukan nona?”
“sepertinya nona sedang sedih, nona hanya melamun dan mengelilingi
pusat perbelanjaan tanpa membeli apapun di sana tuan”
“baiklah aku akan ke sana ..., tahan dia sampai aku datang”
Tut tut tut
Rendi memutus telponnya sepihak dan segera menyambar jasnya yang
tergantung di sandaran kursi
Rendi menghampiri sekertaris
“Leni ..., jika pak Agra mencari saya, bilang saya sedang keluar
sebentar, ada yang harus saya kerjakan”
“baik pak ...”
Rendi pun tak mau menunggu lama, ia segera berlalu meninggalkan sekertarisnya
***
Ara lagi-lagi hanya keluar masuk tempat belanja tanpa berkeinginan
untuk membelinya, setelah merasa lelah, Ara pun mencari tempat untuk duduk, ia
duduk di kursi panjang di dalam mall sambil menselonjorkan kakinya memijit
ringan di kakinya yang terasa pegal
“mau es krim ....” seseorang menyodorkan secontong es krim, membuat
Ara harus mendongakkan kepalanya supaya bisa tahu siapa dia
“pak Rendi ...”
“kata orang es krim itu bisa memperbaiki mood seseorang ....” Rendi
ikut duduk di samping Ara dan memakan es krim yang lainnya
“makasih ...” ara segera mengambil es krim itu dan memakannya
“apa sekarang mood mu sudah kembali?, kau tak seperti ara yang aku
kenal”
“mu ...? kau ...” Ara heran karena saat ini Rendi tidak bicara
formal lagi padanya
“ya ..., aku ke sini bukan sebagai bawahanmu tapi sebagai temanmu,
ceritakan.....”
“ngomongnya juga banyak
...., wah ini sungguh luar biasa ....” Ara menghembuskan nafasnya keras seakan
menemukan sosok yang berbeda dari seorang Rendi
“jadi bagaimana, apa aku bisa jadi temanmu”
“bisa di pikirkan”
***
Seorang pria dengan setelan jasnya berjalan menghampiri ruangan
yang baru saja di tinggalkan pemiliknya
“maaf pak ..., pak Rendi sedang keluar” kata sekertaris yang tadi
di beri pesan
“kemana dia?” tanyanya heran, karena masih jam kerja Rendi sudah
meninggalkan kantor tanpa sepengetahuannya, seingatnya tak ada acara di luar
kantor siang ini
“katanya ada keperluan sebentar di luar pak”
“mencurigakan sekali”
Pria itu adalah Agra, ia segera mencari ponselnya dan melakukan
panggilan, hingga berulang kali
Tut tut tut
“kenapa dia tak menjawab telponku, apa ada yang lebih penting?”
Seperti yang di lakukan Rendi , ia pun melakukan hal yang sama pada
Rendi, ia melihat lokasi Rendi melalui GPS ponselnya
“di tempat perbelanjaan, ada apa dia di jam kerja seperti ini?”
***
“jadi apa bisa kau bercerita padaku ...?” tanya Rendi lagi sambil
menatap Ara penuh harap
__ADS_1
“aku harus pergi” jawab ara, wajahnya kembali muram kembali ke
beberapa waktu lalu
“pergi kemana?”
“pergi dari hidupnya ..., mungkin ini sudah waktunya, maaf karena
aku tak bisa lagi bersamanya, menjaqganya seperti yang kau minta”
“apa yang membuatmu harus pergi darinya?”
“ada yang lebih pantas bersamanya ...., aku hanya sebagai pengisi
di tempat kosong saja, kita pemiliknya sudah kembali, maka aku harus pergi kan”
“jika aku bilang jangan pergi bagaimana ....?”
“mungkin aku akan tetap memaksa untuk pergi”
‘tapi aku akan memaksamu untuk tinggal”
“kenapa kau suka sekali memaksa .....?”
“itu keahlianku ...., mau es krim lagi ..., aku akan
mengambilkannya untukmu” Rendi berdiri dari duduknya dan menghampiri kedai es
krim dan kembali mengambil dua contong es krim di tangannya
Ia kembali menghampiri Ara dan memberikan satu es krimnya untuk
Ara, mereka memakan es krim sambil tertawa bersama, hari ini Rendi tidak seperti Rendi yang ia kenal
“aku senang, tetaplah tersenyum seperti ini ..., rasanya aku tidak
ingin waktu cepat berlalu ...., seandainya bisa aku ingin terus seperti ini,
berdua saja ..., tanpa ada yang lain ...” batin Rendi
Tak jauh dari mereka menikmati es krim ternyata sudah berdiri
dengan tangan yang mengepal sempurna menahan amarah, dia adalah Agra
“sebegitunya kau tak ingin bersamaku ...., kau sepertinya lebih
nyaman dengan, kau bisa tertawa bersamanya ..., aku mungkin harus melepasmu
...”
Ingin rasanya ia menghampiri mereka dan menarik tangan Ara, tapi ia
tak sanggup, ia lebih memilih pergi dari tempatnya dan melampiaskan
kekesalannya pada dinding di sampingnya
BERSAMBUNG ......
JANGAN LUPA KASIH DUKUNGAN YA
DENGAN MEMBERIKAN LIKE DAN KOMENTARNYA
DAN LAGI VOTE NYA YANG BANYAK YA
BIAR AUTHORNYA NULIS SAMBIL SENYUM-SENYUM BACA KOMENTAR KALIAN
HAHAHA .... SEMANGAT !
__ADS_1