
Di dalam Kamar Pengantin di Hotel Bintang Lima, Jakarta …
Sepasang pengantin baru itu tengah bersantai bersama, duduk sejenak setelah membersihkan dirinya masing-masing. Kanaya tengah melihat beberapa foto yang diambil dengan kamera handphonenya, dia tersenyum begitu saja melihat foto-foto pernikahannya yang baru saja usai beberapa jam yang lalu bersama pria yang kini duduk di sampingnya.
“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Bisma kepada Kanaya yang kini telah menjadi istrinya itu.
Kanaya lantas menunjukkan hasil foto-foto di layar handphone itu kepada suaminya, “Lihat deh … foto-fotonya bagus. Aku mau atur foto yang ini untuk wallpaper handphone aku,” jawabnya dengan tersenyum dan jari-jarinya dengan cepat mengatur foto tersebut sebagai wallpaper handphonenya. “Bagus kan?” ucapnya sembari memperlihatkan lagi wallpapernya yang sudah berganti foto dengan foto pernikahan keduanya.
“Iya bagus … kirimkan fotonya ke aku juga ya, biar aku bisa mengganti wallpaper handphoneku,” ucap Bisma yang juga ingin mengganti layar handphonenya.
Kanaya pun mengangguk, “Sudah aku kirimkan ya ….” ucapnya sembari menunjukkan foto-foto yang sudah dia kirimkan dalam status terkirim.
Bisma lantas mengernyitkan keningnya, melihat layar handphone Kanaya, “jadi di kontak kamu pun, namaku cuma kamu simpan dengan nama Dr. Bisma aja? Formal banget sih, enggak ada manis-manisnya.” ucapan yang terdengar menggerutu, tetapi dalam hatinya Bisma pun ingin menyimpan namanya di dalam kontak handphonenya dengan nama panggilan yang lebih manis mungkin.
“Iya deh, aku ganti … ganti apa ya? Kalau Suami aja gimana?” tanyanya kepada sang suami.
Bisma pun mengangguk, “Iya … Suami aja juga gak apa-apa kok. Itu lebih manis daripada Dr. Bisma.”
Dengan cepat Kanaya pun mengganti nama kontak di handphonenya yang semula dari Dr. Bisma menjadi Suamiku. Baginya sendiri, itu adalah sebuah peningkatan dengan mengganti nama kontak di handphonenya.
__ADS_1
“Sudah aku ganti ya, emang nama aku di handphone kamu apa?” tanya Kanaya tiba-tiba kepada Bisma.
Bisma pun mengambil handphonenya dari atas nakas dan menunjukkan nama yang dia simpan untuk istrinya itu. Tertulis Lovely Kanaya dengan emoticon hati.
Kanaya pun tersenyum melihatnya, “Ternyata seorang Dokter juga romantis juga ya. Dokter Bisma yang romantis …” ucapnya sembari menyerahkan kembali handphone suaminya itu.
Perlahan Bisma pun tertawa, “Kamu ada-ada aja. Hari ini bagaimana perasaanmu Naya?” tanya dengan menatap Kanaya dengan begitu lekatnya.
Gadis yang tengah ditatap pun menjadi salah tingkah. Kanaya perlahan menganggukkan kepalanya, “aku bahagia … sangat bahagia.” akunya dengan penuh perasaan bahwa dirinya memang benar-benar bahagia.
Perlahan Bisma mengikis jaraknya dengan Kanaya, pria itu hanya fokus menatap pada Kanaya. Tidak mempedulikan indahnya kamar presidential suite yang saat ini dia tempati, seluruh retina matanya hanya dipenuhi oleh satu objek dan itu adalah Kanaya.
Perlahan, seolah tidak menunggu waktu lama, Bisma melabuhkan ciumannya di atas bibir Kanaya. Membiarkan ciuman itu layaknya sebuah menu pembuka, menyapa hangat bibir Kanaya yang begitu lembut dan manis. Pria itu memegangi sisi wajah Kanaya dan kemudian memiringkan wajahnya guna mendapatkan posisi yang tepat, kemudian membuat dua lipatan bibirnya menari-nari di atas bibir Kanaya.
Namun, lantaran Kanaya memang tidak memiliki pengalaman berciuman, dalam hidup baru sekali dia berciuman dan itu dengan Bisma, berciuman di bawah guyuran hujan. Gadis itu menjadi gelisah bagaimana dia harus membalas ciuman yang diberikan oleh pria yang kini sudah halal baginya. Menyadari Kanaya yang seolah tidak bereaksi dan justru badannya terasa menegang, perlahan Bisma mengikis sejengkal wajahnya dari wajah Kanaya. Guna melihat wajah Kanaya tentunya, dan di pandangan matanya saat ini yang ada justru Kanaya tampak menunduk, wajahnya merah merona. Menyadari bahwa mungkin saja istrinya itu tidak memiliki pengalaman berciuman, Bisma pun kembali mengikis jaraknya, sedikit latihan akan membuat Kanaya terbiasa. Oleh karena itu, Bisma tanpa permisi kembali menyapa bibir Kanaya, kali ini satu tangan pria itu membelai sisi wajah Kanaya, dan tangan lainnya memegangi pinggang Kanaya yang ramping.
Membiarkan bibirnya bertengger sempurna di tengah-tengah lipatan kedua belah bibir Kanaya. Membiarkan napasnya yang beraroma mint menyapu wajah Kanaya. Hingga perlahan, Bisma membuka sedikit bibirnya dan mulailah dia mengecup, mencecap, dan memagut dengan begitu lembut bibir istrinya yang berwarna pink natural itu.
Sedikit memiringkan kepalanya, Bisma lantas menggigit kecil bagian bibir Kanaya dan lidahnya menerobos masuk. Membiarkan sapuan hangat yang dikirimkan oleh seluruh saraf sensorik di ujung lidah merasakan hangat rongga mulut Kanaya. Ciuman yang justru membangkitkan sisi primitifnya sebagai seorang pria. Yang ada, ciuman yang memperlihatkan bagaimana Kanaya sama sekali tidak berpengalaman itu justru membuat pria itu semakin menggebu dan memperdalam ciumannya.
__ADS_1
Menyapa dengan penuh rasa, membuai dengan penuh hasrat, dan juga membelit dengan lidahnya yang terus merasai manisnya bibir istrinya itu. Perlahan, pria itu lantas meneruskan penjelajahan bibirnya dengan mengecup hingga meninggalkan jejak basah nan hangat di pipi Kanaya, turun lagi menuruni leher Kanaya yang jenjang, hingga tangannya pun turut membelai tubuh Kanaya.
Jangan ditanya lagi, setiap aktivitas yang dilakukan oleh Bisma hanya membuat Kanaya meremang layaknya lampu pijar yang telah dipadamkan, menunggu penuh harap, tetapi juga cemas, hingga sepuluh jari kakinya bergerak layaknya menahan setiap sentuhan dan buaian yang dilakukan oleh istrinya itu.
Sebelum benar-benar kehilangan batas kesadarannya, Bisma berusaha melepaskan kaos yang saat ini dia kenakan, membiarkan tubuh bagian atasnya dengan otot-ototnya yang terpahat sempurna terpampang dengan nyata di sana. Pria itu lantas bergerak dan mengukung Kanaya di bawahnya. Kembali melabuhkan ciumannya, tetapi kini jari jemari pria itu dengan nakal mengusap, membelai, dan bahkan dengan beraninya melepaskan tiga kancing bagian di piyama yang tengah dikenakan Kanaya. Setiap kancing terlepas dari tempatnya, yang dirasakan Kanaya adalah dia bergetar dengan hebat, jantung berdetak semakin tidak karuan.
Menyusuri leher hingga area dada dengan bibirnya, hingga akhirnya, dengan sukses pria itu berhasil melepas piyama yang dikenakan Kanaya. Terpampanglah di sana kain berwarna hitam yang terlihat begitu kontras dengan kulit Kanaya yang putih. Pemandangan di depan matanya justru kian membangkitkan jiwa primitif, tanpa menunggu aba-aba, pria menarik pengait yang berada di belakang punggungnya hingga membuat dua buah persik nan ranum itu menyembul dan membuat Bisma untuk merasai dua buah persik yang begitu menggoda itu.
Membawa satu buah ke dalam rongga mulutnya, dan satunya lagi memegangnya, membelainya, bahkan memberikan cubitan-cubitan kecil yang membuat Kanaya semakin bergerak gelisah di bawah sana. Efek dari kegelisahannya, justru membuat Kanaya menghela napasnya, bagai ada suara yang keluar dari tenggorakannya yang tercekat.
“Bisma …”
Panggilan dari suara nan terdengar indah di telinganya itu justru membuat Bisma kian bersemangat untuk membuai dua buah persik yang ranum dan menggoda itu.
Saat Bisma bergerak turun dan meloloskan kain-kain yang tersisa dari keduanya, terlihat bagaimana Kanaya menegang, tubuhnya terlihat sekali bagaimana Kanaya tampak begitu tegang. Bisma bergerak kian turun, tetapi Kanaya yang di atasnya justru terlihat tegang dan ketakutan.
“Santai Sayang … kenapa kamu terlihat tegang dan ketakutan? Jangan katakan kalau aku ….”
Pertanyaan di sela-sela malam pertama mereka. Pertanyaan yang secara spontanitas yang diucapkan oleh Bisma? Dan itu adalah pertanyaan yang membuat Kanaya menghela napasnya, gemuruh di dadanya dan juga reaksinya dirinya benar-benar membuktikan bahwa Kanaya di atas sana tampak tidak baik-baik saja.
__ADS_1