Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Membawa Aksara ke Singapura


__ADS_3

Pagi hari ini, benar-benar gunakan Kanaya untuk mempersiapkan sarapan untuk Aksara. Wanita itu membuat Omelette telor dan Butter Rice untuk Aksara. Sementara untuk suaminya, Kanaya memilih membuatkan Nasi Goreng Udang.


Pemandangan yang sangat indah, saat Bisma dan Aksara menuruni anak tangga dan segera duduk di meja makan menunggu sarapan yang dibuat sendiri oleh Kanaya. Dalam hatinya, Kanaya pun tersenyum selama empat ini banyak hal yang hilang. Termasuk dirinya yang melewatkan semua tumbuh kembang Aksara di usia emasnya. Akan tetapi, sekarang dia bisa melihat suami dan putranya sama-sama menuruni anak tangga dan menunggu sarapan buatannya.


“Breakfast time,” ucap Kanaya sembari memberikan sarapan untuk Aksara dan untuk suaminya.


“Bunda yang memasak sendiri?” tanya Aksara.


“Iya Sayang, Bunda yang memasaknya. Kenapa?” tanya Kanaya.


Dengan cepat Aksara tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa Bunda, terima kasih,” balas Aksara.


Usai itu, Aksara pun dengan lahap memakan sarapan buatan Bundanya itu. Bahkan Aksara meminta tambah lagi.


“Masakan Bunda benar-benar enak … boleh Aksara tambah lagi Bunda?” tanyanya.


“Iya, boleh dong Aksara … sini, Bunda isiin lagi piring kamu,” jawab Kanaya sembari mengisi piring Aksara dengan Butter Rice.


“Makan yang banyak Aksara, biar kamu tumbuh sehat dan kuat,” sahut Bisma.


“Iya Ayah,” balas Aksara dengan menyantap makanannya.


Hingga akhirnya usai Sarapan, Bisma memilih bermain dengan Aksara. Sementara Kanaya mempersiapkan koper yang akan dia bawa ke Singapura. Hanya koper yang berisi pakaian milik Aksara, sementara pakaian miliknya sudah ada di Singapura.


Membutuhkan waktu sekian jam, hingga akhirnya mereka kini menuju ke bandara. Aksara begitu takjub mengendarai mobil mewah dan membelah Ibukota dengan berbagai gedung-gedung pencakar langitnya. Seakan Aksara begitu heran dan tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.


“Kamu senang Nak?” tanya Bisma kepada Aksara yang saat itu duduk di belakang kursi kemudi.


“Iya Ayah … senang sekali. Mobil Ayah bagus sekali dan semua ini sangat bagus. Gedungnya tinggi sekali,” jawab Aksara.


“Kamu di Panti Asuhan tidak pernah jalan-jalan, Nak?” Giliran Kanaya yang bertanya kepada putranya itu.

__ADS_1


“Jarang sekali Bunda … paling waktu kenaikan kelas dulu, jalan-jalan ke Monas,” sahut Aksara.


Hidup di Panti Asuhan dengan fasilitas yang sederhana memang harus mencukupkan diri dengan keadaan. Kanaya memahami itu, karena Kanaya berasal dari keluarga yang tidak berada. Jadi Kanaya tahu apa yang dirasakan dan dialami Aksara selama empat tahun ini. Kendati demikian ada hal lain yang Kanaya syukuri yaitu mendapati Aksara tetap sehat dan juga bahagia.


Perjalanan pun akhirnya tiba di Bandara Udara Internasional Soekarno - Hatta. Kanaya berjalan dengan menggandeng putranya itu.


“Ini namanya Bandara, Nak … kita akan terbang nanti menaiki pesawat,” jelas Kanaya kepada putranya itu.


“Aksara takut Bunda,” aku Aksara kali ini.


“Tidak perlu takut, Sayang … ada Bunda dan Ayah yang akan selalu menjaga Aksara,” jawab Kanaya.


“Iya Bunda,” balas Aksara.


Ketiganya lantas melakukan cek in dan menunggu di VIP Lounge. Sembari menunggu keberangkatan yang masih satu setengah jam lagi.


“Aksara mau makan atau minum?” tanya Kanaya.


“Tidak Bunda, Aksara tidak lapar …,” balasnya.


“Bunda, Syilla juga ke Singapura loh dengan Ayah Radit dan Ibu Khaira,” cerita Aksara dengan tiba-tiba.


“Oh, ya … mereka bertiga mengunjungi apa di Singapura? Aksara mau mencari mereka?” tanya Kanaya.


“Aksara lupa mereka mengunjungi tempat apa, Ibu hanya pamit waktu itu akan mengajar di sana,” balas Aksara.


“Ya sudah, nanti sepulang dari Singapura, kita ke Panti Asuhan yah … kita belikan cokelat untuk teman-teman kamu di Panti Asuhan dan belikan hadiah untuk Syilla yah?” balas Kanaya.


“Iya Bunda, Syilla suka Putri Aurora … nanti Bunda belikan yah,” pinta Aksara.


“Iya, nanti Ayah dan Bunda belikan buat Syilla,” balas Kanaya.

__ADS_1


Hingga akhirnya, waktu boarding pun tiba. Bisma, Kanaya, dan Aksara segera menuju ke pintu keberangkatan dan menaiki pesawat. Ini adalah pengalaman pertama bagi Aksara untuk menaiki pesawat. Jadi Kanaya dan Bisma bersiap untuk mendampingi putranya itu ketika di dalam pesawat nanti.


“Pesawatnya besar ya Bunda?” tanya Aksara begitu menaiki pesawat dengan warna putih biru itu.


“Iya Sayang … badan pesawatnya memang besar. Aksara takut?” tanya Kanaya.


“Lumayan Bunda … Aksara belum pernah naik pesawat sebelum ini, tetapi Syilla pernah. Katanya naik pesawat itu kita seperti terbang,” jawabnya.


Bisma pun tersenyum dan mengusapi puncak kepala putranya itu, “Itu benar Aksara … nanti kalau Aksara takut, pegang tangan Ayah saja yah,” ucapnya.


“Iya Ayah,” jawab Aksara.


Hingga waktunya untuk lepas landas. Pramugari mengisyaratkan kepada penumpang untuk mengenakan sabuk pengalaman, menegakkan sandaran dan membuka jendela. Pesawat mulai berjalan, rodanya menapaki tanah dengan perlahan hingga berjalan begitu cepat, badan pesawat pun perlahan terangkat ke udara. Posisi penumpang di dalam pesawat terkadang miring ke kanan, terkadang miring ke kiri, hingga rasanya hati benar-benar berdesir.


Di saat itulah, Aksara menggenggam tangan Ayahnya dengan begitu erat, “Menyeramkan Ayah,” ucap Aksara.


“Tenang saja, Nak … ada Ayah,” balas Bisma.


Hingga akhirnya mencapai posisi dan ketinggian yang stabil di udara, Aksara menghela nafas panjang dan mulai melepaskan genggaman tangannya. Aksara melihat ke jendela pesawat terlihat bagaimana angkasa berwarna biru dengan awan-awan putih yang bergerombol, di bawah terlihat lautan yang biru dan pulau-pulau yang tampak mengambang di tengah-tengah lautan. Tentu ini adalah pengalaman berharga untuk Aksara.


“Rasanya seperti terbang, Ayah … tepat seperti yang Syilla ceritakan,” ucapnya dengan tersenyum lebar.


“Iya Aksara, seru kan pengalaman naik pesawat,” respons Bisma.


“Iya seru … Aksara suka,” balasnya. “Berapa lama kita terbangnya, Ayah?” tanya Aksara lagi.


“Kurang lebih dua jam, Aksara. Kamu mau tidur?” tanya Bisma.


Dengan cepat Aksara pun menggelengkan kepalanya, “Tidak Ayah, Aksara tidak mau tidur. Aksara senang. Makasih Ayah sudah mengajak Aksara naik pesawat. Akhirnya Aksara bisa merasakan seperti yang Syilla ceritakan,” ceritanya kini.


"Ayah juga senang bisa melakukan banyak hal untuk kamu, Nak," jawab Bisma.

__ADS_1


"Ini benar-benar seperti terbang di antara awan-awan. Sekarang Aksara tidak takut. Aksara senang," katanya kali ini. Bahkan beberapa kali Aksara begitu takjub bagaimana moda transportasi udara itu bisa terbang begitu tinggi di angkasa.


Rasanya hati Bisma benar-benar bahagia. Bisa memberikan kebahagiaan untuk putranya sendiri setelah waktu empat tahun berlalu membuat dirinya berbahagia dan beruntung. Berbahagia karena Allah masih memberikan waktu yang baik, dan beruntung karena dia bisa menjadi sosok Ayah yang memberikan kebahagiaan untuk putranya itu.


__ADS_2