
Menjelang sore hari, pasangan pengantin baru itu memilih cek out dari hotel dan mulai kembali pulang ke kediaman Bisma. Ini pun menjadi kesempatan bagi Kanaya menginap di rumah mertuanya itu.
“Ayah, Bunda … kami pulang.” ucap Bisma begitu memasuki rumahnya itu. Pria itu berjalan dengan tenang sembari menggandeng tangan Kanaya memasuki rumahnya.
“Sudah pulang? Kenapa enggak lanjut saja istirahat di hotelnya kan bisa pulang besok.” ucap Bunda Hesti sembari tertawa. Tentunya dia hanya menggodai anak dan menantunya itu. Bahkan sebagai seorang ibu, dia sangat senang karena Bisma sudah menemukan pendamping hidupnya. Ada Kanaya yang membuat hati anaknya itu tampak begitu berbahagia.
Sementara Kanaya wajah seketika menjadi merah, begitu malu rasanya berhadapan dengan mertuanya. Sekalipun dirinya sudah sah menjadi pendamping Bisma, tetapi rasanya begitu malu sekali. Sehingga Kanaya menatap wajah Bunda Mertuanya dengan tersenyum dan seolah bersembunyi di belakang punggung suaminya.
“Iya … kalian kan bisa istirahat dulu di sana. Lagipula kan masih capek … capek setelah kemarin akad dan resepsi sekaligus.” Giliran Ayah Tirta yang berbicara dan tertawa melihat wajah malu-malu dari Bisma dan juga Kanaya.
“Sudah Ayah, jangan digodain terus. Kasihan Naya …” ucap Bunda Hesti yang memperhatikan wajah Kanaya yang bersemu merah.
“Sana Bisma, Kanaya diajak ke kamarmu. Istirahat dulu aja.” lanjut Bunda Hesti yang menyuruh Bisma untuk membawa Kanaya masuk ke dalam kamarnya.
Tanpa menunggu waktu lama, Bisma pun membawa Kanaya masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya kaki Kanaya masih begitu sakit untuk berjalan, tetapi ternyata Bisma sangat perhatian, pria itu pun juga memperlambat langkah kakinya dan berjalan menyamai langkah kaki Kanaya. Jika tidak ada Ayah dan Bundanya, sudah pasti Bisma akan langsung membopong Kanaya memasuki kamarnya, tetapi karena ada Ayah dan Bundanya, niatnya itu dia urungkan.
“Ini kamarku, Sayang …” ucap Bisma begitu membuka pintu kamarnya.
Ranjang berukuran queen size dengan meja belajar, lemari penyimpanan, dan kamar mandi dalam. Dari balik jendela kamar itu terdapat balkon yang penuh dengan tumbuhan hijau. Kamar pria itu begitu sederhana, tetapi terlihat classic dan juga nyaman.
__ADS_1
Begitu telah menutup kembali pintu kamarnya, Bisma tanpa ragu segera membopong Kanaya. Tindakan tiba-tiba yang membuat Kanaya memekik dan melingkarkan kedua tangannya ke leher suaminya itu.
“Aku tahu, kaki kamu masih sakit kan? Tadi, aku ingin menggendongmu seperti ini, tapi kamu pasti menolak karena ada Ayah dan Bundanya.” ucapnya kemudian mulai berjalan perlahan memasuki kamarnya, “Mau duduk di ranjang atau di sofa itu?” tanyanya dengan menunjuk dengan menggunakan dagunya.
“Di sofa aja.” jawab Kanaya dengan cepat.
Tanpa menunggu waktu lama, Bisma pun mendudukkan Kanaya di sofa dengan ukuran cukup besar dan panjang itu. “Sudah … kamu mau minum, biar aku ambilkan di bawah?” tawarnya kepada Kanaya.
Dengan cepat Kanaya menggelengkan kepalanya, “Tidak … tidak usah. Aku malu kalau suamiku yang melayaniku. Tidak enak sama Ayah dan Bunda.” jawabnya yang memang merasa sungkan dengan Ayah Tirta dan Bunda Hesti. Seharusnya seorang istrilah yang melayani suami bukan? Sehingga Kanaya merasa tidak enak apabila dilayani oleh suaminya.
Bisma pun tertawa, “Tidak apa-apa, Ayah dan Bunda kan ya pasti tahu keadaan kita.” jawabnya sembari duduk di samping Kanaya.
Anggukkan kepala yang diberikan Bisma menjadi sinyal bahwa Kanaya pun bisa mengajukan pertanyaan, “Euhm, ini tentang kita. Usai menikah bukankah kita harus menata masa depan kan? Lalu, bagaimana dengan kita berdua? Usai menikah kita tinggal di sini bersama Ayah dan Bunda atau bagaimana?”
Mendengar pertanyaan dari Kanaya, Bisma pun tersenyum, “Jangan khawatir … aku sudah mempersiapkan semuanya. Kalau sendiri, bagaimana kalau kita tinggal di apartemen saja dulu? Aku seorang Dokter dan kamu wanita karier, mengurus apartemen dengan memanfaatkan weekend untuk cleaning day keliatannya tidak merepotkan bukan?” tanyanya kepada Kanaya.
“Bagaimana dengan rumahku?” tanya Kanaya lagi. Pertanyaan yang dilatarbelakangi dengan bahwa dia pun memiliki rumah. Rumah peninggalan dari orang tuanya.
“Mumpung kita berdua sedang membahasnya, bolehkah aku mengatakan rencanaku?” tanyanya kemudian kepada Kanaya.
__ADS_1
Kanaya mengangguk dan berkata, “Iya … tentu boleh.” sahutnya singkat.
“Rencanaku, selama masih tinggal berdua, kita bisa tinggal di apartemenku. Jaraknya tidak jauh dari Jaya Corp dan dari Rumah Sakit tempatku bekerja. Nanti setelah kita memiliki anak, kita membangun rumah sebagai tempat tumbuh kembang bagi anak kita nanti. Terus, aku berencana meminta izinmu, aku mau meminta izin untuk menjadikan rumahmu itu sebagai Apotek dan tempatku praktik sebagai Dokter Spesialis Anak. Bagaimana?” ceritanya kepada istrinya itu terkait dengan rencana masa depannya.
Tentu sebuah rencana yang dia sharingkan dengan Kanaya, tanpa bermaksud untuk memaksakan kehendaknya.
“Apa mungkin, rumahku bisa menjadi Apotek dan tempat praktik?” Tanyanya kepada sang suami.
“Bisa … lantai satu untuk Apotek dan lantai dua sebagai tempat praktik. Itu pun kalau kamu setuju.” ucapnya dengan menatap wajah istrinya.
Menimbang-nimbang, Kanaya pun tidak mengira bahwa suaminya memiliki pemikiran yang sedemikian rupa. Cita-cita yang mulia tentunya. Kanaya pun lantas mengingat bahwa suaminya adalah seorang Dokter, seorang yang membagi hidupnya untuk orang lain. Mengingat kembali ucapan suaminya saat melamarnya dulu, Kanaya pun mengangguk, “Oke … boleh. Rumah itu bisa kamu gunakan untuk Apotek dan tempat praktik Dr. Bisma Adi Pradana, S.Pa …” ucapnya dengan memberikan senyuman dan ada rasa bangga di dalam hatinya.
Rasa bangga karena suaminya memang adalah pribadi yang lain dan juga tak ragu untuk membagi hidupnya, karena itulah Kanaya dengan sukarela mengizinkan suaminya itu untuk mencapai kariernya dan juga melayani masyarakat.
“Terima kasih Sayang … kamu sudah mensupport aku. Jika kamu keberatan, aku bisa menyewa rumah itu per tahun.” ucapnya yang tentu hanya sebatas menggoda sebenarnya.
Kanaya pun balas tertawa, satu tangannya terulur begitu saja dengan menyentuh tangan suaminya, “Aku akan dengan senang hati menerima biaya sewanya, karena menggunakan rumahku itu biaya sewanya sangat mahal … kamu harus membayar untuk selalu hidup bersama si pemilik rumah ini. Bagaimana?”
“Sudah pasti Naya Sayang … aku akan selalu hidup bersamamu, mendampingimu. Aku akan tanggung jawab penuh kepada si pemilik rumah ini.” balasnya sembari merangkul bahu Kanaya.
__ADS_1
Ada perasaan lega di sana saat bisa mengatakan rencananya dengan Kanaya. Membagi dan menata masa depan di sana. Selanjutnya kedua sama-sama berharap bahwa apa yang sudah mereka berdua rencanakan akan selalu diridhoi oleh Allah. Sebab, sepandai-pandainya manusia berusaha, tetaplah kehendak Allah semata yang terjadi. Ada rasa harap bahwa Allah akan senantiasa meridhoi rencananya.