Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Pernikahan Penuh Haru


__ADS_3

Mengingat bahwa Sandra tengah berbadan dua, maka Darren mencoba menghubungi Papa Jaya melalui telepon dari Rumah Tahanan. Dia meminta izin kepada petugas Rumah Tahanan untuk bisa menghubungi Papa Jaya. Kali ini, karena dia pun ingin memberikan kabar yang cukup mendesak.


“Halo Papa …,” sapa Darren kepada Papanya melalui panggilan telepon itu.


“Ya, ini kamu, Darren? Ada apa?” tanya Papa Jaya kepada Darren.


“Pa, sebelumnya aku minta maaf kepada Papa, karena aku harus menyampaikan kabar yang kurang enak. Pa … Sandra sedang hamil anakku,” cerita Darren secara to the point kepada Papa Jaya.


Di seberang sana, Papa Jaya tampak menggelengkan kepala. Sebab, bagi seorang Jaya Wardhana apa yang disampaikan Darren barusan sangatlah tidak masuk akal. Hampir 2 tahun, Darren mendekam di penjara dan bagaimana bisa anaknya itu menggumuli Sandra. Sehingga, Papa Jaya pun tertawa, tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Darren


“Jangan bercanda, Darren. Bagaimana bisa Sandra hamil anakmu, jika kamu sendiri mendekam di rumah tahanan,” bentak Papa Jaya yang masih merasa apa yang disampaikan oleh Darren sangatlah tidak masuk akal.


Akan tetapi, disambungan telepon itu, Darren kembali berbicara, “Semuanya benar, Pa … hari saat aku berada di Rumah Sakit, kami bertemu dan hal itu terjadi. Sehingga sekarang Sandra tengah berbadan dua.” Kali ini Darren mengatakan dengan jujur kepada Papanya. Tidak ada yang dia tutupi, karena saat dirinya dirawat di Rumah Sakit, memang terjadi sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.


Papa Jaya pun memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening, “Bagaimana bisa kamu melakukan itu Darren? Tindakanmu benar-benar tidak bermoral.”


Ada rasa marah dan kecewa yang menyeruak di dalam dada Papa Jaya, bagaimana bisa putranya yang ditahan dan sakit di Rumah Sakit justru bisa menggumuli Sandra. Membayangkannya saja, Papa Jaya tidak bisa.


“Semuanya terjadi begitu saja, Pa … jadi, tolong nikahkan kami berdua Pa,” pinta Darren kali ini kepada Papa Jaya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Darren yang tidak main-main, maka Papa Jaya segera meminta orang kepercayaannya untuk segera menyiapkan pernikahan antara Darren dan Sandra. Ada orang suruhannya yang akan mendaftarkan pernikahan kedua bagi Darren ini secara agama, selanjutnya Papa Jaya akan menemui Kepala Rumah Tahanan untuk meminta izin melakukan pernikahan di Rumah Tahanan tersebut.


***


Keesokan Harinya …


Seolah dikejar waktu, Papa Jaya menuju Rumah Tahanan tempat Darren ditahan. Di sana Papa Jaya hendak menemui kepala Rutan tersebut dan meminta izin untuk menggelar pernikahan antara Darren dan juga Sandra.


“Selamat Siang Pak Anthony,” sapa Papa Jaya kepada Kepala Rutan yang bernama Anthony itu.


“Ya, siang Pak Jaya. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Pak Anthony kepada Papa Jaya.


“Jadi, saya meminta izin untuk menyelenggarakan pernikahan atas nama anak saya, Darren.” Papa Jaya akhirnya mengatakan maksud kedatangannya itu.


Pak Anthony pun tampak mendengarkan penjelasan dari Papa Jaya. Sehingga dia pun mulai bersuara, “Baik. Tidak masalah Pak Jaya. Lagipula, memang pernikahan itu adalah hak semua orang, termasuk mereka yang berada di dalam tahanan. Akan tetapi, kamu hanya bisa memberikan izin untuk sebatas melaksanakan Akad Nikah saja. Jika lebih dari itu, mohon maaf tidak bisa.” Kali ini Pak Anthony yang menjelaskan peraturan perihal menikah di dalam rumah tahanan.


Papa Jaya pun mengangguk, dia akan menerima apa yang sudah dijelaskan oleh Kepala Rutan tersebut. Setidaknya, Darren dan Sandra akan mengikat pernikahan yang sah secara agama dan negara. Bagi Papa Jaya, itu sudah cukup untuk sekarang ini.


***

__ADS_1


Dua Pekan Kemudian …


Sandra yang sesungguhnya merasakan ngidam, dengan badannya yang merasa kurang sehat dan lemas. Akan tetapi, wanita itu memaksakan dirinya untuk mengenakan sebuah Kebaya Putih dengan sanggul sederhana. Untuk make up di wajahnya pun, Sandra meriasnya sendiri. Pikirnya jika pernikahannya hanya sebatas akad, maka dirinya tidak perlu heboh merias diri.


Menatap pantulan dirinya di cermin, Sandra kemudian meneteskan air matanya.


Tidak kusangka, aku akan menikah di dalam Rumah Tahanan. Hari bahagia, justru menjadi hari yang kelabu bagiku. Tidak ada hiasan bunga yang meriah, yang ada hanya sebatas meja panjang dan penghulu. Pernikahan yang tidak akan pernah kulupakan dalam hidupku, karena di sebuah Rumah Tahanan hari yang sakral ini akan terjadi.


Usai itu, Sandra kemudian dijemput oleh supir dari pihak keluarga Wardhana yang membawanya menuju Rumah Tahanan di mana Darren ditahan.


Tepat seperti bayangan Sandra sebelumnya, tidak ada dekorasi pernikahan, tidak ada karangan bunga, tidak ada suara riuh dari tamu undangan, lagu pengantar pernikahan pun tidak ada. Yang ada hanyalah, di sebuah Mushola di Rutan tersebut, terdapat sebuah meja dengan Darren yang hanya mengenakan Jas Hitam tanpa dasi, dan penghulu yang hadir. Ada pula Papa Jaya, Mama Sasmita, Gisell, dan juga Gibran yang tampak bersiap di belakang Darren. Ada pula Mama Sandra dan Papa tirinya yang turut menghadiri akad nikahnya siang itu.


Perlahan Sandra berjalan, dan duduk di sebelah Darren. Wanita itu hanya menunduk, jikalau boleh berkata jujur, dirinya sangat merasakan pilu saat ini.


Hingga akhirnya, Mama Sasmita memasangkan veil, sebuah kerudung dari kain lace berwarna putih bersih menudungkannya kepada Sandra dan Darren. Kemudian, Penghulu yang bertugas memulai membacakan Undang Undang pernikahan, dilanjutkan dengan Paman Sandra yang adalah adik mendiang Ayah kandungnya yang menjabat sebagai wali nikah menjabat tangan Darren.


“Saya nikahkan, dan saya kawinkan, engkau Darren Jaya Wardhana dengan Sandra Angelina binti Darmawan dengan emas kawin dan seperangkat alat sholat, tunai.”


Darren tampak menghela napas sejenaknya, kemudian dia mengambil napas dalam-dalam dan mulai berbicara, “Saya terima nikah dan kawinnya, Sandra Angelina binti Darmawan dengan emas kawin dan seperangkat alat sholat, tunai.”

__ADS_1


Inikah akad kali kedua bagi Darren, dalam satu tarikan napas dia berhasil mengucapkan Ijab kabulnya dengan begitu lancar. Detik itu juga, dia resmi menyandang status dari seorang suami. Tidak menyangka bahwa hubungan keduanya yang putus sambung, kemudian terjalin hanya sebatas untuk sebatas penghangat ranjang, terjadi pengkhianatan, dan hanya karena permainan singkat selama 15 menit di Rumah Sakit, keduanya bersatu dalam sebuah pernikahan sakral yang terikat bukan hanya secara negara, tetapi juga terikat di hadapan Allah.


__ADS_2