Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Hari ini tiba waktunya bagi keluarga Pradhana untuk kembali ke Jakarta. Mereka kini sudah berada di Changi International Airport. Jika dulu mereka datang hanya dengan membawa tiga koper berukuran besar, kini mereka pulang ke Jakarta dengan membawa hampir tujuh koper. Tentu koper yang lain adalah berisi beraneka oleh-oleh yang akan mereka bagi-bagikan di Jakarta nanti.


Kembali ke Changi, rasanya Kanaya teringat dengan keluarga kecil yang dia temui di Changi Jewel Waterfall dulu. Kanaya mengingat-ingat mungkinkah itu adalah keluarga Raditya yang telah menolong Aksara selama empat tahun terakhir.


“Kenapa Sayang, kok bengong?” tanya Bisma yang memperhatikan istrinya yang sedang melamun itu.


“Enggak sih Mas … dulu kan aku pernah bertemu dengan keluarga muda yang begitu harmonis di sini. Aku berpikir mungkinkah mereka adalah keluarganya Arsyilla yang sudah menolong Aksara selama ini,” jawab Kanaya.


“Semua kemungkinan itu ada Sayang … hanya saja kita tidak tahu apakah mereka adalah orang yang sama atau tidak,” balas Bisma.


Memang tidak dipungkiri bahwa dalam hidup ini selalu saja ada kemungkinan, hanya saja mereka tetap tetap harus mempertimbangkan apakah mereka adalah sosok yang sama. Kali ini Bisma menunjukkan bahwa dia selalu berpikir dengan logikanya.


“Bunda, kenapa Bunda? Kenapa Bunda terlihat sedih?” tanya Aksara kali ini.


Rupanya Aksara pun memperhatikan Bundanya yang kali ini terlihat melamun. Aksara tumbuh menjadi anak yang perhatian, sehingga dia langsung tahu Bundanya tengah memikirkan sesuatu.


“Tidak Aksara … Bunda hanya memikirkan sesuatu. Hari ini, kita pulang ke rumah kita lagi ya Aksara,” balas Kanaya.


Dengan cepat Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya Bunda … jangan lupa untuk menyekolahkan Aksara nanti ya Bunda,” pinta Aksara kali ini.


“Tentu Sayang … Ayah dan Bunda akan mencarikan Homeschooling yang bagus untuk kamu,” balas Kanaya.


Mendengar ucapan Aksara tentang sekolah, barulah Kanaya dan Bisma memiliki PR yang harus segera mereka kerjakan yaitu mencari sekolah untuk Aksara. Pendidikan Homeschooling menjadi pilihan Kanaya dan Bisma kali ini. Selain itu, Aksara pun tidak keberatan untuk bersekolah di rumah dengan menggunakan Homeschooling. Walaupun saat di Panti Asuhan, dirinya duduk di Sekolah Dasar Negeri, bersama orang tuanya Aksara tidak keberatan jika harus sekolah dari rumah.


Waktu boarding pun tiba, Kanaya, Bisma, dan Aksara kini menuju ke ruang tunggu dan menanti saat tiba masuk ke dalam pesawat. Kali ini, Aksara juga terlihat senang akan kembali menaiki pesawat. Jika beberapa orang merasa takut saat harus menaiki pesawat, Aksara justru terlihat bahagia. Dulu, di Panti Asuhan Aksara hanya bisa melihat pesawat yang melintas di angkasa, meninggalkan bunyi yang membuatnya dan teman-temannya berlari keluar dan melambaikan tangan untuk pesawat terbang. Sekarang, Aksara bisa memiliki pengalaman sendiri dengan menaiki pesawat. Semua terasa menyenangkan.


Sampai sekarang mereka berada di dalam pesawat. Waktu untuk lepas landas pun tiba. Kanaya membantu Aksara untuk mengenakan sabuk pengamanan. Wanita itu memilih duduk di dekat Aksara.


“Aku duduk sama Aksara ya Mas,” ucap Kanaya kali ini.

__ADS_1


“Iya, tidak apa-apa. Lagipula hanya dua jam,” balas Bisma.


“Berapa lama pesawatnya terbang Bunda?” tanya Aksara.


“Dua jam penerbangan, Nak … nanti kita turun di bandara lagi,” balas Kanaya.


Pesawat yang mereka tumpangi pun perlahan-lahan berjalan, melaju dengan kecepatan penuh hingga akhirnya badan pesawat mulai naik ke udara dan terbang perlahan-lahan di udara.


Dari udara terlihat Garden By The Bay dan Marina Bay Sands. Pulau Singapura yang terlihat mengapung di tengah-tengah lautan biru.


“Bunda … itu Marina Bay Sands,” ucap Aksara dengan menunjuk melalui jendela pesawat di sampingnya.


“Iya Sayang … itu juga ada Singapore Eye. Indah kan?” tanya Kanaya.


“Iya … indah. Setelah pulau Singapura yang terlihat merah dari udara itu pulau apa Bunda?” tunjuk Aksara lagi.


“Oh, itu pulau Batam, Nak … Batam dan Singapura hanya dipisahkan oleh Selat Singapura saja. Bahkan Bunda dulu pernah ke Singapura melalui Batam dengan menaiki kapal Ferry. Hanya satu jam perjalanan,” cerita Kanaya kali ini.


“Iya … Bunda pernah dua tahun tinggal di Batam,” sahut Kanaya.


“Wah, keren Bunda … rupanya Bunda pernah tinggal di kota Batam,” sahut Aksara kini.


Dengan mengobrol dan bercerita dengan Aksara, hingga tidak terasa perjalanan sepanjang dua jam akan berakhir. Pesawat mulai mengurangi ketinggiannya di udara, perlahan menukik, berputar, dan akhirnya mengambil posisi untuk landing.


“Alhamdulillah … akhirnya sudah tiba di Jakarta dengan selamat,” ucap Kanaya kali ini.


“Kalau tidak capek, besok ke Panti Asuhan ya Bunda?” ajak Aksara kali ini.


“Iya Aksara … kalau tidak capek. Kalau capek, kita kesananya di lain hari yah?” respons Kanaya kini.

__ADS_1


“Iya Bunda … kalau tidak capek saja,” balas Aksara.


***


Beberapa jam kemudian …


Kanaya, Bisma, dan Aksara sudah tiba di kediaman mereka lagi. Rumah ini akan menjadi lingkungan tumbuh kembang bagi Aksara. Rumah yang tidak akan lagi sepi karena sekarang ada Aksara yang akan tinggal bersama mereka.


“Kalau capek istirahat dulu, Aksara,” ucap Kanaya yang membantu putranya untuk memasuki kamar tidurnya.


“Iya Bunda … agak pusing tadi naik pesawat,” jawab Aksara yang kali ini mengeluh pusing karena usai naik pesawat dari Singapura ke Jakarta.


“Minum air hangat dulu, Nak … sehabis itu untuk tidur,” jelas Bisma kini. Bahkan tanpa diperintah, Bisma sudah mengambil air putih hangat untuk Aksara dan membantu Aksara untuk minum. Pria itu terlihat begitu telaten dan menyayangi Aksara.


“Makasih Ayah …,” balas Aksara usai meminum air putih hangat itu.


Aksara memilih untuk tidur dan beristirahat, sementara Kanaya dan Bisma pun juga beristirahat di dalam kamarnya.


“Lega sudah sampai di rumah lagi,” ucap Kanaya kini.


“Iya … apalagi sekarang rumah kita tidak akan lagi sepi karena ada Aksara,” balas Bisma.


Kanaya perlahan menganggukkan kepalanya, “Iya Mas … aku senang dan lega tentunya karena Aksara sudah bersama kita. Kita akan membuat kenangan indah bersama dengan Aksara. Jangan lupa mencarikan Homeschooling yang bagus buat Aksara, Mas,” pinta Kanaya kini kepada suaminya.


“Iya, aku pasti carikan Homeschooling yang bagus untuk Aksara. Tenang saja Sayang … aku bisa kamu andalkan,” balas Bisma kali ini.


“Oh, iya … besok Aksara minta diantar ke Panti Asuhan, Mas … mau membagikan oleh-oleh buat teman-temannya,” ucap Kanaya.


Bisma pun menganggukkan kepalanya, “Iya, kalau kamu dan Aksara tidak capek … pasti aku aku antarkan ke sana. Lagipula kerjaku masih hari Senin nanti,” balas Bisma.

__ADS_1


Rasanya hati Kanaya dan Bisma begitu lega karena sekarang mereka berdua bisa merenda masa depan dengan Aksara. Tentunya mereka ingin membingkai hari-hari indah dan penuh dengan perencanaan yang matang dengan Aksara.


__ADS_2