Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Hangatnya Pelukan Orang Tua


__ADS_3

Membawa pulang Aksara kembali ke rumah rasanya seperti mimpi bagi Bisma dan Kanaya. Sebab, empat tahun bukanlah waktu yang sebentar. Empat tahun itu sangat lama. Berapa purnama mereka terpisah dari Aksara, dan tidak mendapatkan kabar dari putranya itu. Sekarang putranya sudah berada di rumah. 


Bagi Aksara sendiri memang membutuhkan waktu untuk beradaptasi lagi. Bagaimana pun setelah empat tahun berlalu, rumah orang tuanya begitu asing baginya. Itu pun terjadi karena Aksara sudah mulai nyaman tinggal di Panti Asuhan Kasih Ibu bersama Bu Lisa dan teman-temannya yang lain. 


"Aksara selama ini di Panti Asuhan senang?" tanya Kanaya perlahan kepada putranya itu. 


"Iya, senang Bunda. Di sana Aksara tidak kesepian. Bu Lisa sangat menyayangi Aksara. Juga Aksara punya banyak teman yang sudah seperti saudara. Lalu, di Panti Asuhan juga, Aksara bisa bertemu dengan Ayah Radit, Ibu Khaira, dan Arsyilla. Mereka menyayangi Aksara," cerita Aksara malam itu bersama Kanaya. 


Kanaya sendiri pun tampak berkaca-kaca, mendengarkan cerita Aksara. Setidaknya, hatinya lega saat Aksara tinggal di tempat yang layak selama ini. Aksara tumbuh dalam lingkungan yang kondusif. Sekalipun waktu telah berlalu, banyak hal yang dilewatkan Kanaya, tetapi mendapati Aksara masih hidup dan sehat adalah kebahagiaan tersendiri baginya. 


Juga, Kanaya mensyukuri bahwa kini Aksaranya bisa berbicara banyak hal kepadanya. Sungguh, Kanaya rasanya benar-benar bersyukur hari ini. 


"Alhamdulillah, Bunda sangat bersyukur karena Aksara mendapatkan kasih sayang dari banyak orang yang mengasihi dan menyayangi Aksara. Lalu, Aksara bisa bertemu Ayah dan Bunda senang tidak?" tanya Kanaya kepada putranya itu. 


Pertanyaan yang klise memang, tetapi setidaknya Kanaya bisa mengetahui perasaan Aksara sekarang ini. 


Perlahan Aksara pun menganggukkan kepalanya, "Senang Bunda, tetapi Aksara masih bingung," jawabnya dengan jujur. 


Kanaya pun menyadari itu. Sebab, mereka berdua telah terpisah untuk waktu yang lama. Jadi, ketika orang tua dan anak bisa bertemu kembali rasanya membuat Aksara begitu bingung. 


"Tidak apa-apa, Nak ... nanti perlahan Aksara tidak akan bingung lagi. Oh, iya Sayang ... besok Aksara ikut Bunda dan Ayah ke Singapura mau?" tanya Kanaya kepada putranya itu. 


"Sekolahnya Aksara bagaimana?" tanya Aksara. 


"Sekolah dari rumah dulu saja, Sayang," balas Kanaya. 


Perlahan Aksara pun menganggukkan kepalanya, "Ya Bunda ... Aksara mendengar cerita Arsyilla juga baru dari Singapura. Dia naik pesawat ke Singapura," cerita Aksara kepada Bundanya. 

__ADS_1


"Besok kita naik pesawat ke Singapura ya Aksara ... kita tinggal di sana sebulan. Setelah itu, kita kembali lagi kemari. Okey?" ucap Kanaya. 


"Iya, Bunda," sahut Aksara. 


Lantaran hari sudah begitu malam, Aksara pun tampak beberapa kali menguap. Menyadari bahwa Aksara telah mengantuk, Kanaya lantas mengajak Aksara untuk tidur. 


"Malam ini kamu bobok sama Ayah dan Bunda dulu yah. Kami kangen banget sama kamu," ucap Kanaya. 


"Iya Bunda, tidak apa-apa. Di Panti Asuhan, Aksara tidur sendiri Bunda karena sudah besar. Sudah SD, jadi berani bobok sendiri," balasnya. 


Kanaya perlahan pun tersenyum, "Iya, nanti Aksara boleh bobok sendiri, tetapi sekarang bobok sama Ayah dan Bunda dulu yah. Kami kangen sama kamu," jelas Kanaya. 


Sebab, yang diinginkan Kanaya sekarang ini adalah bisa memeluk Aksara. Kerinduan yang mendalam selama empat tahun terpisah, membuatnya seakan dahaga. Oleh karena itu, untuk mengobati dahaganya Kanaya ingin memeluk putranya itu sepanjang malam. Bahkan Kanaya dengan lembut mengusapi puncak kepala Aksara dengan penuh kasih sayang. 


Seusai Aksara tertidur, Kanaya sedikit bersandar di head board, wanita itu tersenyum menatap putranya yang sudah terlelap. 


"Aku bahagia karena istriku ini benar-benar tersenyum dengan tulus. Tidak ada paksaan," ucap Bisma dengan tiba-tiba. 


Bisma pun mengusapi puncak kepala istrinya, "Aku bahagia melihatmu bahagia seperti ini. Sekarang Aksara sudah bersama dengan kita. Jadi, mari kita jaga bersama-sama. Jangan teledor lagi. Kita tidak pernah tahu kejahatan mengintai Aksara, tetapi kita harus waspada Sayang. Aku tidak mau kehilangan Aksara lagi dan aku juga tidak mau melihat dirimu yang hancur."


Semua yang dikatakan Bisma ada benarnya, kehilangan Aksara membuatnya hancur dan merana. Bukan karena Aksara, tetapi juga Kanaya. 


Perlahan Kanaya pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mas, kita jaga Aksara sebaik mungkin. Makasih sudah selalu mendampingiku bahkan di hari-hariku yang kelabu," ucap Kanaya. 


"Aku akan selalu mendampingi kamu, Sayang. Seumur hidupku, aku akan selalu mendampingi kamu," balas Bisma dengan sepenuh hati. 


Lantas Bisma sedikit mendekatkan wajah, pria itu lantas melabuhkan kecupan bibirnya di kening Kanaya. Mengecupkan untuk beberapa saat lamanya. 

__ADS_1


"Percayai aku, selamanya aku akan selalu mendampingimu," ucapnya kali ini. 


Kanaya pun meneteskan air matanya, suaminya selama ini memang selalu mengatakan akan mendampinginya, tetapi Kanaya bisa melihat dan merasakan bahwa Bisma benar-benar membuktikan ucapannya. 


"Sekarang tidur yuk, besok kita akan kembali terbang ke Singapura mengajak Aksara juga," sambung Bisma. 


Kanaya pun menganggukkan kepalanya, wanita itu lantas merebahkan dirinya di atas tempat tidur, kali ini bukan dada bidang suaminya yang menjadi sandaran kepalanya. Akan tetapi, Kanaya memilih memeluk putranya itu. 


"Aku peluk Aksara dulu ya Mas," ucap Kanaya kali ini dengan tersenyum. Tentu sebuah kalimat yang klise, karena biasanya Kanaya selalu tertidur dengan memeluk suaminya itu.


"Iya, aku juga memeluknya," balas Bisma. 


Sebab bukan hanya Kanaya saja yang tengah memeluk Aksara, melainkan Bisma pun juga turut memeluk Aksara. Bisma pun sangat merindukan Aksara dan ingin memeluk putranya itu sepanjang malam.


Keduanya pun memeluk Aksara yang tidur di tengah-tengah mereka dan memejamkan matanya dengan tersenyum. 


***


Keesokan harinya ...


Kanaya membuka matanya dengan tersenyum melihat putra dan suaminya yang masih tertidur. Wanita itu mengusapi puncak kepala Aksara yang masih terlelap dan mengecup kening putranya itu. 


"I Love U, Aksara," gumam Kanaya dengan lirih. 


Setelah itu Kanaya memilih turun ke dapur. Pikirnya akan membuatkan sarapan untuk Aksara. Ini karena hari pertama Aksara di rumah ini, sekalipun hanya sehari dan sore nanti mereka akan kembali terbang ke Singapura, tetapi Kanaya ingin membuatkan sesuatu untuk putranya itu. 


Bahkan Kanaya menolak bantuan dari ART nya karena ingin membuatkan sarapan bagi Aksara dengan tangannya sendiri. 

__ADS_1


"Kamu datang benar-benar membuat hidup Bunda kian berwarna, Aksara. Bunda berdoa semoga kebahagiaan ini akan bertahan selamanya," ucap Kanaya. 


Sungguh saat Sang Kuasa membolak-balikan situasi dan keadaan manusia hanya bisa mengikutinya. Manusia hanya bisa menjalani Skenario Ilahi. Namun, ada harapan yang Kanaya pinta supaya kebahagiaan dengan kembalinya Aksara ini akan selalu abadi.


__ADS_2