Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Momen Terindah


__ADS_3

Satu anggukan yang diberikan oleh Kanaya cukup untuk Bisma melanjutkan aktivitasnya. Satu anggukan yang selayaknya sebuah lampu hijau bagi Bisma, maka karena lampu hijau itu sudah menyala, yang harus Bisma lakukan sekarang ini adalah dengan menuntaskan misinya.


Entah apa lantaran bobot badan Kanaya yang seringan kapas, atau memang Bisma yang terlampau kuat sehingga pria itu kembali mengangkat pinggang Kanaya guna mengangkatnya kembali, kali ini pria itu berjalan bergerak menuju tempat tidur yang berada di kamar itu. Seolah geloranya sedang membara, karena Bisma membawa Kanaya sembari melabuhkan ciuman yang memburu di bibir istrinya itu. Bukan sebatas sapaan yang lembut, tetapi Bisma menggigit, hingga menghisap lidah istrinya itu. Ciuman yang begitu memburu hingga membuat keduanya terengah-engah.


Begitu telah sampai di tempat tidur mereka, Bisma lantas mendudukan Kanaya dengan begitu hati-hati. Pria itu kemudian membuka polo shirt yang dia kenakan, menampilkan pahatan dengan otot-otot liat di sana. Penampilan yang membuat Kanaya tertunduk, seolah dirinya sesak napas melihat suaminya saat ini. Bisma tersenyum, kemudian bergerak dengan cepat dia mengukung Kanaya di bawahnya.


“Kamu masih takut?” tanya perlahan.


“Iya, aku takut.” ucap Kanaya. Entah, rasanya rasa sakit saat pertama kali melakukan penyatuan dengan suaminya, membuatnya merasakan sakit yang mengakibatkan rasa takut untuk mengulanginya lagi.


Bisma kemudian menghela napasnya, dan tangannya merapikan untaian rambut di kening Kanaya, “Memang pengalaman pertama itu sakit. Namun, setelah beberapa kali mencoba, semua rasa sakit akan hilang.” jawabnya dengan tenang.


“Benarkah?” tanya Kanaya seolah ingin kembali mendapatkan kepastian.


Suaminya itu lantas mengangguk, “Benar … mungkin akan sakit satu hingga dua kali, tetapi selebihnya justru tidak akan sakit lagi.” jawabnya.


“Kamu tahu dari mana? Sebelum denganku apa kamu pernah mencobanya?” tanya Kanaya yang kini justru tampak berkaca-kaca.

__ADS_1


Helaan napas terdengar dari hidung Bisma, “Lihat aku, Naya … apa ada kebohongan di mataku? Sudah pasti aku tahu, aku ini seorang Dokter. Saat kuliah dulu, aku juga belajar reproduksi hingga bagian psikiatri. Kamu yang pertama bagiku. Serius.” jawab Bisma dengan menatap kedua bola mata Kanaya. Mengisyaratkan bahwa dirinya sangat serius dengan ucapannya sekarang ini.


“Aku bisa mempercayaimu?” tanya Kanaya lagi.


Bisma pun menganggukkan kepalanya, “Percayai aku, Sayang.”jawabnya dengan sangat serius dan sungguh-sungguh.


Kanaya menatap wajah suaminya itu dan berusaha untuk mengamati benarkah ada keseriusan dan kejujuran di sana. Saat dirinya benar-benar yakin, Kanaya lantas mengangkat sedikit wajahnya, kemudian dia mendaratkan kecupan di bibir suaminya itu.


Cup.


Bisma menarik napasnya dalam-dalam, sebelum mulai menyapa kembali bibir ranum milik istrinya itu. Menyadari bahwa pengalaman keduanya mungkin masih akan membuat istrinya merasakan sedikit sakit, Bisma berniat untuk menyapa dua lipatan bibir yang seolah telah menjadi candunya itu dengan perlahan. Menciumnya dengan sepenuh hati, menyapu perlahan dengan ujung lidahnya, dan menggerakkan bibirnya seirama. Membiarkan bibirnya membuai istrinya itu, berharap ciuman mereka bisa membuat Kanaya lebih rileks tentunya.


Sungguh-sungguh ciuman yang memabukkan, hingga tanpa Kanaya sadari, dirinya mengeluarkan decakan saat suaminya itu mencumbunya dengan begitu dalam. Saat dia merasa terengah-engah, suaminya terus melabuhkan bibirnya di sana. Justru Bisma sama sekali tidak keberatan jika harus membagi napasnya dengan istrinya. Seolah cukup puas bermain-main dengan bibir istrinya yang begitu manis, pria itu lantas mengecup leher istrinya. Kecupan yang hangat dan basah, tetapi kemudian pria itu menghisapnya hingga meninggalkan tanda merah di sana. Merasakan untuk pertama kali hisapan di leher, Kanaya memeluk dengan erat tubuh suaminya itu.


Dari leher, ciuman itu perlahan turun ke tulang belikat wanita itu, hingga tanpa Kanaya sadari bahwa Bisma telah melepaskan kancing baju Kanaya dari tempatnya, keduanya dia meloloskan baju yang dikenakan Kanaya begitu saja. Lantas, dia melepaskan pengait dari punggung Kanaya, pemandangan buah persik yang begitu ranum tampak menggoda matanya, karena itu dengan cepat Bisma membawa satu buah persik untuk dia cicipi, masuk dalam rongga mulutnya yang hangat.


Semua yang dilakukan suaminya itu benar-benar membuat Kanaya menutup matanya dengan begitu dramatis. Tak mampu melihat dengan mata terbuka apa saja yang sudah dilakukan suaminya itu atas tubuhnya, gelenyar yang asing kembali menyapa dirinya. Membuatnya menekuk kesepuluh jari kakinya dan menelungkungkan badannya ke atas. Ya Tuhan, Kanaya sungguh tidak mengira bahwa dirinya akan kembali merasakan rasa yang begitu asing, tetapi sekaligus nikmat di saat yang bersamaan.

__ADS_1


Hingga lantas, pria itu meloloskan semua benang yang menempel pada tubuh keduanya, pria itu mengecup pusar Kanaya, sebuah kecupan yang membuat Kanaya bergerak gelisah. Seolah-olah ribuan kupu-kupu menghinggapi perutnya. Tidak berhenti, nyatanya Bisma justru semakin menjelajahi tubuh istrinya itu dengan bibirnya. Tidak peduli bagaimana istrinya memekik, tetapi Bisma justru merasa inilah caranya untuk memuja satu-satunya wanita yang dicintainya itu.


Merasa bahwa Kanaya telah siap, perlahan pria itu merapatkan dirinya dengan istrinya dengan kedua tangannya yang memegangi pinggang Kanaya. Memasukkan miliknya perlahan, sudah begitu pelan, nyatanya Kanaya masih saja kaget dengan rasa yang dia alami. Bisma menunggu sebentar, membiarkan istrinya siap dan tenang, barulah dia mulai bergerak perlahan. Cawan surgawi milik istrinya yang benar-benar memabuknya. Baru beberapa kali dia menghujam dan bergerak seirama, pria itu sudah memejamkan matanya dan menggeram.


“Astaga, Sayang …” ucapnya disertai dengan geraman yang begitu dalam dan parau.


Sementara Kanaya hanya mencengkeram sprei di bawahnya. Gerakan seduktif suaminya benar-benar membuatnya limbung, seolah nyawa tercabut dari dirinya. Rasa asing yang memang berganti dengan rasa nikmat, hingga peluh keduanya mulai keluar. Disertai dengan semakin dalamnya hujaman dan hentakan, hingga seolah Bisma tak mampu lagi bertahan. Pria itu dengan cepat menjatuhkan badannya di atas tubuh istrinya. Tubuh keduanya sama-sama bergetar saat keduanya sama-sama merasakan pelepasannya.


“Kamu membuatku benar-benar gila Sayang, aku cinta kamu.” ucap pria itu sembari memeluk istrinya dengan begitu erat kemudian mengecup kening istrinya dengan penuh cinta.


Menstabilkan sejenaknya deru napasnya, perlahan Bisma membuka matanya dan melihat wajah istrinya dengan bibir yang membengkak karena ulah perbuatannya. “Masih terasa sakit?” tanyanya lagi.


Dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, Kanaya menggeleng, “Enggak, cuma aku jadi lemes banget.” ucapnya dengan napas yang begitu kepayahan dan terdengar terengah-engah.


Bisma lantas tersenyum dan menangkup kedua wajah istrinya, "Ya sudah istirahat dulu, kalau tenaganya sudah pulih. Kita mulai lagi ya?" ucapnya sembari terkekeh.


Sementara Kanaya menatap suaminya itu dengan tatapan horor. Belum ada lima belas menit, peperangan mereka berakhir, tetapi dia sudah berkata mulai lagi. "Ya Tuhan, yang benar saja Pak Dokter." gerutu Kanaya sembari mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2