
“Malam ini menginap di sini ya Sayang?” bisik Bisma kepada istrinya itu saat Kanaya telah duduk di sampingnya.
Tanpa menunggu waktu lama, Kanaya pun mengangguk. “Iya Mas … tadi Bunda Hesti juga sudah minta ke aku waktu di dapur. Katanya besok pagi, aku mau diajakin masak bareng.” jawab Kanaya yang juga setengah berbisik kepada suaminya itu.
“Pekerjaan di Jaya Corp lancar ya Nay?” kali ini giliran Ayah Tirta yang bertanya kepada Kanaya.
Hingga Kanaya yang semula matanya beradu dengan netra suaminya, kini dia melihat Ayah Mertuanya yang duduk di hadapannya. “Iya Ayah … lancar.” jawab Kanaya dengan singkat.
“Akan ada tender untuk pembangunan Sirkuit di Batam ya? Ayah dengar mulai ada beberapa mitra yang menawarkan kerja sama dengan Jaya Corp sebagai konsultan perencanaan nanti.” tanya Ayah Tirta yang juga seorang pengusaha dan mitra bisnis Jaya Corp.
“Sirkuitnya akan dibangun di Bintan, Yah … tetapi masih belum jelas. Prosesnya masih panjang mulai dari pembebasan lahan dan lain sebagainya.” jawab Kanaya yang memberitahukan bahwa tahapan untuk pembangunan sirkuit itu masih sangat lama.
Ayah Tirta pun mendengarkan jawaban Kanaya itu dengan sesekali menganggukkan kepalanya. Setelahnya Bunda Hesti turut bergabung dengan mereka di ruang keluarga. Mulailah banyak obrolan yang disampaikan satu sama lain, hingga tidak terasa jam sudah menunjukkan waktu 21.00.
“Ya sudah … sana kalian istirahat. Ibu hamil jangan begadang.” Ayah Tirta kali ini menyerah mereka berdua untuk segera istirahat.
Sudah pasti tanpa disuruh pun Bisma akan dengan senang hati membawa istrinya itu untuk kembali masuk ke dalam kamarnya. Mereka kembali bernostalgia saat masih menjadi pengantin baru, memasuki kamar ini dan melihat buku angkatan tahunan saat mereka masih sama-sama SMA.
__ADS_1
Memasuki kamar itu, Kanaya pun berjalan pelan-pelan dan duduk di tepi ranjang yang berukuran Queen size itu. Tangan bergerak mengusap-usap permukaan bed cover yang berwarna abu-abu itu. Merasakan kelembutannya dan dia membawa kedua bola matanya untuk mengelilingi setiap sudut kamar suaminya di rumah mertuanya itu.
Hingga perlahan, Bisma melepas kemeja yang dikenakannya, dan hanya mengenakan sebuah kaos berwarna hitam polos. Pria itu kemudian duduk di samping istrinya.
“Kenapa? Hmm.” tanyanya sembari menyandarkan kepalanya di bahu istrinya. Menghirup wangi vanilla yang begitu lembut dari tubuh istrinya itu.
Kanaya pun menggeleng, satu tangannya bergerak untuk menyentuh sisi wajah suaminya itu. “Cuma liat-liat kamar kamu, sapa tau aku menemukan jejak-jejak mantan pacar kamu dulu.” ucap Kanaya dengan tertawa.
“Tidak pernah ada mantan di dalam kamusku Sayang … pertama kali menjalin hubungan dengan wanita itu hanya sama kamu. Pacar pertama sekaligus menjadi pendamping hidupku.” wajahnya. Kali ini justru pria itu menggerak-gerakkan kepalanya di bahu istrinya dan sesekali meninggalkan kecupan di leher istrinya.
Sudah tidak perlu ditanyakan lagi, hanya sebatas pergerakan kepala di bahunya dan kecupan di lehernya saja sudah membuat Kanaya meremang. Berusaha menghela napas, saat bibir hangat suaminya kembali mengecup leher hingga pundaknya.
Akan tetapi, Bisma seakan enggan mendengar perkataan Kanaya, pria itu justru menarik sedikit kaos yang dikenakan Kanaya di bagian bahunya hingga terlihat sedikit bahu polos di sana. Pria itu menggerakkan bibirnya, mengecup dan sedikit mengigit bahu itu.
“Ssshhsss, Mas.” Kanaya pun bagai terpekik dengan tindakan tiba-tiba dari suaminya itu.
Bisma kemudian mendongakkan wajahnya untuk bisa menatap wajah istrinya itu, dan satu tangannya meraih sisi wajah istrinya dan juga bersemu merah di sana. “Just relax Sayang …” ucapnya sembari tangannya bergerak menyusuri wajah, bibir, hingga leher istrinya.
__ADS_1
Sebelum kian bergerak, Bisma terlebih dahulu berdiri dan mengunci pintu kamarnya dan kemudian dia memadamkan lampu di kamar itu, hanya menyalakan lampu tidur yang membuat suasana justru menjadi remang-remang. Pria itu kembali duduk tangannya mulai membelai lagi sisi wajah istrinya, gerakan yang halus, dan jari telunjuknya menyentuh bibir yang begitu ranum itu, mengusap lipatannya atas dan bawah. Lalu, tangan itu kembali bergerak untuk menyentuh area lengan dan leher istrinya dengan begitu lembut, sembari sorot matanya yang terus terfokus menatap wajah istrinya yang memerah dan beberapa kali istrinya tampak menghela napasnya.
Lalu, pria itu mengikis jaraknya dengan istrinya. Kemudian menjatuhkan kecupannya di area dagu dan leher istrinya, jari-jari tangannya bergerak untuk melepaskan kaos yang dikenakan istrinya itu. Menariknya ke atas, hingga hanya menyisakan sebuah bra berwarna hitam yang terlihat sangat kontras dengan kulit istrinya yang putih bersih. Tangannya kembali bergerak dan meremas satu buah persik yang tampak begitu menggodanya itu. Satu remas yang justru membuat Kanaya melenguh, seolah-olah tenggorokannya pun tercekat.
Namun rupanya, Bisma masih ingin bermain-main dengan istrinya itu. Tangannya kini bergerak melepaskan pengait di punggung istrinya, hingga kedua buah persik itu pun menyembul sempurna dari tempatnya. Tanpa menunggu lama, Bisma lantas memasukkan buah persik ke dalam rongga mulutnya. Menghisapnya, menggigitnya, dan satu tangan yang lain bergerak meremas buah persik itu. memberikan cubitan-cubitan kecil yang membuat Kanaya menelungkungkan punggungnya.
Memahami posisi istrinya yang kurang nyaman, pria itu lantas membaringkan istrinya dan mengukung titisan Hawa itu di bawahnya. Kembali mencumbu dan tangannya bergerilya untuk mengusap bahkan membelai ke segala arah. Benar-benar sebuah pergerakan yang meluruhkan seluruh benteng pertahanan Kanaya.
Hingga dalam sekian menit berjalan, keduanya benar-benar dalam keadaan polos mutlak. Hangat tubuh mereka dan peluh seakan bermunculan dengan sendirian, disertai dengan mata yang terpejam seolah menggugah gairah yang tertahan dari keduanya. Ketika pria itu merasakan inti tubuh istrinya telah basah, mulailah dia sedikit mengangkat paha istrinya. Melesakkan dirinya untuk menyatu sepenuhnya dengan istrinya itu. Bergerak seirama seolah dentingan alunan rapsody mengalun dengan indah bagi keduanya.
Merasa terombang-ambing dalam pusara kian yang seolah menyedotnya untuk kian jatuh, Kanaya pun mencengkeram punggung suaminya. Beberapa kali bahkan wanita itu menggigit punggung suaminya.
"Mas ... ya Tuhan." lirihnya saat napasnya pun kian terengah-engah.
"Ah, Naya Sayang ... Astaga." geram Bisma yang terus melakukan invansi guna menyatukan dirinya sepenuhnya. Menjajah sepenuhnya, tubuh yang berbaring di bawahnya.
Gerakan yang kian cepat, akhirnya membuat pria itu menggeramnya dan tak kuasa untuk kembali bertahan. Hancur sudah benteng pertahanannya dengan napas yang memburu dengan hebatnya dan pria itu menjatuhkan dirinya di atas tubuh istrinya. Mencerukkan kepalanya di lipatan leher istrinya.
__ADS_1
Menunggu hingga deru napasnya stabil, pria itu pun terengah-engah. "Aku cinta kamu Sayang ... I Love U More." ucapnya dengan lirih.
"Aku juga cinta kamu, Mas ..." Sahut Kanaya di sisa-sisa napas yang dia hirup kini. Wanita itu memejamkan matanya dan memeluk suaminya itu dengan begitu eratnya.