Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Bertemu Keluarga Muda Bahagia


__ADS_3

Sudah beberapa hari Kanaya dan Bisma tinggal di Singapura. Bisma fokus dengan pelatihan yang dia ikuti, sementara Kanaya pun fokus dengan pekerjaannya di Jaya Corp. Beberapa hari berlalu begitu saja, karena keduanya hanya memindahkan pekerjaan dari Jakarta ke Singapura saja. Sehingga Kanaya dan Bisma pun sama-sama sibuk.


Ketika akhir pekan tiba, Kanaya berinisiatif mengajak suaminya itu untuk jalan-jalan menikmati keindahan kota Singapura.


"Mas, jalan-jalan yuk," ajak Kanaya kepada suaminya itu.


"Mau kemana?" tanya Bisma.


"Ke Jewel Changi Waterfall. Mau?" tanya Kanaya lagi.


Bisma pun kemudian menganggukkan kepalanya, "Oke, tapi kita naik transportasi publik tidak masalah kan?" tanya Bisma.


Sebab di Singapura, mereka hanya pendatang. Tidak membawa mobil sendiri, sehingga jika ingin kemana-mana, mereka harus menggunakan transportasi publik seperti MRT atau bus, bisa juga memesan Taksi Online.


"Iya Mas, gak apa-apa. Aku asalkan sama kamu, mau aja sih," jawab Kanaya.


Bisma pun tersenyum menatap wajah istrinya yang beberapa kali masih terlihat sayu dan Kanaya pun nyatanya juga kian kurus karena kehilangan bobot tubuhnya. Akan tetapi, ada yang membuat Bisma begitu bersyukur karena Kanaya terus berjuang dan mengobati dirinya sendiri. Membangkitkan semangat untuk diri sendiri itu tidak mudah, dan Kanaya berhasil sudah sampai bisa menyemangati dirinya sendiri.


Siang itu, Bisma dan Kanaya memilih menggunakan taksi dari apartemennya menuju ke Changi International Airport. Lantaran lalu lintas di Singapura yang tidak macet, hanya membutuhkan waktu 15 menit bagi keduanya untuk tiba di Changi International Airport.


“Mau beli sesuatu?” tawar Bisma kepada istrinya.


Semua itu dikarenakan Changi bukan sekadar bandara udara, tetapi juga sebagai pusat belanja, kuliner, dan juga wisata. Sehingga kali ini, Bisma dan Kanaya bukan hanya ingin bepergian, tetapi bisa berjalan-jalan, berwisata, berbelanja, bahkan menikmati berbagai kuliner yang dijajakan di sana.


“Aku mau ke Jewel Changi Waterfall, Mas,” sahut Kanaya.

__ADS_1


Jewel Changi Waterfall merupakan air terjun dalam ruangan (indoor) tertinggi di dunia yang memiliki ketinggian 40 meter. Air terjun ini berada di tengah-tengah jewel dan dikellilingi taman dan hutan buatan yang sangat cantik. Air terjun yang sebenarnya bernama The Rain Vortex ini merupakan destinasi wisata bagi para pelancong yang mencari suasana indoor dengan konsep yang berbeda di Singapura.


Setibanya di sana, Kanaya tampak menikmati air terjun yang begitu megah itu. Sesekali menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan, ditambah alunan musik instrumen yang begitu lembut, membuat Kanaya seakan melakukan relaksasi di sana. Saat Kanaya tengah duduk-duduk menunggu suaminya yang sedang ke toilet. Kanaya melihat keluarga muda yang sedang asyik mengitari area Jewel Changi Waterfall, dan Mamanya yang masih kelihatan masih muda tampak menunggu suami dan putrinya itu.


"Anaknya berusia berapa tahun ya? Lucu banget ya,” tanya Kanaya kepada wanita muda yang duduk tidak jauh darinya.


"Sudah 3 tahun," jawab wanita muda itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Khaira.


"Anaknya lucu dan pandai ya, mengingatkan saya sama anak saya,” jawab Kanaya yang tiba-tiba menunjukkan wajah pilu saat melihat keseruan Arsyilla, putri dari Khaira itu.


Khaira yang semula fokus memperhatikan Arsyila, kini mulai memperhatikan pada wanita yang tengah duduk di sebelahnya itu. "Maaf, anaknya sekarang di mana Bu?" tanya Khaira dengan begitu sopan, takut jika melukai atau membuka luka lama pada wanita tersebut.


Nampak kedua bola mata wanita itu berkaca-kaca. "Anak saya hilang ... tepatnya diculik. Sudah hampir 4 tahun saya mencari keberadaannya. Rasanya saya hampir gila setiap hari mencari anak saya."


"Maaf, anak itu kira-kira usia berapa? Peristiwa penculikan itu terjadi di mana?" Khaira bertanya lagi dengan nampak hati-hati.


Wanita cantik itu berusaha mengulas senyuman, sekalipun hatinya teriris perih untuk mengingat kembali hari kelabu yang pernah dia alami. "Empat tahun yang lalu dan itu terjadi di Jakarta, Bu. Sekarang mungkin anak saya sudah berusia 7 tahun." ucapnya.


"Euhm, saya hanya berharap anak saya masih hidup. Di mana pun dia berada, saya berharap anak saya hidup dengan sehat dan bahagia. Di lain waktu, jika Tuhan berkehendak, semoga saya bisa bertemu kembali dengannya," balas Khaira dengan turut berdoa di dalam hatinya berharap Tuhan akan berbelas kasihan dan akan mempertemukannya kembali dengan putranya.


Tampak menganggukkan kepalanya. "Saya berharap, di mana anak itu berada, anak Ibu akan tetap sehat dan bahagia. Semoga di hari yang baik, Ibu dan keluarga bisa kembali bertemu dengan anak Ibu. Doa saya tulus untuk Ibu." sahut Khaira dengan tulus. Hatinya pun terasa bergetar saat dia mengucapkan perkataannya. Terlebih bagi Khaira, seorang anak akan selalu menjadikannya lebih sensitif.


"Terima kasih banyak Bu... Jika boleh tahu, nama Ibu siapa? Keliatannya Ibu masih sangat muda ya." tanya wanita yang memang menebak bahwa Khaira masih sangat muda.


Bagaimana tidak, Khaira menikah di usianya yang menginjak angka 20an tahun, belum selesai kuliah dan dia sudah menikah. Memang dia menjadi seorang Mama di usia yang muda.

__ADS_1


"Saya Khaira ... iya, itu karena belum selesai kuliah saya sudah menikah dengan suami saya. Nama Ibu siapa?" tanya Khaira yang bertanya nama wanita asing yang berbagi cerita dengannya saat ini.


"Saya Kanaya, Bu ... ibu bisa memanggil saya Naya, saja," balasnya.


"Ah, Bu Kanaya ... jika boleh tahu anak itu laki-laki atau perempuan? Saya sungguh berharap hari yang baik itu akan tiba dan Ibu bisa kembali bertemu dengan anak Ibu," ucap Khaira dengan perlahan.


"Amin ... terima kasih. Itu juga doa saya setiap harinya. Namun, di satu sisi saya bersyukur Suami saya selalu mendukung saya, memotivasi saya untuk bangkit. Dia adalah support system saya," balas Kanaya


Khaira mengangguk perlahan, dia tahu pasti seberapa besarnya dukungan dan dorongan yang diberikan oleh seorang suami. Sebab, Khaira pun merasakan di fase-fase hidupnya, ada tangan kokoh suaminya yang selalu siap mengulurkan tangannya, menopang, bahkan memeluk erat dirinya. Suaminya adalah support system-nya.


"Benar sekali, beruntung karena suami selalu mendukung Ibu. Semoga tidak lama lagi, anak Ibu akan segera ditemukan. Siapa namanya Bu?"


"Namanya Aksa, Bu ... demikianlah saya memanggilnya. Amin ... doakan ya Bu, lain kali saya bisa segera bertemu dengan putra saya tersebut."


Khaira pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Pasti Bu ... pasti saya berdoa untuk Ibu."


Baru saja Kanaya hendak kembali berbicara kepada Khaira nampak Radit dan Arsyila yang sedang berjalan ke arahnya. "Mama ayo beli roti lapis Ma ... Beli cokelat juga di sana, sekalian kita beli oleh-oleh untuk Kak Aksara ya Ma...." ucap Arsyila yang menginterupsi pembicaraan Mamanya.


Sehingga dengan cepat Khaira pun berpamitan dengan Kanaya, “Maaf Bu … saya duluan ya. Itu anak saya sudah mengajak untuk membeli Subways. Saya duluan ya Bu … senang bisa bertemu dengan Ibu,” pamit Khaira.


Kanaya itu seketika mengerjap dan membuka lebar telinganya saat mendengar seorang gadis kecil yang tidak lain adalah anaknya Khaira itu menyebut tentang Kakak Aksara. Jantungnya berdegup begitu kencang, saat dia berjalan hendak mengejar Khaira beserta keluarganya yang sudah terlebih dahulu berjalan, sayangnya pria yang tidak lain adalah suaminya menghentikannya dengan satu tangan meraih pundaknya.


"Ada apa? Hmm. Kenapa kamu terlihat begitu panik? Kening kamu berkeringat dan sekarang tanganmu terasa begitu dingin?" tanya sang suami kepadanya.


Sontak Kanaya menggelengkan kepalanya. "Ah, tidak apa-apa ... kupikir, aku akan mendapatkan jejak Aksa."

__ADS_1


__ADS_2