Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Firasat Buruk


__ADS_3

Sore harinya seperti biasanya, Bisma tampak sudah berdiri di Lobby, Pria itu terlihat dengan sabar menunggu istrinya akan turun dari ruangannya, dan senyuman kepadanya saat mata mereka saling bersitatap di lobby. Sore hari menjadi hari yang manis bagi Bisma dan Kanaya.


Akan tetapi, yang terjadi sekarang ini berbeda. Saat Kanaya keluar dari lift, wajah istrinya itu terlihat sendu dan lesu, bahkan senyuman yang Kanaya berikan kepada suaminya terlihat seperti sekadar formalitas. Dalam hati sebenarnya Bisma bertanya-tanya, tetapi pria itu lebih memilih untuk memberikan waktu bagi Istrinya. Sebab, Bisma sangat tahu bagaimana Kanaya, wanita itu akan bercerita kepadanya saat hatinya sudah siap.


Di dalam mobil pun Kanaya lebih banyak diam, seakan-akan pikirannya begitu penuh. Bisma yang sedang mengemudikan mobilnya pun tangan kirinya bergerak dan menggenggam erat tangan Kanaya dan menaruh di atas pahanya.


“Kamu kenapa? Baru satu hari bekerja full kok keliatannya udah pusing banget gitu?” tanya Bisma.


Kanaya kemudian tersenyum, “Enggak apa-apa kok Mas, cuma pusing aja. Kerjaan banyak,” ucapnya.


Bisma kemudian menatap wajah istrinya, sedikit meremas tangan istrinya yang tengah berada di dalam genggamannya. Berusaha menyalurkan kekuatannya dan bukti bahwa dia akan selalu bersama dengan Kanaya, “Yakin, tidak ada yang lain?” tanya Bisma kemudian.


Lagi-lagi Kanaya menggeleng samar, “Iya,” jawabnya lirih.


Merasa bahwa memang Kanaya sedang tidak ingin bercerita, Bisma hanya diam. Pria itu masih berusaha mengendalikan stir mobilnya dengan satu tangan. Tangan kirinya menggenggam tangan Kanaya, dan terkadang dia membawa tangan itu dan mencium punggung tangannya dengan kecupan-kecupan hangat.


Begitu tiba di rumah, Kanaya benar-benar harus mengendalikan dirinya saat ini dan dia seperti biasanya bermain dengan Aksara terlebih dahulu. Wajahnya yang semula lesu, mulai terulas senyuman di wajahnya.


Bisma cukup lega sebenarnya, Aksara benar-benar menjadi moodbooster bagi Kanaya. Bisma berharap bahwa suasana hati Kanaya akan benar-benar membaik. Tentu, Bisma juga masih menunggu Kanaya yang akan bercerita kepadanya. Kendati tidak ingin memaksa, tetapi Bisma tetap menunggu dan ingin tahu apa yang sebenarnya dialami istrinya itu.

__ADS_1


Hingga menjelang malam, Bisma pun duduk di samping istrinya itu. Tangannya bergerak mengusapi puncak kepala istrinya, “Kamu kenapa? Kok diem aja sih sejak pulang dari perusahaan tadi?” tanyanya.


Bisma tidak ingin menerka-nerka lagi, dia ingin langsung berbicara dengan Kanaya. Mendengarkan cerita dan keluh kesah dari Istrinya. Lagipula, Bisma tidak pernah keberatan dan selalu memberikan telinganya untuk mendengarkan apa pun yang dihadapi Kanaya.


Kanaya beringsut dan dia segera menatap wajah suaminya, “Aku punya firasat buruk,” ucapnya.


Hanya mengucapkan satu kalimat saja, air mata Kanaya sudah berlinangan di sana. Seakan hatinya begitu pilu. Sekadar menyampaikan isi hatinya saja, Kanaya sudah menangis dan terisak.


Melihat istrinya yang terlihat begitu kesakitan, Bisma pun lantas merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya, “Kenapa? Bagi denganku,” ucap pria itu dengan lembut.


“Tadi, Darren datang ke Jaya Corps, dia bertemu denganku saat aku akan ke kantin. Pria itu mendatangiku, menatapkan dengan tatapan menjijikkan. Berkata kalau aku cantik, dan dia seolah mengancam ingin melenyapkanmu,” cerita Kanaya pada akhirnya.


Dalam ceritanya pun Kanaya menangis pilu, tidak bisa sebenarnya Kanaya mengatakan semuanya, tetapi bagaimana dia harus bercerita dengan suaminya. Memendam semua sendirian, Kanaya juga tidak akan mampu.


Akan tetapi, Kanaya masih terisak. Wanita itu mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya dan memeluk pria itu dengan begitu erat, “Aku sangat mencintaimu, Mas … aku sangat cinta kamu. Jika, terjadi apa-apa denganmu, aku bisa gila. Aku tidak akan bisa bertahan tanpa kamu di sisiku,” ucap Kanaya dengan terbata-bata.


Bisma tersenyum, sejujurnya hatinya begitu menghangat mendengarkan ucapan Kanaya. Menjadi pria yang paling spesial bagi Kanaya tentu sangat menggembirakan bagi Bisma. Akan tetapi, melihat istrinya tersedu sedan seperti ini, juga melukai hatinya. Oleh karena itu, Bisma berusaha untuk bisa menenangkan Kanaya.


“Sayang … dengarkan aku. Itu semua hanya sebuah omong kosong. Aku janji kepadamu, bahwa aku akan selalu berada di sampingmu. Kita akan selalu bersama, sampai akhir usiaku, aku akan selalu bersamamu,” ucap Bisma dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Kanaya mengangguk, tetapi wanita itu masih saja menangis. Membayangkan semuanya saja, membuat hatinya terasa begitu sesak. Hingga lantas, Kanaya mengurai pelukan, wanita itu menatap wajah suaminya dengan mata yang berkaca-kaca, “Mas … jangan pernah meninggalkanku yah,” ucapnya.


Bisma mengangguk, dia menyeka buliran air mata di pipi Kanaya. Memberikan kecupan di kening Kanaya dan kedua matanya, menangkup wajah Kanaya dengan kedua tangannya, “Iya … aku janji. Aku akan selalu bersamamu. Kamu juga yah, selalu temani aku. Apa pun halangan yang berada di depan, selalu temanilah aku,” ucap Bisma.


“Iya … aku akan selalu bersamamu. Aku cinta kamu, Mas …”


Lagi-lagi Kanaya mengucapkan betapa dia mencintai Bisma. Dia selalu ingin bisa selalu bersama dengan Bisma, menua bersama dengan pria terhebat dalam hidupnya.


“Terima kasih telah mencintaiku dengan cinta sebesar ini. Aku juga sangat mencintai kamu,” ucap Bisma.


Ya, Bisma benar-benar bisa merasakan bahwa Kanaya begitu mencintainya. Dari ucapan Kanaya, dari sikap Kanaya semua menunjukkan bahwa Kanaya sangat mencintainya. Sama halnya dengan Bisma yang selalu mencintai Kanaya.


“Kendati demikian, jangan terlalu pikirkan … aku akan selalu bersamamu,” ucap Bisma lagi. Dia memastikan sekali lagi bahwa dia akan selalu menemani Kanaya.


Kanaya kemudian menatap kedua netra suaminya, “Jika Darren berani menyentuhmu, mencelakaimu, aku tidak akan segan-segan untuk membalasnya. Aku rela mendekam di balik jeruji besi, asalkan kamu tetap aman.” Kanaya berbicara dengan sungguh-sungguh.


Akan tetapi, Bisma segera menaruh jari telunjuknya di depan bibir Kanaya, “Ssstts, jangan berbicara seperti itu, Sayang … tidak akan terjadi apa-apa. Pegang janjiku ini. Kita akan selalu bersama. Jangan mengorbankan dirimu, Sayang.  Jangan berbicara yang tidak-tidak. So, tenanglah … aku akan menjagamu. Kita akan saling menjaga,” ucap Bisma.


Pria itu lantas mengangkat dagu Kanaya, melabuhkan bibirnya di bibir Kanaya. Mengecupnya dengan begitu lembut. Membuai bibir yang manis dengan sapuan lidahnya, menyesap lipatan atas dan bawahnya bergantian. Memagut bibir Kanaya dengan begitu lembut.

__ADS_1


Tidak terlalu lama, Bisma kemudian menarik kembali wajahnya. Menatap wajah Kanaya dengan air matanya yang masih berlinangan, “Aku cinta kamu … sangat mencintai kamu. So, kita akan selalu bersama-sama. Darren bisa mengancam kita, tetapi tidak berdampak apa-apa. Aku selalu berdoa kepada Tuhan kiranya Dia yang akan selalu mempersatukan kita.” Bisma berbicara dengan sungguh-sungguh.


Pria itu kemudian merengkuh tubuh Kanaya dalam pelukannya. Menyalurkan kehangatannya, memastikan bahwa dirinya akan tetap bersama Kanaya. Tidak peduli apa pun ucapan Darren yang pasti Bisma akan selalu menjaga Kanaya.


__ADS_2