Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Tujuh Belas Minggu


__ADS_3

Hari terus berlalu, tidak terasa usia kehamilan Kanaya pun kian bertambah. Apabila mual dan muntah layaknya Morning Sickness, Kanaya memang tidak merasakannya. Hanya saja, wanita itu menjadi lebih pelupa sekarang dan lebih mudah tertidur. Hal itu wajar karena terjadi peningkatan hormon progesteron yang dapat memicu rasa kantuk pada ibu hamil. Kendati demikian di Trimester pertama, Kanaya merasa setiap malam tidak bisa tidur dengan nyenyak karena sering buang air kecil. Kendati demikian, Bisma selalu menjadi suami siaga baginya.


“Mas, aku kok sudah mengantuk ya …” keluhnya kali ini kepada suaminya.


Padahal malam ini masih terhitung petang, tetapi Bumil itu sudah mengeluhkan mengantuk. Perubahan hidup Kanaya begitu berubah. Dahulu, saat masih menjadi penulis novel, tengah malam justru menjadi waktu yang sangat atrategis untuk bisa menuangkan ide-idenya ke dalam kalimat narasi, deskripsi, dan digabungkan dengan dialog.


Akan tetapi, sekarang ini belum ada jam 20.00 malam dan dirinya sudah merasa matanya begitu berat. Bahkan tempat tidur dan sebuah bantal agaknya lebih membuai baginya. Melihat perubahan sang istri, Bisma pun hanya geleng-geleng kepala saja.


"Ya sudah ... tidur saja Sayang. Aku temenin. Lagipula biasanya tengah malam, kamu kan bangun-bangun terus buat ke kamar mandi. Itu wajar kok, karena produksi hormon progesteron yang memang memicu rasa kantuk. Selain itu, tubuh mengalami produksi darah disertai dengan penurunan tekanan darah dan kadar gula, jadinya kebanyakan ibu hamil akan lebih merasa ngantuk." penjelasannya begitu ilmiah kepada istrinya itu.


Kanaya pun mendengarkan penjelasan suaminya itu sembari mengucek matanya yang sudah berair dan terasa begitu berat.


"Padahal aku masih pengen ngobrol sama kamu." ucap Kanaya sembari merebahkan dirinya dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Posisi ternyaman selama dia menjadi istri seorang Bisma adalah dengan tidur nyenyak dalam dekapan suaminya itu.


"Enggak apa-apa ... kan nanti bisa ngobrol lagi. Lagian kan ya aku bakalan terus sediakan telingaku untuk dengerin ceritanya kamu. Kesehatan Bumil dan si baby lebih penting." sahutnya sembari mengusapi puncak kepala istrinya itu.


Kanaya pun mengangguk, wanita itu sesekali memenjamkan matanya seolah empuknya tempat tidur dan aroma Woody yang dipancarkan dari parfum yang digunakan suaminya justru membuatnya semakin terbuai. Akan tetapi, sebelum matanya terpejam, dia teringat sesuatu.


"Eh Mas, besok kita ada jadwal pemeriksaan kandungan rutin kan?" Kanaya bertanya dan seakan kantuknya hilang begitu saja.


"Iya Sayang ... besok aku daftarkan ya. Nanti sore aku jemput ke kantor buat periksa si baby lagi." ucapnya.


"Makasih Mas, padahal aku naik taksi online saja enggak apa-apa. Kasihan kamu harus bolak-balik dari Rumah Sakit ke Jaya Corp terus balik ke Rumah Sakit lagi, kamu pasti capek banget." ucapnya kali ini yang sesungguhnya merasa kasihan kepada suaminya itu.


Bisma justru menggeleng, "Semua demi cinta, Sayang ... cintaku kepadamu dan kepada baby kita berdua." ucapnya sembari mendaratkan kecupannya di kening istrinya itu.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


Keesokan harinya, sama seperti yang sudah dijanjikan Bisma menjemput Kanaya di Jaya Corp. Pria itu benar-benar tidak membiarkan istrinya itu untuk menaiki Taksi Online. Dia lebih yakin bila dirinya sendiri yang menjemput istrinya. Bolak-balik tidak masalah, asalkan istrinya aman.


Begitu sudah di poli kandungan, keduanya pun mengantri hingga tiba gilirannya untuk melakukan pemeriksanaan. Sembari menunggu, Kanaya membaca-baca berbagai informasi yang terdapat dalam Buku Pemeriksanaan Kandungan rutin itu mulai dari nutrisi untuk ibu hamil, gejala melahirkan, dan perawatan pasca melahirkan.


"Jadi ibu hamil itu ternyata belajar hal baru ya Mas?" tanyanya kali ini kepada suaminya itu.


Bisma pun mengangguk, "Iya ... banyak informasi seputar kehamilan dan janin Sayang. Sebaiknya sih di waktu senggang kamu baca-baca deh, kalau yang kurang paham bisa tanya ke aku." ucapnya sembari tersenyum.


"Enak ya jadi aku, kalau ada yang enggak paham bisa langsung konsultasi." sahutnya.


Bisma pun tertawa, "Kamu itu enak Sayang ... bisa tanya-tanya ke aku dan Bunda Hesti juga. Bunda sudah sangat berpengalaman mendampingi wanita mengandung hingga melahirkan, kalau ada apa-apa tanya Bunda saja enggak apa-apa."


Setelahnya giliran nama Kanaya yang dipanggil. Keduanya pun lantas memasuki ruangan pemeriksaan untuk melihat perkembangan janin mereka.


"Selamat sore Bu Kanaya dan Dokter Bisma ..." sapa Dokter Indri kepada mereka berdua.


"Sore Dok ..." sahut keduanya yang hampir bersamaan.


"Bagaimana sehat ya Bu Kanaya? Ada keluhan?" tanya Dokter Indri kepada Kanaya.


"Saya jadi lebih sering mengantuk saja dan sedikit pelupa, Dok." jawabnya sembari tersenyum.


"Tidak apa-apa ya Bu, ibu hamil memang menjadi lebih sering mengantuk karena tubuh memproduksi hormon progesteron." jawab Dokter Indri.

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari Dokter Indri, Kanaya lantas tersenyum. Rupanya jawaban dari Spesialis Kandungan pun sama dengan jawaban yang diberikan oleh suaminya itu. Melihat ekspresi dari wajah Kanaya, Dokter Indri pun sudah tahu pastilah Dokter Bisma sudah menjelaskannya kepada istrinya itu.


"Pasti sudah dijelaskan Dokter Bisma terlebih dahulu ya Bu? Enak ya, kalau ada keluhan atau pertanyaan bisa langsung bertanya ke Dokter Bisma." ucap Dokter Indri. "Baiklah, sekarang kita lakukan pemeriksanaan dengan USG ya Bu."


Kanaya pun mengangguk dan kemudian menaiki sebuah brankar, seorang perawat membantu untuk mengangkat sedikit kemeja yang dikenakan Kanaya dan juga mengoleskan USG Gell di perut Kanaya. Setelah siap, mulailah Dokter Indri menggerakkan transduser di perut Kanaya.


"Selamat datang di usia kehamilan 17-18 minggu ya Bu. Sekarang kita lanjutkan untuk mengukur janinnya ya. Panjang janin mulai dari kepala hingga kaki sekitar 12 sentimeter. Berat badan janin sekitar 15o gram, jika diilustrasikan janin Ibu sudah sebesar lobak ya Bu. Nah, di usia kehamilan ini yang terpenting adalah mulai mengerasnya tulang-tulang dalam tubuh janin. Dari tempurung dan tulang rawan lainnya mulai mengeras. Sekarang kita dengarkan detak jantungnya ya Bu."


Mulailah Dokter Indri kembali menggerakkan tranduser di atas perut Kanaya dan menekan salah satu bagian dari alat USG, sehingga terdengarkan bunyi detakan jantung.


Deg ... Deg ... Deg ...


Pertama kali mendengar detak jantung bayi mereka, Kanaya tak kuasa menahan air matanya. Air matanya berderai begitu saja, kendati wajahnya tersenyum, tetapi air matanya mengalir begitu saja.


"Masyaallah ..." wanita itu bersuara lirih saat mendengar detakan jantung babynya untuk pertama kalinya.


Sama halnya dengan Bisma yang tampak berkaca-kaca mendengar detak jantung babynya untuk kali pertamanya. Sungguh momen yang selalu dia nantikan selama ini, bisa mendengarkan detak jantung babynya, membuat Bisma pun memuji nama Allah.


Melihat Kanaya dan Bisma yang tampak terharu, Dokter Indri pun tersenyum, "Masyaallah ya Dokter Bisma? Jika menjadi Dokter Kandungan memang mendengar detak jantung bayi untuk pertama kali rasanya bahagia bercampur haru." cerita Dokter Indri kali ini.


Bisma pun mengangguk, "Iya benar, Dok ... saya juga pertama kali visiting bayi yang baru lahir itu rasanya terharu banget." kali ini giliran pria itu yang bercerita.


"Jadi secara garis besar, baby Ibu dan Dokter Bisma dalam kondisi baik ya. Ini tali pusatnya sudah terlihat ya Bu, juga plasentanya sudah berkembang pesat dengan ribuan pembuluh darah yang dapat menyalurkan nutrisi dan oksigen ke janin." penjelasan Dokter Indri lagi sembari menunjukkan tali pusat dan plasenta dengan menggunakan USG tersebut.


Tidak ada yang lebih membahagia bagi calon orang tua ketika mendengar bahwa janin mereka dalam keadaan baik dan sehat. Pun demikian dengan Kanaya, dia pun merasa penuh syukur saat mengetahui bahwa janinnya dalam keadaan baik dan sehat.

__ADS_1


__ADS_2