Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Curhatnya Si Ponakan


__ADS_3

[To: Mas Bisma]


[Mas Bisma, ada rumah jam berapa Mas?]


[Aku mau main ke rumah boleh?]


[Ini aku, Tama.]


Bisma tampak membaca deretan pesan di handphonenya itu, tidak menyangka bahwa ponakannya yang sudah cukup lama tidak bertemu akhirnya mengirimkan pesan padanya. Lantas, Bisma pun tersenyum sembari membalas pesan-pesan tersebut.


[To: Tama]


[Tumben kamu kirim pesan sama Masmu ini.]


[Datang aja ke rumah, sekarang aku sudah tidak apartemen.]


[Aku shareloc alamat rumahku ya, datang aja sore aku sudah di rumah.]


Pesan itu pun meluncur begitu saja, dan rupanya di seberang sana Tama langsung membaca dan membalas pesan tersebut.


[To: Mas Bisma]


[Oke Mas Bisma, sore ini aku meluncur ke rumahmu ya.]


***


Sore Harinya …


Terdengar bel rumah Bisma berbunyi, sementara Kanaya yang tengah menyuapi Aksara pun meminta tolong kepada suaminya untuk membukakan pintu terlebih dahulu.

__ADS_1


“Mas, tolong dong … bukakan pintunya. Aku masih nyuapin Aksara, masih tinggal sedikit,” ucapnya.


“Oke Bundanya Aksara, Ayah akan bukakan pintunya. Tenang saja,” balas Bisma dan kemudian pria itu pun berdiri untuk membukakan pintu bagi tamu yang datang.


“Loh, kamu beneran ke sini Tam?” tanya Bisma yang sedikit kaget karena keponakannya itu benar-benar datang ke rumahnya.


Tama pun mengangguk, “Iya Mas, aku pusing,” ucapnya sembari mengikuti Bisma untuk masuk ke dalam rumah.


“Siapa Mas?” tanya Kanaya yang menghampiri suami dengan menggendong Aksara.


“Ini si Tama, Sayang … keponakanku dulu. Yang pernah aku mintain tolong untuk menemui identitas orang yang sudah menyebarkan masa lalu kamu,” jawab Bisma.


Tama pun berdiri dan menjabat tangan Kanaya, “Halo Mbak … sehat Mbak?” tanyanya kepada Kanaya.


“Oh, iya … sehat, kamu gimana sehat juga kan?” tanya Kanaya.


“Sehat Mbak,” jawab Tama.


Kanaya pun lantas tertawa, “Anak muda galau kan wajar, Mas … kita yang sudah tua saja kadang juga galau kok,” ucapnya.


“Iya Mas, aku galau … aku nembak cewek enggak diterima,” cerita Tama dengan tiba-tiba.


Kemudian Kanaya tampak terhenyak dan melirik Tama dengan wajahnya yang terlihat begitu kusut, “Siapa emangnya? Teman kuliah kamu?” tanya Kanaya.


Tama pun mengangguk, “Iya Mbak, teman kuliah … satu fakultas,” jawabnya.


Giliran Bisma yang kini bertanya kepada Tama, “Gimana ceritanya? Dia menolakmu karena apa?”


Tama yang semula diam pun, perlahan menghela nafasnya sejenak, “Namanya Khaira, teman satu fakultas dengan Tama. Ya, waktu kemarin Tama bilang kalau Tama suka pada dia, katanya dia tidak bisa menerima perasaan Tama.” ceritanya dengan wajah yang lesu.

__ADS_1


“Dia ngasih alasan tidak kenapa menolak kamu?” tanya Bisma kini kepada Tama.


Tama kemudian mengangguk lesu, “Iya, dia kasih tahu sih alasannya. Hanya saja Tama tidak bisa menerimanya. Dia bilang katanya dia sudah menikah dengan seorang pria yang katanya sih dijodohkan orang tuanya. Akan tetapi, kok Tama tidak pernah melihat suaminya itu. Saat kakinya terkilir saja, Tama yang anterin dia pulang, suaminya sama sekali tidak terlihat.”


Bisma dan Kanaya pun mendengarkan cerita Tama, keduanya memilih untuk mendengarkan terlebih dahulu dan tidak hanya menginterupsi cerita Tama.


Hingga akhirnya, Bisma kemudian mulai membuka suaranya, “Kalau memang dia sudah punya suami ya sudah. Tidak baik mengusik apa yang sudah menjadi milik orang lain. Kamu harus membesarkan hatimu sendiri,” nasihat Bisma kali ini kepada Tama.


“Lebih sedihnya, Tama gak akan bisa ketemu dia lagi karena dia akan melanjutkan S2 ke Manchester, Inggris, Mas … dia gadis yang baik dan pinter, rasanya Tama masih tidak percaya saja gadis yang berpendidikan dan pinter seperti dia justru mau menerima pernikahan karena perjodohan,” cerita Tama lagi.


“Setiap orang punya alasan masing-masing untuk menentukan jalan hidupnya. Mungkin saja memang Khaira itu anak yang taat dengan Ayah dan Ibunya. Toh ya, dia tetap mengejar pendidikannya sampai ke Inggris kan walau sudah menikah. Mungkin juga, suaminya juga mendukung.” Kali ini Kanaya yang merespons cerita Tama.


“Terus aku harus gimana Mas, Mbak?” Tanya Tama kini.


“Lepaskan dia, Tama … kalau memang dia sudah bersuami, ikhlaskan. Doakan untuk kebaikannya, aku percaya kamu pasti bisa kok. Kita tidak pernah tahu siapa yang Tuhan gariskan untuk medampingi kita. Hanya saja, jika memang dia sudah bersuami, lebih baik lepaskan. Relakan saja.” Bisma kembali memberikan nasihatnya kepada Tama.


“Apa aku bisa ya Mas? Rasanya aku sudah terlanjur cinta sama dia?” lanjut Tama.


Bisma kemudian mengangguk, “Bisa, waktu yang akan menyembuhkan hatimu. Percaya saja.”


Tama kemudian mengangguk, “Baiklah … aku akan mencoba ikhlas, walau pun aku tidak tahu aku bisa benar-benar mengikhlaskannya tidak,” jawab Tama kali ini.


***


Malam saat Tama sudah pulang dari kediaman rumah mereka, Kanaya pun tampak duduk di samping suaminya itu.


“Mas, berarti dulu waktu aku menikah dengan Darren, kamu tidak menginginkanku dong?” tanyanya kali ini kepada Bisma.


Bisma kemudian mengangguk, "Iya, walaupun aku cinta sama kamu sejak kita SMA. Akan tetapi, saat tahu bahwa kamu sudah menikah saat itu aku berusaha tidak melewati batas. Apa kamu tidak ingat? Aku gencar mendekatimu setelah tahu kalau kamu sudah bercerai. Kamu bahkan tahu betapa kagetnya aku saat tahu bahwa kamu sudah bercerai," cerita Bisma kali ini.

__ADS_1


Kanaya lantas terdiam mencoba mengurai pemikiran dalam otaknya saat ini, "Iya sih, selama aku masih menikah dulu, kamu hanya bersikap biasa. Barulah saat aku bercerita kalau aku ini seorang janda, rupanya Mas Dokter ini ngejar-ngejar janda," jawab Kanaya sembari terkekeh.


Bisma lantas membawa Kanaya dalam pelukannya, "Aku sungguh gak apa-apa, dapat janda … tetapi perawan original. So, bagiku tetap saja aku dapat gadis," sahutnya sembari mengacak puncak kepala Kanaya karena gemas.


__ADS_2