Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Gerimis Syahdu


__ADS_3

“Abis ini ke Taman Akuatik yuk Mas?” ajak Kanaya kepada suaminya itu.


Bisma mengangguk, “Yuk, boleh,” sahutnya.


Akan tetapi, sebelum menuju Taman Akuatik, Bisma sedikit menoleh kepada Bunda Hesti dan Ayah Tirta.


“Bunda, Ayah … Bisma dan Kanaya ke Taman Akuatik dulu ya? Bunda dan Ayah menunggu di sini saja. Kasihan Ayah dan Bunda kalau capek,” ucap Bisma yang mempedulikan kedua orang tuanya.


Sebab, Kebun Raya Bogor memang sangat luas, bagi mereka yang sudah menginjak usia paruh baya bisa saja kecapean bila mengikuti Bisma dan Kanaya yang berjalan-jalan di Kebun Raya Bogor itu. Oleh karena itu, Bisma meminta kepada Ayah Tirta dan Bunda Hesti untuk menunggu mereka saja.


Pasangan paruh baya itu pun mengangguk, “Baiklah … kami duduk-duduk di sini saja yang tempatnya sejuk,” jawab Ayah Tirta.


“Baiklah Ayah, tunggu kami ya … kami akan ke Taman Akuatik dulu,” pamit Bunda sembari menggendong Aksara dengan menggunakan hipseat dan menggandeng tangan Kanaya untuk berjalan-jalan di Taman Akuatik.


Secara khusus Taman Akuatik ini berisi koleksi tanaman habitat air, mulai dari tumbuhan air tergenang, tumbuhan air mengapung, dan tumbuhan air menggenang sempurna. Bisma dan Kanaya tampak mengamati setiap tumbuhan yang berada di taman itu.


“Koleksi tanamannya lengkap ya Mas?” tanya Kanaya sembari mengamati setiap tumbuhan yang dibedakan menurut habitatnya itu.


Bisma pun mengangguk, “Iya, bener banget. Bagian taman ini juga bersih ya Sayang,” sahut Bisma yang masih setia menggandeng tangan Kanaya itu. Seolah tidak akan membiarkan Kanaya untuk berjalan sendirian.


“Katanya Garden by The Bay juga bagus Mas, banyak koleksi tanaman hingga bunga Tulip di sana. Kapan-kapan ke Singapura yuk Mas? Jalan-jalan ke Garden by The Bay dan Botanical Garden,” ucap Kanaya yang mengatakan keinginannya untuk bisa jalan-jalan ke Garden by The Bay di Singapura.


“Iya, boleh … nanti kita ke Garden by The Bay dan Botanical Garden. Ada Flower Dome di Garden by The Bay dengan koleksi bunga Tulip, ada juga Festival Bunga Sakura di sana, nanti kita atur waktu ya buat ke sana. Sekarang, kita jalan-jalannya ke Bogor dulu saja ya,” sahut Bisma.


Bisma dan Kanaya terus berjalan menyisiri kolam-kolam yang bersih dan tertata rapi, dengan tanaman hijau yang seolah menari-nari ketika angin berhembus. Suasana yang tenang, berpadu dengan angin yang semilir sepoi-sepoi.

__ADS_1


Akan tetapi, semilir angin yang berhembus itu seolah membawa butiran-butiran air yang jatuh ke Bumi. Gerimis pun datang tanpa permisi, Bisma dan Kanaya sontak berlari-larian kecil mencari tempat berteduh di sekitaran Taman Akuatik itu.


“Ya ampun, suasananya baru enak. Teduh, rindang, dan anginnya semilir banget, malahan gerimis sih,” ucapnya sembari menyeka wajah Aksara yang terkena rintikan gerimis.


Bisma justru tertawa, “Enggak apa-apa, ditambah gerimis justru makin syahdu,” sahut Bisma sembari menatap wajah istrinya.


“Padahal aku masih pengen muterin taman ini,” jawab Kanaya lagi.


“Ya sudah, nunggu gerimisnya reda kita muter-muter lagi. Atau mau pake payung? Di ransel aku ada payung, kamu mau?” tawar Bisma kepada Kanaya.


Akan tetapi, Kanaya justru menggelengkan kepalanya, “Ditunggu sebentar saja, Mas … kasihan Aksara nanti bisa kena masuk angin kalau kena hujan. Kalau aku sih mau-mau aja gerimisan hujan-hujan sama kamu, tetapi kalau Aksara kena hujan kan kasih,” sahut Kanaya.


Baginya memang tidak masalah jika dia harus hujan-hujanan dengan Bisma, tetapi ada Aksara yang harus dia pikirkan. Kanaya tentu tidak mau, jika Aksara terkena masuk angin lantaran diajak berhujan-hujan ria untuk mengitari Taman Akuatik. Bagi Kanaya, Aksara dan kesehatannya adalah yang utama dan terutama.


Kanaya mengangguk, dia kemudian membawa kedua tangannya bersidekap di depan dadanya. Angin yang sepoi-sepoi berbalut dengan gerimis yang basah membuat suasana menjadi lebih dingin. Oleh karena itulah, Kanaya bersidekap dengan harapan tubuhnya bisa lebih hangat.


Perlahan Bisma pun mendekati istrinya itu, “Kamu kedinginan?” tanyanya perlahan.


“Enggak, cuma anginnya jadi dingin gitu,” jawabnya sembari masih mendekap tangannya. “Aksara dipakein jaket dulu ya Mas, kasihan … anginnya dingin soalnya,” ucapnya sembari mengeluarkan sebuah jaket dari ransel yang sudah layaknya kantong Doraemon yang penuh dengan perlengkapan Aksara.


Kanaya segera mengambil jaket tersebut dan memakaikannya kepada Aksara, tidak lupa dia menuangkan sedikit minyak telon dan mengusapkannya ke bagian perut Aksara dan kakinya, supaya Aksara merasa lebih hangat.


“Bau kamu justru kayak Aksara Sayang, bau minyak telon,” ucap Bisma tiba-tiba sembari tersenyum kepada Kanaya.


“Iya, habis ya gimana lagi dong Mas … biar hangat Aksaranya. Bunda jadi kayak kamu ya Mas Bayi … bau minyak telon ya?” celoteh Kanaya sembari mencium pipi Aksara yang begitu chubby itu.

__ADS_1


“Jadi pengen cium-cium kamu deh kalau kayak gini, gerimis jadi makin syahdu,” ucapnya lirih di sisi telinga Kanaya.


Refleks, Kanaya langsung mendaratkan cubitannya di pinggang suaminya, “Jangan bicara seperti itu dong Mas … malu kalau ada orang lain yang dengar.” Wajah Kanaya pun bersemu merah, lantaran malu mendengar ucapan dari suaminya yang ingin menciumnya.


“Enggak ada yang dengar, kalah sama suara hujannya Sayang … lagian kan aku hanya bisik-bisik sama kamu. Gerimis enaknya ngapain Sayang?” goda Bisma lagi kepada istrinya itu.


Berusaha mengubah topik pembicara, akhirnya Kanaya pun menjawab, “Bikin mie instans sambil minum yang hangat-hangat enak deh. Mie instans Kaldu ayam,” jawabnya sembari melirik suaminya.


“Kamu bisa aja sih Sayang, salah sebenarnya … gerimis, dingin-dingin gini enaknya menghangatkan badan bersama pasangan,” ucapnya sponstan.


Astaga, Kanaya hanya bisa memincingkan kedua matanya menatap sikap absurb suaminya itu. “Jangan gitu Mas, malu tahu. Mau kembali ke tempat Ayah dan Bunda. Mas? Gerimisnya agak reda nih, kasihan kalau Ayah dan Bunda nungguin kita.” Ajak Kanaya kepada suaminya itu.


Bisma pun akhirnya mengangguk, “Oke, yuk … pake payung ya Sayang. Biar enggak masuk angin,” balasnya.


“Iya, ayo …” jawab Kanaya.


Setelahnya, Kanaya mengeluarkan payung dari tas ranselnya, dia membuka payung itu dan mulai berjalan menyisiri taman kembali ke tempat Ayah Tirta dan Bunda Hesti yang menunggunya.


Bisma pun membawa tangan Kanaya untuk menglingkar di lengannya, “Sini, jangan jauh-jauh. Payungnya kecil, jangan sampai kamu kebasahan,” ucapnya dengan membawa Kanaya untuk kian mendekat dengannya.


“Enggak apa-apa, asalkan Ayah yang baru menggendong Aksara enggak kebasahan,” sahut Kanaya. Dia tidak masalah, asalkan suaminya yang sedang menggendong Aksara pun tidak kebasahan.


Bisma menggeleng, “Jangan dong … kamu juga, mana mungkin aku tega membiarkan Istriku tercinta kebasahan. Sayang, gerimis gini, berjalan dalam satu payung syahdu yah,” ucap pria itu pada akhirnya.


Kanaya pun tertawa, “Kamu bisa saja sih Mas,” balasnya yang cukup bahagia sebenarnya dengan setiap celotehan Bisma.

__ADS_1


__ADS_2