Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Saturday Night


__ADS_3

Malam ini adalah malam minggu, malam yang katanya adalah malamnya anak muda. Malam yang biasa dihabiskan untuk begadang. Akan tetapi, menikmati malam minggu layaknya anak muda tidak berlaku bagi Kanaya, karena sekarang ini gadis itu sedang duduk di antara kedua orang tua Bisma, dan tentunya Bisma sendiri. Tidak dipungkiri, bagaimana jantung Kanaya berdegup dengan kencang. Pertemuan pertama dengan Ayah Tirta dan Bunda Hesti membuat Kanaya merasa rendah diri dan merasa tidak diterima dengan baik, terkhusus oleh Ayah Tirta.


Akan tetapi, kali ini situasinya berbeda, ternyata Ayah Tirta dan Bunda Hesti menerimanya dengan tulus. Hati Kanaya benar-benar menghangat rasanya. Diterima dengan baik dan merasakan ketulusan dari pria yang baru dipacarinya selama beberapa hari membuat hati Kanaya bahagia.


“Jadi, orang tua Mbak Naya ini sekarang di mana?” Tanya Ayah Tirta perlahan kepada Kanaya.


Sebagai orang yang baru mengenal, Ayah Tirta memang belum mengetahui bahwa orang tua Kanaya telah tiada. Jadi, wajar saja jika dia menanyakan hal demikian.


Perlahan Kanaya tersenyum, “Bunda saya sudah tiada sejak saya lulus SMA, dan Ayah juga turut menyusul Bunda kurang lebih hampir 2 tahun yang lalu.” jawab Kanaya dan terlihat matanya berkaca-kaca.


Mendengar jawaban dari Kanaya, hati kebapakan yang dimiliki Ayah Tirta pun tergerak, “Maafkan ya Mbak … Ayah ini cuma ingin tahu. Jadi kamu sendirian?” tanyanya lagi kepada Kanaya.


“Iya Om … saya tinggal sendirian. Yatim piatu.” ucap Kanaya dengan tersenyum getir. Di dunia ini, hanya dirinya yang tinggal sendirian. Tidak ada sapa hangat dan kasih sayang dari kedua orang tua.


Bunda Hesti yang duduk di samping Kanaya, perlahan merangkul Kanaya, seolah memberi kekuatan kepada wanita yang dicintai oleh putranya itu, “kamu anak yang kuat ya Mbak Naya … sekarang jangan merasa sendirian, kami juga orang tuamu. Jangan memanggil kami dengan sebutan Tante dan Om, panggil kami Ayah dan Bunda. Sama seperti Bisma.” Bunda Hesti berbicara dengan begitu lembut, kasih sayang yang diberikan oleh Ibunda Bisma itu membuat hati Kanaya begitu tersentuh. Hingga gadis itu menitikkan air mata, “terima kasih Bunda ….” ucap Kanaya perlahan.


Ayah Tirta pun mengangguk, “Benar … kami juga orang tuamu sekarang, jangan merasa sendirian. Atau kamu mau tinggal di sini bersama kami? Lagian Bisma kan juga tinggal di Batam dan Singapura, kamu tinggal di sini tidak apa-apa.” Ayah Tirta menawarkan kepada Kanaya untuk tinggal di rumahnya.

__ADS_1


Akan tetapi, dengan cepat Kanaya menggelengkan kepalanya, “Terima kasih Ayah … Naya berterima kasih untuk kebaikan hati Ayah. Akan tetapi, tidak elok rasanya jika sebelum menjalin hubungan yang sah dan saya sudah tinggal di sini.” ucapnya.


Ayah Tirta dan Bunda Hesti sama-sama mengangguk dan tersenyum, dari jawaban Kanaya tersirat bagaimana adab ketimuran yang masih dipegang oleh Kanaya. Pasangan paruh baya itu berharap bahwa Kanaya benar-benar seorang wanita yang tepat untuk Bisma. Sekali pun di masa lalu, Kanaya pernah gagal dalam pernikahan, tetapi mereka berharap Kanaya bisa mendampingi Bisma hingga ujung usia mereka.


“Ya sudah, yuk … kita makan malam. Itu Bibi Sari sudah menyiapkan makanannya. Ayo Mbak Naya, tidak usah sungkan.” Bunda Hesti berdiri dan menggandeng Kanaya menuju meja makan.


Kanaya lantas berdiri dan mengikuti Bunda Hesti, kemudian dia mengambil duduk di samping Bisma. Makan malam yang sudah lama tidak pernah dia alami, momen makan malam yang justru membuat Kanaya mengharu biru, teringat kembali bagaimana dulu saat Bunda dan Ayahnya masih ada sarapan dan makan malam akan dia lakukan bersama Ayah dan Bunda di meja makan.


Bisma yang melihat, bagaimana mata Kanaya tampak berkaca-kaca, pria itu menggenggam tangan Kanaya dari bawah meja. Pria itu menatapnya dengan pandangan yang begitu teduh.


“Ada aku ….” Bisma berbicara dengan lirih dan melemparkan senyumannya kepada Kanaya.


Gadis itu pun mengangguk, membiarkan tangan hangat Bisma menggenggam tangannya perlahan. Anggukan yang Kanaya berikan berhasil membuat Bisma pun tersenyum dan kemudian melepaskan genggaman tangannya sejenak. Melihat bagaimana Bunda Hesti mengambil nasi, sayur, hingga lauk untuk Ayah Tirta membuat Kanaya lagi-lagi merindukan sosok kedua orang tuanya yang telah tiada. Setelah Ayah Tirta dan Bunda Hesti telah siap dengan piring yang terisi di hadapannya, Kanaya lantas berinisiatif mengambilkan nasi putih, sayuran, dan lauk untuk Bisma.


“Jangan hanya ngambilin Bisma, Mbak … ayo, Mbak Naya juga makan. Biar Bunda ambilkan ya.” Bunda Hesti pun menginterupsi supaya Kanaya juga mengisi piringnya sendiri.


“Terima kasih Bunda … Naya bisa ambil sendiri. Panggilnya Naya saja Bunda, Ayah.” pinta Kanaya supaya Bunda Hesti dan Ayah Tirta memanggilnya cukup dengan namanya saja. Selain lebih akrab, juga tidak ada rasa sungkan.

__ADS_1


“Iya … ayo, Naya juga makan. Jangan sungkan-sungkan.” Kali ini giliran Ayah Tirta yang meminta Kanaya untuk makan dan tidak perlu merasa sungkan.


Dengan perlahan, Kanaya pun memakan hidangan yang sudah tersaji saat itu, dibarengi dengan berbagai obrolan di meja makan membuat Kanaya merasa lega, karena akhirnya orang tua Bisma benar-benar menerimanya. Kebahagiaan yang tidak akan pernah Kanaya lupakan.


Usai makan malam, Bisma mengajak Kanaya berpamitan dengan orang tuanya, Bisma berdalih ingin mengajak Kanaya malam mingguan sebentar. Tentu saja Ayah Tirta dan Bunda Hesti memperbolehkan dengan catatan, bahwa mereka harus saling menjaga satu sama lain. Tidak boleh melewati batas sebelum janur kuning melengkung.


Kini, Kanaya dan Bisma hanya duduk-duduk di sebuah taman kota, sama-sama duduk sembari menatap langit malam yang seolah tiada berbintang. Bisma pun perlahan membuka suaranya, “kamu pasti ingat Ayah dan Bunda ya?” tanyanya perlahan.


Kanaya pun menganggukkan kepalanya, “Benar … tetapi, sekarang Ayah dan Bunda sudah bahagia bersama di atas sana. Aku pun cukup lega rasanya. Ada rasa rindu, tetapi di satu sisi, aku cukup bahagia karena akhirnya kedua orang tua kamu menerimaku.” Kanaya berbicara dengan sungguh-sungguh, dia begitu lega bisa diterima dengan baik oleh Ayah Tirta dan Bunda Hesti.


Bisma pun tersenyum, “sudah kubilang, jangan terlalu insecure, Naya … aku tahu pasti bahwa Ayah dan Bunda akan menerimamu. Sekarang tidak ada keraguan lagi kan? Nay, enam bulan lagi kamu mau kan menjadi pengantinku?” tanyanya lagi dengan tiba-tiba.


Kanaya lantas tertawa, “kamu ini. Belum juga sepekan kita jadian, sudah pengennya nikah aja sih.” ucap Kanaya sembari geleng-geleng kepala.


Sementara Bisma justru mengedikkan bahunya, “aku ini seorang Dokter yang memiliki aktivitas cukup sibuk Nay, sementara kamu Direktur Keuangan, waktumu juga sibuk. Jadi, kita harus saling mengisi waktu di sela-sela itu semua untuk membangun rumah tangga. Jangan sampai keasyikan bekerja, mengejar karier, justru membuat kita melupakan cinta. Sejujurnya, aku ini memang ingin nikah muda, Nay …”


Secara logis, apa yang disampaikan Bisma pun benar bahwa keduanya sama-sama sibuk, jika terpacu untuk terus-menerus mengejar karier yang ada justru mereka berdua akan lupa untuk mengejar cinta. Hidupnya hanya akan terpaku pada karier semata, tidak ingin itu terjadi maka Bisma memang ingin meminang Kanaya usai dia menyelesaikan program spesialisasinya.

__ADS_1


__ADS_2