Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Keputusan Papa Jaya


__ADS_3

Sore ini, Papa Jaya mengundang Kanaya dan Bisma, Sandra, Giselle dan Gibran untuk berkumpul di rumahnya. Agaknya ada sesuatu yang penting yang hendak disampaikan Papa Jaya kali ini kepada seluruh keluarganya. Kanaya sendiri sebenarnya hanyalah orang asing di kehidupan Jaya Wardhana, tetapi nyatanya kedekatan secara hati membuat Kanaya terus dilibatkan dalam setiap acara dan perbincangan yang dilakukan Papa Jaya.


Mengingat bahwa mungkin saja pembicaraan kali ini akan serius, Kanaya dan Bisma lebih memilih untuk menitipkan Aksara di kediaman Bunda Hesti dan Ayah Tirta. Terlebih Aksara dan Eyang Kakungnya sering bercerita mengenai desain dan struktur bangunan, sehingga Aksara bisa bermain dan belajar bersama Eyang Kakung.


“Mas Aksara di rumah Eyang dulu yah? Nanti begitu sudah selesai Ayah dan Bunda akan menjemput kamu di sini,” ucap Kanaya kepada Aksara.


Anak itu pun menganggukkan kepalanya, “Iya Bunda … salam sayang untuk Opa dan Oma,” jawabnya.


Kanaya dan Bisma lantas berpamitan juga dengan Bunda Hesti dan Ayah Tirta, kemudian keduanya berangkat menuju kediaman Jaya Wardhana.


“Kira-kira ada apa ya Mas?” tanya Kanaya kali ini kepada suaminya. “Tumben banget, biasanya Papa kan jarang juga ngajak berkumpul. Ini kok semuanya diajak berkumpul,” balas Kanaya.


Tampak Bisma yang mengemudikan mobilnya pun mengedikkan bahunya, “Entahlah Sayang … aku juga tidak tahu,” balas Bisma.


Sebab memang Bisma tidak tahu untuk tujuan apa Papa Jaya meminta keluarganya untuk berkumpul. Bisma hanya berpikiran, mereka akan tahu apa yang sebenarnya terjadi jika sudah tiba di sana.


Perjalanan kurang lebih setengah jam mereka tempuh dan sekarang mereka telah tiba di kediaman Jaya Wardhana. Rumah besar dan begitu mewah yang berada di bilangan kawasan elit Ibukota.


“Hati-hati turunnya,” ucap Bisma kali ini yang meminta istrinya untuk turun dengan hati-hati.


“Iya … sudah pasti hati-hati,” jawab Kanaya sembari menggenggam tangan suaminya itu dan berjalan masuk ke rumah utama.


“Permisi,” sapa keduanya begitu tiba di depan pintu masuk.


“Masuk-masuk, Nay,” terdengar suara yang mempersilakan mereka untuk masuk. Sudah pasti itu adalah suara dari Mama Sasmita.


Kanaya pun bersalaman dan memeluk Mama Sasmita. “Mama apa kabar?” tanyanya.


“Baik … kamu apa kabar juga? Mama ikut bahagia, sekarang sudah kembali berkumpul dengan Aksara,” balas Mama Sasmita.

__ADS_1


Wanita itu yang sedang berbicara itu dikejutkan dengan kedatangan Giselle dan Gibran yang terlihat menuruni anak tangga.


“Kak Naya,” sapa Giselle dengan melambaikan tangannya.


Acara kumpul bersama seperti ini justru terasa menjadi reuni bagi Kanaya. Sudah sangat lama dirinya tidak bertemu dengan Giselle. Dan sekarang bisa bertemu langsung tentu Kanaya sangat bahagia.


“Wah, adikku ini makin cantik … makin kurus dan sexy,” goda Kanaya yang melihat kini Giselle telah berhasil mengurangi berat badannya. Membutuhkan waktu yang sangat lama untuk Giselle untuk melakukan diet dan mengurangi berat badannya.


Giselle pun tersenyum, “Aku diet bukan untuk cantik, Kak … tetapi aku mengidap PCOS, jadi kalau ingin memiliki anak, aku harus diet karena lemak berlebih nyatanya berpengaruh ke sel telur kita,” balas Giselle.


Pada kenyataannya memang diet dibutuhkan bukan hanya sekadar mengurangi berat badan dan tampil cantik, ada juga mereka yang diharuskan diet supaya bisa memiliki keturunan, Giselle adalah contohnya. Bertahun-tahun menikah dengan Gibran, nyatanya Giselle juga masih belum dikaruniai keturunan. Oleh karena itu, Giselle pun berharap bahwa dengan mengurangi bobot tubuhnya kali ini Giselle dan Gibran akan dikaruniai buah hati.


“Sehat Gib?” tanya Bisma yang berjalan dan mendekat ke arah Gibran.


“Sehat Mas … Mas Bisma gimana kabarnya? Sehat?” tanya Gibran.


“Iya, alhamdulilllah … sehat,” balas Bisma.


“Malam semuanya,” sapa Sandra yang masih terlihat sungkan dengan keluarga mertuanya itu.


“Sini masuk, San … ini Ravendra yah?” sapa Mama Sasmita yang mengusapi puncak kepala Ravendra.


Sandra lantas menatap ke Kanaya, “Gimana kabarmu Nay? Aku turut berbahagia akhirnya Aksara sudah kembali ditemukan,” balas Sandra kali ini.


“Makasih San,” balas Kanaya sembari menganggukkan kepalanya.


Kanaya dan Sandra memang dipertemukan melalui serangkaian kejadian buruk di masa lalu. Hingga akhirnya, banyak terjadi dan melibatkan Darren juga. Kendati tahun-tahun sudah bergulir, hubungan keduanya tetap dingin. Hanya sekadar menyapa saja.


Akhirnya, Papa Jaya pun turun dari anak tangga dan bergabung dengan seluruh keluarganya yang sudah berkumpul petang itu. Mereka semua kini di sofa, dan seakan menunggu apa yang disampaikan oleh Papa Jaya kali ini.

__ADS_1


“Akhirnya kita berkumpul bersama,” ucap Papa Jaya sembari menatap ke wajah anak-anaknya satu per satu. Ada yang kurang yaitu Darren, karena putra sulungnya itu masih mendekam di penjara akibat kasus penculikan anak yang dilakukan Darren.


“Begini … Papa mengumpulkan kalian semua di sini … karena Papa akan menyampai wasiat dari Papa. Memang Papamu ini masih dalam keadaan sehat, hanya saja Papa ingin menikmati hari tua bersama Mama kalian. Sepanjang hidup Papa sudah Papa habiskan dengan membangun kerajaan bisnis Papa di bidang property dan konstruksi. Sekarang, sudah waktunya untuk Papa beristirahat. Beberapa waktu lalu, Papa tanyakan ke Gibran, maukah dia mengembangkan Jaya Corp lagi. Rupanya Gibran tidak bersedia, Gibran memilih untuk hidup mandiri tanpa harus bergabung dengan Jaya Corp. Sementara untuk Darren, Papa merasa tidak sepenuhnya yakin dengan Darren. Hanya saja Papa tetap akan mewariskan perusahaan kecil di luar Jaya Corp untuk Darren nanti. Lalu, sekarang … Papa ingin mewariskan Jaya Corp kepada Kanaya,” ucap Papa Jaya.


Saat nama Kanaya disebutkan, tampak Kanaya yang membelalakkan matanya. Tidak mengira bahwa perusahaan besar seperti Jaya Corp akan dilimpahkan kepadanya. Tentu saja Kanaya merasa keberatan, terlebih dirinya adalah orang asing bagi keluarga Jaya Wardhana.


“Pa, sebaiknya jangan Pa,” ucap Kanaya kali ini.


Kanaya sangat sadar diri, bahwa kedua anak kandung Papa Jaya dan Mama Sasmita lebih berhak untuk mewarisi Jaya Corp. Dirinya cukup bekerja saja di Jaya Corp.


“Tidak Naya … Papa sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Ditambah sudah cukup lama kamu bekerja sebagai Direktur Keuangan di Jaya Corp. Jadi, kamu layak menempatinya,” balas Papa Jaya.


“Kenapa tidak Gibran saja? Dia lebih berhak,” balas Kanaya lagi.


“Tidak Mbak Naya … aku tidak ingin bergabung dengan Jaya Corp. Aku lebih suka menjalani kehidupanku yang seperti ini. Lagipula, aku merasa tidak siap dengan perusahaan sebesar Jaya Corp,” balas Gibran.


“Giselle. Kamu kan juga lolosan Bisnis dan Manajemen, kenapa tidak kamu saja?” ucap Kanaya sembari menatap ke Giselle.


Terlihat Giselle yang menggelengkan kepalanya, “Tidak Kak … aku tidak siap. Ada prioritas lain yang harus aku kerjakan bersama Mas Gibran,” balas Giselle kali ini.


Kanaya tampak memejamkan matanya dan memijit keningnya yang tiba-tiba saja terasa pening.


Bisma yang sedari tadi diam, akhirnya pun juga angkat berita.


“Maaf Pa, bukan maksud Bisma untuk ikut campur. Hanya saja, Kanaya benar … ada Giselle dan Darren yang lebih berhak untuk Jaya Corp,” ucap Bisma kali ini.


Secara logika, memang orang tua akan mewariskan perusahaan kepada anak kandungnya, bukan kepada anak angkat. Sehingga Bisma pun memberanikan diri untuk angkat bicara.


“Papa punya pertimbangan tersendiri. Memimpin dan mengembangkan Jaya Corp tidak mudah. Papa tidak mau memberikan perusahaan sebesar dan sestabil seperti Jaya Corp layaknya menyobek roti dan membagikannya kepada anak-anak Papa. Dia yang akan memimpin Jaya Corp tentu adalah orang yang memiliki kompetensi, memiliki pikiran terbuka untuk melihat peluang bisnis di masa yang akan datang. Lagipula, selama bertahun-tahun Kanaya sudah menempa dirinya di sana,” balas Papa Jaya.

__ADS_1


Sungguh ini adalah sebuah keputusan yang besar. Kanaya pun tidak bisa menerima keputusan besar ini dengan lapang dada. Mungkin Gibran dan Giselle bisa menerimanya, tetapi bagaimana dengan Darren? Kanaya tidak ingin terlibat dalam pertengkaran atau perselisihan lagi dengan Darren di masa yang akan datang.


__ADS_2