Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Segala Daya dan Upaya


__ADS_3

Keesokan harinya, Kanaya dan Bisma mulai bersiap untuk menyisir area di sekitar Daycare dan beberapa tempat yang bisa mereka datangi untuk mencari keberadaan Aksara. Sekalipun, sudah sepekan berlalu, tetapi Kanaya dan Bisma masih berharap dan terus bersemangat untuk mencari Aksara.


“Sudah siap?” tanya Bisma kepada istrinya itu.


“Iya, ayo Mas,” jawabnya.


Mulailah Bisma membawa Kanaya keluar dari rumah dan menyisir jalan-jalan di Ibukota untuk mencari keberadaan Aksara. Mereka untuk mencari di taman yang berada di area Daycare. Keluar dari mobilnya, teriknya sinar matahari menyapa mereka berdua. Akan tetapi, semua itu tidak menyurutkan semangat Kanaya dan Bisma untuk mencari Aksara.


Beberapa kali Kanaya memperhatikan beberapa anak kecil yang seumuran Aksara. 2,5 tahun memang usia yang masih sangat kecil, untuk itu Kanaya berjalan dengan menggenggam foto milik putranya, berharap mungkin saja ada beberapa orang yang melihat Aksara.


“Permisi ada Anda pernah melihat anak di foto ini?” tanya Kanaya kepada beberapa orang yang ditanyai di taman itu.


“Tidak Bu … kami tidak pernah melihat,” jawaban dari kebanyakan orang yang dia temui.


Seluruh taman kota dia kelilingi, beberapa orang dia tanyai, tetapi tidak ada yang tahu Aksara. Kanaya pun menghela nafas yang terasa berat sembari menyeka buliran keringat yang menetes di keningnya.


Kamu berada di mana Sayang?


Tahukah kamu kalau Bunda dan Ayah mencari kamu.


Bunda dan Ayah sangat kangen sama kamu, Mas Aksara …


Kangen dengan kamu yang selalu bangun di pagi hari, memeluk Ayahmu dengan posesif.


Kangen dengan kamu yang selalu memanggil kami Yayah dan Nda …


Kangen dengan kamu yang selalu lahap tiap kali Bunda suapin.


Mas Aksara ada di mana?


Bunda kangen banget sama kamu, Mas Aksaranya Bunda …


Berbicara dengan hatinya sendiri, kedua mata Kanaya tampak berkaca-kaca. Hari-hari yang dia jalani kian terasa berat rasanya. Tanpa Aksara di sisinya, rasanya hari-harinya kembali menjadi hari berselimut mendung dan berhiaskan air mata. Mencoba bertahan di saat hati terasa begitu rapuh rasanya begitu berat.


“Mau mencoba menyisir tempat lainnya Sayang?” tanya Bisma kepada istrinya.


Kanaya pun mengangguk, “Iya Mas … kira-kira di mana Aksara ya Mas? Aku kangen,” ucapnya.

__ADS_1


Rasa kangen untuk sang putra di dalam hatinya begitu dalam, ingin rasanya memeluk putra kecilnya, menggendong Aksara, menjalani sepanjang hari dengan Aksara. Akan tetapi, semua itu tidak bisa Kanaya lakukan karena Aksara terpisah darinya.


Bisma lantas merangkul bahu Kanaya, “Kita cari dulu, Sayang … yuk, mumpung masih terang,” ajak Bisma.


Kanaya lantas berjalan mengekori suaminya itu. Pencarian mereka kembali dilanjutkan, dan Bisma melajukan mobilnya dengan begitu perlahan, berharap di sudut-sudut kota, dia bisa menemukan Aksara. Bisma kembali menghentikan mobilnya di area taman kota yang lainnya.


“Yuk turun Sayang … kita cari di sini yah?” ajak Bisma kepada Kanaya.


“Iya Mas,” sahut Kanaya dengan lesu.


Keduanya memilih berpencar dan bertanya kepada beberapa orang dengan menunjukkan foto Aksara.


“Permisi apa Anda pernah melihat foto anak ini?” tanya Bisma kepada beberapa orang di taman itu.


“Tidak … kami tidak pernah melihatnya,” sahut orang-orang yang ditanyai Bisma.


Sama seperti Kanaya, Bisma pun lesu. Di mana lagi dia harus mencari putranya itu. Orang-orang yang dia tanyai juga tidak pernah melihat Aksara.


Ayah harus mencarimu di mana lagi Aksara?


Saat segala daya dan upaya kami lakukan.


Biarkan engkau yang menerangi jalan kami.


Mempertemukan kami dengan putra kami.


Menyediakan satu hari yang baik untuk kami bertiga.


Di mana pun Aksara berada tolong jagai dan sertai dia.


Berkahi putra hamba dengan rahmat-Mu.


Kiranya ada seseorang yang merawat Aksara dengan baik, Ya Tuhan …


Sembari mengelilingi area taman kota itu, Bisma pun berdoa dalam hatinya. Berharap Sang Pemilik Semesta akan mendengar jeritan hatinya, keinginan terbesarnya sebagai seorang Ayah untuk bisa bertemu kembali dengan putranya.


Hampir 45 menit, keduanya menyisir taman kota itu, tetapi hasilnya pun. Tidak ada Aksara dan tidak ada pula orang-orang yang pernah melihat Aksara.

__ADS_1


“Kemana lagi kita harus mencari Aksara, Mas?” tanya Kanaya kepada suaminya itu.


Bisma terdiam, tidak bisa memberikan jawaban. Sudut jalanan dia lewati, taman kota dia datangi, bahkan banyak orang dia tanyai tetapi hasilnya nihil. Aksara tetap belum bisa ditemukan. Melihat suaminya yang hanya diam, Kanaya pun meneteskan air matanya.


“Aksara kita masih hidup kan Mas?” tanya Kanaya.


Air mata wanita itu berderai dengan begitu derasnya, pertanyaan tersulit yang harus dia tanyakan kepada suaminya itu.


“Ssstttss, jangan bertanya yang bukan-bukan Sayang … Aksara masih hidup. Dia sehat dan tidak kekurangan apa pun,” sahut Bisma.


Keyakinan hati yang dimiliki Bisma sekarang ini adalah putranya masih hidup dan tidak kekurangan apa pun. Itu yang menjadi harapan dan doanya. Jari-jemari Bisma bergerak dan mengusapi tetesan air mata yang jatuh di pipi istrinya itu.


“Jangan menangis Sayang … tuh, orang-orang liatin kamu. Kita lanjutkan ke tempat yang lain?” tanya Bisma.


Kanaya pun mengangguk, “Iya … ayo,” jawabnya dengan wajah yang tertunduk.


Harapan di dalam hatinya nyaris redup, tetapi Kanaya tetap berharap putranya masih ada, hidup, dan tidak kekurangan suatu apa pun. Lilin di dalam hatinya akan tetap dia nyalakan untuk bisa bertemu dengan Aksara.


Bisma menggandeng tangan Kanaya, membawa istrinya untuk kembali memasuki mobil. Kanaya lantas menatap wajah suaminya itu, “Perlukah kita mencari Aksara di pemakaman Mas?” tanyanya.


Lagi-lagi Kanaya terisak, hatinya terasa sesak saat harus mengajukan pertanyaan yang bukan hanya sukar baginya, tetapi pasti juga sukar bagi Bisma.


Kedua mata Bisma pun membola mendengar pertanyaan dari Kanaya, “Apa kamu seputus asa itu?” tanya Bisma kepada istrinya.


Kanaya menggelengkan kepalanya, isakannya kian pilu dan menyayat hati, “Tidak … hanya saja kenapa tidak ada jejak Aksara,” sahut Kanaya.


“Tenang ya … tenangin hati dan pikiran kita dulu,” sahut Bisma.


“Aku ingin kuat, nyatanya aku tidak bisa Mas … aku begitu rapuh,” aku Kanaya.


Tanpa basa-basi, Bisma segera merengkuh istrinya yang rapuh itu dan memeluknya dengan erat. “Kita jalani bersama-sama yah … jangan patah semangat. Ayo, kita terus mencari. Menunggu pun tidak masalah, aku percaya kita akan mendapatkan Aksara kembali. Kita sebut nama Aksara di dalam doa-doa kita. Berharap Yang Kuasa akan mendengar doa yang tulus dari hamba-Nya,” ucap Bisma.


Yang Bisma lakukan adalah membesarkan hati istrinya. Sekali pun hatinya sendiri rapuh, tetapi pria itu tetap membesarkan hati istrinya.


Dalam isakannya, Kanaya pun mengangguk, “Iya Mas. Berbelas kasihanlah kepada kami Tuhan. Dengar doa dan lihat air mata kami, ya Tuhan …,” ucap Kanaya dengan terisak-isak.


Jika manusia yang bergerak dan tidak menemukan jawaban, maka Kanaya dan Bisma akan berserah kepada Tuhan dan benar-benar berharap bahwa Yang Kuasa akan mendengar doanya dan melihat setiap air mata yang jatuh untuk berharap dan memohon dengan penuh kerendahan hati kepada Tuhan.

__ADS_1


__ADS_2