Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Bilik 2x3 Meter


__ADS_3

Menilik Sandra yang terlihat sedang emosional, dan ada beberapa narapidana yang tengah memperhatikan Sandra yang tengah menangis. Sejenak Darren beranjak, pria itu meminta izin kepada petugas lembaga permasyarakatan untuk menyewa sebuah ruangan yang biasanya digunakan untuk Conjugal Visit.


Conjugal visit adalah ruangan khusus yang biasanya disediakan oleh rumah tahanan atau lembaga permasyarakatan untuk narapidana secara khusus. Di ruangan ini, mereka yang tengah dikunjungi bisa berbicara dengan lebih intens tanpa harus malu ditatap oleh para narapidana yang lain. Misalnya, seorang anak bisa mengunjungi orang tuanya yang tengah ditahan untuk melepaskan kangen. Pun demikian dengan istri yang mengunjungi suaminya yang tengah ditahan.


“Ayo, ikut aku sebentar,” Darren mengajak Sandra untuk mengikutinya.


Keduanya berjalan mengikuti petugas lapas yang berjalan terlebih dahulu di depannya, berjalan menuju arah belakang lapas. Hingga akhirnya memasuki salah satu ruangan yang berukuran cukup sempit. Hanya 2 x 3 meter luasnya.


“Silakan,” ucap petugas lembaga permasyarakatan itu. Setelah Darren dan Sandra memasuki ruangan itu, petugas lapas pun segera mengunci ruangan itu dari luar.


“Kenapa kita dikunciin?” tanya Sandra yang tampak bingung. Mengapa dirinya dan Darren saat ini berada di ruangan yang sempit dan petugas menguncinya dari luar.


Darren pun mengangguk, “Iya, aku menyewanya untuk dua jam. Ini namanya bilik Hubungan Suami Istri. Bilik HSI,” jawabnya dengan tenang.


Setelahnya Darren segera memeluk Sandra dan menyeka air mata yang berlinangan di sudut mata Sandra. “Jangan menangis, tadi beberapa narapidana dan petugas rutan melihatmu yang tengah menangis,” ucap pria itu memberitahu Sandra.


Kemudian, Darren mengajak Sandra duduk di sebuah kasur yang terbuat dari busa yang begitu tipis. Kasur itu hanya berukuran single bed dan berada di atas lantai begitu saja.


“Sini,” ucap pria itu sembari kembali memeluk Sandra. Berharap sedikit waktu yang dia miliki di bilik HSI itu setidaknya bisa untuk mengobrol dengan lebih intens dengan Sandra.


Sandra pun segera memeluk tubuh suaminya itu, mendekapnya dengan erat. Lagi-lagi air matanya pun jatuh.


Darren pun menghela nafasnya dan segera menggerakkan tangannya dengan lembut, turun dan naik di punggung Sandra. “Menangislah, tidak apa-apa,” ucap Darren lagi sembari masih memeluk Sandra.


Tidak bisa terbendung lagi, kali ini Sandra benar-benar menangis di dalam pelukan Darren. Tidak mengira, dirinya akan memiliki sedikit waktu untuk memeluk Darren tanpa malu harus diperlihatkan oleh orang lain atau petugas lapas.


“Aku kangen kamu,” pengakuan itu meluncur begitu saja dari bibir Sandra. Tidak dipungkiri bahwa dirinya benar-benar kangen dengan Darren.

__ADS_1


Sejak menikah, dirinya harus rela berpisah dari Darren. Tidak ada ritual malam pertama, tidak ada kisah romantis yang membingkai kehidupan pasangan pengantin baru, yang ada justru Sandra harus meringkuk sendirian di apartemennya. Tanpa belaian dan kasih sayang seorang suami.


Darren pun mengangguk, pria itu lantas mengecup puncak kepala Sandra, “Maafkan aku,” ucapnya di sela-sela melabuhkan kecupannya untuk Sandra.


Sandra pun mengurai pelukannya di tubuh Darren, wanita itu lantas menatap wajah Darren, “Berjanjilah, begitu sudah keluar dari sini, hiduplah dengan baik. Jangan melakukan dosa lagi, aku dan anak kita akan menunggumu,” ucapnya dengan mata yang tampak berkaca-kaca.


Darren kemudian mengangguk, “Ya, aku akan berusaha,” jawabnya.


Setelahnya pria itu menangkup wajah Sandra dengan kedua tangannya, pria itu sedikit menunduk dan mengecupi bibir Sandra. Berusaha menyampaikan hasrat terpendamnya yang dia tahan dan simpan selama ini. Hingga akhirnya, pria itu pun berbicara lirih kepada Sandra, “Boleh?”


Sebuah pertanyaan sederhana yang akan menuju ke kegiatan yang rumit dan sama sekali tidak sederhana.


Sandra belum menjawab, wanita itu mengamati pada bilik berukuran 2x3 meter itu. “Di sini?” tanyanya.


Darren kemudian mengangguk, “Iya … inilah bilik hubungan suami istri atau bilik asmara itu,” jawab Sandra.


Darren mengangguk lagi, “Petugas lapas saja menguncinya dari luar. Pasti aman, aku sudah menyewanya,” jawabnya lagi.


“Kamu yakin?” seolah Sandra tidak yakin jika berada di dalam bilik itu akan benar-benar aman.


Darren pun mengangguk, “Iya, 15 menit lagi tidak apa-apa. Bagaimana?”


Hingga melihat kepastian yang Darren berikan, akhirnya Sandra mengangguk. Pria itu segera menindih Sandra, dengan bertumpu pada kedua sikunya. Melabuhkan ciuman di bibir Sandra. Mencecap semua rasa yang ditawarkan oleh kedua belah lipatan bibir itu. Tangannya bergerak untuk menjamah setiap area yang menggodanya.


Hingga akhirnya, tanpa menunggu waktu lama, Darren menyatukan dirinya dengan Sandra. Di bilik itu, di sudut lembaga permasyarakatan kedua menikmati nektar cinta yang bisa mereka reguk untuk sesaat. Penyatuan yang terjadi dengan memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh lembaga permasyarakatan.


Ironis memang, tetapi memang terkadang ada beberapa narapidana yang menyewa bilik itu untuk memenuhi kebutuhan batiniah mereka.

__ADS_1


***


Satu jam kemudian …


Di bilik yang sekaligus terdapat kamar mandi dalam berukuran kecil itu, Sandra sekaligus membersihkan dirinya setelah bercinta dengan Darren. Seumur hidup, tidak pernah Sandra mengira akan melakukan hubungan suami istri di sebuah bilik di dalam lembaga permasyarakatan.


“Maaf ya, kita terpaksa melakukannya di sini,” ucap Darren sembari merangkul bahu Sandra.


Dirinya merasa bersalah karena harus menyewa bilik itu untuk menuntaskan hasrat biologisnya.


Sandra pun menggeleng, “Tidak apa-apa, lagipula kita melakukannya sebagai suami istri. Bahkan pernikahan kita juga berlangsung di sini, jadi petugas lapas ini sudah tahu bukan jika aku adalah istrimu?” tanya Sandra.


Darren mengangguk, “Ya, mereka sudah tahu. Apakah tadi menyakitimu, menyakiti dia?” tanya Darren dengan tangannya bergerak menyentuh perut Sandra.


“Tidak, tidak sakit … mungkin saja di baby malahan bahagia karena sudah ditengokin Papanya,” sahutnya dengan menunduk dan tersenyum malu.


Hingga keduanya berbicara beberapa saat, dan terdengar ketokan pintu dari luar yang tak lain adalah dari petugas lembaga permasyarakatan.


“Kunjungan berakhir,” teriak penjaga lapas tersebut.


Perlahan Darren dan Sandra sama-sama bangkit berdiri, hingga akhirnya pintu bilik itu dibuka dari luar.


Sandra menundukkan wajahnya lantaran malu harus menghadapi petugas lapas yang baru saja membuka pintu bilik itu. Kemudian, keduanya pun keluar dari bilik HSI tersebut.


“Baiklah aku pamit. Di lain waktu aku akan mengunjungimu,” pamit Sandra kepada Darren.


Pria itu pun mengangguk, “Ya, hati-hati di jalan. Jaga babynya dengan baik,” ucap Darren sembari melambaikan tangannya kepada Sandra.

__ADS_1


__ADS_2