Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Perpaduan Dramatis dan Romantis


__ADS_3

“Perasaan kita sama, Dok …,” ucap Kanaya dengan berderai air mata.


Hingga tanpa aba-aba, Kanaya lantas memeluk Bisma begitu saja, tidak menghiraukan bagaimana badan pria itu sudah basah kuyup. Gadis itu terisak dan benar-benar menyadari, ada perasaan yang tersembunyi di balik sebuah benang yang bernama persahabatan. Setidaknya itulah Kanaya yang rasakan saat ini. Saat di mana, pria bernama Bisma itu sejak mereka bertemu yang terus memotivasinya, mendorongnya untuk diet sehat, membakar semangatnya untuk mengejar mimpinya, mengingatkannya pentingnya berusaha hingga setiap jalan akan terbuka, dan pria itu yang dua minggu yang lalu mengungkapkan perasaannya untuk mengejarnya.


Tak mampu berkata-kata, Kanaya hanya bisa menangis. Terisak. Akan tetapi, suara hujan nyatanya mampu meredam isakannya. Di satu sisi, Bisma tersenyum lega, pria itu pun balas merengkuh tubuh Kanaya dan membawanya dalam pelukannya.


“Akhirnya … menyadari bahwa perasaan kita sama rasanya benar-benar membuatku lega.” ucap pria itu dengan mengeratkan pelukannya.


Tergelak dalam tawa, Bisma pun mengurai sejenak pelukannya guna melihat wajah Kanaya, pria itu menggerakkan tangannya guna bisa menyeka air mata di wajah Kanaya. Air mata yang membuat matanya memerah, sayang air mata itu telah lenyap, menyatu dengan basahnya air hujan.


“Menyadari perasaan, apa memang harus membuatmu tersedu sedan seperti ini?” tanya Bisma perlahan sembari menyeka sisa-sisa air mata yang mungkin saja meninggalkan jejak-jejak di wajah yang ayu itu. Pria itu tersenyum dengan sorot mata yang menatap Kanaya dengan begitu lekatnya.


Hingga Kanaya justru semakin terisak dalam tangisannya, “kenapa sih? Menyadari perasaan harus sedramatis ini?” Gadis itu melihat ke atas sana pada derasnya air hujan yang jatuh dengan begitu derasnya.

__ADS_1


“Ya, sangat dramatis … cinta dan air hujan, perpaduan yang dramatis sekaligus romantis,” ucap pria itu sembari kembali memeluk tubuh Kanaya dengan begitu eratnya. Membenamkan wajah gadis itu ke dalam dadanya, dengan kedua tangan yang merengkuh begitu erat. Hujan di atas sana, seolah tak memadamkan perasaan keduanya yang sama-sama membuncah.


Angin yang bertiup kencang, nyatanya justru membuat payung berwarna merah muda itu tertarik angin begitu saja, hingga payung itu terbang, melayang, dan akhirnya terhempas ke tanah. Gadis itu mengerjap dan mengurai tubuhnya dari rengkuhan Bisma, berniat mengejar dan mengambil kembali payung itu yang jatuh hanya beberapa meter di sisinya. Akan tetapi, seakan Bisma tidak memberi Kanaya celah untuk bergerak. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya, membiarkan hujan membasahi mereka berdua di depan halaman rumah Kanaya.


“Aku cinta kamu, Naya ….”


Sebuah pengakuan yang meluncur dengan begitu tulus dan lembut dari Bisma itu mengalun dengan begitu indahnya di indera pendengaran Kanaya. Gadis itu pun menganggukkan kepalanya.


Hingga perlahan, Bisma mengurai sekejab pelukannya, pria itu menundukkan kepalanya, dengan sorot mata yang hanya tertuju kepada Kanaya. Seolah-olah bola matanya dipenuhi hanya dengan satu objek dan itu adalah Kanaya. Sedikit memiringkan wajahnya, pria itu perlahan, tetapi dengan begitu lembut memberanikan dirinya untuk mencium bibir Kanaya di sana. Menyapa bibir dari seorang wanita yang sudah lama dicintainya. Membiarkan perasaannya kali ini menyapa dengan penuh kehangatan, sekalipun hujan membasahi keduanya,  sekalipun dentingan hujan yang cukup deras mengaburkan indera pendengarannya, tetapi pria itu tidak gentar untuk melabuhkan sapaan hangatnya tepat di tengah-tengah lipatan bibir Kanaya.


Dalam keadaan tiba-tiba, Kanaya hanya mampu memegangi tepian jaket yang saat itu dikenakan Bisma. Dalam keadaan gelisah dan bimbang, perlahan gadis itu memejamkan matanya dengan dramatis, dia tidak tahu bagaimana caranya harus membalas sebuah ciuman, tetapi menolak ciuman dari Bisma juga tidak dia lakukan. Membiarkan bibir dan sapuan lidah dari seorang Bisma menyapa bibirnya di sana. Ciuman yang terjadi di tengah hujan yang seolah menjadi awal babak baru, hubungan keduanya yang sudah dalam satu tujuan. Memiliki perasaan yang sama dan juga memiliki harapan yang sama.


Pria itu lantas, menarik bibirnya dan tersenyum menatap wajah Kanaya, “terima kasih, Nay … jangan ragu. Orang tuaku sudah pasti tidak mempermasalahkannya. Jadilah pengantinku, Nay … enam bulan lagi, menikahlah denganku.”

__ADS_1


Perlahan Kanaya mengangguk, “ya … aku mau.” jawabnya dengan yakin bahwa kali ini Kanaya merasa sudah menjadi awal baginya untuk kembali membuka hati. Lagipula tidak semua pria akan memperlakukan wanita dengan kejam, melakukan kekerasan fisik mau pun verbal. Bahkan, jika boleh Kanaya meminta, dia akan meminta bahwa pria yang saat ini berdiri di hadapannya adalah pria yang memang Tuhan kirimkan secara khusus untuk dirinya. Melengkapinya, melindunginya, dan juga mencintainya.


...🍁🍁🍁...


Keesokan harinya adalah hari Sabtu, itu berarti sepanjang hari Kanaya bisa beristirahat, terlebih semalaman hujan-hujan membuat pagi ini Kanaya bangun dengan bersin-bersin, gadis itu merasakan dirinya tengah terserang flu, atau mungkin saja masuk angin.


Kanaya duduk bersandar di head board tempat tidurnya, kemudian gadis itu tersenyum dan memegangi bibirnya.


Jadi, semalam itu ciuman pertamaku. Ini benar-benar gila, sudah berpuluh-puluh kali aku menulis adegan ciuman dalam novelku, tetapi saat aku merasakannya sendiri. Perasaan bagaimana jantung ini seolah meletup-letup, bibir ini seakan terbuai, hingga kaki ini yang seakan lemas benar-benar membuat jantungku mencelos dari tempatnya.


Kanaya lantas tersenyum dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, seolah dirinya merasa malu mengingat bagaimana semalam Bisma dengan lembut menciumnya. Hangatnya bibir Bisma, deru napas pria itu, dan juga bayang-bayang ciuman di bawah guyuran hujan yang 100% tepat seperti ucapan Bisma, yaitu dramatis sekaligus romantis masih teringat dengan jelas dalam ingatan Kanaya.


Saat cinta menyapamu, saat cinta merengkuhmu, saat cinta membawamu, yang bisa kamu lakukan hanyalah mengikutinya. Sama seperti Kanaya, gadis yang merasa dirinya ingin menutup diri dan memiliki trauma karena kegagalan dari pernikahan sebelumnya, gadis itu kini justru merasakan bunga-bunga bermekaran di dalam hati. Pertama kali di sepanjang hidupnya, gadis itu tersenyum sendiri, tersipu malu sendiri, bahkan beberapa kali gadis itu tampak memegangi bibirnya itu. Jika jatuh cinta acapkali membuat seseorang menjadi gila, maka Kanaya merasa dirinya memang berada di ambang batas kewarasan dan kegilaannya.

__ADS_1


Semoga keyakinanku menerimamu dan membuka diriku adalah pilihan yang tepat, Bisma … jika busur berwarna-warni di angkasa kelabu itu adalah dirimu, aku akan tetap meminta kepada Tuhan, semoga busur aneka warna itu selamanya akan mewarnai hidupku. Semoga rasa ini tidak salah, semoga cinta ini nyata dan tidak membawa duka.


__ADS_2