Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Romansa Film India


__ADS_3

Sementara itu, di apartemennya Bisma dan Kanaya tampak sedang menimang bayi Aksara. Duduk di sofa dengan menatap langit biru yang kian memutih di angkasa Ibukota siang itu. Ayah muda itu tampak menimang Aksara dengan satu tangannya, sementara pada lengan yang satunya, ada kepala Kanaya yang bergelayut manja di sana.


“Aksara kalau ditimang kayak gini, keliatan nyaman banget ya Sayang?” tanya Bisma perlahan. Sorot matanya berbinar memandangi buah hatinya yang terlelap dalam timangannya.


Kanaya pun mengangguk, “Iya … boboknya jadi nyenyak banget ya Mas,” ucapnya yang juga turut memperhatikan Aksara.


“Dominan wajahnya mirip kamu ya, Mas.” Kanaya seolah bayi Aksara mewarisi fitur wajah suaminya. Si bayi kecil itu mungkin saja adalah duplikat suaminya.


Mendengar perkataan Kanaya, Bisma pun tertawa. Ada rasa bangga di dalam hatinya saat mendengar ucapan istrinya bahwa Aksara mirip dengan dirinya. Perlahan, Bisma tersenyum, “Ada bagian yang mirip kamu juga kok. Nih, bibirnya kecil kayak kamu.” Bisma menjawab sembari menunjuk bibir Aksara.


“Cuma bibirnya, tetapi mata, alis, hidung, semua fitur wajahnya sama kayak kamu.” Kanaya tampak memperhatikan wajah mungil Aksara. Ya, di matanya bayi kecil itu memang terlihat sangat mirip dengan suaminya.


“Bunda cuma jalan lahir saja ya Nak, semuanya dominan Ayah.” Lagi Kanaya berbicara sembari menatap Aksara sejenak kemudian menatap suaminya. Keduanya benar-benar mirip.


Bisma pun tak kuasa tergelak dalam tawa mendengar celotehan istrinya itu. Jika, dia berada di posisi Kanaya tentu saja Bisma akan protes kenapa bayi yang sudah dikandung selama 9 bulan, saat dia keluar justru persis dengan Ayahnya. Rasanya begitu lucu, mendengar Kanaya yang mengatakan bahwa dirinya hanya sebatas jalan lahir saja,


Akan tetapi, mungkin karena Bisma tertawa terlalu keras hingga terbahak, suara itu mengganggu bayi Aksara hingga bayi itu perlahan terbangun dan menangis.


“Ssttss … cup-cup, anaknya Ayah. Ketawanya Ayah terlalu kencang ya, sampai kamu kebangun,” ucap Bisma yang mencoba menenangkan Aksara.


Sayangnya si bayi justru menangis semakin kencang, maka dari itu merasa tidak bisa menenangkan Aksara, Bisma segera mengalihkan Aksara kepada Bundanya. Biasanya dalam dekapan sang Bunda dan juga mendapatkan ASI, Aksara akan lebih mudah tenang.


“Ikut Bunda dulu ya,” ucap Bisma lagi sembari memberikan Aksara kepada Kanaya.


Dengan menerima Aksara dengan kedua tangannya, Kanaya segera menenangkan Aksara dengan memberinya ASI. Seketika, lenyaplah sudah tangis Aksara. Bayi itu kembali tenang dan terlihat damai mendapat sumber kehidupannya.

__ADS_1


“Kalau bikin Aksara nangis pinter, tapi enggak bisa nenangin. Pasti Bundanya yang nenangin Aksara.” Kanaya berbicara sembari melirik suaminya itu.


“Maaf,” ucap Bisma yang memang merasa tidak enak hati, Aksara yang tertidur justru terbangun karena dia tertawa.


Sementara itu, saat tengah menyusui Aksara, perut Kanaya berbunyi, sebagai tanda bahwa perutnya kosong dan ingin diisi.


“Kamu laper ya Sayang?” tanya Bisma dengan menatap wajah istrinya.


“Hehehehe, kedengaran ya Mas?” Kanaya justru balik bertanya dengan tersenyum kepada suaminya, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih dan berjajar rapi di sana.


Tidak menunggu waktu lama, Bisma kemudian berdiri. Pria itu menuju ke dapur dan mengambil nasi putih beserta sayuran. Setelahnya, dia kembali duduk di samping Kanaya.


“Sambil makan yah?” Bisma datang dengan piring yang terisi penuh sayuran dan lauk.


“Yang nyuruh kamu makan sendiri sapa? Ayo, buka mulutnya. Aku yang suapin. Kamu memberi makan Aksara kan, aku yang akan memberi makan kamu, menyuapimu.” Bisma berbicara dengan membawa satu sendok berisi nasi dan sayur ke depan mulut Kanaya.


Wanita itu pun mengangguk dan membuka mulutnya, dengan sukarela menerima suapan demi suapan dari suaminya itu. Akan tetapi, dilayani oleh Bisma seperti ini membuat Kanaya tidak enak hati.


“Kamu juga makan saja, Mas … sudah waktunya makan siang,” ucap Kanaya yang meminta suaminya untuk makan juga. Hari sudah siang, sementara suaminya juga belum mengisi kembali perutnya.


Bisma mengangguk, lantas dia juga menyuapkan satu sendok nasi dan sayuran ke dalam mulutnya sendiri. Mengunyahnya perlahan, dan kemudian menelannya. Setelahnya, pria itu kembali berbicara, “Sepiring berdua aja ya, Bunda … biar romantis. Kayak orang pacaran,” jawabnya dengan kembali menyuapi Kanaya.


Tampak Kanaya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Bisa-bisanya sih, Yah … mana ada pacaran bawa baby coba. Lagian, waktu pacaran dulu, kita pernah sepiring berdua?” tanyanya.


“Enggak pernah kan,” lagi Kanaya yang kembali berbicara. Menurutnya, selama berpacaran dulu dengan Bisma, mereka tidak pernah memakan dari piring yang sama dan alat makan yang sama.

__ADS_1


Bisma lantas tersenyum, “Emang belum pernah sih, baru kali ini. Aku enggak romantis ya Sayang dulu waktu pacaran?” tanyanya kepada istrinya.


“Iya, enggak romantis sih. Cuma romantis banget, kamu itu mau nunggu aku hujan-hujannya sudah kayak adegan di film India aja loh, Mas. Untung waktu itu kita enggak lanjut menari-nari di bawah guyuran hujan,” sahut Kanaya dengan wajah yang memerah, mengingat kembali momen dramatis dan romantis yang berpadu padan.


Bisa tertawa, “Lebih mendingan menari, daripada ngucapan dialog ini, ‘Cinta pertamaku tak terbalas,’ nyesek mana hayo?”


Kali ini justru Kanaya yang tertawa, tidak mengira rupanya suaminya itu hafal salah satu dialog terkenal pada Film India yang hits di tahun 1997 itu. “Kamu liat film itu Mas?” tanya Kanaya seolah tak percaya.


Suaminya yang berprofesi sebagai Dokter agaknya juga pernah menonton film India. Berarti setidaknya, demam Bollywood memang melanda anak 90an waktu itu,


“Itu ikonik banget, Sayang … jadi ya aku nemenin Bunda Hesti nonton aja,” jawabnya sembari mengedikkan bahunya.


Kanaya lantas mengangguk, “O … jadi Bunda Hesti penikmat film India ya Mas?” tanyanya kepada suaminya.


“Iya … apalagi kalau Shahrukh Khan, Bunda Hesti sudah lihat semua filmnya.” Bisma menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


“Wah, sama kayak aku dong. Aku juga suka dia,” sahutnya dengan mata berbinar. Tak mengira bahwa dirinya dan Bunda Hesti memiliki kesukaan yang sama dan juga mengidolakan King Khan itu.


Bisma kemudian mengerutkan dahinya, “O … jadi sukanya dia, enggak suka sama aku?” tanyanya perlahan dengan menunjukkan wajah datar.


“Eh, bukan itu maksudku, tapi aku cuma ngefans … ya sebatas ngefans. Semua filmnya bagus, semua film yang dia mainkan perannya ikonik banget.” Kanaya menjawab dan menegaskan bahwa perasaannya sebagai seseorang yang mengidolakan sang Super Star dari Mumbai itu.


Merasa bahwa suaminya masih diam dan menunjukkan wajah datarnya, Kanaya kemudian meraih tangan suaminya, menggenggamnya erat. “ … tapi, sekarang ada udah punya orang yang aku idolakan dan aku cintai, melebihi apa pun. Orang itu adalah kamu, Ayah Bisma.”


Sontak saja senyuman terbit di wajah Bisma, tidak mengira istrinya akan merayunya sedemikian rupa.

__ADS_1


__ADS_2