Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Tahun-Tahun yang Berlalu


__ADS_3

Tidak terasa bulan berganti dengan bulan. Hingga dua tahun lamanya telah terlewati. Kanaya dan Bisma berusaha hidup dengan normal, kendati hatinya sama-sama terdapat lubang yang menganga. Lubang yang serasa kosong lantaran sudah dua tahun lamanya sama sekali tidak ada kabar tentang Aksara.


Kendati demikian pasangan suami istri itu sama-sama berjuang membalut luka di hatinya. Sama-sama bergandengan tangan untuk menatap hari depan. Tanpa semuanya itu sangat tidak mungkin keduanya bisa sampai di tahap ini.


“Hari ini ulang tahun Aksara yang keempat, Mas,” ucap Kanaya.


Wanita itu seakan ingin mengingatkan kepada suaminya bahwa hari ini adalah hari yang spesial. Alih-alih mengingat hari di mana Aksara hilang dan terpisah darinya, Kanaya lebih memilih untuk mengingat hari lahir Aksara. Hari di mana takdirnya berubah, hari di mana tangisan bayi kecilnya begitu menyempurnakan hidupnya.


“Iya Sayang … putra kita akan berusia 4 tahun hari ini,” sahut Bisma.


“Kira-kira Aksara sudah setinggi apa ya Mas? Dia sudah bisa berbicara belum ya Mas?” tanya Kanaya lagi.


Sekalipun wanita itu tersenyum, tetapi terlihat jelas ada kesedihan di matanya. Ada duka yang seolah tergurat di air mukanya. Kesedihan seorang Ibu yang tidak bisa tergambarkan. Perpisahan dengan Aksara begitu membuat Kanaya seperti sesak nafas setiap harinya. Akan tetapi, Bisma selalu mendukung Kanaya, mensupport istrinya itu untuk bisa bangkit dan melewati hari-harinya yang berselimut mendung.


“Pasti Aksara kita sudah bisa berbicara Sayang … mungkin sekarang dia sudah sepinggang kita,” sahut Bisma. Ya, pria itu mengira-ira bahwa anak berusia 4 tahun kurang lebih akan setinggi pinggang manusia.


Kanaya pun tersenyum, wanita itu mengusap foto bayi milik Aksara dan membawanya dalam pelukannya.


“Hari ini adalah hari yang istimewa bagi kamu, Aksaranya Bunda … Bunda berharap, jika kamu tinggal bersama keluarga akan datang orang-orang yang mengasihi dan menyayangimu. Kiranya kamu bahagia dan sehat di sana. Bunda dan Ayah berharap bahwa di hari yang baik, hari yang sudah Tuhan tentukan dan sediakan, kita bisa bertemu kembali. Bunda selalu menyayangi Aksara dan Bunda selalu berharap hari baik itu akan segera tiba,” ucap Kanaya.


“Selamat ulang tahun yang keempat putranya Ayah … di hari yang bahagia ini, tanpa kamu di sisi Ayah dan Bunda memang semuanya berjalan dengan tidak sempurna. Akan tetapi, Ayah selalu percaya bahwa Allah yang akan menaungi kamu dengan rahmat-Nya. Allah yang akan menjagamu dari panas dan hujan, dan Allah yang mengirimkan orang-orang yang menyayangi kamu. Ayah selalu menyayangi Aksara. Ayah dan Bunda akan menunggu hari yang baik untuk bisa kembali bertemu dengan kamu dan Ayah akan menggendong kamu saat kita bertemu nanti,” ucap Bisma.

__ADS_1


Bisa dikatakan hari ini adalah hari ulang tahun kali kedua, di mana Kanaya dan Bisma hanya berdiri dan menatap foto Aksara. Merayakan ulang tahun sang putra tanpa tahu di mana keberadaan putranya itu. Berusaha membesarkan hati, sekali pun di saat-saat tertentu hari justru terasa begitu berat.


Bisma lantas mendekap erat tubuh istrinya itu dalam pelukannya, dan merengkuhnya dengan erat.


“Tidak terasa sudah dua tahun … selalu sabar ya Sayang. Kita juga tetap berusaha, Allah selalu membukakan jalan bagi hamba-Nya yang sabar dan mau berusaha,” ucap Bisma lagi.


Kanaya pun menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya Mas … aku akan selalu bersabar. Bahkan di hari-hari terburukku pun, aku akan selalu bersabar,” balasnya.


Tidak dipungkiri bahwa suaminya adalah sosok yang begitu penyabar. Mungkin jika bukan Bisma yang selalu mengingatkan Kanaya untuk bersabar, sudah pasti Kanaya mungkin akan mengalami gangguan jiwa pasca kehilangan Aksara. Akan tetapi, keduanya benar-benar saling bergandengan tangan, saling mensupport. Mereka menangis bersama, mereka berdoa bersama, dan juga mereka berusaha bangkit bersama. Menjalani hidup dengan tetap berpengharapan bahwa Aksara akan kembali kepada mereka. Tidak masalah jika mereka harus menunggu untuk waktu yang lama, asalkan putranya bisa kembali berkumpul bersama dengan mereka.


“Malam ini, aku boleh tidur di kamarnya Aksara?” tanya Kanaya terlebih dahulu kepada suaminya.


Jika memang kerinduannya untuk Aksara seakan tak tertahan, Kanaya akan meminta izin kepada suaminya itu untuk tidur di kamar Aksara. Lagipula, sudah dua tahun berlalu dan kamar bayi milik Aksara tidak ada yang berubah. Semua masih ditata tetap pada tempatnya. Masih ada minyak telon, bedak bayi, dan juga parfum bayi yang Kanaya beli secara berkala. Saat dia merasa begitu rindu, Kanaya terkadang akan mencium aroma minyak telon dan parfum bayi yang selalu dipakai Aksara dulu.


***


Sementara di Panti Asuhan Kasih Ibu …


Aksara kecil yang sewaktu ditemukan oleh Ibu Lisa masih berusia 2,5 tahun dan mengalami keterlambatan dalam berbicara, sekarang Aksara sudah bertumbuh. Bocah itu kini sudah berusia 4 tahun. Jika, dulu Aksara mengalami speech delay, di usianya yang keempat siapa sangka justru Aksara sudah bisa membaca dengan lancar.


Tentu perubahan yang baik ini tidak lepas dari tangan Ibu Lisa yang memperhatikan Aksara secara khusus, stimulasi tumbuh kembang Aksara, membacakan buku-buku, mengajak bicara, dan semua yang bisa Ibu Lisa lakukan untuk bisa membuat Aksara lancar berbicara.

__ADS_1


Sore ini, Ibu Lisa meminta seluruh anak-anak yang ada di Panti Asuhan untuk berkumpul bersama karena ada pengumuman yang akan Ibu Lisa sampaikan.


“Sore anak-anak semua,” sapa Bu Lisa kepada seluruh anak-anak yang berada di Panti Asuhan itu.


“Selamat sore Bu ….”


Begitu para anak menyahut ucapan salam dari Bu Lisa. Mereka menjawabnya serempak.


“Bu Lisa mau menyampaikan kepada kalian semuanya bahwa esok Panti Asuhan kita akan kedatangan tamu. Ada keluarga yang akan datang kemari dan berbagi kasih kepada kita semuanya. Besok silakan ada anak yang menyanyi di depan dan memimpin doa untuk tamu kita yah,” jelas Bu Lisa.


“Baik Bu,” sahut anak-anak lagi secara serempak.


Usai itu, rupanya Aksara menghampiri Bu Lisa.


“Bu Lisa, keluarga itu yang seperti apa?” tanya Aksara.


Bu Lisa pun sedikit menunduk dan mengusap puncak kepala Aksara, “Keluarga itu terdiri dari Ayah, Ibu, dan Anak, Nak … besok akan ada keluarga yang datang kemari Aksara,” jelas Bu Lisa.


“Kapan keluarga Aksara datang, Bu?” tanya Aksara dengan wajah polosnya.


Tidak mengira bahwa dalam hatinya Aksara pun mengharapkan keluarganya akan datang dan menemuinya.

__ADS_1


“Sabar ya Aksara … nanti suatu saat pasti kamu akan bertemu dengan keluarga kamu, kamu akan bertemu dengan Ayah dan Bunda kamu,” jelas Bu Lisa.


Mendengar jawaban dari Bu Lisa, Aksara kecil pun berdiri, wajahnya menjadi murung. Dalam pikirannya sekarang ini, besok jika ada keluarga yang datang ke Panti Asuhan, mengapa dirinya justru menjadi seorang anak yang tidak memiliki keluarga. Aksara pun berharap bahwa suatu saat sama seperti yang diucapkan Bu Lisa bahwa keluarganya pun akan datang dan menjemputnya.


__ADS_2