
Keesokan harinya, Kanaya dan Bisma menyempatkan diri untuk mengunjungi Cappadocia. Rasanya perjalanan ke Turki belum lengkap jika belum menikmati pemandangan kota Cappadocia yang begitu eksotis.
Kota Cappadocia sendiri merupakan kota kuno yang terletak di Turki bagian tengah selatan. Cappadocia terkenal dengan hamparan vulkanik yang lunak yang terbentuk dari erosi gunung berapi selama jutaan baru. Geografis Cappadocia yang unik membuat para ilmuwan membuat wilayah ini disebut dengan cerobong peri.
Menjelang senja, Bisma mengajak Kanaya untuk menaiki balon udara. Dengan balon udara ini seluruh wilayah Cappadocia bisa terlihat dari udara.
"Kita naik balon udara ya Sayang?" ajak Bisma kepada istrinya itu.
Kanaya semula tampak menggelengkan kepalanya, "Aku takut ketinggian, Mas … itu aman enggak sih?" tanyanya sambil mengamati beberapa wisatawan yang justru begitu excited menaiki balon udara itu.
"Kan ada aku, kamu enggak perlu takut lagi. Selama di udara, kamu bisa pegangan kuat-kuat tangan aku ini. Mau ya? Udah sampai Cappadocia masak enggak naik balon udara sih?" ucap pria itu yang masih berusaha membujuk istrinya.
Setelah beberapa kali dibujuk, akhirnya Kanaya pun mengangguk, “Ya sudah, ayo … tetapi, pegangi ya Mas. Aku takut.” ucapnya yang masih merasa ngeri jika menaiki balon udara tersebut.
“Sudah pasti aku pegangi.” sahut pria itu dengan begitu meyakinkan.
Balon udara di Cappadocia ini begitu tersohor. Rasanya tidak lengkap, jika ke Cappadocia tetapi belum menaiki balon udara. Para wisatawan bisa menaiki balon udara ini dengan durasi 1,5 jam hingga 2 jam dan menikmati tempat yang mendapat julukan sebagai Fairy Chimneys. Sudut-sudut kota Cappadocia pun terlihat dari atas balon udara.
__ADS_1
Menaiki balon udara ini bisa secara grup atau personal. Lantaran, Bisma dan Kanaya dalam masa bulan madu, maka Bisma memilih satu balon udara yang hanya dinaiki keduanya saja. Kanaya menggenggam erat tangan suaminya, saat balon udara perlahan-lahan naik ke atas, hingga seolah melayang di udara. Wanita itu bahkan beberapa kali menghela napasnya dan tidak berani untuk menatap ke bawah.
Menyadari bahwa istrinya tengah ketakutan, Bisma lantas memeluk erat Kanaya, pria itu berbisik lirih di telinga istrinya, “Lihatlah, sudut kota kuno ini sangat bagus bukan?” ucapnya sembari menunjuk pemandangan yang terlihat dari atas.
“Iya, sangat bagus.” jawab Kanaya dengan pelan.
Bisma kemudian memeluk Kanaya dari belakang dengan kedua tangannya yang melingkari pinggang Kanaya dan pria itu mencerukkan dagunya di puncak bahu Kanaya, “Jangan takut … pemandangan ini, momen ini, dan juga kamu sendiri adalah perpaduan yang sangat indah. I Love U Kanaya Salsabilla.” ucap Bisma sembari mencium pipi istrinya itu.
Menjelang senja, pancaran langit kota Cappadocia dengan semburat jingga yang begitu indah. Kanaya menatap senja dengan pandangan yang begitu kagum.
“Ini indah banget. Thank you Mas … It’s my dream.” celetuk Kanaya sembari memeluk suaminya itu.
Kanaya terkekeh sembari mencerukkan wajahnya ke dada bidang suaminya itu, “Ya, it’s my dream, Mas … bukan tempat ini, tetapi kamu. Aku selalu bermimpi bisa melihat senja yang sedemikian elok, memancarkan pesona jingga di angkasa bersama orang yang aku cintai. Orang yang aku cintai itu kamu. Mimpiku terwujud di sini.”
Usai istrinya berhenti berbicara, lantaran di balon udara itu hanya ada mereka berdua, Bisma dengan lembut kembali melabuhkan ciumannya di bibir istrinya itu. Membiarkan senja yang begitu merona seolah menghampar di pelupuk mata menjadi saksi bahwa dia pun memiliki mimpi yang sama dengan istrinya.
Ciuman yang begitu lembut, tetapi juga begitu memabukkan, hingga Kanaya seolah ikut terjerumus dalam ciuman bibir yang dimulai oleh suaminya itu. Akan tetapi, ciuman itu terjeda untuk sejenak. Wajahnya mereka yang berjarak hanya sejengkal dan juga hembusan napas keduanya membuat keduanya sama-sama mengerjap.
__ADS_1
Bisma lantas menggerakkan ibu jari dan jari telunjuknya untuk memegangi dagu Kanaya, kemudian dia sedikit menunduk kepalanya. Dalam sepersekian detik, dia kembali mendaratkan bibirnya dengan sempurna di atas bibir istrinya.
Pria itu mencium istrinya di bawah sinar senja yang begitu indah. Tepat saat Sang Penjaga Siang itu menyembunyikan wajahnya dan menghilang Barat. Terbawa suasana, Kanaya pun lantas memejamkan matanya dan mengikuti permainan bibir yang begitu lembut dengan suaminya. Membiarkan Bisma membuainya dan menikmati ciuman senja keduanya untuk kali pertama, dengan Cappadocia sebagai tempatnya. Siluet keduanya yang tengah berciuman bermandikan pesona jingga di angkasa terlihat bahwa keduanya layaknya sepasang kekasih yang sama-sama saling mencintai.
Ciuman itu berlangsung hingga sekian menit lamanya, perlahan Bisma melepaskan bibirnya dan menatap Kanaya, “And … you are my dream, Kanaya. Kamu juga adalah mimpiku. Menikmati senja yang begitu indah dengan ditemani oleh istriku adalah sebuah mimpi yang menjadi nyata. I Love U So Much, My Lovely Kanaya.” ucap pria itu sembari mengecup bibir Kanaya beberapa kali.
Kanaya pun tersenyum, “I Love U Too, Mas Bisma, My Hubby.” sahut Kanaya sembari menjatuhkan dirinya dalam pelukan suaminya itu.
Tidak perlu ditanya lagi bagaimana jantung keduanya berdegup kian kencang untuk satu sama lain. Senja yang merona indah dan ciuman yang begitu lembut dan penuh perasaan seolah kian menyeramakkan senja yang begitu indah dan akan selalu terkenang oleh Bisma dan Kanaya. Ya, di tempat super eksotis inilahnya, keduanya untuk kali pertama sama-sama berciuman di bawah pesona senja dengan warna jingga yang membuat mereka begitu bahagia.
Untuk beberapa saat, waktu rasanya berhenti di tempatnya, sama seperti balon udara itu yang seolah berhenti, hanya Kanaya dan Bisma yang bergerak, saling membuai satu sama lain. Hingga perlahan, keduanya mengerjap. Bisma dan Kanaya sama-sama menjauhkan wajahnya satu sama lain setelah ciuman mereka yang berlangsung cukup lama.
Senyuman mengembang di wajah Khaira, seolah rona senja di atas sana berhasil menyamarkan rona kemerahan yang kini di pipinya. Setelah berciuman dan mengungkapkan perasaan satu sama lain, justru keduanya tampak canggung. Bahkan netra keduanya enggak bersitatap satu sama lain.
Menyadari bahwa istrinya yang merasa canggung, Bisma dengan cepat segera merangkul bahu istrinya dan mencium pipi istrinya itu, “Aku cinta kamu, Naya … rasanya jantung bertalu-talu menyuarakan namamu. Terus dampingi aku ya. Dalam suka dan duka, biarlah kita selalu bersama.” ucapnya dengan begitu tulus.
Kanaya pun mengangguk, “Aku juga cinta kamu, Mas Bisma … Amin, semoga Tuhan selipkan bahkan menghujani kita berdua dengan kebahagiaan.”
__ADS_1
Itulah yang bukan sekadar ucapan, tetapi juga doa dalam hatinya bahwa dirinya pun mengharapkan Sang Pemilik Semesta akan terus memberikan restu dan kebahagiaan untuknya, kebahagiaan yang akan dia reguk bersama dengan Bisma, suaminya.