
Puas mengharu biru dengan kejutan yang dibuat oleh suaminya itu, kini Kanaya dan Bisma kembali duduk bersama di sofa yang berada di ruang keluarga itu. Televisi kembali menyala, dan keduanya duduk bersama. Kanaya menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu dan tangannya memegang bunga Mawar Putih yang diberikan oleh suaminya saat memberikan kejutan itu.
"Kapan kamu menyiapkan semua ini Mas? Perasaan aku yang di apartemen, tidak melihat keanehan apa pun." ucap Kanaya yang terlihat begitu penasaran dengan suami yang sudah disiapkan oleh suaminya itu.
"Secret." jawab Bisma dengan singkat sembari mengerlingkan satu matanya kepada Kanaya.
Mendengar jawaban dari suaminya, Kanaya pun menarik kepalanya dari bahu suaminya. Rasanya dia kembali sebal karena suaminya bermain rahasia-rahasiaan dengannnya.
"Jadi enggak mau jawab? Aku ngambek lagi aja deh." ucapnya dengan kembali memasang wajah ngambek.
Namun, sudah tentu Bisma tidak akan membiarkan itu. Pria itu kemudian menggenggam tangan istrinya, tangan istrinya yang halus itu kini berada dalam genggamannya.
"Aku sudah pesan semua, cuma aku simpan di kamar kosong itu Sayang ... Waktu kamu teleponan sama Gisell tadi, aku tata di atas meja itu. Gimana, berhasil kan kejutannya?" ucap Bisma yang akhirnya mengatakan semua persiapannya itu.
Kanaya pun mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban dari suaminya itu. Perlahan dia beringsut, duduknya sedikit lebih menyerong untuk bisa menatap wajah suaminya. "Makasih ya Mas, untuk semua kejutan ini. Aku benar-benar terharu dan bahagia." ungkapnya dengan tulus.
Ya, Kanaya benar-benar terharu dengan semua yang sudah dilakukan suaminya itu. Sekalipun merayakan ulang tahun di rumah, tetapi itu terasa cukup asalkan didampingi dengan orang yang dekat di hati kita. Dan, setelah kematian Ayahnya, baru kali ini Kanaya merayakan ulang tahunnya kembali dan itu ada Bisma yang menemaninya di sini.
Mendengar ucapan Kanaya, Bisma pun mengangguk. "Iya ... lagipula ini hanya sederhana Sayang, dan cuma di apartemen kita. Padahal aku pengen mengajakmu Candle Light Dinner yang romantis-romantis gitu. Nanti lain kali ya."
"Tidak perlu Mas, asal kamu di sisiku itu sudah romantis. Ingat kan, bersamamu setiap momen romantis dan dramatis itu seakan melebur menjadi satu. Hobi banget bikin aku nangis dan kemudian bahagia di waktu yang bersamaan." sahut Kanaya.
__ADS_1
Bukan protes, tetapi memang suaminya itu begitu jago membuatnya merasakan momen bahagia dan tangisan haru di waktu yang bersamaan. Mulai dari cara pria itu menunggu Kanaya di bawah guyuran hujan, cara pria itu melamar Kanaya yang begitu unik dan romantis, dan juga sekarang.
Bisma pun tersenyum mendengar penuturan Kanaya, pria itu kemudian menggerakkan tangannya untuk membelai sisi wajah istrinya itu. "Apa pun akan aku lakukan buat kamu. Ya, walaupun akhir-akhir ini aku lebih sibuk di Rumah Sakit dan menyelesaikan renovasi rumah kamu yang akan kuubah menjadi Apotek dan Tempat Praktik, tetapi dengan sedikit waktu yang kumiliki, aku akan selalu membahagiakanmu." Bisma berkata dengan begitu serius kali ini.
Menjadi seorang Dokter Anak dan kini tengah mempersiapkan untuk membuka tempat praktik memang membuat Bisma lebih sibuk dari biasanya, tetapi dia berjanji bahwa dengan waktu yang dia miliki tetap dia akan membahagiakan Kanaya. Itu adalah janji seorang suami kepada istrinya.
Kanaya pun mengangguk, "Iya ... asal kamu jaga kesehatan saja." pintanya kepada suaminya untuk menjaga kesehatan.
Usai mengatakan itu, Kanaya menyentuh gelang dengan simbol infitnity yang melingkar dengan indah di pergelangan tangannya itu.
"Gelangnya bagus ... ternyata suamiku ini sangat romantis. Infitnity Love." ucap Kanaya sembari menyentuh angka delapan yang merupakan simbol kesempurnaan dan cinta yang tiada akhir.
Mendengar penuturan dari suaminya, Kanaya pun tersenyum. Jika hatinya adalah sebuah ladang bunga, sudah pasti ada bunga yang bermekaran di sana saat mendengar penuturan suaminya itu. Ditambah dengan suaminya yang berkata dengan sungguh-sungguh, membuat hatinya begitu bahagia. Merasakan ada seseorang yang benar-benar tulus mencintainya memang membuatnya begitu bahagia.
Perlahan Kanaya mendekat, dia memberanikan diri untuk melabuhkan satu kecupan di bibir suaminya itu.
Cup.
"Terima kasih Mas, bersamamu ... aku merasakan dicintai dengan begitu besarnya. Aku pun juga sama, perasaanku kepadamu untuk seperti simbol infinity ini tidak berkesudahan, tiada akhir, dan sempurna. Sekalipun aku tidak sempurna, dan banyak sekali kekuranganku, tetapi perasaanku selalu tulus. Terima kasih sudah mencintaiku sebesar itu." ucap Kanaya dengan sungguh-sungguh.
"Iya Sayang ... aku juga mencintaimu dengan sungguh-sungguh." sahut Bisma dengan tersenyum.
__ADS_1
Setelahnya, dia memeluk istrinya dengan begitu eratnya. Berusaha menyalurkan setiap perasaannya dan cintanya yang memang tidak bertepi untuk istrinya itu. Hari ulang tahun pertama yang bisa mereka lalui bersama, rasanya Bisma bahagia karena di dalam hidup istrinya, dia selalu menjadi orang yang spesial. Dalam hatinya, Bisma berjanji bahwa dia akan selalu ada dan melindungi istrinya itu.
***
Keesokan harinya, Bisma dan Kanaya bersiap di pagi hari untuk mulai bekerja. Keduanya memang sama-sama bekerja, sehingga pagi hari menjadi waktu yang sibuk bagi keduanya karena mereka harus sama-sama bersiap untuk bisa segera berangkat ke tempat kerjanya.
“Ayo Sayang … jangan sampai telat.” ucap Bisma yang memangggil istrinya dan memperingatkannya untuk lebih cepat supaya mereka tidak akan telat.
“Iya Mas, sebentar … aku habiskan susunya dulu.” sahutnya yang masih berusaha menghabiskan segelas susu khusus ibu hamil yang tinggi laktosa dan asam folat yang memang sangat bagus untuk ibu hamil dan janin dalam kandungannya.
Perlahan Bisma pun mendekat dan duduk di hadapan istrinya. Sering kali melihat bagaimana istrinya itu menghabiskan susu justru menjadi pemandangan yang indah baginya. Juga, dia pun berharap bahwa selama kehamilannya istri dan anaknya itu akan selalu sehat.
“Ya sudah, aku tungguin … pelan-pelan minumnya. Semua barang kamu udah kan?” tanyanya kepada istrinya itu.
Sembari meminum, Kanaya pun mengangguk, “Iya … sudah.”
Kemudian Bisma berjalan menuju tempat penyimpanan sepatu dan mengambilkan sebuah flat shoes untuk istrinya, “Karena sekarang kamu hamil dan semakin besar kandungannya, jangan memakai sepatu yang ada haknya ya Sayang … pakai flat shoes saja yang lebih nyaman dan aman.”
Kanaya pun mengangguk, “Iya Mas Dokter … aku ngikut aja advice dari Mas Dokter. Sebab aku tahu, kamu pasti lebih tahu yang terbaik buat aku. Ya sudah, aku cuci gelasnya ini sebentar, abis ini kita berangkat ya.”
“Iya … yuk, aku tunggu. Jangan sampai terlambat.” sahutnya yang memperingatkan istrinya itu.
__ADS_1