Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Rasa Tertekan Sandra


__ADS_3

Usai pulang dari kediaman Jaya Wardhana, Darren, Sandra, dan bayi Ravendra kembali pulang ke apartemen Sandra. Saat itu, Sandra merasakan ada yang aneh dari suaminya. Bukan malam itu sebenarnya, tetapi sudah terjadi beberapa pekan usai Darren bebas dari penjara.


Ya, Sandra merasakan bahwa Darren terlihat setengah hati dengannya. Sandra berpikir itu mungkin saja itu karena bentuk tubuh Sandra yang begitu gemuk. Terakhir dia menimbang bobot tubuhnya, berada di angka 80 kilogram. Bisa dikatakan itu adalah berat badan terbanyak pada diri Sandra.


Sementara malam ini, Sandra memberanikan dirinya untuk bertanya secara langsung kepada Darren. Daripada Sandra hanya berpersepsi pada pikirannya sendiri, lebih baik dia menanyakannya langsung kepada Darren.


“Babe, boleh kita bicara sebentar?” tanya Sandra perlahan.


Akan tetapi, Darren terlihat enggan, pria itu melihat merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya, “Kenapa? Besok saja, aku lelah sekali malam ini,” ucapnya.


Jika hanya sekadar berbicara saja pria itu tampak enggan, rasanya Sandra seolah tertolak oleh suaminya sendiri. Kesedihan seolah-olah melingkupi dirinya. Hingga Sandra kemudian mendesah perlahan, “Ah, ya sudah … tidurlah,” ucapnya.


Sandra lantas berbaring dan memunggungi Darren. Wanita itu menitikkan air matanya karena merasa Darren begitu dingin. Tidak ada lagi cinta yang membara, tidak ada lagi ungkapan cinta, yang ada adalah rumah tangga yang terasa dingin. Bahkan hambar rasanya.


Aku tahu, ini semua pasti karena badanku yang tidak lagi menarik.


Sekalipun kamu tidak mengatakannya, tetapi aku cukup mengenalmu, Darren.


Tidak ada lagi tubuh seksiku yang dulu, karena lemak seolah menutupi semua lekuk feminitas itu.


Aku jadi merasa, apakah seperti ini Kanaya dulu saat masih menjadi istrimu?


Apakah ini memang karma yang harus kutanggung karena dosaku di masa lalu …


Sikap dingin suamiku, tidak ada ketulusan sama sekali di dalamnya.

__ADS_1


Seolah-olah hanya aku yang mencintaimu, tetapi kamu hanya menganggapku sebagai bayangan.


Hati Sandra rasanya bergemuruh, terlebih saat kedua sedang melakukan hubungan suami istri, dengan jelas Darren mengatakan bahwa saat Sandra menindihnya, dia merasa berat.


“Kenapa kamu berat sekali sih, aduh … lebih baik kamu yang dibawah, kamu terlalu berat,” ucap Darren kala itu.


Sekali pun mengucapkannya dengan nada bicara yang biasa saja, tetapi hati Sandra rasanya begitu terluka. Seolah-olah suaminya hanya menginginkan saat dirinya bertubuh langsing, saat berat badannya melar dan gemuk karena melahirkan dan menyusui, nyatanya Darren justru mengatakan bahwa tubuh Sandra berat.


Rasa nikmat yang dirasakan Sandra seketika sirna, karena ucapan suaminya. Hatinya seolah tergores perih di sana.


***


Keesokan harinya …


Sandra bangun dengan perutnya yang melilit perih, itu semua karena memang dalam beberapa hari terakhir dirinya memutuskan untuk men-skip makan malamnya. Dia melakukan itu tentu untuk bisa mengurangi berat badannya, berharap bisa membuat Darren kembali jatuh cinta kepadanya dengan berat badannya yang semula.


“Kamu kenapa?” tanya Darren perlahan.


“Perutku perih, Babe,” jawab Sandra.


“Itu artinya kamu kurang makan, harusnya kamu makan lebih banyak lagi,” sahut Darren pagi itu.


Rasanya jawaban yang diberikan suaminya itu membuatnya menjadi lebih baik, tetapi justru menggores kembali perih di dalam hatinya. Hingga akhirnya, Sandra pun menatap Darren dengan sorot mata yang tajam.


“Pasti aku sudah tidak menarik lagi di hadapanmu kan Babe? Itu, semua karena bentuk tubuhku yang sekarang ini. Iya kan? Jawab aku,” teriak Sandra pagi itu.

__ADS_1


Ketika orang menyambut pagi dengan penuh syukur, tidak bagi Sandra kali ini. Hatinya terlampau sakit dengan perkataan suaminya. Tidak bisakah suaminya itu mengatakan hal yang lebih baik dan lebih manis di indera pendengarannya pagi itu. Sehingga, Sandra benar-benar tersulut emosi. Wanita itu pun berlinangan air mata.


“San, maksud kamu apa?” tanya Darren kepada Sandra.


“Kamu sudah tidak lagi mencintaiku kan? Kamu ilfeel kan sama aku karena berat tubuhku ini? Sekarang aku tahu bagaimana rasanya menjadi Kanaya dulu. Aku tahu luka yang dirasakan Kanaya dulu, dan ternyata ini semua sangat menyakiti. Tidak dihargai oleh suaminya sendiri karena berat badannya yang begitu gemuk. Asal kamu tahu, Darren … tubuhku menjadi sebesar ini karena aku usai mengandung dan melahirkan, aku juga memberikan ASI ekslusif untuk Vendra. Saat orang-orang berkata bahwa meng-ASI-hi bayi bisa menurunkan berat badan secara alami, nyatanya aku justru terus mengalami kenaikan berat badan karena Vendra begitu kuat meminum ASI dan aku menjadi kelaparan tiap kali dia usai meminum ASI,” ucap Sandra kali ini.


Hatinya benar-benar terasa mendidih. Lagipula, bukankah selama beberapa tahun terakhir Sandra terbilang sudah berubah dan menunggu Darren dengan setia. Darren mengajaknya berhubungan saat pria itu di Rumah Sakit, kemudian di bilik Hubungan Suami Istri di Lembaga Permasyarakatan. Sebagai seorang model cukup terkenal, pernikahan Sandra hanya digelar di Lembaga Permasyarakatan, bahkan Sandra juga setia mendampingi Darren. Akan tetapi sekarang, saat dirinya tidak dalam performanya yang semula, nyatanya cinta suaminya menjadi suam-suam kuku. Hubungan itu menjadi hambar.


“Maksudmu apa?” tanya Darren. Pria itu merasa tidak terima dengan ucapan Sandra.


Sandra kemudian mulai terisak, “Akui saja kamu mulai ilfeel dengan diriku,” sahutnya dengan lidahnya yang sebenarnya kelu.


Dipandang remeh dan tidak sepenuhnya mendapatkan cinta dari sang suami ternyata rasanya sesakit ini. Sandra rasanya kali ini benar-benar dikecewakan oleh pria itu.


Tidak berusaha menenangkan, Darren justru meninggalkan apartemen itu begitu saja. Kian pecahlah tangisan Sandra saat menatap punggung Darren yang kian menjauh. Wanita sesegukan di atas tempat tidurnya.


Namun, Sandra tidak ingin berlama-lama menangis, saat mendengar tangisan Ravendra, Sandra segera mengurusi bayinya. Mulai dengan memandikannya, memberikan ASI, dan juga mengasuhnya. Terkadang air matanya menetes mengingat bagaimana masa kehamilan yang harus dia jalani sendiri tanpa sosok suami, bahkan di saat dirinya berjuang melahirkan Ravendra, Sandra pun harus menjalaninya seorang diri.


Sekarang, rasanya begitu sakit, hatinya hancur melihat putranya yang kali ini berada di dalam pangkuannya.


“Maafkan Mama, Sayang …,” ucapnya sembari mencium kening Ravendra.


Lantaran seharian bersedih, imbasnya justru ke ASI Sandra yang tidak bisa keluar. Sumber ASI nya terasa penuh, tetapi tidak bisa keluar sama sekali, merasa minumnya kurang, bayi Ravendra pun menangis. Sementara buah dadanya sendiri terasa begitu sakit. Dia berusaha mencairkan ASIP dan memberikannya kepada Ravendra hingga tangisan bayi itu reda.


Saat Ravendra tenang, Sandra kemudian mencari cara untuk bisa mengeluarkan ASInya. Mulainya dia menyeka sumber ASI nya dengan handuk yang direndam dalam air hangat, kemudian dia menenangkan dirinya sendiri berusaha membuang stress yang dialaminya saat ini. Sandra sadar bahwa kesedihan berlarut-larut justru membuatnya kesakitan lantaran ASInya yang tidak mau keluar.

__ADS_1


Hingga saat sore tiba, suaminya kembali pulang ke rumah. Akan tetapi, pria itu pulang dalam keadaan mabuk, dan Darren langsung terjatuh dan tidur di sofa yang berada di dalam apartemen Sandra.


Lagi-lagi Sandra harus mengelus dada. Saat dirinya sudah nyaris berhasil menenangkan dirinya, justru kini Darren pulang dengan keadaan tak sadarkan diri. Wanita itu menangis, mungkinkah memang Darren tengah berupaya menolaknya, dan mencari kesenangan di luar sana. Membayangkan semua itu makin pilulah hati Sandra, hanya buliran air mata yang terus menetes. Terasa pilu karena Sandra yang saat itu tengah menggendong Ravendra harus melihat sang kepala keluarga pulang dalam keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri seperti itu.


__ADS_2