
Tidak terasa satu bulan telah berlalu, Kanaya dan Bisma berusaha menjalani hari dengan ikhlas dan tabah. Sekalipun setiap hari waktu yang mereka berdua jalani justru terasa semakin berat. Akan tetapi, dengan keikhlasan dan ketabahan setidaknya Kanaya dan Bisma bisa bertahan hingga sekarang ini.
Ada hari-hari di mana mereka begitu merindukan Aksara, ada pula hari-hari yang berjalan serasa lambat dan hasrat untuk bisa menemukan Aksara. Akan tetapi, sebulan telah berlalu dan tidak ada kabar tentang Aksara. Jejaknya pun tidak ada. Kendati demikian, pihak dari Papa Jaya tetap terus melakukan upaya pencarian.
“Aksara kita sedang ngapain ya Mas? Mungkinkah sekarang putra kita itu sudah bisa berbicara?” tanya Kanaya kepada suaminya itu.
Sebenarnya pertanyaan yang diajukan Kanaya adalah sebuah pertanyaan yang sangat sulit untuk dia jawab. Akan tetapi, Bisma kemudian menatap wajah Kanaya, menggenggam tangan istrinya itu, mengusapi punggung tangannya perlahan.
“Kangen sama Aksara yah?” tanyanya.
Dengan cepat Kanaya pun menganggukkan kepalanya, “Iya … sangat kangen sama Aksara, Mas Bayinya Bunda,” sahut Kanaya. Mata wanita itu kembali berkaca-kaca. Membicarakan Aksara selalu membuatnya emosional, dan dengan begitu mudahnya menangis.
“Jangan menangis Sayang … Allah ada untuk menjaga Aksara,” balas Bisma.
Lagi-lagi Kanaya mengangguk, dalam hatinya Kanaya percaya bahwa kepada siapa manusia berlindung jika bukan kepada Allah. Sama seperti ucapan suaminya yang menguatkannya bahwa di luar sana pasti ada Allah yang ada untuk menjaga Aksara. Saat tangan keduanya tak mampu mengasuh dan merawat Aksara, tetapi Allah memiliki tangan yang maha kuat, tangan yang akan terus melindungi Aksara.
“Boleh tidak Mas, usai bekerja malam harinya aku minta waktu satu jam setiap harinya?” tanya Kanaya kepada suaminya.
“Untuk apa?” sahut Bisma dengan cepat.
“Aku ingin kembali menulis novel,” jawab Kanaya dengan yakin.
“Comeback dari hiatus panjangmu?” tanya Bisma.
Kanya mengangguk, “Iya … aku mungkin bisa menulis novel berdasarkan kisahku. Aku bisa menuliskan tentang Aksara. Mungkin anak kita tidak ada di sini bersama kita, tetapi kisahnya bisa diabadikan. Aku ingin tetap mengingatnya, menulis menjadi salah satu caraku untuk tetap mengingat Aksara,” balas Kanaya.
Ya, ingatan manusia begitu terbatas. Untuk itu, Kanaya ingin bisa mengingat semua kisah Aksara yang terpatri dalam sanubarinya dan menuliskannya dalam sebuah novel digital. Kanaya ingin ingatan akan Aksara tetap hidup selamanya.
“Iya boleh … jika perlu aku akan menemani kamu menulis,” jawab Bisma.
Betapa bersyukurnya Kanaya karena suaminya itu memberinya ruang untuk berkreasi dan menyalurkan hobinya. Selain itu, Kanaya ingin dirinya dan suaminya tetap mengingat Aksara melalui novel yang akan dia tulis.
“Kamu ingin memberikan judul apa?” tanya Bisma.
__ADS_1
“Aksara,” jawab Kanaya.
Bisma mengernyitkan keningnya, tidak mengira istrinya akan menuliskan novel dengan judul nama putranya.
“Benar-benar kisah putra kita?” tanya Bisma lagi.
“Iya. Bolehkah?” tanya Kanaya.
“Baiklah, tidak masalah,” jawab Bisma.
Merasakan bahwa suaminya sudah memberikan lampu hijau, Kanaya akan mulai membuat kerangka cerita, bahkan wanita itu membuat sendiri cover untuk novel digitalnya itu. Esok dirinya bisa memulai menulis bab demi bab untuk ceritanya itu.
***
Keesokan harinya …
Usai makan malam, Kanaya sudah berada di depan laptopnya. Jari-jemari wanita itu bergerak di atas tuts keyboard miliknya. Memilih diksi yang tepat, merangkai kata untuk menyusun kalimat. Menyusun kalimat hingga membuat paragraf dan mulai menuliskan novelnya itu.
Aksara …
Akan tetapi, Aksara adalah seorang putra …
Kelahirannya memberikan sukacita untuk kedua orang tuanya
Kelahirannya benar-benar mengubah kehidupan seorang wanita, karena sejak kelahirannya wanita itu bisa menjadi seorang Bunda …
Tumbuh dan dibesarkan dalam kasih sayang kedua orang tuanya.
Sayangnya,
Anak ini tidak tumbuh dengan maksimal karena keterlambatan bicara yang dia alami.
Kata pertama yang dia ucapkan, laksana doa yang disenandungkan dalam sepertiga malam …
__ADS_1
Aksara,
Pelipur hati Bunda.
Penyejuk hati Ayah.
Aksara …
Sosok yang akan terus hidup di hati kita
Itu adalah sinopsis yang Kanaya susun. Nyatanya baru sekadar menyusun sinopsisnya saja, air mata Kanaya sudah berderai membasahi pipinya. Bahkan wanita itu terisak dengan masih menggerakkan jari-jemarinya di atas papan keyboard.
Bisma pun segera menghampiri Kanaya saat istrinya itu terisak di sana.
“Istirahat dulu Sayang … jika berat, berhentilah,” ucap Bisma.
Dalam pandangannya, Bisma sangat tahu bahwa tidak mudah bagi seorang Ibu menuliskan kisah untuk anaknya sendiri dan anak itu sekarang hilang entah kemana. Membuka kembali memori, menyusunnya layaknya puzzle yang sudah pasti akan membangkitkan semua kenangan Kanaya akan putranya itu.
Dengan segera Kanaya menghambur ke dalam pelukan suaminya itu.
“Aku kangen Aksara, Mas,” akunya.
Ya, saat menyusun sinopsis saja, hatinya terasa sesak. Terbayang wajah Aksara, senyuman tanpa dosa putranya, dan juga kata pertama dari Aksara.
“Yayah … Nda,” seakan semua itu mengiring Kanaya saat menuliskan kisah putranya itu. Semua kenangan akan Aksara seolah menyertai Kanaya untuk menuliskan sebuah novel yang terinspirasi dari putranya itu.
Bisma menghela nafasnya dengan berat, pria itu merengkuh tubuh Kanaya dan mengusapi punggungnya perlahan naik dan turun.
"Sabar Sayang … aku tahu, saat kamu mulai menulis dan mengisahkan tentang Aksara kita, sudah pasti perasaan ini yang muncul. Jadi, sabar yah … kita hanya bisa bersabar Sayang. Istirahat jika memang hati kamu terasa sesak,” nasihat dari Bisma untuk istrinya itu.
Beberapa saat Kanaya masih memeluk tubuh suaminya, hingga akhirnya wanita itu kembali mengurai pelukannya, dan menyeka air matanya sendiri.
“Aku bisa, Mas … aku pasti bisa. Menulis bisa jadi caraku untuk meluapkan semua perasaanku ini. Temani aku ya Mas,” pinta Kanaya kali ini kepada suaminya.
__ADS_1
“Pasti, pasti aku akan menemani kamu,” sahut Bisma.
Kanaya lantas mulai menatap layar Macbook miliknya, jari-jemarinya bergerak begitu lincah menekan setiap tuts di papan keyboard menyusun kalimat demi kalimat dan mulai mengisahkan tentang putra semata wayangnya itu. Semoga kisah Aksara yang akan dia tulis bisa memberi banyak warna untuk pembaca setianya yang sudah lama menantikan dirinya yang kini tengah hiatus itu.