
Rupanya waktu satu bulan, berjalan begitu cepat. Esok, Kanaya harus bersiap untuk kembali bekerja. Seharian ini, rasanya Kanaya menjadi lebih mellow dan sensitif. Wanita itu tampak memperhatikan Aksara dengan intens, sering kali menangis, dan juga fokusnya hilang begitu saja.
Melihat ada perbedaan yang dia rasakan pada sosok istrinya, Bisma dengan segera menghampiri Kanaya dan mendekap erat tubuh istrinya itu.
“Kamu kenapa? Ada yang salah ya? Mau cerita.” Bisma berbicara dengan masih mendekap erat Kanaya.
“Aku sedih, karena besok sudah harus kembali bekerja,” akunya kali ini kepada Bisma,
Bisma sangat tahu perasaan Kanaya sebagai seorang Ibu. Apabila full 24 jam istrinya itu mengurus Aksara dari pagi hingga malam, mulai dari memandikan Aksara, menyusui, bonding dengan bayinya. Kemudian, esok harus kembali bekerja, membuat keadaan emosi Kanaya menjadi tidak stabil.
“Perasaan para fulltime worker juga seperti itu Sayang … waktu cuti mereka habis, rasanya mellow. Itu naluriah banget,” jawab Bisma dengan mempererat dekapannya.
“Pengen nangis, aku pasti kangen sama Aksara.” Kanaya berbicara, ada getar pada suaranya sebagai tanda bahwa memang dirinya serasa ingin menangis.
Bisma kemudian mengurai dekapannya, berjalan ke hadapan Kanaya dan segera memeluk Kanaya, membenamkan wajah istrinya ke dalam dada bidangnya, “Kalau mau nangis, nangis saja … gak apa-apa kok. Kamu boleh nangis, kamu boleh sedih, tetapi harus kamu bagi bersamaku. Kamu enggak boleh menangis sedih dan menanggungnya sendirian karena aku gak akan mengizinkannya.” Bisma berbicara dengan mengusap lembut rambut Kanaya yang sepanjang bahu itu.
Tidak kuasa menahan, buliran air mata mulai berlinangan dan Kanaya benar-benar menangis.
“Rasanya, aku pengen banget enggak bekerja biar bisa seharian sama Aksara, tetapi …”
Perkataannya melayang begitu saja di udara. Banyak pertimbangan yang harus dia ambil, dan sekarang dia tidak bisa meninggalkan posisinya sebagai Direktur Keuangan Jaya Corp.
“Enggak apa-apa, aku menyadari perasaan kamu. Di satu sisi kamu pengennya sama Aksara, tetapi di sisi lain kamu tidak bisa resign kan?” tanya Bisma kepada istrinya itu.
__ADS_1
Kanaya pun mengangguk, “Aku enggak jahat kan Mas?”
Bisma menggeleng, “Tidak … kamu tetap seorang Bunda yang baik kok, sekalipun kamu kembali bekerja dan menjadi wanita karier.” Bisma menjawab dengan bersungguh-sungguh. Di hadapannya, Kanaya memang sosok Bunda yang baik dan itu tidak akan bisa terganti.
“Ya sudah, coba aja dulu besok sehari. Lagipula, Daycarenya juga deket dari Jaya Corp kan? Pas istirahat siang, kamu bisa menjenguk Aksara di sana,” ucap Bisma lagi yang seolah menenangkan Kanaya bahwa siang hari pun ada waktu 2 jam yang bisa Kanaya manfaatkan untuk menjenguk Aksara.
Akhirnya Kanaya pun mengangguk, “Iya … nanti kalau siang aku akan menjenguk Aksara di Daycare itu.”
***
Keesokan harinya …
Kanaya bangun lebih awal. Mulai hari ini lantaran kembali bekerja dan mempersiapkan keperluan Aksara dan suaminya, pagi hari menjadi waktu paling hectic bagi Kanaya.
Dia harus mempersiapkan tas bayi yang berisi baju ganti, diapers, dan berbagai keperluan Aksara selama di Daycare. Sebuah tas Gabag miliknya yang akan berisi pumping elektrik, kantong ASIP, ice gell, charger, dan juga penutup area dada saat pumping. Kemudian beralih dengan menyediakan pakaian kerja untuk suaminya. Setelahnya, Kanaya mempumping ASInya terlebih dahulu, supaya area dadanya kosong dan tidak menimbulkan rasa sakit karena ASInya terlalu penuh. Beralih dengan memandikan Aksara. Semua waktu ketika membuka mata hingga menuju Jaya Corp membuat Kanaya harus bergelut dengan waktu pagi itu yang terbatas.
“Sudah pakai kok Mas … doakan semoga aman ya Mas,” sahut Kanaya kepada suaminya itu.
“Iya, aman-aman.” Bisma menjawab.
Setelahnya, ketiganya keluar dari apartemen itu. Bisma terlebih dahulu menuju Daycare dan menitipkan Aksara di sana. Setelahnya dia kembali pada rutinitasnya semula, yaitu mengantarkan Kanaya ke Jaya Corp.
“Jangan sedih-sedih. Bekerja yang rajin, Aksara sudah aman di Daycare sama pengasuhnya.” Bisma berbicara karena dia melihat raut wajah Kanaya yang terlebih sedih. Mata berkaca-kaca saat kali ini pertama menitipkan Aksara di Daycare begitu terlihat.
__ADS_1
Kanaya pun mengangguk, “Iya … aku akan berusaha enggak sedih. Walaupun, sekarang aja rasanya aku sudah kangen banget sama Aksara,” jawabnya yang suaranya terdengar bergetar.
“Jangan menangis … ini sudah kita diskusikan sebelumnya bukan? Jadi, tidak apa-apa. Nanti siang kalau kerjaan enggak banyak bisa menjenguk Aksara kan. Jangan terlalu sedih, kerja yang rajin dan semangat ya Bunda Kanaya.” Bisma lagi-lagi menenangkan istrinya itu.
Tidak dipungkiri, kembali bekerja setelah tiga bulan mendapat cuti melahirkan memang membuat Kanaya bersedih. Dia serasa tidak bisa berjauhan dengan buah hatinya. Akan tetapi, pekerjaan terkadang tidak mau tahu dengan kondisi hati kita bukan? Dalam pekerjaan, yang paling penting adalah seluruh deadline untuk satu hari bisa terlampaui.
***
Sore harinya …
Bisma tampak menunggu Kanaya di lobby Jaya Corp. Pria itu kembali juga pada rutinitasnya sebelum Kanaya cuti melahirkan yaitu menunggu di dalam lobby besar dan mewah itu untuk menunggu istrinya.
“Sudah selesai?” tanya Bisma begitu Kanaya kini sudah berdiri di hadapannya.
Kanaya tampak mengangguk, “Iya, ayo kita ke Daycare, Ayah. Aku sudah kangen banget sama Aksara,” akunya lagi bahwa dirinya sudah sangat merindukan Aksara.
“Tadi sudah pumping, Sayang?” tanya Bisma kepada Kanaya.
Wanita itu mengangguk, dan memperlihatkan kantong ASIP yang terisi dengan cairan berwarna putih kental itu.
“Sudah dong, jangan sampai aku kena Mastitis,” jawab Kanaya dengan tertawa.
“Bener, selain itu. Selalu ada stok ASIP buat Aksara, supaya dia makin sehat dan bonusnya tumbuh chubby.” Bisma menjawab dengan melirik Kanaya.
__ADS_1
Setelahnya, Bisma segera melajukan mobilnya untuk menuju Daycare tempat Aksara dititipkan. Kanaya pun segera bergegas turun. Begitu sudah mengambil Aksara dan sekarang menimangnya, mata wanita itu berkaca-kaca.
“Mama, datang lagi buat jemput kamu, Nak … maaf ya harus berada di Daycare sepanjang hari. Mama kangen kamu,” ucap Kanaya yang tak kuasa menahan rasa rindu dan sekaligus ada rasa tidak tega saat menitipkan putranya yang masih bayi itu untuk berada di Daycare.