Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Pagi Hari di Rumah Mertua


__ADS_3

Pergulatan semalam menjadi kali pertama bagi Bisma dan Kanaya melakukannya di rumah Ayah Tirta dan Bunda Hesti. Usai mereguk manisnya nektar cinta yang bersumber dari perasaan keduanya. Bisma dan Kanaya memilih untuk membersihkan dirinya dibawah guyuran air shower yang hangat. Bukan sekadar membersihkan, tetapi juga merilekskan kembali tubuh mereka.


Usai keduanya selesai, Bisma mengambil pakaian ganti Kanaya yang memang dibawa dari apartemen. Berjaga-jaga jikalau mertuanya akan meminta mereka untuk menginap malam ini. Rupanya persiapan Kanaya pun benar karena malam ini, usai membersihkan dirinya, Kanaya bisa segera berganti pakaian.


"Ah, malam ini tidurku nyenyak ..." Bisma berbicara sembari terkekeh geli. "Hubungan suami istrinya itu meningkatkan kualitas tidur, Sayang." sambungnya lagi sembari merebahkan dirinya di atas ranjang.


Kanaya pun turut berbaring di sisi suaminya itu, tanpa menunggu lama, dia segera menumpukan kepalanya di dada bidang suaminya. "Aku padahal tadi kecapean, Mas." keluhnya.


Perlahan tangan Bisma pun bergerak untuk mengusapi puncak kepala Kanaya dan beberapa kali pria itu melabuhkan kecupannya di kening Kanaya. "Maaf ya ... sekali-kali di sini. Ganti suasana saja, Yang." ucap Bisma.


"Hmm, terserah kamu aja, Mas. Aku capek ... lemes." keluhnya lagi.


Justru Bisma tertawa, "Segitunya ya sampai lemes. Abis kamu nikmat Sayang. Jadi, maafkan suamimu ini yang khilaf." ucapnya dengan terkekeh.


Kanaya pun mendengar suara suaminya itu sembari memejamkan matanya, "Aku bobok ya Mas ... good night." gumamnya yang merasa matanya kian berat.


Rupanya Bisma tidak langsung tidur, pria itu seolah menunggu hingga Kanaya benar-benar terlelap. Barulah Bisma memejamkan matanya, menyusul istrinya ke alam mimpi.


***


Keesokan paginya, Kanaya bangun terlebih dahulu. Pelan-pelan wanita itu turun dari ranjangnya, mencuci wajahnya dengan facial foam, dan merapikan rambutnya.


Masih berdiri di cermin yang berada di kamar mandi, Kanaya memperhatikan area lehernya yang kali ini bersih, tidak ada hasil karya dari suaminya itu di lehernya, itu artinya dia aman dan bisa menguncir rambutnya pagi ini.


Merasa sudah siap dan rapi, walaupun belum mandi, Kanaya kemudian turun ke lantai satu. Pagi ini dia akan menemani Bunda Hesti untuk memasak bersama.


"Pagi Bunda ..." sapanya kepada Bunda Hesti yang ternyata sudah lebih dahulu berada di dapur.


"Pagi Naya, gimana semalam bisa tidur?" tanya Bunda Hesti.


Akan tetapi, mendengar kata tidur rupanya justru menyulut memori di otak Kanaya pada kegiatan panasnya semalam bersama suaminya. Menyadari di mana dia berada sekarang ini, Kanaya terlihat beberapa kali menggeleng, barulah dia menjawab Bunda Hesti.


"Bisa tidur kok Bunda ... asal ada Mas Bisma, di mana pun Naya bisa tidur." jawabnya dengan tersenyum malu-malu.

__ADS_1


"Masih pengantin baru, Nay ... jadinya begitu. Kalau tidur sendiri rasanya ada yang kurang." Bunda Hesti berbicara sembari terkekeh geli.


Untuk menghindari pembicaraan yang bisa mengarah kemana saja tanpa tahu ujungnya, mulailah Kanaya mengalihkan pembicaraan tersebut. "Naya, bantu apa nih Bunda?" tanyanya kepada Bunda Hesti.


"Itu Naya ... cuci bersih semua rempah yang di mangkok kecil itu, kalau sudah tolong dihaluskan ya. Diblender saja biar cepet. Setelahnya, ayamnya juga dicuci ya." perintah Bunda Hesti kepada Kanaya.


Wanita itu pun mengangguk dan mulai mencuci bersih berbagai rempah dalam wadah kecil itu. Kemudian menghaluskannya dengan blender. Setelah selesai, kemudian Kanaya mencuci ayam hingga bersih. Bahkan jika masih ada bulu-bulu yang tertinggal, Kanaya akan mencabutnya sekalian dan membersihkannya.


"Kamu sering memasak, Nay?" tanya Bunda Hesti kepada Kanaya.


"Jarang Bunda ... karena dari dulu, tidak ada yang mengajari Naya memasak. Mendiang Bunda berpulang saat Naya lulus SMA. Setelah itu, Mendiang Ayah yang terkadang membelikan Kanaya makan sebatas bubur ayam atau nasi kucing dan nasi rames. Sementara Naya kuliah dan sembari bekerja." cerita Kanaya dengan jujur.


Menjadi wanita yang tidak bisa memasak bukan sebuah kesalahan atau aib yang harus ditutup-tutupi di hadapan mertuanya. Lagipula, alasan yang diberikan Kanaya pun jelas, bahwa Bundanya sudah terlebih dahulu berpulang kepada Tuhan. Sehingga untuk urusan makan pun, Mendiang Ayahnya hanya membelikan makanan yang dengan mudah untuk bisa cepat dimakan.


"Maaf ya Naya ... tidak bisa memasak tidak apa-apa kok. Beli makanan juga tidak masalah, asalkan beli yang sehat dan diperkirakan nilai gizinya." ucap Bunda Hesti dengan lembut.


Kanaya pun mengangguk, "Maaf ya Bunda ... karena Naya memang tidak bisa memasak." ada rasa bersalah sebenarnya, tetapi dalam hal ini Kanaya tidak ingin berpura-pura. Berusaha mengambil hati mertuanya dengan sebuah kebohongan.


"Boleh Bunda ... lain hari, ajari Naya untuk membuat Ikan Kuah Asam Pedas kesukaan Mas Bisma ya Bunda. Naya ingin membuat dengan tangan Naya sendiri spesial buat Mas Bisma." jawabnya dengan jujur.


Bunda Hesti pun tertawa, "Pasti ... bayarannya ada loh ya." sahut Bunda Hesti.


"Apa Bunda bayarannya?" tanya Kanaya yang bingung harus membayar dengan apa.


"Bayarannya, kalau mau diajarin Bunda memasak, kamu harus menginap di sini. Oke?" jawab Bunda Hesti.


Kanaya pun tersenyum, "Iya Bunda ... terima kasih, seperti ini membuat Naya kembali merasakan kasih sayang seorang Ibu." ceritanya dengan hati yang penuh haru sebenarnya.


Lantas Bunda Hesti pun menepuk punggung Kanaya, "Sejak kamu masuk ke dalam hidup Bisma, sejak ini Bunda dan Ayah menyayangi kamu. Tuh, sambil mengobrol masakan kita sudah jadi kan." ucap Bunda Hesti sembari menunjuk sebuah wajan yang berada di atas tungku api.


"Itu tadi Opor Ayam, Nay ... kalau ini masakan kesukaan Ayahmu. Sekarang kita tata yuk di meja, sebentar lagi pasti Ayahmu dan Bisma akan segera turun." ucap Bunda Hesti lagi.


Rupanya benar, tidak sampai 5 menit, Ayah Tirta dan Bisma pun datang mendekati meja makan.

__ADS_1


"Pagi ..." sapa keduanya serempak.


"Pagi Ayah ... pagi Mas ..." balas Kanaya kepada Ayah Mertua dan suaminya itu.


"Wah, masak apa nih? Keliatannya masakan favorit Ayah nih?" tanya Ayah Tirta dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


"Iya ... Opor Ayam buatan Bunda dan Naya spesial buat Ayah." jawab Bunda Hesti sembari duduk di samping kanan Ayah Tirta.


Kanaya pun juga mengambil tempat duduk di sisi Bisma, wanita itu begitu cekatan mengisi piring kosong suaminya dengan nasi putih, Opor Ayam, Sambal Goreng Kentang dengan Krecek, dan sebuah kerupuk. Setelah piring suaminya terisi, barulah Kanaya mengisi piringnya sendiri.


Keempatnya pun menikmati sarapan pagi dengan berbagai obrolan dan menceritakan kisah masa kecil Bisma. Rasanya Kanaya benar-benar bahagia bisa diterima dengan sangat baik di keluarga suaminya yang sangat harmonis dan saling mengasihi satu sama lain. Sebagai yatim piatu, justru sekarang Kanaya bisa merasakan mertua yang menyayanginya layaknya orang tua kandung sendiri, dan juga suami yang juga mencintainya sepenuh hati.


...🍃🍃🍃...


Dear My Bestie,


Mampir juga yuk ke karya teman-teman aku. Silakan mampir dan tinggalkan jejak di sana yahh.🥰



Duda, I Love U karya Aisy Arbia.





Berbagi Cinta: Menjadi Istri Kedua dari Senja_90



__ADS_1


__ADS_2