
Setiap bayi biasanya bertumbuh, bukan hanya pertumbuhan secara fisik dengan bertambahnya berat badan dan tinggi badan. Akan tetapi, ada aspek perkembangan lainnya yang membuat seorang bayi terus bertumbuh. Sama seperti Aksara yang juga terus berkembang setiap harinya.
Akan tetapi, kali ini Kanaya tampak memperhatikan ada yang berbeda pada perkembangan anaknya itu. Anak berusia satu tahun biasanya sudah mulai banyak menirukan suara-suara, dan juga akan menoleh saat namanya dipanggil. Akan tetapi, Aksara justru tidak. Oleh karena itu, dengan cepat Kanaya mengobrol dengan suaminya terlebih dahulu.
“Mas, sedang sibuk enggak?” tanya Kanaya yang menghampiri Bisma yang sedang berada di ruangan kerjanya dengan memegang sebuah tablet di tangannya.
Dengan cepat Bisma menggeleng dan menaruh tablet itu di atas meja, “Kenapa Sayang? Aksaranya mana?” tanya Bisma kepada Kanaya.
“Aksara udah bobok, Mas … mau ada yang aku obrolkan,” ucap Kanaya lagi dan memberitahukan alasan dia menyusul suaminya hingga ke ruangan kerjanya adalah untuk membahas sesuatu dengan suaminya itu.
Bisma mengangguk, “Ayo, kita keluar. Kamu mau ngobrol apa sih? Aku jadi penasaran loh,” sahutnya sembari berdiri dan menggandeng tangan istrinya itu untuk mengikutinya. Keluar dari ruang kerja dan sekarang keduanya memilih duduk saling berhadap-hadapan di meja makan.
Tampak Kanaya menghela nafasnya sejenak, kemudian kedua netranya menatap pada wajah suaminya, “Mas, kamu merasa ada yang aneh dengan Aksara enggak?”
Satu pertanyaan itu akhirnya meluncur dari bibir Kanaya. Sebelum dia mengatakan apa yang menjadi kegelisahan hatinya, Kanaya terlebih dahulu bertanya dan memungkinkan untuk mendengar pendapat dari suaminya itu.
“Aksara? Aneh? Apanya yang aneh?” tanya Bisma kepada Kanaya.
Lantas, pria tampak berpikir. Kedua bola matanya juga bergerak-gerak menatap wajah Kanaya yang terlihat begitu serius. Akan tetapi, sejauh ini menurutnya tidak ada yang aneh dengan Aksara. Catatan dari Kartu Menuju Sehat, perkembangan Aksara juga bagus, tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
Kanaya pun mengangguk, “Iya, Aksara kita,” sahutnya dengan cepat.
__ADS_1
“Enggak, tumbuh kembang dia bagus kok. Kan di Kartu Menuju Sehat grafik perkembangan dia naik. Jadi apanya yang aneh?” tanya Bisma kemudian.
“Bukan masalah kurva kenaikan berat badan dan tinggi badannya. Mas Bisma, ngerasa enggak sih kalau responsnya Aksara termasuk lambat?” tanya Kanaya pada akhirnya.
Respons lambat? Maksudnya gimana?
Pertanyaan itu berputar-putar dalam pikiran Bisma. Apa yang dimaksud oleh istrinya itu. Oleh karena itu, Bisma pun meminta Kanaya untuk menceritakan semuanya secara jelas jangan sepotong-potong, supaya dia lebih bisa mencerna maksud istrinya itu.
“Coba kamu ceritakan dulu,” ucap Bisma pada akhirnya yang meminta Kanaya untuk bercerita terlebih dahulu.
Kanaya pun mengangguk, “Aku sebenarnya memperhatikan Aksara terkait tumbuh kembangnya. Bahkan aku mengunduh salah satu aplikasi untuk memantau tumbuh kembangnya. Akhir-akhir ini aku merasa, kalau ada yang berbeda dari Aksara. Dia emang aktif, lincah bergerak kesana-kemari. Akan tetapi, coba Mas Bisma amati, untuk anak berusia berusaha lebih dari satu tahun saja, Aksara tidak akan menoleh kan saat kita memanggil namanya. Kemampuannya untuk mengikuti suara yang dia dengar juga sangat sedikit kan. Mengikuti petunjuk sederhana juga belum bisa.” cerita Kanaya pada akhirnya kepada suaminya.
“Contoh sederhananya begini, beberapa hari lalu, aku manggil namanya, ‘Aksara, sini Nak, ikut Bunda yuk …’ tetapi dia tidak menoleh loh. Aku panggil berkali-kali, baru deh Aksara menoleh,” cerita Kanaya lagi kepada suaminya.
Bisma pun mendengarkan setiap cerita dari Kanaya itu dan mencoba mengingat interaksinya dengan Aksara, apakaha benar respons Aksara termasuk lambat.
“Terus bagaimana Sayang?” tanya Bisma kepada Kanaya.
Kanaya menghela nafasnya sebelum mulai membuka suara, “Keliatannya dia harus aware dengan Aksara sih Mas, mungkin saja ini semacam red flag.”
Berdasarkan informasi yang Kanaya dapatkan anak berusia 1 tahun minimal akan bisa menoleh saat namanya dipanggil, bisa mengucapkan 2 hingga 3 kata sederhana, bisa mengikuti petunjuk sederhana misalnya ‘Dek, ambilkan botol susunya,’ biasanya bayi akan bisa berjalan dan mengambil botol susu itu dan menyerahkannya kepada orang yang memberikan instruksi. Akan tetapi, tidak demikian dengan Aksara. Seolah bendera merah tengah dikibarkan, Kanaya dan Bisma harus waspada.
__ADS_1
“Coba kita lebih fokus ke Aksara dulu Sayang, sekarang biar begitu selesai dari Klinik, aku saja yang mengasuh Aksara. Atau aku ajak ke Klinik saja. Jam praktik malam di Klinik juga aku hapus dulu saja, fokus ke Aksara dulu. Coba kita lebih telaten dulu, paling tidak sampai Aksara berusia 1,5 tahun. Kalau ternyata sampai saat itu, Aksara masih merespons dengan lambat, kita bawa ke therapist.” Bisma berbicara dengan penuh pertimbangan.
Profesinya adalah Dokter Anak, tetapi bukan seolah therapist. Untuk kasus Aksara, dibutuhkan therapist. Akan tetapi, sebelum ke sana, sebagai orang tua tidak ada salahnya, Bisma dan Kanaya berusaha untuk meningkatkan respons Aksara.
Kanaya pun mengangguk, “Iya, benar Mas … apa sebaiknya aku resign saja ya Mas?”
Pertanyaan itu meluncur dari bibir Kanaya. Sekali pun sekarang ini, dia menyukai pekerjaannya. Akan tetapi, ada hal yang lebih penting yaitu Aksara.
“Jangan … tunggu perkembangan Aksara dulu saja. Selama di rumah, lebih baik kita makin dekat dengan Aksara. Lakukan bonding, bacakan buku, ajak bernyanyi, beri instruksi sederhana dulu saja, nanti kalau sudah bisa kita lihat perkembangannya lagi,” ucap Bisma.
Kanaya mendengarkan apa yang disampaikan oleh suaminya itu, Ya, baginya Aksara adalah yang utama dalam hidupnya. Tidak masalah dia melepaskan karirnya untuk Aksara, tetapi apa yang disampaikan suaminya barusan adalah benar. Oleh karena itu juga, Kanaya mengikuti saran dari suaminya.
“Baiklah Mas, hanya saja aku siap melepaskan karirku untuk Aksara,” ucap Kanaya dengan mantap.
“Iya Sayang … ada lagi yang mau diobrolkan?” tanya Bisma lagi.
Akan tetapi, Kanaya menggelengkan kepalanya, “Enggak sih … hanya saja aku kepikiran. Daripada aku pendam sendiri, mending langsung ngobrol sama kamu. Kan Aksara anak kita berdua, jadi lebih baik kita diskusikan bersama tumbuh kembangnya Aksara. Secara kognitif, Aksara responsnya lambat menurutku,” balas Kanaya dengan memijit pelipisnya.
Bisma perlahan berdiri, dan menggeser sejenak kursi yang dia duduki. Pria itu berjalan dan menuju pada Kanaya, menggerakkan tangannya untuk merangkul bahu istrinya dan memberikan usapan naik turun yang lembut.
“Sabar ya … kita banyakin interaksi dengan Aksara dulu. Aku juga khawatir setelah mendengar ceritamu, tetapi kita bisa cari solusinya bersama-sama kan,” ucap Bisma dengan menundukkan wajahnya guna menatap wajah Kanaya.
__ADS_1
“Iya Mas, semoga Aksara tumbuh kembangnya optimal,” harapan Kanaya untuk putranya itu.
Sebab, sebagai seorang Ibu, Kanaya pun juga menginginkan anaknya tidak hanya sehat, tetapi juga tumbuh dengan optimal. Jika, ada indikasi bahwa ada yang berbeda dari anak, sudah pasti para orang tua akan menjadi khawatir. Pun demikian dengan Kanaya.