Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Masa Kecil Aksara dan Arsyilla


__ADS_3

Radit dan Khaira tampak mengisi waktu sembari mengingat kenangan masa kecil mereka. Melihat Aksara dan Arsyilla yang main bersama seakan membuka kembali kenangan masa lalu keduanya. Sementara itu, Aksara sendiri terlihat begitu senang bisa bertemu dan bermain bersama dengan Arsyilla.


“Kamu keren loh Syilla sudah bisa membaca buku. Sekarang Kakak tidak perlu lagi membacakan buku buat kamu karena kamu sudah bisa membaca buku sendiri,” ucap Aksara.


“Syilla belajar Kak … Syilla setiap hari baca buku sama Mama,” sahut Arsyilla kecil.


Mendengar betapa bahagianya hari-hari Arsyilla yang bisa dilalui bersama Mama dan Papanya, tentu membuat Aksara bersedih. Aksara pun ingin bisa menjalani hari-hari bersama orang tuanya. Merasakan bangun pagi disambut dengan pelukan hangat dari kedua orang tuanya, dibacakan buku sama seperti Arsyilla, dan juga mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Sayangnya, di Panti Asuhan ini Aksara sudah harus terbiasa mandiri. Usianya memang sudah 7 tahun, tetapi Aksara sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Bisa mandi sendiri, makan sendiri, belajar pun sendiri. Hanya terkadang Bu Lisa yang menengoknya saat Aksara tengah belajar.


“Kakak ingin juga memiliki Mama dan Papa seperti kamu, Syilla,” ucapan itu lolos juga dari bibir Aksara. Sekian lama tinggal sendiri di Panti Asuhan dan memori tentang siapa orang tuanya pun telah hilang, kini Aksara merasa ingin memiliki sosok orang tua sama seperti Arsyilla.


Mendengar ucapan Aksara, Arsyilla kecil pun menepuk-nepuk bahu Aksara perlahan, “Kakak kan punya orang tua. Itu Mama dan Papaku juga orang tuamu, Kak … Mama dan Papaku juga menggantung foto Kakak di rumah. Kami sayang Kakak,” balas Arsyilla dengan begitu lembutnya.


Kedua bola mata Arsyilla tampak berbinar dan ucapan gadis kecil itu begitu tulus, hingga wajah Aksara yang semula muram, bisa kembali ceria. Ya, Aksara pun mengangguk dan tersenyum menatap Arsyilla.


“Iya … aku tidak boleh sedih. Aku juga memiliki orang tua, Ayah dan Ibu,” balas Aksara.


“Benar Kak … kami sayang Kakak,” sahut Arsyilla lagi.


Usai mengatakan itu, Arsyilla ingin berlari menghampiri Mama dan Papanya, mengatakan bahwa mereka menyayangi Aksara. Arsyilla melihat Papa dan Mamanya yang sedang duduk di sebuah kursi taman dan tengah berbicara dengan wajah yang tersenyum.


“Papa … Mama …,” teriak Arsyilla sembari berlalu. Sayangnya baru beberapa langkah berlalu, Arsyilla justru terjatuh.


Papa dan Mamanya yang tengah bercerita dan mengulas kenangan masa lalu pun tiba-tiba fokusnya teralihkan, sedikit berlari menghampiri Arsyilla yang mulai menangis. Lutut Arsyilla berdarah, Radit segera berlari dan menghampiri Arsyila, disusul oleh Khaira. Pun demikian dengan Aksara yang turut panik dan berlari ke arah Arsyila.


"Tidak usah berlari, Sayang ... jalan pelan-pelan saja. Lututnya pasti sakit kan?" ucap Radit sembari meniup lutut Arsyila yang nampak berdarah itu.


Seketika Arsyila pun menangis merasakan sakit dan perih di lututnya. "Iya," jawabnya dengan berderai air mata.

__ADS_1


"Ayah tunggu dulu ya, Aksara ambilkan kotak obat." Aksara pun kembali masuk ke dalam dan mengambil kotak obat untuk Arsyila.


Khaira terlebih dahulu membersihkan luka di lutut Arsyila, kemudian mengoleskan sedikit obat merah dan menutupnya dengan plester.


"Sudah Mama obati ya Sayang ... lain kali jalan saja pelan-pelan ya. Lebih berhati-hati ya,” ucap Khaira sembari memeluk Arsyila yang masih menangis. Bukan memarahi Arsyilla, tetapi Mama Khaira mengingatkan putrinya yang kurang berhati-hati itu.


Melihat Arsyila yang masih menangis, lantas Aksara mengeluarkan permen Karamel dari saku celananya dan memberikannya kepada Arsyila.


"Syila jangan nangis lagi ya ... Kakak punya permen rasa Karamel, Arsyila mau ini? Kalau Syila makan Karamel ini Syila akan merasa bahagia dan tidak sakit lagi,” ucap Aksara yang sedang mencoba menenangkan Arsyila.


Kemudian Aksara memberikan satu permen Karamel kepada Arsyila. "Bagaimana manis kan Karamelnya? Sudah tidak terasa sakit lagi kan?" tanya Aksara perlahan


Arsyila pun dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Iya, permen Karamelnya manis. Sudah tidak sakit lagi." jawab Arsyila dengan menyeka air mata di sudut matanya.


Mama Khaira dan Papa Radit pun terasa begitu lega karena tangisan Arsyilla telah berhenti. Bahkan Arsyilla meminta diturunkan dari gendongan Papanya.


Radit dan Khaira pun sama-sama mengangguk, “Iya … yang penting hati-hati. Tadi kenapa Arsyilla berlarian ke arah Mama dan Papa? Ada yang ingin Syilla ucapkan kepada kami?” tanya Mama Khaira kepada putrinya itu.


“Iya Ma … Syilla mau bilang ke Mama dan Papa kalau kita sayang kepada Kak Aksara. Tadi Aksara kelihatan sedih ingin punya Mama dan Papa seperti Syilla. Lalu, Syilla bilang Kakak Aksara kan punya Mama dan Papanya Syilla yang sayang sama Kakak,” cerita Arsyilla.


Ah, barulah Khaira dan Radit tahu apa yang membuat Arsyilla berlari-lari hingga terjatuh dan lututnya hingga berdarah. Akan tetapi, Radit dan Khaira nyatanya justru senang karena Arsyilla tumbuh menjadi anak yang peka dan peduli kepada orang lain. Bahkan kepada Aksara pun, Arsyilla terlihat menyayangi Aksara seperti Kakaknya sendiri dan memedulikan Aksara.


“Maaf ya Syilla … gara-gara Kakak kamu malahan jatuh,” ucap Aksara yang merasa tidak enak.


Tidak menyangka bahwa Arsyilla berlari dan menghampiri Papa dan Mamanya hanya untuk menegaskan bahwa keluarga mereka juga begitu menyayangi Aksara. Di saat dirinya ingin merasakan kehangatan dan kasih sayang keluarga, ada Arsyilla yang terlihat begitu peduli dan sayang padanya.


“Tidak Kakak … Syilla jatuh karena Syilla kurang berhati-hati. Jangan menyalahkan diri sendiri, Kak,” balas Arsyilla.

__ADS_1


Bahkan Arsyilla kecil pun terlihat dewasa dan tidak menyalahkan orang lain karena memang dirinya sendiri yang kurang berhati-hati saat berlari. Tidak memperhatikan langkah kakinya, sehingga Arsyilla pun terjatuh. Jadi, Arsyilla tidak ingin membuat Aksara merasa bersalah.


“Ya sudah … kalian ini main bersama lagi kan?” tanya Mama Khaira.


“Iya,” sahut Aksara dan Arsyilla bersamaan.


Rupanya, Aksara segera menggandeng tangan Arsyilla, mengajak gadis kecil itu untuk bermain ayunan. Dia mempersilakan Arsyilla duduk di ayunan dan mengayunnya perlahan.


“Pegangan ya Syilla, aku ayun,” sahut Aksara.


“Iya Kak … pelan-pelan ya Kak … jangan kencang-kencang, aku takut,” balas Arsyilla.


Aksara pun mengangguk, “Iya … Kakak ayunnya pelan-pelan kok … kamu jangan takut, ada Kakak di sini, Kakak akan selalu menjagamu,” ucap Aksara.


Hingga Aksara dan Arsyilla yang tengah bermain ayunan itu diabadikan secara diam-diam oleh Papa Radit. Pria itu lantas menunjukkan hasil jepretan kameranya kepada istrinya.


“Lihat nih Sayang … Aksara kelihatan sayang banget ya sama Syilla,” ucapnya.


“Ihh, iya ya Mas … so sweet banget,” balas Khaira.


“Biar disimpan dan jadi kenang-kenangan buat mereka berdua. Nanti kalau mau pulang, sekalian pamit ke Aksara kalau bulan depan kita menjenguk dia akan telat ya Sayang … kan kemarin kamu ada undangan untuk mengisi seminar ke Singapura. Jadi kita kembali menjenguk Aksara usai kita dari Singapura yah,” ucap Radit yang mengingatkan istrinya itu.


“Iya Mas … nanti pamitan juga sama Aksara daripada dia nyariin,” sahut Khaira.


Hingga nyaris menjelang sore, barulah Arsyilla selesai bermain dengan Aksara. Keduanya begitu bahagia saat bermain bersama, tetapi kelihatan sama-sama bersedih saat terpisah. Begitu tidak tega rasanya.


“Aksara, kami pulang dulu ya … oh,iya … bulan depan, kami akan datang ke mari setelah Ibu selesai mengajar di Singapura yah. Nanti Ibu belikan oleh-oleh buat Aksara di sana,” pamit Khaira.

__ADS_1


“Iya Ibu … Aksara tunggu Ibu, Ayah, dan Syilla main lagi kemari dan menjenguk Aksara ya. Hati-hati Ibu, Ayah, dan Syilla … jangan lupa kunjungi Aksara lagi ya,” sahut Aksara sembari melambaikan tangannya kepada sosok yang sudah dia anggap sebagai keluarganya itu.


__ADS_2