Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Mencoba Bangkit


__ADS_3

Sudah beberapa minggu berlalu, tetapi tidak ada jejak yang bisa Kanaya dan Bisma dapatkan perihal keberadaan Aksara sekarang ini. Hari-hari yang mereka jalani pun kian berat rasanya.


Kanaya sudah kembali bekerja secara normal itu karena support yang diberikan Bisma bahwa semakin lama tinggal di dalam rumah, Kanaya akan terus-menerus bersedih. Oleh karena itu, Bisma mendorong Kanaya untuk kembali bekerja.


Sama seperti hari ini, Kanaya yang datang kembali bekerja, dan ternyata Papa Jaya sudah menunggu Kanaya di depan ruang kerjanya.


"Kamu sudah masuk bekerja, Naya?" tanya Papa Jaya.


"Iya Pa," sahut Kanaya dengan singkat.


Melihat Kanaya yang sama sekali tidak bersemangat benar-benar membuat Papa Jaya bersedih. Dia tahu bagaimana perasaan Kanaya sebagai seorang Ibu yang kehilangan anaknya. Tidak tahu di mana jejak Aksara sekarang berada.


"Jika masih ingin menenangkan diri, kamu tidak perlu terburu-buru bekerja, Naya," ucap Papa Jaya lagi.


Wanita itu pun melihat Papa Jaya yang sekarang duduk di sebuah sofa di ruangan kerjanya, "Tidak apa-apa Pa ... semakin lama aku di rumah, justru aku semakin mengingat Aksara."


Ya, Kanaya mengakui rumah itu penuh dengan kenangan Aksara. Apa yang diucapkan suaminya pun benar bahwa Kanaya harus kembali menjalani hidupnya. Orang-orang yang mereka sewa akan terus melanjutkan pekerjaannya untuk bisa menemukan Aksara.


"Baiklah, jika itu keputusanmu. Hanya saja, jangan terlalu memaksakan diri, Naya," sahut Papa Jaya.


"Baik Pa ... Kanaya hanya berusaha untuk bangkit," sahutnya.


Pria paruh baya itu menatap Kanaya, merasa iba dengan Kanaya. Akan tetapi, Papa Jaya tidak bisa berbuat banyak. Kendati demikian, Papa Jaya tidak akan menghentikan pencarian terhadap Aksara.


Usai mengatakan nasihatnya, Papa Jaya segera keluar dari ruangan Kanaya dan kembali ke ruangannya. Sementara Kanaya memfokuskan diri untuk mengecek laporan keuangan perusahaan.


Kanaya meneteskan air matanya, saat sejenak pandangannya tertuju pada foto dirinya bersama Bisma dan Aksara di Kebun Raya Bogor. Foto yang menggambarkan keluarga kecil yang bahagia. Akan tetapi, kini Aksara tidak ada lagi bersama dengan mereka.


Hatinya terasa begitu sesak, tetapi Kanaya ingat dengan pesan-pesan dari suaminya bahwa hidup harus terus berjalan. Untuk itu, Kanaya menyeka buliran bening di sudut matanya. Dia menekankan dalam hatinya sendiri bahwa saat dia mengingat Aksara, hatinya akan melantunkan doa untuk putranya itu.

__ADS_1


Ya Tuhan, 


Di mana pun putra hamba berada tolong jagai dia ... 


Naungi dia dengan rahmat-Mu ... 


Jauhkanlah dia dari segala marabahaya ... 


Kelilingi lah dia orang-orang yang baik hatinya ... 


Jika tidak sekarang, pertemukan hamba kembali dengan putra hamba di waktu yang tepat menurut kehendak-Mu ... 


Hamba ikhlas, hanya saja jikalau hamba boleh meminta biarlah Engkau mempertemukan kami kembali ... 


Usai itu, Kanaya kembali berfokus pada pekerjaannya. Menyelesaikan pengecekan laporan keuangan dengan fokus dan tentunya teliti. Hingga tidak terasa sehari telah berlalu.


Tepat seperti perkiraan Kanaya, suaminya itu telah berdiri di lobby dengan satu tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana dan tersenyum menatap wajah Kanaya dari kejauhan.


"Bagaimana pekerjaan kamu hari ini?" tanya Bisma begitu istrinya itu sudah berdiri di hadapannya.


"Baik," sahut Kanaya dengan lesu.


"Aku tahu, kamu pasti bisa melewatinya. Kita pulang sekarang?" tanya Bisma.


Kanaya pun menganggukkan kepala, "Iya ... bawa mobilnya agak pelan-pelan ya Mas, sapa tahu kita bisa melihat Aksara," balas Kanaya.


Bisma pun mengangguk setuju, dia juga berharap jalanan yang dia lewati mungkin saja bisa membawanya menemukan Aksara. "Iya Sayang, ayo."


Bisma segera menyambut tangan Kanaya, membawa tangan itu dalam genggamannya dan berjalan keluar dari Jaya Corp menuju ke mobilnya. Sepanjang perjalanan, Bisma melajukan mobilnya dengan perlahan, Kanaya seakan mengamati pada bahu jalanan yang mereka lewati. Mungkin saja, sosok Aksara akan dia temui.

__ADS_1


Namun, kali ini hasilnya pun nihil. Mereka tidak melihat Aksara. Sampai di rumah, Kanaya memilih langsung memasuki kamar Aksara. Membaringkan dirinya sejenak di kamar milik putranya itu. Pemandangan yang memilukan bagi Bisma, tetapi Bisma pun tahu bahwa itu adalah salah satu cara bagi Kanaya menyalurkan rasa rindunya untuk sang putra.


Menjelang malam tiba, Bisma menghampiri Kanaya yang kali ini duduk dan mengedarkan pandangannya di dalam kamar Aksara.


"Bengong Sayang?" sapa Bisma dengan duduk di samping Kanaya.


Wanita itu mengulas senyuman tipis di bibirnya, "Kenapa Mas?" tanyanya kepada suaminya.


"Enggak, aku lihatin dari sana, istriku ini hanya bengong," balas Bisma.


Kanaya pun segera menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Hanya mampu terdiam dan tak bisa lagi bersuara. Sementara Bisma pun tahu, bahwa istrinya membutuhkan dirinya untuk bersandar. Bisma juga tidak merasa keberatan, dia justru akan dengan sukarela memberikan dirinya sebagai tempat bersandar bagi Kanaya.


"Sayang, boleh aku berkata sesuatu," ucap Bisma kini.


Kanaya pun mengangguk, wanita itu menarik kepalanya dari bahu suaminya dan fokus menatap suaminya. "Iya, tentu boleh," balasnya.


"Sama seperti matahari yang terbit dari Timur. Sama seperti bulan dan bintang yang menjaga malam.


Semuanya adalah bentuk kepastian.


Sama seperti hidup yang kita jalani sekarang, harus terus berjalan.


Sama seperti matahari yang menjaga siang, dan bulan serta bintang yang menjaga malam.


Percayalah, kita bisa lewati ini bersama-sama.


Percayalah, kita akan menatap hari yang baik bersama putra kita."


Bisma mengatakan semuanya itu dengan sungguh-sungguh. Hidup memang butuh kepastian, tetapi kabar dari Aksara masih simpang siur. Benar-benar tidak terdeteksi. Namun tetap ada pengharapan yang saat ini ingin Bisma sampaikan kepada Kanaya. Sebab, pengharapan akan tetap ada dan tak akan hilang. Sama seperti itulah Bisma yang ingin keduanya sama-sama berusaha bangkit tanpa kehilangan pengharapan dalam hati mereka. Hidup memberikan kepastian, mereka berdua pun harus menjalani hidup dengan pasti. Semua akan berlalu, waktu akan menyembuhkan. Tugas keduanya saat ini adalah untuk tetap memegang pengharapan mereka dan terus melantunkan doa-doa semoga Aksara akan segera ditemukan dan hari penuh pengharapan itu akan segera tiba bagi Bisma, Kanaya, dan Aksara.

__ADS_1


__ADS_2