Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Membagi Kabar Baik


__ADS_3

Pagi ini, Kanaya tiba di kantor dengan senyuman yang seolah tak lekang dari wajahnya. Bagaimana tidak, sejak membuka mata di pagi hari tadi, suaminya begitu perhatian pada dirinya. Segelas susu kehamilan dengan rasa stroberri menjadi menu sarapan yang dibuatkan dengan cinta oleh suaminya sendiri. Ditambah dengan suaminya yang kali ini mengantarkan Kanaya hingga sampai di kantornya, dan berbagai bentuk perhatian lainnya, benar-benar membuat wanita hamil itu terasa begitu bahagia.


Saking bahagianya, wanita itu pun menyelesaikan untuk mengecek setiap laporan keuangan dengan cepat dan tanpa hambatan. Di sela-sela waktu Kanaya bekerja, wanita itu mengeluarkan sebuah handphone dari hand bag-nya, dan mulai memutar musik klasik instrumental yang kemarin sengaja diunduhkan oleh suaminya.


Adik, kamu dengar enggak musik klasik ini?


Kita dengerin bersama-sama ya, kemarin Ayah kamu yang mengunduh semuanya ini, katanya musik klasik ini bagus untuk perkembangan kamu.


Wanita itu lantas tersenyum dan mulai mengusapi perutnya yang masih rata, alunan musik klasik karya beberapa komposer dunia seperti Mozart, Bach, dan juga Beethoven pun mengalun dengan indah di ruangan Kanaya itu. Ada perasaan yang tenang saat instrumen musik klasik itu mengalun dengan indah, wanita itu pun beberapa kali justru merasakan kemegahan dari setiap harmoni yang ditimbulkan dari masing-masing alat musik yang digunakan di sana.


Waktu pun berlalu begitu saja, saat sore pun tiba dan sebuah pesan dari suaminya masuk ke dalam handphonenya.


[To: My Lovely Kanaya]


[Sayang, aku sudah di lobby nih.]


[Gak usah terburu-buru, aku tungguin kamu.]


[Love U More]


Kanaya tersenyum membaca deretan pesan dari suaminya itu. Kemudian Kanaya memilih untuk merapikan meja kerjanya terlebih dahulu, menyimpan dokumen dalam PC-nya, dan segera meninggalkan ruangannya untuk kembali menemui suaminya yang sudah menunggunya di lobby.

__ADS_1


Saat Kanaya telah keluar dari lift dan mencari-cari di mana suaminya, ternyata Bisma sedang terlibat obrolan dengan Papa Jaya.


“Sore Mas …” sapa Kanaya begitu telah berdiri di hadapan suaminya itu. Wanita itu lantas juga menyata Papa Jaya, “Sore Pa …” sapanya kepada Papa Jaya.


“Iya Nay, gimana sehat? Papa baru saja pulang dari Batam, membahas untuk konstruksi pembangunan sirkuit di sana. Kabarnya pemerintah akan membangun sebuah sirkuit di kota Batam, dan sepekan ini Papa berada di Batam.” cerita Papa Jaya kepada Kanaya.


Kanaya pun mengangguk, “Iya sehat Pa …” sahutnya sembari tersenyum kepada Papa Jaya.


“Ayolah kalian ikut Papa main ke rumah. Masak setelah menikah kalian tidak pernah bermain ke rumah, enggak pernah menengok Papa dan Mama.” ucap Papa Jaya yang tiba-tiba ingin mengajak Kanaya dan Bisma untuk bermain ke rumahnya.


Tidak langsung menjawab, Kanaya melihat wajah suaminya terlebih dahulu. Setelah Bisma mengangguk, barulah Kanaya menyetujui ajakan Papa Jaya itu. Bisma dan Kanaya memilih mengekori mobil yang ditumpangi Papa Jaya dengan mobil mereka sendiri.


Perjalanan kurang lebih dua puluh menit, dan sekarang mereka berdua berada di kediaman Papa Jaya dan Mama Sasmita.


Jujur saja, usai pertemuan Kanaya dengan Darren di Rumah Tahanan yang memang berjalan tidak baik, Kanaya merasa sungkan dengan Mama Sasmita. Menurut pikirannya, seorang ibu tentu akan lebih mengasihi anaknya, sementara di hadapan Mama Sasmita, Kanaya dengan terang-terangan menolak Darren begitu saja.


“Malam Naya … malam Bisma.” sahut perempuan paruh baya yang masih begitu cantik dan anggun di usianya yang sekarang itu. "Ayo-ayo silakan duduk. Jangan sungkan."


Mama Sasmita justru terlihat masih seperti biasanya. Diperlakukan dengan baik, Kanaya dan Bisma pun segera duduk di ruang tamu tersebut.


“Tadi Papa yang bertemu Bisma di lobby perusahaan, karena sedang menjemput Naya. Ya sudah, Papa ajak mereka berdua ke mari.” cerita Papa Jaya kepada istrinya itu. "Lagipula kan Naya sudah lama tidak mengunjungi kita di sini. Sekalian saja Papa ajak mereka berdua main ke rumah." lanjutnya bercerita kepada Mama Sasmita.

__ADS_1


Mama Sasmita pun mengangguk, “Iya … kalian juga sejak menikah tidak pernah main ke sini.” sahut Mama Sasmita sembari tersenyum.


“Bagaimana kabarnya Gisell, Ma?” tanya Kanaya kali ini, dia menanyakan keberadaan Gisell, karena sudah cukup lama dirinya tidak bertemu dengan mantan adik iparnya itu.


“Gisell masih studi di Singapura, Nay … masih sibuk menyelesaikan studi. Harapannya tahun ini akan menjadi tahun terakhirnya menyelesaikan studi, setelahnya dia bisa bergabung di Jaya Corp.” ucap Mama Sasmita. “Kalian sendiri bagaimana, sudah lebih dari tiga bulan menikah. Apakah belum ada kabar baik dari kalian berdua?” tanya Mama Sasmita kepada Kanaya dan Bisma.


Mendengar pertanyaan Mama Sasmita, Kanaya pun tersenyum, wanita itu memberanikan diri untuk membagi kabar bahagia dengan orang-orang yang sudah layaknya keluarga baginya itu. “Alhamdulillah Ma, sekarang Kanaya sedang mengandung.” ungkap Kanaya pada akhirnya kepada Mama Sasmita dan Papa Jaya.


“Alhamdulillah … akhirnya, Tuhan karuniakan calon bayi untuk kalian berdua. Sehat-sehat ya Nay.” ucap Mama Sasmita kepada Kanaya.


Setelahnya Papa Jaya yang tersenyum dan turut berpesan kepada Kanaya dan Bisma, “Selamat ya buat kalian berdua … wah, tidak lama lagi, kami berdua pun akan menjadi Kakek dan Nenek juga. Dijaga baik-baik istri dan anaknya ya Nak Bisma.” pesan Papa Jaya kepada Bisma.


Dengan tersenyum, Bisma pun mengangguk, “Sudah tentu Bisma akan selalu menjaga Kanaya dan calon babynya Pa … Bisma akan mempertaruhkan hidup Bisma untuk menjaga Kanaya dan anak kami. Doakan Kanaya sehat-sehat sampai hari melahirkan nanti.” ucap pria itu dengan tenang.


“Amin-amin … pasti kami akan mendoakan kalian berdua. Kalian sudah layaknya seorang keluarga bagi kami. Jadi, pasti Papa dan Mama akan selalu mendoakan kalian berdua.” ucap Mama Sasmita yang terlihat bahagia mendengar kabar bahagia yang disampaikan oleh Bisma dan Kanaya.


“Kamu kalau ngidam sesuatu bilang saja, Nay … nanti Mama akan carikan apa pun yang kamu inginkan.” lanjut Mama Sasmita berbicara kepada Kanaya.


Kanaya pun tersenyum, tidak mengira bahwa keluarga Jaya akan benar-benar baik padanya. Bahkan di saat dirinya sekarang bisa dihitung bukan keluarga lagi, tetapi baik Papa Jaya dan Mama Sasmita masih begitu baiknya kepada mereka berdua.


“Iya Ma … nanti kalau Naya ngidam sesuatu, Naya akan mengabari Mama.” sahutnya dengan cukup singkat.

__ADS_1


“Sudah berapa weeks Nay?” tanya Mama Sasmita lagi kepaada Kanaya,


“5 Weeks Ma … masih sangat kecil, karenanya Kanaya harus lebih berhati-hati untuk menjaga buah hati Naya dan Mas Bisma ini.” jawabnya sembari tersenyum kepada semua orang yang duduk di ruang keluarga petang itu.


__ADS_2