
Bagaimana rasanya, apabila kamu dirayu oleh istri sendiri?
Semua rasa bahagia, malu, bahkan nyaris tertawa terbahak semuanya seolah berpadu menjadi satu dalam diri Bisma saat ini. Tidak mengira bahwa istrinya bisa-bisanya mengucapkan kata-kata yang begitu manis.
“Sekarang, aku punya sosok yang aku idolakan dan aku cintai melebihi SRK, dan orang itu adalah kamu, Ayah Bisma Adi Pradana,” ucapnya dengan menunjukkan rona merah di wajahnya.
Pipi wanita itu perlahan naik dan guratan senyuman tercetak jelas di sana. Rasanya bisa mengatakan semua itu membuat Kanaya bahagia, sementara pria di hadapannya tampak mengerjap. Wajah datar yang semula ditunjukkannya, berubah menjadi ******* senyuman di sudut bibirnya.
“Kamu merayuku, ya Bunda?” tanya sembari menaruh piring yang sudah kosong itu di atas meja yang berada di hadapan mereka berdua.
Kanaya kemudian menggeleng, sejujurnya memang dia tidak ingin merayu suaminya itu. Apa yang baru saja dia ucapkan adalah ungkapan isi hatinya, bahwa memang Bisma adalah sosok yang sekarang dia idolakan dan dia cintai. Mungkin di masa remaja, dia memang mengidolakan aktor Bollywood tersohor itu. Akan tetapi, setelah mengenal Bisma dan kemudian menjadi kekasih dan istri dari pria itu, sosok yang ada di hadapannya kini adalah sosok yang nyata. Sosok yang baik hati, menjaga dan melindunginya, sosok yang bisa dia gapai, dan sosok yang dia rindukan siang dan malam.
Mungkin rasanya, terkesan hiperbola. Namun, bagaimana jika sang pemilik hati benar-benar merasakan semuanya itu. Maka, Kanaya pun tak ingin menampik itu. Dia mengatakan bahwa dia memang mengidolakan dan mencintai pria di hadapannya itu.
“Aku jujur loh, enggak merayu sama sekali,” sahut Kanaya dengan menyipitkan matanya, menatap tajam pada sosok suaminya. “Lagian, untuk apa coba aku merayu kamu?” tanya Kanaya kepada suaminya.
Bisma justru mengedikkan bahunya, “Sapa tau, mau merayu.” Pria itu menjawab dengan singkat kemudian, mengambil gelas yang berisi air putih kemudian meneguknya.
“Kamu tahu enggak sayang?” tanya Bisma kepada Kanaya.
“Hmm, apa Ayah?” sahut Kanaya dengan sedikit melirik suaminya itu.
“Efek ucapan kamu tadi melebihi Rayuan Pulau Kelapa tahu enggak.” Bisma menjawab dengan menatap wajah istrinya.
__ADS_1
Di hadapannya justru Kanaya membolakan kedua matanya, “Ha? Rayuan Pulau Kelapa, Lagu Nasional?” jawabnya dengan balik bertanya kepada suaminya.
Bisma pun mengangguk, “Iya, Rayuan Pulau Kelapa yang itu. Yang mana lagi coba?”
“Kok bisa?” Kanaya kembali bertanya dengan cepat. Dia masih memikirkan bagaimana bisa ucapannya tadi bisa berefek dan itu melebihi Rayuan Pulau Kelapa.
“Bisa. Ismail Marzuki menciptakan lagu itu yang melambai-lambai hanya angin di pantai, tetapi saat kamu bilang bahwa kamu mengidolakan dan mencintai aku, yang melambai-lambai, yang berdesir itu hati aku,” jawabnya dengan serius sembari satu tangan memegangi dadanya yang seolah memang berdesir di dalam sana.
Mendengar jawaban dari Bisma, justru Kanaya tertawa. Akan tetapi, dia sebisa mungkin tertawa tidak sampai terbahak supaya tidak membangunkan bayi Aksara. Wajahnya kian memerah lantaran menahan tawa.
“Ya ampun, Mas … aku kira apaan coba. Kamu lebay deh.” Kanaya seolah bersungut-sungut dan menilai bahwa suaminya itu terlalu lebay.
Bisma menggeleng, “Enggak, aku enggak lebay. Aku bicara serius tahu enggak. Coba nih pegang dada aku, detakan jantung lebih cepat.” Pria itu berbicara sembari membawa tangan Kanaya untuk menyentuh dadanya, seolah mengecek kepastian bahwa detak jantungnya memang berdetak lebih cepat, melebihi ambang batasnya.
Lagi Kanaya tertawa, “Mana ada,” jawabnya sembari menepuk dada suaminya itu.
***
Sore harinya …
“Tidak terasa, waktu cuti besar kamu tinggal satu bulan lagi loh Sayang. Kamu enggak mulai mencari babysitter buat mengasuh Aksara?” tanya Bisma kepada istrinya itu.
Pertanyaan Bisma menyadarkan Kanaya, waktu memang waktu cuti melahirkannya hampir habis. Hanya menyisakan waktu satu bulan lagi. Itu memang artinya, dia harus segera mencari babysitter yang akan mengasuh Aksara selama dia bekerja nanti.
__ADS_1
“Kalau punya babysitter bahaya enggak sih Mas? Nanti kalau kamu dirayu babysitternya gimana?” tanya Kanaya dengan memincingkan matanya menatap suaminya itu.
Bisma kemudian mengacak lembut puncak kepala Kanaya, “Mana ada? Enggak ada ceritanya ya. Bagaimana pun aku cuma bisa dirayu sama kamu. Emang kamu enggak ingat kalau ucapan manismu itu melebihi Rayuan Pulau Kepala,” sahutnya dengan mencubit hidung Kanaya.
“Jawab ya jawab aja, jangan cubitin hidung dong. Sakit loh,” keluhnya sembari mengusap hidungnya yang sedikit memerah akibat tarikan dari ibu jari dan jari telunjuk suaminya itu.
“Abis, aku gemes sama kamu. Jangan berpikiran kayak gitu, aku sudah pasti akan setia sama kamu. Pegang ucapanku kali ini.” Bisma berbicara dengan serius, satu tangannya masih berada di atas kepala Kanaya.
Kanaya tampak memperhatikan keseriusan suaminya itu, lalu dia kembali teringat dengan mencari babysitter. Suaminya benar, bahwa waktunya cuti hampir habis. Sisa waktu yang ada bisa dia lakukan untuk mencari babysitter dan melihat apakah babysitter itu benar-benar bagus mengasuh Aksara selama dirinya kembali bekerja nanti.
“Mas, cari babysitter yang harian lepas aja ya Mas? Mereka datang pagi aja waktu kita kerja, malamnya aku urus sendiri aja.” Kanaya berbicara membuka pembicaraan seputar babysitter itu kepada suaminya.
Bisma kemudian mengangguk, “Iya, senyamannya kamu saja. Aku ngikut keputusan kamu. Yang penting Aksara keurus, malam juga jangan ngeluh kalau kecapean. Sudah jadi komitmen kita bersama ya?”
“Iya … ya, kadang-kadang ngeluh kan enggak apa-apa. Toh kan, aku mengeluhnya juga cuma sama kamu. Enggak mengeluh sembarang kepada orang lain,” sahutnya dengan melihat suaminya.
Usai berbicara, Kanaya lantas kembali menatap suaminya, “Mas, mendingan kita pakai babysitter atau Aksara dititipkan di daycare aja?” tanya Kanaya kali ini meminta pertimbangan dari suaminya.
“Tergantung juga sih Sayang, babysitter juga gak apa-apa. Daycare juga boleh. Bisa mencari daycare di daerah deket Jaya Corp, jadi aku bisa mengantar kamu sekalian Aksara, nanti sore kita jemput bareng-bareng. Minta Aksara yang pegang khusus satu babysitter di Daycare itu juga bisa kok.” Bisma menjawab dan menjelaskan kepada Kanaya.
Penjelasan yang membuat Kanaya memiliki alternatif lain. Jika dititipkan di Daycare, setidaknya saat makan siang, dia bisa mengunjungi Aksara.
Kanaya kemudian mengangguk, “Coba aku pikirkan dulu ya Mas … aku pengennya ya Aksara yang megang itu pengasuh yang baik. Bukan yang mengasuh bayi, tetapi hanya memegang handphone aja. Enggak ada tanggung jawabnya. Yang melakukan tugasnya sebagai pengasuh dengan baik,” ucapnya dengan menatap Aksara yang tengah berbaring di atas sebuah bouncer.
__ADS_1
Bisma juga mengangguk, “Iya … coba kamu pertimbangkan dulu. Lagipula, aku juga tidak memaksamu untuk tinggal di rumah saja dan menjadi ibu rumah tangga. Kamu boleh tetap berkarier, mengepakkan sayapmu. Hanya saja, lebih baik jika ada keseimbangan antara menjadi wanita karier di Jaya Corp dan menjadi seorang ibu bagi Aksara,” tegas Bisma dengan menatap Kanaya.
Ya, Bisma memang bukan pria yang menahan Kanaya untuk berdiam diri di rumah. Dia tahu, bahwa istrinya memang memiliki profesi di Jaya Corp. Hanya saja, sebagai seorang suami dan seorang ayah, dia menginginkan keseimbangan antara istrinya yang berkarier dan juga istrinya yang notabene adalah seorang istri dan seorang Bunda bagi Aksara. Lagi pula, di luaran sana banyak juga wanita yang berhasil menjadi wanita karier dan juga sebagai seorang Ibu sekaligus. Maka dari itu, Bisma pun sebatas mengingatkan bahwa keseimbangan dalam segala sesuatu itulah yang harus mereka jaga dan upayakan bersama.