
Selang beberapa bulan berlalu, tiba waktunya bagi Sandra untuk menjelang hari perkiraan lahir (HPL). Saat usia kandungannya sudah memasuki 9 bulan, wanita itu sudah cemas. Berat badannya yang bertambah nyaris 20 kilogram, kakinya yang turut membengkak, dan juga yang lebih menyedihkan adalah semua harus dijalani Sandra sendiri.
Akan tetapi, karena menjelang waktu melahirkan, Sandra memilih untuk pulang ke rumah Mamanya. Berharap ada sang Mama yang setidaknya bisa membantunya saat dirinya mulai merasakan melahirkan.
“Perutnya sudah mulai kencang enggak, San?” tanya sang Mama yang bernama Sartika kepada Sandra.
Wanita hamil itu pun menggelengkan kepalanya, “Tidak Ma, belum kerasa mungkin. Cuma kalau tiap malam, Sandra sudah tidak bisa tidur. Rasanya ingin buang air kecil terus ke kamar mandi,” jawabnya.
Mama Sartika pun mengangguk, “Enggak apa-apa, mengandung memang seperti itu. Hasil USGnya dulu, babynya berjenis kelamin apa?” tanyanya kepada Sandra.
“Cowok, Ma … semoga saja beneran cowok,” jawabnya sembari mengusapi perutnya yang sudah begitu membuncit.
Melihat Sandra yang hamil dan suaminya berada di dalam Lembaga Permasyarakatan, dan sekarang menjelang waktunya melahirkan pun Sandra harus menjalaninya seorang diri mama Sartika tak kuasa untuk meneteskan air matanya. Tidak mengira bahwa jalan hidup anaknya akan sepilu ini.
Dengan diam, Mama Sartika pun menyeka air matanya yang berlinangan begitu saja. Hati seorang Ibu mana yang tahan melihat penderitaan anaknya. Secara hukum dan agama memiliki suami, tetapi saat kondisi hamil di mana seorang wanita akan benar-benar membutuhkan suaminya untuk bersandar, nyatanya Sandra justru mengalaminya seorang diri. Tidak ada suami di sisinya yang bisa menolongnya.
“Semoga nanti waktu melahirkan lancar ya San, Mama rasanya sedih melihatmu seperti ini. Punya suami, tetapi seperti tidak punya suami. Yang kuat ya,” nasihat sang Mama kepada Sandra.
Wanita hamil itu pun mengangguk, “Tidak apa-apa, Ma … Darren juga tidak lama lagi akan keluar. Dia mendapatkan pengurungan masa tahanan lagi karena berkelakuan baik selama berada di dalam penjara. Semoga saja, kami bisa segera berkumpul bersama,” sahutnya.
***
Keesokan harinya menjelang tengah malam, Sandra merasakan perutnya yang terasa kencang, rasa panas yang mendera di pangkal pahanya. Rasanya wanita itu kesakitan, setiap kali merasakan rasa melilit di perutnya. Lantaran tidak bisa tidur, Sandra memilih berjalan-jalan di dalam kamarnya.
“Apa mau waktunya sih? Kenapa perutku sakit banget. Melilit banget rasanya, isshss,” ucapnya dengan mendesis setiap kali merasakan perutnya yang melilit.
__ADS_1
Tidak hanya itu, pinggangnya pun terasa begitu kencang. Rasa sakit yang tidak pernah Sandra alami sebelumnya.
Merasakan bahwa rasa sakit itu bertambah berkali-kali lipat, akhirnya Sandra pun berjalan dengan memegangi pinggangnya, menuju kamar Mamanya.
“Ma, Ma … tolong Sandra, Ma,” ucapnya sembari mengetuk pintu kamar Mama Sartika.
“Kenapa Sandra? Malam-malam kok ketuk-ketuk pintu Mama,” jawab Mama Sartika dengan menguap. Sudah pasti wanita paruh baya itu sudah tertidur, sehingga saat itu masih ada rasa kantuk yang dialaminya.
“Ma, perut Sandra sakit banget Ma, tolong antar Sandra ke rumah sakit, Ma,” pinta Sandra. Kali ini waktu itu memperlihatkan wajahnya yang berkaca-kaca, dengan air mata yang sudah berlinangan.
Sebagai seorang Mama dan tentu memiliki pengalaman melahirkan, sontak saja Mama Sartika langsung panik. Rasa kantuk yang selama masih dia rasakan, hilang seketika. Dia langsung membangunkan suaminya yaitu Papa Tirinya Sandra untuk mengemudikan mobil menuju rumah sakit terdekat.
Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, beberapa kali Sandra telah menangis setiap kali badai kontraksi itu datang.
“Ma, sakit banget, Ma … Sandra enggak kuat, Ma,” keluhnya kali ini kepada Mamanya.
Akan tetapi nyatanya Sandra justru terus menangis, merasa kesakitan dengan pengalamannya yang hendak melahirkan kali ini. Begitu tiba di Rumah Sakit, Sandra pun langsung dibawa melalui Unit Gawat Darurat, seorang Dokter Kandungan yang berjaga saat itu mulai melakukan cek dalam kepada Sandra.
“Ikuti instruksi saya ya Bu Sandra, kita akan lakukan cek dalam. Tolong pahanya dibuka, tarik nafasnya, dan tolong jangan pikirkan yang macam-macam ya … saya akan lakukan cek dalam,” ucap Dokter tersebut dengan mengecek dalam.
Mengukur dengan tiga jari di bawah sana, rupanya Sandra memasuki proses pembukaan.
“Sudah pembukaan empat, Bu … jika masih kuat berjalan bisa jalan-jalan, jika kuat untuk jongkok-berdiri supaya pembukaannya lebih cepat bisa juga dilakukan, jika sakit banget dan seperti ada yang keluar, perut untuk kencang, berarti waktu melahirkan sudah dekat,” jelas Dokter tersebut kepada Sandra.
Sandra pun mendengarkan semua instruksi yang disampaikan Dokter tersebut, dia pun berharap bahwa proses pembukaan dari empat ke sepuluh tidak memakan waktu lama, sehingga dirinya bisa terbebas dari sakit bersalin yang terasa amat sangat menyakitkan.
__ADS_1
Hingga detik berlalu menjadi menit, menit pun terus berjalan menjadi jam. Kurang lebih hampir lima jam barulah pembukaan sempurna, dan Dokter Kandungan segera menolong Sandra untuk bisa melahirkan anaknya secara normal.
“Suaminya mana Bu Sandra? Apa tidak ada untuk menemani bersalin?” tanya Dokter tersebut kepada Sandra.
Kali ini Sandra seolah tidak bisa menjawab, suaminya tidak ada di sisinya untuk menemaninya berjuang melahirkan. Dirinya harus benar-benar menjalani semuanya seorang diri.
“Kalau suaminya sedang mengurus administrasi, kita bisa tunggu sejenak,” ucap Dokter itu lagi.
Akan tetapi, Sandra menggeleng, “Suami saya sedang tidak bisa menemani saya, Dok,” jawabnya dengan berlinangan air mata. Tidak ada tubuhnya yang kesakitan diterpa gelombang kontraksi yang menyakitkan, tetapi secara psikis Sandra pun kesakitan karena dirinya harus melahirkan tanpa suaminya.
Mempertimbangkan bahwa kepala bayi sudah terlihat di bawah sana, maka Dokter pun segera memberikan instruksi kepada Sandra, “Baiklah, Bu … jika perut terasa kencang, tolong mengambil nafas dan kemudian mengejan ya Bu.”
Sandra mengangguk, setiap kali perutnya terasa kencang, dia segera menarik nafas dalam-dalam dan mulai mengejan.
“Sedikit lagi ya Bu Sandra, ayo, ini kepala bayinya sudah keliatan. Dorong yang kuat,” ucap sang Dokter yang kembali memberikan instruksinya.
Kali ini Sandra bener-bener menghirup nafas, kemudian mengejan, dan mendorong pinggangnya ke depan.
“Akkhh,” teriakannya disertai dengan air mata yang berlinangan begitu saja.
Hingga akhirnya terdengar tangisan suara bayi. Di saat dirinya nyaris lemas dan tanpa daya, justru kali ini Sandra berhasil melahirkan seorang diri, tanpa suami yang menemaninya.
Sembari Dokter mengeluarkan plasenta dan menjahit kembali jalan lahir si bayi. Sandra menangis sesegukan melihat dan merasakan bayinya yang sedang ditaruh di atas dadanya.
“Anaknya Mama,” ucap wanita itu dengan tangisannya yang pecah.
__ADS_1
Rasa haru, bahagia, dan sedih seolah bercampur menjadi satu. Hanya air matanya yang bisa mengekspresikan semuanya itu.
“Ravendra, anaknya Mama yang kuat dan bersinar seperti cahaya matahari. Kekuatan dan terang dalam hidup Mama,” gumam wanita itu dengan mengamati si bayi yang dia beri nama Ravendra itu.