
Bagi mereka yang merupakan orang kaya dan berlimpah harta yang sekarang sering kali disebut sebagai crazy rich, pernikahan bukan sekadar pesta, tetapi pernikahan juga menunjukkan sebuah kebanggaan tersendiri bagi mereka yang sedang menggelar pesta. Terlebih bagi keluarga Wardhana yang merupakan pengusaha terkenal dan terkenal di seantero negeri, maka sudah pasti jika keluarga tersebut ingin menggelar pernikahan Giselle, putri bungsunya dengan sangat meriah.
Hari itu, bertempat di salah satu hotel bintang lima terkenal di Ibukota, sebuah Hall dihiasi dengan sedemikian rupa dengan bunga warna berwarna pink muda, dipadukan dengan baby breath yang membentuk hiasan yang indah di pelaminan. Musik pengiring yang melantunkan lagu-lagu cinta membentuk suasana pernikahan itu menjadi kian semarak, sementara Kanaya dan Bisma datang menjadi pihak dari keluarga Wardhana. Pasangan itu, menitipkan Aksara kepada Bunda Hesti dan Ayah Tirta yang turut hadir sebagai tamu undangan.
Kanaya hadir dengan mengenakan kebaya berwarna hijau pupus yang lembut, sementara Bisma mengenakan setelan jas berwarna hitam.
“Nikahannya anak crazy rich memang beda ya Sayang,” celetuk Bisma kali ini saat menggandeng tangan Kanaya memasuki hall tersebut.
Kanaya tertawa mendengar celotehannya suaminya itu, “Ya, harus beda, Mas … lagipula beberapa bulan yang lalu Papa Jaya hanya bisa menggelar pernikahan Darren dengan sederhana, jadi wajar saja sih jika kali ini digelar dengan lebih mewah,” jawabnya yang tengah berusaha berpikiran logis.
Bisma pun mengangguk, “Bener sih … setelah pernikahan di Lapas beberapa bulan yang lalu. Semoga kali ini nasib pernikahan Giselle dan Gibran akan bahagia ya Sayang,” ucapan dan sekaligus doa dari Bisma yang mengharapkan kebahagiaan untuk Giselle dan Gibran.
Kanaya turut menganggukkan kepalanya, “Iya Mas, aku pun berharap dan mendoakan demikian.”
Setelah itu, Kanaya dan Bisma duduk tepat di belakang Mama Sasmita. Keduanya cukup terkejut melihat Sandra dengan perutnya yang membuncit dengan cukup besar, disamping Sandra juga terlihat Darren. Akan tetapi, beberapa meter di belakang Darren ada pihak petugas dari Lapas yang masih menjaga pria itu.
“Ada dia, Sayang …” ucap Bisma dengan mengeratkan tangannya di atas tangan Kanaya.
Kanaya pun menunduk dan sedikit mengangguk, “Iya, mungkin izin untuk menghadiri pernikahan adiknya, Mas … kan boleh, izin ke pihak Lapas. Ada undang-undangnya juga, tetapi tetap dijaga oleh petugas,” sahut Kanaya dengan berbisik lirih di telinga Bisma.
“Ah, iya … benar. Mungkin saja, izin keluar Lapas karena menghadiri pernikahan adiknya,” jawab Bisma kini.
Setelah itu, Giselle pun keluar dengan menggunakan kebaya putih. Gadis yang masih size besar itu terlihat ayu dengan menggunakan kebaya putih dan riasan khas pengantin Sunda. Gibran pun duduk dengan tenang di hadapan penghulu, menunggu Giselle yang akan duduk di sampingnya.
“Mas, awal aku menikah dulu kayak Giselle itu. Badanku sebesar dia,” kenang Kanaya dengan menceritakan pernikahannya terdahulu dengan Darren.
__ADS_1
Bisma tersenyum, “Enggak apa-apa, itu kan dulu Sayang. Sudah, jangan membahas yang dulu-dulu, okey.”
“Okey,” sahut Kanaya.
Setelahnya Gibran pun mulai mengucap akad. Pemuda itu begitu lantang mengucapkan kalimat akad dalam satu tarikan nafas.
Dibarengi dengan penghulu dan saksi nikah yang mengucapkan kata, “Sah!”
Tidak dikira kali ini Kanaya turut meneteskan air matanya. Melihat istrinya yang meneteskan air matanya, Bisma memberikan sebuah tissue kepada Kanaya, “Kenapa menangis?” tanya Bisma.
Kanaya kemudian tersenyum, “Teringat saat kamu mengucapkan kalimat akad itu dan meminangku. Aku jadi terharu,” ungkapnya.
“Terharu karena dinikahi Dokter keren kayak aku ya Sayang?” goda Bisma kini kepada Kanaya.
Dengan cepat Kanaya pun mengangguk, “Iya, ada Dokter keren dan ganteng yang meminangku. Rasanya aku bersyukur banget kepada Tuhan karena memiliki pendamping hidup sepertimu,” ungkapnya dengan menatap wajah Bisma.
Bahkan Darren turut melihat, bagaimana Bisma yang menyeka air mata Kanaya dan mengecup puncak kepala Kanaya dengan penuh cinta. Semua perlakuan manis yang diperlihatkan Bisma seolah membakar hati Darren. Pria itu menunduk dan mencoba mengepalkan satu tangannya. Akan tetapi, semua itu hanya berjalan sesaat karena Sandra segera meraih tangan Darren dan menggenggamnya.
“Babynya gerak, Babe,” ucap Sandra yang membawa tangan Darren dan mengusapkannya di perutnya yang sudah membuncit.
Kali ini untuk kali pertama, Darren benar-benar merasakan pergerakan janin tersebut dalam perut Sandra. Pria itu terkesiap, saat merasakan layaknya tendangan bayi yang begitu terasa dengan telapak tangannya.
“Dia bergerakkah?” tanya Darren kepada Sandra.
Dengan cepat Sandra mengangguk, “Iya, dia bergerak. Mungkin bisa senang karena hari ini bisa bertemu dengan Papanya, walaupun hanya sebentar,” jawab Sandra dengan matanya yang tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
***
Sore harinya …
Akad pernikahan yang dilangsung pada siang hari, dilanjutkan dengan pesta resepsi pernikahan pada sore hingga malam harinya. Kali ini, Bisma dan Kanaya yang menghadirinya. Sementara Aksara sudah pulang terlebih dahulu bersama Bunda Hesti dan Ayah Tirta.
Bisma mengenakan tuksedo berwarna hitam, sementara Kanaya mengenakan gaun pesta berwarna gold. Keduanya tampak begitu serasi, Kanaya mengalungkan tangannya di lengan kokoh milik Bisma, keduanya beberapa kali bercakap-cakap dengan para tamu undangan. Pesta kali ini mengusung konsep standing party, sehingga memang para tamu bisa bergerak ke mana saja untuk menyapa tamu yang lainnya. Sementara di pelaminan kedua pengantin tampak berfoto dengan setiap tamu yang sudah berbaris sebelumnya untuk berfoto bersama.
Sedikit menepi dari kerumunan tamu undangan, Bisma pun membawa Kanaya untuk duduk sebentar. Pria itu meninggalkan Kanaya sebentar untuk mengambilkan minuman bagi istrinya. Akan tetapi, saat Bisma kembali rupanya ada Darren dan Sandra yang kali ini seolah hendak mengajak Kanaya berbicara.
Merasa harus mendampingi istrinya, Bisma pun mempercepat langkah kakinya, dan pria itu menghampiri Kanaya.
“Maaf, aku lama ya Sayang, soalnya tadi antri dulu,” ucap Bisma dengan memberikan minuman kepada Kanaya.
Wanita itu pun tersenyum kepada suaminya dengan manis, “Enggak apa-apa Mas Bisma, aku tetap nungguin kamu kok,” balasnya.
Setelahnya, Bisma menatap pada Sandra dan Darren yang berdiri tidak jauh di hadapannya. “Bagaimana kabarmu, Darren?” tanya Bisma kali ini. Sekaligus suaranya terkesan berat, wajahnya juga terlihat acuh tak acuh, tetapi nyatanya Bisma mau menyapa rivalnya dulu itu.
Darren pun mengangguk, “Aku baik. Kalian bahagia ya?” tanya pria itu dengan tiba-tiba.
Saat Darren menanyakan itu, Sandra pun tampak menolehkan wajahnya untuk bisa menatap wajah Darren, “Sudah pasti mereka bahagia, Babe. Sebab, mereka saling mencintai,” sahut Sandra.
Kanaya kemudian mengangguk dan membawa satu tangannya untuk kembali melingkari lengan suaminya, “Ya, kami saling mencintaimu. Benar begitu kan Mas Bisma?” tanyanya kepada suaminya.
Bisma mengangguk dan tersenyum, “Tentu Sayang, I Love U.” Bisma membalas pertanyaan dari Kanaya dengan sebuah ungkapan cinta.
__ADS_1
Bukan bermaksud ingin pamer, tetapi nyatanya memang mereka berdua saling mencintai. Ungkapan cinta itu pun terdengar di telinga Sandra dan Darren. Mendengar jawaban Bisma, Sandra justru tersenyum berharap Darren akan tulus mencintainya, sementara Darren tampak menundukkan wajahnya dan enggan melihat kebahagiaan keluarga Kanaya dan Bisma.