
“Semua persiapan sudah siap Sayang?” tanya Bisma yang tengah memasuk-masukkan koper ke dalam mobilnya.
“Sudah semua kok, Mas,” sahut Kanaya yang memastikan bahwa semua barang yang mereka butuhkan untuk liburan sejenak sudah semua dia packing dan tidak ada yang tertinggal.
Untuk lebih mendapatkan kepastian, Bisma pun bertanya kepada Kanaya, “Pumping, alat makan Aksara, kantong asip, gabag (tas asip), gell untuk mendinginkan ASIP, sudah semua kan?” tanyanya lagi kepada Kanaya untuk memastikan bahwa persiapan perang istrinya tidak ada yang tertinggal.
Kanaya pun kemudian tersenyum, “Sudah, semua peralatan tempurku sudah kok, Mas … kalau tidak bisa bahaya. Tidak jadi liburan yang ada justru aku bisa kena mastitis karena demam dan terjadi peradangan di jalur ASI,” ucapnya sembari tertawa.
Faktanya memang demikian bahwa mengajak Ibu ASI berjalan-jalan memang membutuhkan peralatan perangnya. Jika tidak, justru bisa membuat si Ibu terkena demam mastitis dan terjadi peradangan pada jalur ASI. Untuk itu, memang sebaiknya para Ibu yang masih meng-ASI-hi pun tetap berjaga-jaga dan membawa peralatannya per-ASIP-an saat bepergian jauh.
“Makasih ya Mas, sudah diingatkan. Bawa payung juga Mas, berjaga-jaga kalau nanti tiba-tiba hujan, jadi biar udah ready di dalam mobil,” ucap Kanaya.
Bisma mengangguk, dan dia segera memasukkan dua buah payung ke dalam bagasi mobilnya. Setelah merasa bahwa semua peralatan yang mereka butuhkan sudah masuk ke dalam bagasi mobil, Bisma pun mengajak Kanaya untuk berangkat sekarang juga.
“Yuk, berangkat sekarang Sayang .., biar agak nyantai,” ucapnya.
Kanaya pun mengangguk, kemudian dia mendudukkan Aksara dulu di car sheet, kemudian dia duduk di sebelah Aksara. Sementara di depan hanya ada Bisma yang mengemudikan mobilnya.
“Yahh, kalau kayak gini serasa aku menjadi supir dong Sayang … drivernya kamu dan Aksara,” celoteh Bisma sembari menginjak pedal dan melajukan mobilnya.
Kanaya pun tertawa, “Abis bagaimana lagi Mas? Kalau Aksara duduk sendiri di belakang kasihan. Aku tidak tega,” sahut Kanaya.
__ADS_1
“Iya deh, enggak apa-apa … jadi driver kalian berdua, aku juga rela kok,” sahut Bisma sembari melirik wajah istrinya dari kaca spions yang berada di depannya.
Tidak terasa, keluarga Bisma pun menempuh perjalanan sepanjang 150 KM dengan jarak tempuh hampir tiga jam dari Jakarta menuju Bandung. Memang cukup melelahkan, hanya saja semua itu terganti dengan pemandangan yang mereka lihat di sepanjang tol menuju Bandung.
Bahkan sepanjang perjalanan pun Askara tidak rewel, rasanya anak yang berusia hampir dua tahun untuk menikmati perjalanannya dengan menaiki mobil. Di sepanjang perjalanan pun, Aksara menunjuk-nunjuk sesuatu yang menarik perhatiannya. Sehingga Kanaya pun menjawab setiap benda yang ditunjuk anaknya itu.
***
Sekarang …
Keduanya telah tiba di sebuah hotel Bintang Lima yang memiliki view yang bagus. Kanaya sendiri yang memilihnya, dan berharap sekali pun tidak bisa mengeksplor kota Bandung, setidaknya view yang bagus bisa membuatnya lebih rileks dan melupakan sejenak kesibukannya di Jaya Corp.
Begitu memasuki kamar itu, mereka disuguhkan dengan pemandangan kota Bandung. Hamparan bangunan yang terlihat sejauh mata memandang, berpadu dengan awan putih yang menutupi kota Bandung siang itu, membuat Kanaya sontak tersenyum melihat pemandangan yang cukup menyegarkan matanya.
Bisma mengangguk, “Iya, kamu pinter banget sih milih hotelnya. Ini keliatannya tipe Celebrity Suite ya Sayang?” tanyanya kali ini kepada Kanaya,
“Iya Mas … habis, sekali-kali tidak apa-apa kan menginap di kamar yang biasa ditempati artis. Paling tidak tahu aja dan pernah merasakan,” sahutnya.
“Iya gak apa-apa, asalkan kamu senang, aku juga senang. Kamu bisa renang? Tuh dari sini aja kolam renangnya keliatan,” tunjuk Bisma pada kolam renang yang terlihat di bawahnya.
Dengan cepat Kanaya menggelengkan kepalanya, “Tidak bisa … di rumah saja, aku enggak pernah renang, Mas. Emang Mas Bisma pernah lihat aku berenang?” tanyanya.
__ADS_1
Nyatanya Bisma justru tertawa, “Ah, iya … sampai lupa kalau istriku ini tidak bisa berenang. Padahal aku pengen nyoba underwater kiss sama kamu loh,” ucapnya sembari mengerlingkan matanya.
Astaga. Rupanya ada-ada yang dipikirkan Bisma. Tidak menyangka bahwa pria itu tengah memikirkan underwater kiss sekarang ini. Kanaya pun sampai geleng-geleng kepala jadinya.
"Kamu nih bisa aja sih, Mas … hati-hati Aksara denger loh nanti," nasihatnya kali ini kepada suaminya.
Bisma pun tergelak dalam tawa. Saat dirinya mengucapkan hal demikian juga Bisma hanya sekadar berfantasi saja. Mencoba hal-hal yang baru rasanya sangat menyenangkan. Sayangnya, memang istrinya tidak bisa berenang, jadi ya semua hanya tinggal fantasi saja.
"Sorry Sayang, aku terlanjur memikirkan yang unik sama kamu," jawabnya kali ini.
Sementara Kanaya justru cemberut, bibirnya hingga mengerucut, "Kan sebel, kalau bicara hati-hati. Ya, walaupun Aksara masih belum bisa bicara lancar. Nanti kalau dia dengar yang aneh-aneh dari Ayahnya kan ya enggak baik, Ayah."
Bisma kemudian mengangguk perlahan, "Oke-oke, i am so sorry My Wifey," ucapnya sembari memeluk Kanaya yang masih menggendong Aksara. "Kamu mau istirahat? Biar Aksara main sama aku dulu," ucapnya kini.
"Tidak, aku enggak capek kok. Malahan kamu itu nyetir Jakarta - Bandung capek enggak Mas? Istirahat dulu aja, gak apa-apa kok." Kanaya justru mempersilakan suaminya itu untuk istirahat sejenak. Sebab, Kanaya tahu bahwa mengemudikan mobil dari Jakarta menuju Bandung tentu sangat melelahkan.
“Jadi, kalau aku mau tidur sebentar boleh Sayang?” tanyanya kini kepada Kanaya.
“Iya boleh … paling bentar lagi aku juga mau bobokkan Aksara dulu, sudah capek keliatannya nih Putranya Bunda,” sahutnya sembari mencium pipi Aksara.
Bisma kemudian tertawa, “Ya sudah yuk, bobok dulu aja kita bertiga. Nanti sore kalau bangun sudah seger,” ajaknya.
__ADS_1
Kanaya mengangguk, kemudian dia menutup tirai itu terlebih dahulu. Kemudian mengajak Aksara untuk tidur terlebih dahulu. Perjalanan dari Jakarta menuju Bandung memang melelahkan. Oleh karena itu, lebih baik keduanya beristirahat sejenak, men-charge tenaga supaya bisa menikmati liburan keluarga di kota Paris van Java tersebut.