Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Sebuah Pertanyaan


__ADS_3

“Mas, nanti malam, aku bekerja dulu sebentar kalau Aksara sudah bobok. Ada laporan keuangan yang harus aku cek,” ucap Kanaya sore itu kepada suaminya.


Bisma tampak mengangguk, sebagai seorang suami, dia pun menyadari bahwa istrinya adalah Direktur Keuangan sebuah perusahaan besar. Maka dari itu, Bisma pun tentu akan mengizinkan istrinya itu untuk bekerja terlebih dahulu, saat Aksara sudah tidur.


“Iya, kerja saja. Penting jangan malam-malam. Jangan lupa pumping dulu,” ucapnya yang memperingatkan istrinya itu untuk mempumping ASI-nya terlebih dahulu sebelum bekerja.


Diingatkan oleh suaminya, Kanaya pun mengangguk, “Siap Mas Dokter, nanti aku akan pumping dulu. Biar enggak penuh juga,” jawabnya.


***


Malam ketika Aksara sudah tidur, Kanaya pun segera mengosongkan sumber ASI-nya dengan melakukan pumping. Akan tetapi, karena dia menggunakan pumping elektrik, sehingga hanya membutuhkan waktu belasan menit dan dia sudah bisa mengumpulkan hampir 200 ml ASI. Hasil pumping itu kemudian dia simpan dalam kantong ASIP dan kemudian dia tuliskan tanggal di kantong ASIP yang beraneka warna itu, kemudian di memasukkannya ke dalam sebuah freezer yang khusus untuk menyimpan ASIP.


Setelahnya, Kanaya segera mengecek laporan keuangan Jaya Corp yang harus segera dia kerjakan. Oleh karena itu, sekarang Kanaya tampak serius dengan sebuah laptop dan kacamata anti radiasi yang bertengger di hidungnya.


Beberapa tabel-tabel mulai dia buka dan mengeceknya satu per satu. Berusaha tidak ada kesalahan saat mengecek laporan keuangan tersebut.


Kurang lebih selama satu jam Kanaya menyelesaikan pekerjaannya, dan kini dia kembali memasuki kamarnya. Pemandangan yang dia lihat adalah Aksara yang sudah terlelap di dalam box bayinya, dan suaminya yang tengah melihat saluran televisi dengan suara yang begitu pelan.


Perlahan Kanaya pun duduk di sisi suaminya itu.


“Nonton apa, Mas?” tanyanya kepada suaminya itu.


Bisma perlahan menoleh kepada istrinya yang kini duduk di sampingnya itu, “Lihat itu Sayang … abis bingung mau ngapain.”


Mendengar jawaban dari suaminya, Kanaya justru tertawa, “Kamu lucu sih Mas, kan bisa tidur. Kamu pasti capek kan, hari ini sudah mulai juga praktik di rumahku. Gimana, ada pasien yang berobat hari ini?” tanyanya kepada suaminya.


Bisma pun mengangguk, “Ada … aku juga sudah sampaikan kepada beberapa pasien yang datang ke Rumah Sakit kalau aku membuka praktik.”


“Bagus dong, bisa sekalian promosi. Buat juga media sosial sebagai wajah untuk Apotek Bunda Aksara, sekaligus sara promosi pakai media sosial,” ucap Kanaya yang memberikan ide promosi kepada suaminya itu.


“Iya, sudah ada pekerja yang buat kok,” jawabnya.


Setelahnya Bisma kembali memperhatikan pada siaran televisi berbayar yang tengah mempertontonkan adegan ciuman dari pemerannya, sekalipun diam terlihat bagaimana jakun pria itu yang naik turun seolah tengah susah payah menelan salivanya.


Kanaya memang sangat peka, perilaku sekecil apa pun dari suaminya itu bisa terlihat olehnya hingga perlahan Kanaya tersenyum. Kali ini tanpa permisi sebelumnya, dia mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya dan menarik kerah polo shirt yang dipakai suaminya itu. Melabuhkan bibirnya yang lembut, manis, dan hangat ke tengah-tengah lipatan bibir suaminya itu. Membiarkan bibirnya bertengger sejenak, hingga napas keduanya saling membelai satu sama lain.


Refleks dengan ciuman yang diberikan oleh istrinya, Bisma justru membelalakkan kedua matanya. Pria itu sama sekali tidak mengira bahwa istrinya akan berinisiatif untuk menciumnya.


Akan tetapi, karena merasa istrinya masih belum selesai, Bisma segera mengurai wajah istrinya itu.

__ADS_1


"Jangan menggodaku, Sayang … sebatas ciuman saja bisa berbahaya," ucapnya sembari beringsut, menciptakan jarak dengan istrinya itu.


Perlahan Kanaya tersenyum, "Ya sudah … gak akan cium-cium lagi."


Setelah itu, Kanaya berlalu begitu saja meninggalkan suaminya yang masih duduk di sofa.


Namun, baru dua langkah Kanaya melangkah, Bisma segera menahan pergelangan tangan istrinya itu. Sedikit menyentaknya hingga kini Kanaya terjatuh dalam pangkuan Bisma.


Kedua bola mata Kanaya membola sempurna dengan, tidak mengira bahwa suaminya akan menyentaknya hingga sekarang dia justru terjatuh di pangkuan suaminya.


"Mas … maksud kamu apa?" tanya Kanaya kepada suaminya itu.


Tanpa menunggu, Bisma segera mengikis wajahnya dan melabuhkan ciuman di bibir istrinya itu. Menyapa bibir yang tipis itu dengan bibirnya sendiri. Kedua bibir yang bukan hanya sebatas menempel, tetapi Bisma berusaha mengecap, memagut, dan membelai dengan dua lipatan bibirnya.


Sembari mempertahankan posisi istrinya di pangkuannya, satu tangan Bisma bergerak guna menahan tengkuk Kanaya supaya istrinya pun semakin memperdalam ciumannya. Sebuah ciuman yang begitu dalam dan hangat, sebuah ciuman yang seolah menumpahkan hasrat terpendam selama lebih dari 40 hari ini.


Perlahan, Bisma mengikis wajahnya sejenak. Menyisakan sejenggal jarak di antara kedua wajah keduanya.


"Kamu sudah selesai?" tanyanya perlahan. Setidaknya Bisma harus bertanya sebelum melanjutkan aksinya.


Kanaya justru tertawa, "Kalau udah selesai kenapa? Kalau belum kenapa?" tanya sembari bergelayut manja di pangkuan suaminya itu.


Seolah terlonjak, tangan Kanaya reflek memegangi dadanya. "Jangan dipegang, Mas … area terlarang," ucapnya memperingatkan suaminya itu.


"Siapa yang bilang?" tanya Bisma dengan tertawa.


"Dokter Indri dong dan artikel di mesin pencarian," jawabnya.


Kemudian Bisma pun mengangguk, "Kalau pengen pegang ini gimana?"


Kanaya pun menggeleng, "Selain yang ini yahh…."


Perlahan pria itu mengangguk, dan mulai kembali menyapa bibir ranum istrinya yang telah mengkilap karena ulahnya sebelumnya. Menciumnya dengan dalam, merasai manisnya bibir yang berpadu dengan hangatnya rongga mulut istrinya. Mencecap kedua belah lipatan bibir itu atas dan bawah. Menyapu dengan ujung lidahnya yang membuat kedua lipatan itu semakin basah. Tangan dari pria itu, kini bukan hanya sebatas menahan tengkuk istrinya, tetapi juga meraba lembutnya epidermis kulit istrinya. Bahkan satu tangan pria itu masuk menelusup meraba dengan lembut punggung halus istrinya.


Permain bibir pria itu terus berlangsung hingga beberapa saat, hingga akhirnya bibirnya turun ke bawah guna mengecup leher jenjang istrinya. Meninggalkan kecupan-kecupan basah di sana.


“Mau di sini atau di kamar?” tanyanya kepada Kanaya dengan suaranya yang terdengar parau dan serak.


“Terserah,” jawabnya dengan memejamkan matanya tak mampu menatap mata suaminya yang tengah memperhatikannya.

__ADS_1


Seolah bahwa istrinya memberikan kendali padanya. Maka Bisma segera menarik kaos yang dikenakan istrinya itu ke atas, meloloskannya dari tubuh istrinya menunjukkan pemandangan area atas istrinya yang putih bersih dengan buah persik yang kian berisi. Setelahnya, pria itu meloloskan sendiri kaos yang dia kenakan, melemparkannya ke lantai begitu saja. Pun dengan berbagai pakaian lainnya yang lainnya. Membiarkan kepolosan mutlak yang akan menemani mereka untuk beberapa saat ke depan.


“Mas …” Kanaya terengah-engah memanggil suaminya itu, saat Bisma kali ini menghisap dan memberikan tanda merah di atas dadanya.


“Jangan dimainkan,” peringatannya lagi kepada suaminya supaya tidak menjamah area terlarang itu.


“Hmm,” sahut pria itu yang kali ini benar-benar haus dan tidak terpuaskan dahaganya.


Puas memberikan satu tanda merah di atas dada istrinya, jarinya turun menyusuri lembah di bawah sana. Mengusapnya atas dan bawah, pergerakan yang membuat Kanaya bagai tersengat aliran listrik hingga dia menggigit punggung suaminya itu.


“Jangan ditahan,” ucap Bisma lagi dengan terus membawa jari telunjuk dan jari tengahnya menginvasi lembah yang begitu basah dan hangat itu.


“Ah, Mas,” pekiknya dengan tubuh yang seolah bergetar, saat merasakan sesuatu yang basah keluar dari bawah sana.


Merasa bahwa istrinya telah siap, perlahan pria itu sedikit mengangkat bobot tubuh istrinya, dengan posisi Kanaya masih berada di pangkuannya. Menyatukan dirinya perlahan, begitu lembut, tetapi ada rasa kuat dan sesuatu yang keras menerobos masuk di bawah sana.


“Ya Tuhan,” racau pria itu sembari menenggelamkan kepalanya di dada istrinya. “Gerakkan pinggulmu, Sayang,” instruksinya kepada sang istri untuk mulai menggerakkan pinggulnya perlahan.


Perlahan wanita itu bergerak perlahan, dengan kedua tangan yang memegangi bahu suaminya. Pergerakan yang membuat tubuh keduanya berbalut peluh yang basah. Sementara pria itu tampak melihat dan menyelipkan juntai rambut istrinya ke belakang telinganya, senyuman tersungging di sana. Seolah-olah Kanaya adalah lukisan terindah, yang harus dia abadikan dengan kedua netranya saat ini.


Merasa istrinya sudah terengah-engah, perlahan Bisma yang mengambil alih permain. Dia bergerak dengan cepat, bibirnya mencecap bibir istrinya, mengecup leher istrinya, bahkan bibirnya tanpa sengaja mengecup dan sedikit menggigit puncak dada istrinya.


“Ah, astaga … ya Tuhan,” racaunya mengiringi permainan kedua di sofa itu.


Hingga desakan dan hujaman yang dia lakukan kini dalam hingga menusuk sesuatu di bawah sana, yang membuat Kanaya kian memejamkan matanya, dan mendesah karena tak kuasa dengan setiap pergerakan dari suaminya itu.


Membiarkan detik berlalu, menit berlalu, keduanya sama-sama menuju puncak asmara berdua. Melegakan dahaga yang cukup lama bagi keduanya.


Hingga akhirnya Bisma merasakan hampir ada ledakan yang keluar di bawah sana. Pria itu menegang dan badannya pun bergetar, sana merasa cengkeraman yang begitu kuat di bawah sana.


Kesan erat, hangat, dan basah semua itu menyertai petualangan keduanya mereguk manisnya nektar cinta yang seakan tidak akan pernah habiskan.


“Aku keluar, Yang …” Bisma berkata dengan terengah-engah dan kian memeluk rapat tubuh istrinya.


“Aku juga, Mas.” Kanaya pun merasakan dirinya benar-benar limbung. Tak kuasa untuk bertahan.


Hingga akhirnya, gerakan seduktif itu kian cepat, satu sentakan terlaksana disertai dengan erangan sang pria seolah merasakan kembang api yang memercikkan ke udara, hamburan warna-warni seolah berkilasan di matanya yang tengah terpejam.


“Aku cinta kamu, Sayang. Love U.” ucapnya dengan membiarkan dirinya memeluk erat tubuh istrinya yang masih berada di dalam pangkuannya.

__ADS_1


__ADS_2