
Di awal pekan, Kanaya sudah kembali bekerja secara sehari penuh di Jaya Corps. Pengasuhan Aksara kembali dia percayakan di Daycare. Menitipkan Aksara di Daycare dengan menyewa seorang pengasuh khusus untuk Aksara merasa lebih cocok bagi Kanaya.
Wanita itu tampak tersenyum saat menerima pesan dari suaminya tercinta. Deretan pesan masuk dengan begitu cepat di handphone Kanaya.
[To: Bunda Kanaya]
[Ayah baru main sama Aksara nih di Daycare.]
[Bunda di sana baru ngapain?]
[Sebentar lagi makan siang, jangan lupa makan ya Cintanya Ayah.]
[Love U, Bunda]
Membaca deretan pesan itu wajah Kanaya terlihat begitu bahagia. Pesan yang dikirimkan suaminya serasa angin segar yang berhembus menerpanya, memberinya kekuatan untuk kembali bersemangat bekerja dan menjalani hari.
Hingga akhirnya, jari-jari Kanaya pun bergerak di keyboard layar handphonenya itu dan dia segera membalas pesan dari suaminya itu.
[To: Ayah Bisma]
[Wah, senangnya Ayah yang sedang main sama Mas Aksara.]
[Titip peluk dan cium dari Bunda buat Mas Aksara yah …]
[Iya, ini bentar lagi aku akan makan ke kantin terlebih dahulu.]
[Bye Ayah … Love U Too.]
Usai mengirimkan pesan-pesan itu, Kanaya kemudian bergegas, membawa dompetnya dan berniat untuk menuju kantin. Wanita itu berjalan dengan cukup santai sembari menyapa beberapa karyawan Jaya Corps yang dia kenali.
__ADS_1
Akan tetapi, senyuman di wajahnya pudar saat matanya secara tidak sengaja bertatapan dengan pria yang tidak asing baginya yaitu Darren. Wanita itu menghela nafasnya perlahan dan mengalihkan pandangan matanya sebisa mungkin untuk bisa berurusan kembali dengan Darren. Lagipula, saat di kediaman Papa Jaya beberapa pekan lalu, Kanaya juga sama sekali tidak berbicara dengan Darren. Kanaya hanya berbicara dengan Sandra, rasanya Kanaya merasa risih dengan cara Darren memandangnya.
Akan tetapi, nyatanya Darren seolah mempercepat jalannya, pria itu sedikit mengejar Kanaya.
“Naya, tunggu aku, Nay,” panggil Darren kepada Kanaya.
Sebenarnya Kanaya mendengar panggilan itu, tetapi Kanaya pura-pura tidak mendengar dan mengacuhkan panggilan Darren. Namun, nyatanya Darren kian mendekat kepadanya, pria itu dengan berani menggenggam tangan Kanaya.
“Naya, tunggu … aku ingin berbicara sebentar kepadamu,” ucapnya.
Dengan cepat Kanaya menghempaskan cekalan tangan Darren di pergelangan tangannya, “Maaf, tolong lepaskan tanganku,” ucap Kanaya.
Darren pun tersenyum, kemudian dia melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Kanaya. Pria itu lantas sedikit menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya.
“Bisa kita ke sana sebentar?” tanya Darren. Pria itu menunjuk ke sebuah sisi ruangan sebelum menuju kantin.
Kanaya lantas menepi, “Di sini saja. Ada apa?” tanyanya dengan ketus.
“Kamu tidak menyambutku dan memberikan selamat untuk kebebasanku?” tanya Darren.
Rupanya pria itu kini menjadi terlalu percaya diri dan menyebalkan. Lagipula, kebebasan dari penjara tidak harus disambut oleh semua orang.
Kanaya membolakan matanya, jengah dengan Darren saat ini. Kemudian Kanaya lantas mulai merespons ucapan Darren, “Untuk apa aku menyambutmu,” sahutnya ketus.
“Ah, aku kira … kamu menyambutku dan mengucapkan selamat kepadaku,” balas Darren dengan cepat.
Mata Darren lantas memindai Kanaya dari kepala hingga kakinya, pria itu lantas menyeringai, “Kenapa lepas dariku kamu bisa secantik ini, Naya?” tanyanya.
Bagi Kanaya, pertanyaan Darren adalah sebuah pertanyaan di mana pria itu tengah berpikiran kotor saat ini. Dengan cepat, Kanaya menggelengkan kepalanya, “Sorry, aku harus ke kantin sekarang,” sahutnya.
__ADS_1
Dengan cepat Kanaya membalik badannya, wanita itu mempercepat langkahnya dan meninggalkan Darren. Akan tetapi, baru beberapa langkah Kanaya berjalan, Darren kembali bersuara. “Bagaimana kalau aku mencelakai suamimu itu supaya bisa membuatmu kembali padaku?” ucap Darren dengan tiba-tiba.
Pergerakan kaki Kanaya pun terhenti seketika, wanita itu lantas menoleh untuk melihat Darren, “Jangan main-main denganku lagi Darren. Jangan berani menyentuh suamiku. Jangan kamu pikir aku takut, Darr. Jika kamu bertindak macam-macam, melenyapkanmu saja bisa kulakukan,” ucap Kanaya.
Dadanya begitu bergemuruh saat ini, Kanaya begitu marah dan tidak suka dengan ucapan Darren. Lagipula, dulu Darren terlihat sudah berubah dan menjadi pria yang lebih baik, tetapi sekarang kenapa Darren kembali ke tabiatnya yang dulu? Kali ini, Kanaya juga bersungguh-sungguh, dia tidak akan membiarkan Darren mencelakai suaminya. Kanaya bahkan bisa melenyapkan nyawa pria itu untuk melindungi suaminya.
Melihat kemarahan Kanaya, Darren justru menyeringai, “Kita lihat saja, Naya … teruslah menolakku dan aku akan terus membayangi hidupmu dengan ketakutan,” balas Darren.
“Kamu memang pria berengsek, Darren. Belum cukup masa kurungan sekian tahun lamanya. Tuhan memberikan kesempatan kedua untuk hidup dengan baik nyatanya tidak kamu lakukan dengan baik. Kasihan Vendra memiliki figur Ayah sepertimu, apa yang akan dilihat anakmu dari sosok Ayah berengsek sepertimu,” sahut Kanaya.
Ucapan Kanaya memang keterlaluan, tetapi Kanaya lebih kasihan dengan sosok Ravendra. Betapa menyedihkannya seorang anak apabila tidak mendapatkan figur seorang Ayah yang benar. Terkadang orang tua sudah berjuang dan berusaha menjadi figur yang baik bagi anak saja, anak-anak masih bisa menyeleweng. Bagaimana dengan anak-anak yang justru mendapatkan figur yang kurang tepat.
Kanaya lantas menatap tajam wajah Darren, “Dengar ucapanku kali ini, berani kamu menyentuh Mas Bisma, aku sendiri yang akan melawanmu.” Kanaya berbicara dengan sungguh-sungguh.
Bertemu dengan Darren nyatanya justru membuatnya moodnya jelek. Rasa laparnya bahkan hilang begitu saja, berganti dengan amarah dan emosi yang meluap saat Darren mengatakan ancamannya untuk menyakiti Bisma. Sungguh, Kanaya tidak bisa mentolerirnya. Jikalau dulu, Kanaya membalaskan rasa sakitnya dengan melaporkan tindakan korupsi dan suap yang diterima Darren saat masih menjadi Direktur Pemasaran. Kali ini, jika pria itu berani mengusik suaminya, Kanaya yang akan membalasnya langsung dengan tangannya. Dia tidak akan menggunakan sistem dan sebagainya. Dia akan membalas dan bahkan tindakan melenyapkan nyawa pria itu berani dia lakukan jika Darren benar-benar melukai Bisma.
Usai itu, Kanaya lantas memilih kembali ke ruangannya. Wanita itu berjalan dengan mengepalkan tangannya, emosinya masih mendidih saat ini. Bahkan dia menghiraukan beberapa staf yang menyapanya. Begitu sampai di ruangannya, Kanaya lantas meminum air putih, berharap bisa melegakan tenggorokannya yang kering, dan kemudian Kanaya mengamati foto pernikahannya dengan Bisma yang berada di meja kerjanya.
Aku tidak akan membiarkan pria berengsek itu melukaimu, Mas …
Bahkan aku rela kehilangan nyawaku, asalkan kamu aman …
Aku rela mendekam di balik jeruji besi asalkan kamu sehat dan selamat.
Bagiku, lebih baik aku yang terluka dan kesakitan, tetapi tidak akan kubiarkan kamu merasakannya.
Itu semua karena aku benar-benar cinta kamu, Mas Bisma …
Kamu lelaki terhebat dalam hidupku.
__ADS_1
Tidak terasa buliran air matanya jatuh begitu saja, sekalipun emosi, tetap saja Kanaya panik. Pikiran-pikiran negatif itu muncul dan memenuhi isi kepalanya. Beberapa kali Kanaya menghela nafasnya dan menenangkan pikirannya, berharap ucapan Darren hanya upaya untuk memetik api saja, tidak sampai membakarnya. Berharap bahwa pria itu hanya tengah memancing emosi saja. Namun, jika nyatanya Darren benar-benar bertindak, Kanaya tidak akan tinggal diam. Dia akan membalas dengan tangannya sendiri.
Apabila dulu Kanaya pernah menjebloskan Darren mendekam di balik jeruji besi dengan melakukan pelaporan kasus suap. Maka, jika pria itu berani mencelakainya, Kanaya akan bertindak sendiri dan menuntut pria itu.