Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Pengen Rujak


__ADS_3

[To: Suamiku]


[Mas, aku pengen Rujak…]


Sebuah pesan meluncur begitu saja ke dalam handphone Bisma siang ini. Rasanya, Kanaya begitu menginginkan Rujak. Maka dari itulah, wanita itu segera mengirimkan pesan kepada suaminya.


Tidak berselang lama, suaminya ternyata langsung menelponnya.


"Kenapa Sayang? Kamu pengen Rujak ya?" tanya Bisma secara langsung melalui teleponnya.


Kanaya pun mengangguk, seolah saat ini dia benar-benar berhadapan dengan suaminya itu. "Iya Mas, rasanya aku bener-bener pengen rujak. Boleh enggak?" tanyanya kepada suaminya itu.


Bisma pun terkekeh mendengar istrinya itu melalui panggilan telepon, "Bolehlah Sayang … nanti sore ya."


Pria itu membolehkan istrinya untuk bisa mendapatkan Rujak, tetapi dia mengatakan untuk membelikannya sore nanti. Sekalian waktu menjemput istrinya.


"Yahhh, padahal aku pengennya sekarang, Mas." sahut Kanaya melalui sambungan teleponnya itu yang terlihat menginginkan Rujak sekarang juga.


Wanita itu seakan merajuk, ingin memakan Rujak sekarang juga. Seakan tidak sabar menanti hingga sore tiba.


Bisma pun memijat pelipisnya. Apakah itu karena istrinya yang memang pengen atau hormon kehamilan yang membuat istrinya itu ngidam? Tiba-tiba terpikirlah sebuah ide dari Bisma.


"Ya sudah, aku belikan online saja ya Sayang … bisa kan tinggal diantar langsung ke kantor kamu. Soalnya kamu pengennya sekarang." ucap pria itu sembari menawarkan untuk membeli rujak secara online.


Akan tetapi, Kanaya justru menggeleng. "Maunya kamu yang belikan. Yang anter abang ojek gak apa-apa, tapi kamu yang belikan." rajuknya kali ini kepada suaminya itu.


Mendengar ucapan istrinya, Bisma pun melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Masih jam 11 siang Sayang … nanti usai aku selesai praktik ini ya. Pas jam makan siang, aku carikan rujaknya." Lagi-lagi Bisma melakukan negosiasi, karena dirinya memang masih dalam jam praktik di Rumah Sakit.


Menyadari bahwa suaminya pun masih sibuk, Kanaya pun mengangguk, "Iya … oke deh. Namun, jangan bohong ya. Harus Mas sendiri yang beliin." ucapnya kali ini.


Bisma pun terkekeh, "Emang ngaruh ya Sayang? Kamu emangnya tahu itu yang beli siapa?" tanyanya kepada sang istri.

__ADS_1


"Iya … tahu lah Mas." sahutnya singkat.


"Ya sudah. Begitu aku selesai praktiknya, aku carikan rujaknya. Penting kamu makan nasi dulu ya, jangan sampai makan Rujak dalam keadaan perut kosong karena bisa membuat asam lambung naik dan juga kasihan janinnya." nasihatnya kepada Kanaya.


Rujak memang salah satu makanan yang menggoda bagi orang yang tengah hamil. Akan tetapi, ibu hamil tidak boleh mengonsumsi Rujak dalam keadaan perut kosong karena bisa membuat asam lambung naik. Rujak pun juga tidak boleh terlalu pedas, dan buah-buah yang hendak dibuat Rujak harus dicuci terlebih dahulu, sehingga tidak ada kotoran dan sisa pestisida yang menempel pada buah-buahan tersebut.


Usai mendengar nasihat dari suaminya, Kanaya pun mengangguk, "Makasih Mas Dokternya aku … aku tunggu ya rujaknya. Adik bayinya pasti seneng banget karena pengennya diturutin."


***


Usai jam praktiknya selesai, Bisma benar-benar keluar dari Rumah Sakit untuk membeli rujak buah yang diinginkan istrinya itu. Lagipula, istrinya hanya meminta rujak, bukan sesuatu yang mahal dan berlebihan. Maka dari itu, Bisma menyisir sepanjang jalan di sekitar Rumah Sakit. Hingga akhirnya, dia berhenti saat melihat seorang Bapak penjual rujak buah dengan gerobak.


"Pak, saya minta rujaknya yang diparut satu dan rujak yang tidak diparut satu ya Pak." pesannya kepada penjual rujak tersebut.


"Ya ya Pak. Mau pedes enggak Pak, rujaknya?" tanya penjual rujak tersebut.


"Tidak pedes saja Pak." sahut Bisma.


[To: My Lovely Kanaya]


[Aku sudah belikan rujak buahnya ya Sayang.]


[Enggak bohong loh ya, udah aku belikan langsunh.]


[Tunggu sebentar lagi, aku kirimkan ke kantor kamu.]


[Love U🧡]


Usai mengirimkan pesan tersebut, rupanya Bisma terbersit ide untuk mengirimkan rujak buah itu secara langsung. Mungkin saja, jika dia yang mengirimkannya secara langsung, istrinya akan lebih bahagia. Oleh karena itu, tanpa menunggu waktu lama Bisma segera mengambil mobilnya dan bertolak menuju Jaya Corp.


Berkendara kurang lebih 15 menit, dan sekarang mobil pria itu sudah terparkir di depan lobby Jaya Corp. Segeralah dia kembali mengirimkan pesan kepada istrinya itu.

__ADS_1


[To: My Lovely Kanaya]


[Coba kamu keluar ke luar lobby, Sayang.]


[Drivernya udah datang tuh.]


Bila saat sore menjemput Kanaya, Bisma memilih turun dan memasuki lobby. Akan tetapi kali ini, dia justru memilih untuk tetap berada di dalam mobil. Menunggu sampai istrinya itu keluar.


Hingga yang dia tunggu pun keluar, Bisma membuka sedikit kaca jendelanya dan meneriakkan, "paket …." kepada istrinya itu.


Betapa terperangahnya Kanaya saat yang dia temui di depan kantornya ternyata suaminya itu. Wanita itu pun berjalan menuju mobil suaminya itu dan mengambil tempat di kursi co-driver.


"Nyebelin banget sih … jadi ini drivernya ya? Udah gitu teriaknya 'paket' gitu." ucapnya terkekeh geli melihat keusilan suaminya itu.


Bisma pun ikut terbahak melihat wajah bersemu merah milik istrinya itu, "Sekalian. Sapa tau, kalau drivernya yang ini. Kamu lebih bahagia." ucapnya.


Setelahnya Bisma membuka satu rujak dan menyuapkannya untuk istrinya, "Aku suapin ya …  aaa … biar aku lega, karena udah beliin dan anterin langsung ke sini. Jangan lupa bintang lima ya." sahut pria itu sembari menyuapkan rujak untuk istrinya.


Kanaya pun mengunyahnya sembari tersenyum, "Makasih banget ya Mas … udah dibela-belain dibeliin dan dianterkan ke sini."


Bisma pun mengangguk, "Iya … apa pun buat kamu dan baby kita. Namun, enggak gratis ya. Nanti malam, aku minta bayarannya." ucapnya sembari mengedipkan matanya kepada istrinya itu.


Mendengar ucapan suaminya, Kanaya pun mengerucutkan bibirnya, "Wah, ternyata Ayah kamu beliin rujak untuk kita berdua enggak ikhlas nih, Dik … Bunda di suruh bayar." ucapnya sembari mengelus perutnya yang masih buncit itu.


Bisma pun menggeleng, rupanya istrinya kian menggemaskan saat mengajak buah hatinya itu mengobrol. "Enggak lah … aku ikhlas kok. Buat kalian berdua, apa pun aku berikan."


Kanaya ikut tertawa, setelah itu dia mengambil sesendok rujak dan menyuapkannya untuk suaminya, "kamu juga makan ya Mas … kita makan berdua ya. Abis ini aku masuk lagi ke dalam."


Seolah tak bisa menolak, Bisma hanya mengikuti istrinya yang menyuapinya rujak itu. Keduanya justru saling menyuapi rujak itu.


"Rujaknya enak ini Mas … makasih ya. Apalagi drivernya kamu, masih dapat bonus kamu suapin. Rasanya gak ada obatnya." ucapnya sembari terkekeh geli dan mengunyah rujaknya itu.

__ADS_1


Bisma pun tertawa, dalam hatinya justru dia lebih bahagia karena hanya karena seporsi rujak dan inisiatifnya untuk mengantarkan rujaknya langsung, dia bisa melihat wajah bahagia istrinya itu. Tidak masalah harus membelikan rujak dan mengantarkannya, asalkan dia bisa melihat kebahagiaan di wajah istrinya itu.


__ADS_2