
Pagi dini hari ini menjadi sahur pertama bagi Bisma dan Kanaya. Sengaja sebelum tidur, Kanaya menyetel alarm di handphonenya karena dia menyiapkan makanan untuk makan sahur pertama mereka di apartemen itu. Sekalipun Kanaya tidak melakukan puasa, tetapi dia akan menemani suaminya berbuka dan sahur bersama.
Sebelum sahur, saat alarm di handphone berbunyi. Kanaya segera bangun dan merapikan rambutnya, hanya mengucirnya dengan asal. Kemudian dia turun dari tempat tidurnya perlahan dan mulai menuju dapur yang berada di apartemennya itu. Kanaya mulai menanak nasi, dan juga menghangatkan sayur yang sudah dia masak saat pulang dari kantor. Tidak lupa, dia menyiapkan kurma dan madu di meja makan yang bisa menambahkan kalori untuk suaminya nanti.
Begitu terdengar suara sahur, rupanya Bisma pun terbangun. Pria itu segera menuju ke dapur.
“Saatnya sahur, Mas …” ucap Kanaya yang mempersilakan suaminya itu untuk duduk.
“Iya Sayang … terima kasih.” jawabnya.
Setelahnya Bisma pun mulai makan sahur dan Kanaya hanya duduk di hadapan suaminya. Wanita hamil itu cukup senang bisa melihat suaminya yang lahap menikmati nasi dan sayur yang sudah dia siapkan. Setelahnya, Bisma mulai memakan kurma dan dua sendok makan madu.
“Kamu kalau capek dan ngantuk, bobok aja Sayang … biar aku yang bereskan mejanya.” ucap Bisma yang paham bahwa istrinya tengah hamil besar, sehingga jika istrinya itu kecapekan dan masih mengantuk, dia tidak keberatan jika Kanaya kembali tidur.
Selain itu, Bisma juga tidak keberatan membereskan meja. Lagipula, mereka juga sering kali berbagi mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama. Saat cleaning day di akhir pekan, Kanaya dan Bisma memang bersama-sama untuk membereskan apartemennya itu.
Akan tetapi, Kanaya justru menggeleng, “Enggak … aku mau temenin kamu sampai selesai saja, Mas.” ucapnya yang justru bertopang dagu dan terus memperhatikan suaminya itu.
Bisma pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Segitu cintanya kamu sama aku ya, sampai aku makan sahur saja kamu lihatin sampai kayak gitu. Aku gak akan hilang, Nayaku Sayang … aku akan tetap berada di sini.” ucapnya yang tersenyum melihat ekspresi lucu dari istrinya itu.
Sementara, Kanaya justru cuek. “Cuma lihatin kamu saja kok, Mas … adik bayinya juga pengen deket sama Ayahnya terus. Jadi ya sudah, kamu berdua temani Ayah makan sahur ya.” ucapnya lagi-lagi. Akan tetapi, di telinga Bisma justru istrinya itu terdengar begitu manja.
“Iya-iya … makasih ya Bunda dan Adik yang sudah mau menemani Ayah makan sahur.” jawab Bisma yang akhirnya mengalah, membiarkan istrinya itu untuk menemaninya makan sahur hingga selesai.
__ADS_1
Setelah sahur selesai, Bisma lantas menggelar sajadah nya, menunaikan sholat subuh, dan sekaligus mengimami istrinya itu. Dalam sujudnya, tidak lupa pria itu berdoa juga untuk istrinya yang tengah mengandung dan juga untuk bayi yang masih berada di dalam rahim istrinya supaya sehat, selamat, dan tumbuh sempurna.
Kini keduanya, telah kembali bersandar di head board. Agaknya mata keduanya menjadi enggan untuk terlelap. Perlahan satu tangan Bisma pun bergerak untuk mengusapi perut Kanaya yang sudah begitu membuncit itu.
“Hai, Anak Ayah … kamu di dalam perut Bunda itu baru ngapain? Pinter ya Anaknya Ayah menemani Ayah makan sahur pertama.” gumamnya dengan masih mengusapi perut istrinya itu.
“Adik bayinya masih bobok ini, Yah.” jawab Kanaya yang seolah suaranya turut menirukan suara anak kecil.
Bisma pun tersenyum, “Kamu justru lucu, Sayang … menggemaskan banget sih.” ucapnya sembari tersenyum pada istrinya itu.
Sementara Kanaya pun turut tertawa, “Biar seolah-olah si baby yang menjawab pertanyaan Ayahnya. Enggak terasa, dua bulan lagi ya Mas.” ucap Kanaya yang merasa waktu untuk menyambut buah hatinya tidak akan lama lagi.
Bisma pun mengangguk setuju, “Iya … benar. Tinggal dua bulan lagi. Sebelum, kamu melahirkan, pengen jalan-jalan ke mana gitu enggak Sayang? Kita kan belum melakukan baby moon.” ucapnya.
Kanaya pun menggeleng, “Enggak … kerjaan aku di kantor baru banyak banget, Mas … lagipula kan nanti waktu melahirkan aku juga mengambil cuti tiga bulan. Praktis, tiga bulan itu akan fokus untuk mengasuh si baby dulu. Kamu juga sibuk kan Mas?” tanyanya kepada suaminya itu.
“Ya, kalau sibuk sih sibuk, Sayang … cuma kan bisa disiasati. Bisa jalan-jalan di akhir pekan juga.” jawab Bisma.
Tidak terasa beberapa saat mengobrol, rupanya mata Kanaya kembali terasa berat, hingga wanita itu pun akhirnya tertidur dengan sendirinya. Dengan cekatan, Bisma kemudian memposisikan Kanaya untuk bisa tidur dengan nyaman.
Pria itu menarik selimutnya guna menyelimuti Kanaya, kemudian melabuhkan satu kecupan di kening istrinya itu.
Cup!
__ADS_1
“Terima kasih sudah menemaniku menyambut sahur pertama kita. Sehat-sehat Sayangku …” ucapnya, kemudian Bisma menunduk dan kemudian mendaratkan bibirnya di perut buncit istrinya.
Cup!
“Anak Ayah di dalam sini juga sehat selalu yah … dua bulan lagi kita akan bertemu. Sehat-sehat ya, makasih sudah mau menemani Ayah makan sahur. Ayah sayang kamu, Nak.” gumamnya dengan begitu lirih seolah tidak ingin suaranya justru akan membangunkan istrinya yang baru saja terlelap.
Setelah itu, Bisma pun kembali berbaring dan mendekap istrinya itu. Menyusul untuk tidur sejenak, sebelum kembali bangun dan bersiap untuk bekerja nanti. Masyaallah, subuh ini menjadi subuh yang indah dan tentunya berkesan untuk Bisma karena dirinya bisa memulai ibadah puasa dengan didampingi oleh istrinya tercinta dan juga calon bayi yang masih akan tumbuh dalam rahim istrinya.
***
Pagi hari …
Sekalipun hanya tertidur beberapa jam usai sahur, Kanaya pun kembali bangun. Saat surya perlahan-lahan menelisik dari tirai jendela di apartemennya itu. Kanaya segera bangun dan membersihkan dirinya. Ini akan menjadi hari pertama puasa untuk suaminya. Oleh karena itu, usai membersihkan dirinya hanya Kanaya yang menikmati sarapan.
Seolah tidak ingin mengganggu Bisma yang masih tertidur, Kanaya berjalan layaknya mengendap-endap menuju dapur. Dengan cepat, dia membuat Omelette dan segelas susu khusus ibu hamil yang mengandung daun katuk. Dengan tenang, dia menghabiskan menu sarapannya. Sebisa mungkin Kanaya segera menghabiskan sarapannya sebelum suaminya datang dan menyusulnya. Sebab, Bisma tengah puasa, dan dirinya yang tengah menikmati sarapan tidak ingin menggagalkan puasa suaminya.
Sayangnya, sebelum menu sarapan Kanaya habis, rupanya Bisma sudah turun dan kemudian segera mencuri satu ciuman di pipi istrinya yang kian hari kian chubby itu.
“Kamu sarapan apa Sayang? Kenapa tidak menunggu aku? Hmm.” tanyanya yang kemudian mengambil duduk di hadapan Kanaya.
“Kamu baru puasa, Mas … aku takut untuk menggagalkan puasamu.” sahutnya dengan jujur.
Bisma lantas tertawa, “Aku tidak akan segoyah itu, Sayang … aku bisa menahan kok. Aku kupaskan apel ya, nanti dimakan waktu di kantor. Makan kurma juga karena kurma juga bagus untuk ibu hamil.” tanpa menunggu waktu lama, Bisma segera menyiapkan sebuah kotak bekal yang berisi apel dan juga kurma yang bisa menjadi camilan untuk istrinya di kantor nanti.
__ADS_1