Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Jujur Walau Terlambat


__ADS_3

Hari yang sudah ditentukan Mama Sasmita dan Kanaya untuk menjenguk Darren akhirnya tiba juga. Mama Sasmita dan Kanaya, menjenguk Darren di hari Rabu, tidak di hari weekend. Kanaya beralasan bahwa weekend akan dia habiskan dengan suaminya untuk melakukan quality time bersama. Kanaya sudah menegaskan bahwa cukup sekali dia akan menerima permintaan Mama Sasmita. Cukup sekali pula, dia tidak jujur dengan suaminya dan pergi tanpa meminta izinnya terlebih dahulu. Tidak dipungkiri Kanaya pun menemani Mama Sasmita dengan perasaan tidak tenang.


Selain itu, dia akan berhadapan dengan Darren rasanya hatinya kembali kecamuk. Bayang-bayang pernikahannya yang penuh air mata, Darren yang merundungnya dan melakukan kekerasan verbal, Darren yang meminta maaf kepadanya, dan saat Darren ditangkap pihak berwajib saat berada di hadapannya. Kanaya masih ingat semuanya itu.


Begitu sudah tiba di rumah tahanan, Kanaya sebenarnya ragu untuk keluar dari mobilnya, tetapi rupanya kedatangannya sudah diketahui Mama Sasmita, sehingga begitu mengetahui mobil Kanaya yang ada di parkiran di depan rumah tahanan itu, Mama Sasmita segera menghampiri Kanaya.


“Halo Nay … terima kasih sudah mengabulkan permintaan Mama.” ucapnya sembari memeluk Kanaya.


Balik memeluk Mama Sasmita, Kanaya pun berkata, “Cukup satu kali ini saja Ma … selebihnya, Naya tidak bisa bertemu dengan Darren.”


Menyadari dengan perasaan dan posisi Kanaya saat ini, Mama Sasmita pun menyadarinya. Semua serba sulit, tetapi wanita paruh baya itu pun mengangguk, “Baik Nay … sekali ini saja. Terima kasih sudah mau membantu Mama.”


Keduanya, bersama-sama ke rumah tahanan itu. Mereka menunggu sesaat hingga Darren akhirnya menemui mereka. Seperti biasanya, pria yang semula angkuh dan arogan itu kini seperti singa yang kehilangan taringnya. Namun, saat melihat sosok Kanaya, matanya berbinar. “Mama … Naya …” sapanya.


Pria itu ingin memeluk Kanaya, tetapi Kanaya dengan segera menghindar. Kanaya mundur beberapa langkah dan hanya menganggukkan kepalanya. Merasa pelukannya tidak terbalas, Darren pun tersenyum getir. “Maaf Nay … aku, aku cuma merindukanmu.” ucap pria itu dengan menundukkan kepalanya.


Sementara Kanaya hanya diam, seolah enggan menjawab ucapan Darren.


Kemudian pandangan Darren jatuh jari manis Kanaya, jari manis di sebelah kiri yang sudah melingkar dengan cincin itu. “Apa benar kamu sudah menikah Nay?” tanyanya dengan suara lirih.

__ADS_1


“Iya …” sahut Kanaya dengan singkat.


Senyuman getir tampak di wajah Darren, “Padahal aku berencana memulai semuanya denganmu, Nay … kamu benar-benar tidak memberiku kesempatan ya?”


Dengan cepat Kanaya menggelengkan kepalanya, “Tidak … tidak ada kesempatan lagi.” jawab Kanaya.


Darren pun mengambil satu langkah guna lebih mendekat dengan Kanaya, “Boleh aku memelukmu sekali Naya … usai ini aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi. Aku akan menjalani hari-hariku sebagai narapidana di sini untuk waktu yang lama.”


Perkataan Darren belum usai, tetapi pria itu langsung memeluk Kanaya begitu saja. Sementara kedua tangan Kanaya luruh di samping kiri dan kanan tubuhnya, sama sekali tidak membalas pelukan seorang Darren, usai itu Kanaya mendorong dada Darren, “Sudah cukup … aku pergi dulu. Mama, Naya duluan ya Ma.” pamitnya yang memilih untuk kembali lebih dulu.


Tanpa Kanaya sadari, sebenarnya ada sepasang mata yang melihat semuanya itu dari jauh. Bisma tahu saat tempo hari Kanaya menerima telepon dari Mama Sasmita, ya Bisma mendengar semuanya. Bahkan sekarang Bisma bersikap layaknya seorang penguntit yang mengikuti istrinya hingga ke dalam rumah tahanan. Hatinya terasa sakit saat istrinya tidak berkata jujur kepadanya. Hatinya seolah diremas, mungkinkah istrinya masih belum sepenuhnya percaya kepadanya.


***


Petang di apartemennya, Kanaya sudah tiba terlebih dahulu. Wanita itu menyempatkan diri untuk membuat makan malam untuk dirinya dan juga Bisma. Sejak pulang di sore hari, Kanaya menyibukkan dirinya di dapur. Berharap malam ini bisa menikmati makan malam yang dia buat dengan tangannya sendiri. Sembari berharap suaminya itu akan segera pulang.


Senja sudah terlihat dari jendela apartemennya, tetapi suaminya masih belum pulang. Barulah petang, Bisma datang.


“Aku pulang …” sapa pria itu. Sapaan biasa yang selalu dia ucapkan saat memasuki apartemennya.

__ADS_1


Biasanya begitu datang, Bisma akan mencium pipi Kanaya terlebih dahulu, barulah pria itu berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Namun, kali ini Bisma langsung pergi saja. Bahkan pria itu memilih untuk tidak melihat Kanaya dengan matanya.


Melihat sikap suaminya yang berbeda, Kanaya diam. Mencoba berpikir mungkin saja suaminya kecapean dari Rumah Sakit. Memilih menunggu sembari menata meja makan. Akan tetapi, cukup lama dia menunggu, Bisma tidak kunjung datang ke meja makan. Merasakan ada sesuatu yang tidak beres, Kanaya pun memilih menuju kamarnya untuk mencari suaminya di sana.


Yang ada justru Bisma dalam keadaan bersih, tetapi pria itu tampak tertidur, meringkuk di tempat tidur. Melihat Bisma yang hari ini tampak begitu berbeda, Kanaya lantas mendekati suaminya. Memanggilnya dengan lembut, “Mas … kamu capek ya?” tanyanya sembari menggoyang lengan suaminya yang tengah memejamkan matanya.


Seolah tidak ada jawaban, dan Bisma tampak menghindarinya, Kanaya memilih berbaring di sisi tempat tidur dengan posisi memunggungi Bisma, dalam diam wanita itu mulai menangis. Merasa didiamkan seperti ini rasanya tidak enak. Ada rasa bersalah dan juga sakit di sana. Dia akan lebih lega, jika pun dia memiliki salah, lebih baik suaminya langsung memarahinya dan memberitahukan letak kesalahan.


Di satu sisi Bisma sebenarnya tidak benar-benar tidur, telinganya masih cukup peka untuk mendengar isakan Kanaya, bahkan Bisma sedikit menoleh guna melihat Kanaya, dan dia melihat bagaimana bahu istrinya itu bergetar menandakan bahwa istrinya itu tengah menangis.


“Kamu tidak ingin berkata jujur kepadaku?” setelah sekian waktu berlalu, akhirnya Bisma memilih bersuara.


Kanaya justru kian terisak saat suaminya itu bersuara, dalam hatinya merasa ketakutan, mungkinkah suaminya tahu semua yang terjadi hari ini. Wanita itu masih bergetar dalam isakan tangisannya.


“Aku tanya sekali lagi Naya, kamu tidak mau berkata sesuatu yang jujur kepadaku?” tanya Bisma.


Hampir dua bulan menikah, Bisma terbiasa memanggil Kanaya dengan panggilan sayang, dan kini kembali dengan namanya saja, justru membuat Kanaya bersedih dan menangis. Sementara Bisma memilih beringsut, hendak bangkit dari tempat tidur itu. Dengan segera Kanaya berbalik dan memegangi tangan suaminya, “Maafkan aku Mas … aku sudah salah.” akunya.


Mengakui kesalahannya bahwa dirinya sudah salah, Kanaya memilih jujur walaupun terlambat. Lebih baik jujur walau terlambat, daripada selamanya dia terus berbohong. Lagipula, suaminya tampaknya sudah mengetahui semuanya, maka kali ini Kanaya ingin jujur kepada suaminya.

__ADS_1


__ADS_2