Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Upaya Sandra


__ADS_3

Sementara itu, di tempat yang berbeda. Sandra lagi dan lagi berusaha untuk membujuk Darren. Entah apa yang terjadi, tetapi Sandra masih yakin bahwa jika dirinya lebih berusaha, maka dia pun meluluhkan Darren. Di mata Sandra sekarang ini, Darren adalah pria yang masih mencintainya. Sandra percaya bahwa perasaan Darren untuk Kanaya hanyalah sebuah perasaan sesaat. Atau bahkan sebuah perasaan yang muncul karena, Darren telah dikhianati oleh Sandra sebelumnya. Maka dari itu, wanita itu pun meluangkan waktu untuk mengunjungi Darren di bulan Ramadhan ini.


Wanita itu datang tidak dengan tangan kosong, tetapi dia juga membawakan berbagai makanan kesukaan Darren seperti Sushi dan Ebi Furai. Mungkin saja, jika Sandra lebih bersikap baik, maka Darren akan kembali bersimpati kepadanya, dan membukakan kembali peluang untuk bisa bersama.


Seperti biasa, Sandra datang ke Rumah Tahanan dengan mengisi daftar kunjungan terlebih dahulu dan mulai meninggalkan Kartu Tanda Penduduknya yang akan bisa diambil kembali setelah kunjungan selesai. Sandra cukup sabar menunggu Darren yang keluar dari sel tahanannya.


“Hei, Darren … gimana kabarmu?” tanya Sandra begitu bisa menemui Darren di siang hari itu.


“Seperti biasa.” jawab Darren dengan begitu lesu. “Bagaimana kabar Kanaya?” tanya Darren tiba-tiba kepada Sandra.


Saat pria yang dulu dicintainya dan menanyakan kabar wanita lain, dalam diam Sandra pun mengepalkan kedua tangannya. Hampir saja emosinya tersulut. Akan tetapi, sebisa mungkin dia harus mengendalikan emosinya jika ingin mendapatkan kembali hati Darren.


“Mungkin saja baik … kamu tahu sendiri kan, Ren … kalau aku bukan pegawai Jaya Corp yang bisa bertemu dengan Kanaya. Lagipula, aku bisa-bisa celaka bila berkeluyuran di depan Jaya Corp.” ucap Sandra sembari sesekali mengedikkan bahunya.


“Kenapa bisa?” tanya Darren lagi.


Sandra pun tersenyum kecut, “Sebab waktu aku datang menemui Kanaya beberapa waktu yang lalu, Papamu melihatku dan memintaku untuk tidak mendekati Kanaya. Kenapa aku merasa heran, agaknya Papamu itu begitu menyayangi Kanaya.” ucap Sandra kali ini yang berusaha menabur garam di atas luka Darren.


Memprovokasi Darren dengan mengatakan bahwa Papa kandungnya terlihat lebih menyayangi Kanaya. Berharap, satu umpan yang dia lemparkan kali ini bisa kena sasaran. Akan tetapi, Sandra harus sedikit kecewa karena Darren terlihat biasa saja, dan seolah-olah tidak terpengaruhi.


Merasa tidak ada tanggapan dari Darren, Sandra pun dengan cepat mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya. 

__ADS_1


“Aku bawakan makanan kesukaanmu. Kamu bisa memakannya saat buka puasa nanti.” ucap Sandra dengan menyodorkan paper bag yang berusaha Sushi Salmon dengan Saus Mentai dan Ebi Furai kesukaan Darren.


“Terima kasih.” ucap Darren sembari menerima paper bag dari Sandra itu.


Sebenarnya, dalam hatinya Darren merasakan sakit. Dulu, makanan seperti yang dibawakan Sandra seperti ini bisa dia makan setiap harinya. Bahkan dulu, dia bisa membelikan untuk Sandra apa pun yang wanita itu inginkan. Sementara sekarang, justru dirinya seolah menunggu belas kasihan dari orang-orang yang datang mengunjunginya dan membawakan makanan kesukaannya. Roda kehidupan benar-benar berputar untuk Darren Jaya Wardhana.


“Kamu ingin makanan apa? Aku akan membawakannya lagi jika aku mengunjungimu lagi kemari.” ucap wanita itu dengan menatap Darren.


Akan tetapi, Darren segera menggelengkan kepalanya, “Ah, tidak … tidak usah. Tidak perlu.” sahutnya yang merasa bahwa Sandra tidak perlu membawakannya makanan.


“Jangan sungkan, Ren … lagipula, aku tulus denganmu. Jika dulu kita pernah memiliki hubungan baik, mungkin hubungan kita berdua tidak bisa seperti dulu, tetapi kita bisa bersahabat bukan? Menjadi teman baik untuk satu sama lain.” ucap Sandra sembari sesekali menganggukkan kepalanya, baginya tidak masalah memulai hubungan dengan Darren sebagai sahabatnya. Cinta bisa muncul karena terbiasa, dan dia bisa memulainya dari sebuah persahabatan.


“Hei, jangan hanya diam. Jika hanya membawakan makanan untukmu, apa tidak keberatan.” ucap Sandra lagi yang seolah membuyarkan lamunan dan diamnya Darren.


Hingga akhirnya, pria itu menggelengkan kepalanya. “Tidak … tidak usah. Aku justru merepotkanmu.”


Sejatuh-jatuhnya Darren sesungguhnya, dia tidak ingin mengiba kepada orang lain, termasuk kepada keluarganya. Pria itu merasa tidak membutuhkan belas kasihan dari siapa pun. Pemberian dan belas kasihan dari orang lain justru seolah merendahkan harga dirinya. 


“Aku tidak merasa repot denganmu, Ren … bagaimanapun, aku sayang kamu.” ucap Sandra kali ini yang mengucapkan bahwa dirinya masih menyayangi Darren.


“Jangan menyayangiku. Aku sekarang tahanan, lagipula sekarang hatimu tengah menyayangi dan mengharapkan wanita lain.” ucap Darren perlahan.

__ADS_1


Tidak ingin usahanya sia-sia, Sandra pun berusaha tersenyum sekalipun sesungguhnya senyuman yang dia tunjukkan adalah senyuman getir. “Aku akan menunggu kamu, Darren. Aku tidak peduli.” Sandra menjawab dengan serius, bahkan senyuman di wajahnya pun telah sirna tergantikan dengan keseriusan di sana.


“Kenapa?” tanya Darren dengan cepat.


“Tidak ada alasan apa-apa. Yang pasti aku menyayangi kamu, dan aku akan menunggumu. Menunggu sampai kamu keluar dari tempat ini.” ucap Sandra.


“Jangan menungguku. Waktu masih akan berjalan di dalam tempat ini selama bertahun-tahun lamanya.” ucap Darren pada akhirnya yang meminta Sandra untuk tidak menunggunya karena dirinya memang masih menghuni hotel prodeo untuk bertahun-tahun lamanya.


Perlahan kedua tangan Sandra pun meriap guna bisa menggenggam tangan Darren, “Tidak masalah … aku akan menunggu kamu.” Sandra kembali berkata bahwa dirinya akan menunggu Darren. “Lagipula, lupakan Kanaya, Ren … dia sudah bahagia bersama suaminya, dan suaminya sangat mencintainya. Jangan menginginkan sesuatu yang sudah kamu buang dan sudah menjadi milik orang.” lanjutnya dengan serius.


Darren kemudian menunduk, apa yang diucapkan oleh Sandra benar adanya. Sayangnya, hatinya belum bisa menerima semua itu. Hatinya masih mencintai Kanaya, dan berharap dirinya bisa mendapatkan maaf dari Kanaya.


“Sayangnya, hati ini hanya dipenuhi oleh satu nama dan itu Kanaya.” Darren berkata dengan jujur. Tanpa ingin membohongi apa yang dirasakan oleh hatinya.


Lagi-lagi Sandra pun tersenyum getir, “Bereskan masalah hatimu itu dan aku akan berjuang di tempatku untuk mendapatkanmu kembali.” Seolah Sandra pun terkesan begitu keras kepalanya. Bagi Sandra, upaya sekali harus mengeluarkan daya dan upaya dia tidak akan keberatan. Jika hasil akhirnya, dia bisa mendapatkan Darren dan juga misinya akan tercapai, maka Sandra tidak keberatan untuk menunggu dan terus berupaya keras untuk mendapatkan Darren.


Darren hanya diam. Pria itu seolah tidak bisa berbicara apa-apa, memberikan tanggapan pun tidak bisa.


Kembali Sandra tersenyum dan mengeratkan kedua tangannya di atas kedua tangan Darren, “Diammu aku anggap iya … jadi, bereskan dulu masalah hatimu itu.” ucap Sandra kali ini yang justru menganggap bahwa diamnya Darren adalah sebuah jawaban iya.


Sekalipun peluang yang dimiliki Sandra hanya kecil, tetapi dia akan berusaha untuk bisa memenangkan hati Darren entah bagaimana pun caranya. Sedikit upaya dan kesabaran berharap bisa menjadi senjata yang ampuh untuk bisa meluluhkan hati Darren Jaya Wardhana.

__ADS_1


__ADS_2