
Sudah tepat sepekan berlalu, dan weekend kali ini Bisma menikmati hari liburnya di rumah. Sejak pagi, pria itu sudah bangun terlebih dahulu. Dia memilih untuk menyeduh Teh beraroma Melati kesukaan Kanaya. Setelah itu, Bisma memilih untuk menunggu Aksara terbangun. Dia menjadi sosok pertama yang dilihat oleh Aksara saat putranya itu bangun pagi itu.
"Yayah … Yayah …" Rupanya tidak berselang lama Aksara pun bangun dan segera memanggil-manggil Ayahnya pun.
Bisma pun mengangguk, "Pagi Putranya Ayah, kamu sudah bangun yah? Hmm, Putra Ayah masih bau susu deh," sahut Bisma sembari menggendong Aksara.
Aksara yang baru saja bangun pun langsung menyerahkan dodot ASIPnya dan memberikannya kepada Bisma.
"Cuuccuu, Yah …" ucap Aksara dengan bicaranya yang masih belum jelas pengucapannya.
Akan tetapi, Bisma pun mengangguk. Sebagai seorang Ayah dan sering berinteraksi dengan anak-anak yang menjadi pasiennya, Bisma setidaknya bisa memahami bahasa bayi. Oleh karena itu, Bisma mengangguk dan langsung menghangatkan ASIP yang tersimpan di kantong ASIP terlebih dahulu, kemudian menunggu hingga cair, barulah diisikan ke dalam dodot milik Aksara.
“Ini, susu hangat buat Aksara. Setelah minum susu, Aksara dimandiin Ayah yah,” ucap pria itu lagi sembari memangku Aksara.
Kurang lebih, setelah 15 menit berlalu, Bisma sembari menggendong Aksara menyiapkan mandi, mengisi sebuah ember dengan air hangat. Sang Ayah itu terlihat begitu telaten memandikan Aksara. Bahkan usai memandikan Aksara, Ayah Bisma juga sekaligus menggantikan baju bagi Aksara. Setelah putranya sudah bersih, dan harum aroma minyak telon dan cologne khas bayi, barulah Ayah Bisma membawa Aksara untuk membangunkan Bunda Kanaya.
Pria itu kemudian mendudukkan Aksara di depan Kanaya, dan menciumkan bibir Aksara ke pipi Bundanya.
“Morning Bunda Kanaya tersayang,” ucap Bisma yang tengah berusaha membangunkan istrinya.
Nyatanya Kanaya hanya mengerjap, mungkin selama beberapa hari mengurus sendiri mungkin memang membuat Kanaya begitu kecapean.
Akan tetapi, Bisma pun tidak gentar, dia kembali menciumkan bibir mungil Aksara ke pipi Bundanya lagi, tidak cuma itu Bisma pun turut menciumi pipi Kanaya.
“Bunda … bangun yuk, nih udah dicari si cakep,” ucap Bisma lagi.
Hingga akhirnya terdengar lenguhan dari Kanaya, dan kelopak matanya tampak bergerak-gerak, disusul dengan Kanaya yang langsung memeluk Aksara dan menghiraukan suaminya.
__ADS_1
“Pagi Mas Bayi cakep, udah bangun, udah wangi aja nih Putranya Bunda,” sahut Kanaya sembari balas mencium pipi Aksara.
“Nda … Nda Naya,” celoteh Bisma pada akhirnya.
“Iya Sayang, Bunda Naya sayang banget sama Aksara,” sahut Kanaya.
Melihat Kanaya yang hanya merespons Aksara, Bisma pun kemudian mengusap-usapkan dagunya dengan jambang yang masih berada di sana karena pria itu belum bercukur.
“Jadi, yang direspons cuma Aksara aja? Ayahnya Aksara enggak direspons nih?” Seolah-olah Bisma terlihat merajuk dan menginginkan perhatian dari Kanaya.
Akan tetapi, Kanaya hanya melihat wajah suaminya sekilas, “Ngapain coba? Nanti kalau mau seminar lagi boleh kok,” sahut Kanaya.
Bisma kemudian tersenyum, “Kalau kangen aku bilang aja Sayang, aku kan juga kangen kamu. Cuma seharian buat Aksara dulu yah, Bundanya nanti malam,” sahut Bisma sembari kembali mengecup kening Kanaya.
Namun, Kanaya justru merotasi bola matanya dengan malas, “Terserah, gak usah janji-janjiin kalau pada akhirnya gak bisa memenuhi,” jawab Kanaya.
Setelah itu, Bisma kembali menggendong Aksara dan mengajak putranya itu untuk bermain di kamar bermain. Sementara Kanaya memilih mandi terlebih dahulu dan dia segera menyiapkan sarapan untuk Aksara. Jika, sarapan untuknya dan Bisma sudah ada Bibi Sari yang akan memasak untuk mereka berdua. Sementara untuk Aksara, Kanaya memang lebih memilih memasakan dengan tangannya sendiri.
“Mas Bayi, makan dulu yuk?” ucap Kanaya sembari menghampiri Aksara yang tengah bermain dengan Ayahnya di dalam kamar bermain.
Bisma pun kemudian mendudukan Aksara di atas baby chair, “Aksara makan dulu sama Bunda ya,” ucap Bisma.
Rupanya Bisma usai mendudukkan Aksara di baby chair, pria itu keluar sendiri. Dia berniat menuju dapur dan membuatkan Teh hangat untuk Kanaya.
“Nih, Aksara sarapan, Bundanya juga sarapan, minum Teh dulu. Mau aku suapin sekalian itu Bibi Sari sudah selesai kok memasaknya,” tawar Bisma kepada Kanaya.
Akan tetapi, Kanaya justru menggelengkan kepalanya, “Enggak, enggak usah … aku nyuapin Aksara dulu saja, kasihan dia laper. Sekarang aja dia makannya lahap banget,” jawabnya.
__ADS_1
Oleh karena itu, Bisma pun mengangguk dan dia turut menggenggam tissue dan membersikan bibir Aksara yang belepotan, menyeka sisa-sisa makanannya di sana. Hingga kemudian, tiba-tiba wajah Bisma tersenyum haru.
“Maaf ya aku sepekan ini sibuk banget,” ucap Bisma kali ini dengan sungguh-sungguh. “Sehabis ini jadwalku sudah rutin seperti biasa lagi kok,” sambungnya memberitahu kepada Kanaya bahwa jadwalnya usai ini sudah kembali seperti biasa.
Enggan menjawab, nyatanya justru ada helaan nafas dari hidung Kanaya.
“Kamu kenapa kok malahan menghela nafas?” tanya Bisma pada akhirnya.
“Aku capek aja,” balas Kanaya.
Bisma pun mengusapi puncak kepala Kanaya dengan lembut, “Ya sudah, hari ini kamu istirahat saja. Mau tidur boleh, mau ke mall sendirian juga boleh, mau ke salon juga boleh. Sepanjang hari ini buat kamu,” jawab Bisma pada akhirnya.
“Terus Aksara?” tanyanya.
“Aksara biar sama aku di rumah, penting kamu hati-hati saja sih,” Bisma menekankan bahwa dirinya yang akan menjaga Aksara di rumah.
“Kamu enggak sedang mencoba merayuku kan?” tanya Kanaya tiba-tiba.
Bisma justru tergelak dalam tawa, “Merayu kamu buat apa coba? Tanpa aku merayumu saja, seluruh hati dan hidupmu sudah sepenuhnya buat aku kok. Aku cuma menebus waktuku tersibuk sepekan ini. Maaf ya,” ucap Bisma lagi.
Melihat kesungguhan Bisma yang memang tampak menyesal, akhirnya Kanaya pun mengangguk, “Iya, aku maafin … aku tuh butuh teman juga loh Mas, berbagi saat mengasuh Aksara, aku bisa cerita-cerita sama kamu, kan ya aku kangen sama kamu,” aku Kanaya pada akhirnya.
“Iya, aku tahu … maafkan aku. Nanti malam, sepanjang malam sampai subuh buat kamu deh,” jawab Bisma sembari menatap Kanaya.
Akan tetapi, Kanaya justru menatap malas pada suaminya itu, “Ngapain juga sampai subuh, nanti malam aku mau bobok cepet kok,” sahutnya.
Bisma kemudian kembali tertawa, “Ya sudah, kamu bobok saja. Nanti aku peluk deh sepanjang malam. Apa sih yang enggak buat Istri Tercintaku ini,” ucap Bisma sembari mencuri satu ciuman di kening Kanaya.
__ADS_1
Hingga akhirnya es yang sejenak membuka hati Kanaya membeku, kini kembali mencair. Wanita itu bahkan bisa tertawa dan merespons perkataan dan candaan dari suaminya. Lebih dari itu, Aksara pun tidak tantrum sepanjang hari karena bisa bermain dengan puas bersama Ayahnya.