Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Dua Minggu yang Dinanti


__ADS_3

Hari berganti hari, hingga dua minggu yang dijanjikan oleh Bisma pun tiba. Tepat di hari ini, pria itu dengan semangat pulang dari Singapura menuju Jakarta. Kepulangan yang bukan sekadar kepulangan, tetapi dia pulang untuk mengenalkan Kanaya kepada kedua orang tuanya.


Menjelang sore, Bisma sudah stand by di depan lobby Jaya Corp, tentu saja pria itu berniat untuk memberikan kejutan kepada Kanaya dan membuktikan ucapannya bahwa dirinya memang tidak main-main. Dia benar-benar bertindak dan ingin sekali membuktikan ucapannya bahwa Kanaya akan diterima dengan baik oleh kedua orang tuanya.


Saat itu, Kanaya yang sedang keluar dari lift menuju lobby pun tertegun melihat Bisma yang sudah berdiri di hadapannya. Seperti biasa, pria itu tersenyum lebar dan seolah menunggu setiap langkah yang diambil oleh Kanaya untuk bisa mendekat kepadanya. “Nice to meet you, Nay … aku datang kali ini, kita benar-benar bersua di Jakarta,” sapanya kepada Kanaya sembari tersenyum menatap gadis yang kini berdiri di hadapannya itu.


Pertemuan keduanya yang terjadi di lobby perusahaanmu terlihat oleh beberapa staf yang mulai keluar dari perusahaan dan hendak bertolak untuk pulang. Salah satu yang melihatnya adalah Radit, sang auditor muda yang sudah berhak menguak kasus penggelembungan dana yang dilakukan oleh Darren. Pria itu melihat Kanaya dan menganggukkan kepalanya sekadar menyapa, “Mari Bu …” sapaan yang tentu saja bersikap formalitas, karena beberapa waktu yang lalu keduanya sempat berpapasan dan Kanaya mengucapkan terima kasih karena salah satu tim auditor yang bernama Radit itu sudah menunjukkan kinerja yang baik.


Melupakan sejenak Bisma, Kanaya justru mengangguk dan membalas sapaan staf auditor itu, “iya … sudah mau pulang?” gugup, Kanaya justru melemparkan pertanyaan kepada Radit.


“Iya Bu, mari … saya duluan. Mari Pak.” Radit pun juga menyapa Bisma yang saat itu berdiri di hadapan Kanaya.


Bisma pun hanya menganggukkan kepalanya dan sedikit tersenyum kepada pria muda yang menyapa wanita yang telah lama dicintainya itu. “Itu hanya staf? Atau lebih dari staf?” tanya Bisma yang seolah merasa curiga kepada Kanaya.

__ADS_1


“Dia salah satu tim auditor di perusahaan ini. Masih muda, tetapi kemampuan auditnya tidak perlu diragukan.” puji Kanaya kepada pria yang berprofesi sebagai Auditor itu.


Kanaya lantas berjalan dan Bisma pun mengikutinya, dengan lirih Kanaya kembali membuka suaranya, “masih ingat saat aku menelpon kamu dan meminta saranmu bahwa aku menemukan temuan di perusahaan ini?” ucap Kanaya sembari menatap Bisma.


Pria yang kini berjalan di sebelahnya itu mengangguk samar dan menjawab, “iya … tentu aku masih ingat. Saat kamu sempat ragu dan meminta saranku dulu kan?” Tanyanya kepada Kanaya.


Kanaya pun menganggukkan kepalanya, “dia yang dipercaya oleh Kepala SPI untuk melakukan proses audit, ternyata benar bahwa terjadi penggelembungan dana bagian pemasaran sebanyak 2 Milyar Rupiah. Sejak saat itu, entah bagaimana dan darimana, nama pria itu menjadi terkenal sampai trending di kantor. Masih muda tetapi bisa mengungkap kasus korupsi perusahaan. Namanya Radit.” jelas Kanaya kepada Bisma.


“Pantas saja namanya sampai trending, bisa menguak kasus berarti kinerjanya bagus kan, selain itu pria itu tampan, perawakannya juga tinggi. Sudah pasti menjadi incaran para staf wanita di sini.” jawab Bisma yang seolah bernada ketus.


“Nay, tetapi kamu tidak tertarik seperti mereka kan?” tanya Bisma kepada Kanaya.


Kanaya pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap wajah Bisma, “aku sadar diri, Dok … aku hanya seorang janda.” ucap Kanaya dengan sangat lirih. Saat menyebutkan kata janda, hanya bibirnya yang bergerak, tetapi dia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


Perlahan Bisma berjalan mendekati Kanaya, “jangan merasa rendah diri hanya kamu berstatus demikian, kita ke rumahku sekarang ya. Ayah dan Bunda sudah pasti menunggu kita.” ucapnya perlahan.


Kanaya justru membolakan matanya, “sekarang? Serius? Ya ampun, Dok … aku bahkan belum mandi dan baru pulang dari bekerja. Tidak bisakah besok atau lusa?” Sungguh Kanaya tidak menyangka bahwa Bisma akan mengajaknya ke rumahnya sekarang juga. Di saat dia belum mandi, make up, dan persiapan lainnya, pria yang mengaku akan mengejarnya itu justru dengan mudahnya mengatakan akan membawanya sekarang juga. Di saat para gadis akan tampil perfect dan maksimal untuk mendatangi orang tua kekasihnya, Kanaya justru dalam kondisi pulang kerja, tidak ada persiapan apa pun.


Kanaya mengigit bibir bagian dalamnya dan bergumam dalam hatinya, “ya ampun, apa karena aku seorang janda jadi dibawa begitu saja dikenalkan dengan orang tuanya? Mandi persiapan dan tampil cantik pun tidak bisa kulakukan, masih dengan pakaian kerja dan tampil formal seperti ini. Ya Tuhan, apa memang hanya para gadis single yang bisa melakukan persiapan dan tampil perfect. Nasib menjadi janda.” gumamnya sembari mendengkus kesal.


Bisma pun hanya terkesan cuek, dan kini pria itu justru menggenggam tangan Kanaya dan membawanya untuk mengikutinya menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan perusahaan Jaya Corp. Pria itu membuka pintu mobilnya untuk Kanaya, kemudian mempersilakan Kanaya untuk masuk. Setelah itu, Bisma berjalan mengitari mobilnya guna masuk ke kursi kemudi. Dengan tenang, dia mengemudikan mobilnya menuju salah satu perumahan mewah di Ibukota. Begitu telah sampai di depan rumahnya, Bisma pun menghentikan mobilnya, “di sinilah rumahku Nay … ayo, turun.”


Tidak menunggu waktu lama, Bisma pun turun terlebih dahulu dan membukakan pintu bagi Kanaya. Akan tetapi, Kanaya justru menunjukkan sikap enggan, gadis itu masih urung keluar dari mobilnya. Perlahan, Kanaya menatap Bisma, “kamu yakin Dok?” Tanyanya lagi mencoba mendapatkan kepastian dari Bisma.


Pria itu menganggukkan kepalanya dan mengulurkan satu tangannya, “yakin … ayo, kita hadapi bersama-sama. Aku akan buktikan bahwa orang tuaku akan menerimamu,” ucapannya yang terdengar begitu meyakinkan Kanaya, “Ayo … tunggu apalagi.”


“Ini terlalu cepat, aku bahkan datang tanpa persiapan sama sekali. Ya ampun Dok, sekadar mengguyur badanku dengan air pun aku tidak bisa, dan sekarang bertemu dengan orang tuamu. Bisakah esok atau lusa saja?” Kanaya masih terlibat tawar-menawar dengan Bisma, mencoba mengulur waktu karena dia pun belum siap sebenarnya untuk dikenalkan dengan kedua orang tua Bisma.

__ADS_1


Dengan cepat Bisma menggelengkan kepalanya, “pintu rumah saja sudah terbuka, Nay … jangan gugup. Kamu punya aku kan? Kita hadapi bersama-sama. Ayo …” pria itu meraih tangan kanan Kanaya, lalu menggenggamnya. Membantu Kanaya turun dari mobil, kemudian menuntunnya perlahan untuk memasuki rumahnya.


Sementara di dalam hatinya, Kanaya berdoa semoga saja dirinya tidak memalukan dan bisa diterima dengan baik oleh kedua orang tua Bisma. Terlebih statusnya yang adalah seorang janda, membuat Kanaya tidak percaya diri saat ini.


__ADS_2