
Ada rasa seolah hatinya teremas saat membayangkan bahwa Kanaya tidak memiliki kesempatan untuk merasakan bagaimana kebahagiaan orang tua saat menyambut kedatangan anak dan menantunya yang datang ke rumah. Bahkan sosok Bisma pun juga tidak diketahui oleh Ayah dan Bundanya yang sudah berpulang ke rahmatullah.
Akan tetapi, kalimat dan pelukan hangat yang diberikan Bisma saat ini benar-benar meyakinkannya bahwa memang sekarang dirinya benar-benar tidak sendirian di dunia ini. Ya, Kanaya sekarang memiliki tempat untuknya pulang dan bersandar. Menyadari kesungguhan dan keseriusan dalam ucapan Bisma, Kanaya pun balas memeluk suaminya itu.
"Makasih Mas ..." ucapnya sembari mencerukkan kepalanya di dada suaminya itu.
"Iya Sayang ... Ayah Tirta dan Bunda Hesti juga orang tua kamu. Mereka juga menyayangi kamu. Jadi, jangan merasa sendirian lagi." Kali ini seolah Bisma meminta kepada istrinya itu untuk menganggap dan punya rasa memiliki bahwa mertuanya adalah orang tuanya juga.
Mengurai pelukannya, kemudian Kanaya pun mengangguk. "Iya Mas ... Makasih ya. Rasanya pelukan kamu begitu menenangkan, rasa sedih di hatiku langsung hilang." ucapnya sembari tertawa dan menengadahkan wajahnya guna melihat wajah suaminya.
"Kamu bisa aja. Berarti kamu seneng tiap kali aku peluk?" tanya kepada istrinya itu.
"Seneng banget ... Pelukan ini yang membuatku merasa bahwa aku tidak sendiri. Aku punya kamu." ucap Kanaya dengan sungguh-sungguh.
Bukan bermaksud melebih-lebihkan, faktanya memang pelukan dan dekapan hangat dari suaminya selalu saja bisa menenangkannya dan membuatnya percaya bahwa ada seseorang yang menemaninya. Tuhan sengaja memberikan teman hidup yang sebaik suaminya itu.
Usai mengatakan itu, kedua mata Kanaya teralihkan pada buku tahunan SMA yang berada di meja belajar suaminya itu. "Mas, ini buku angkatan ya?" tanya menunjuk buku yang begitu tebal itu.
Bisma pun mengangguk, "Iya... Ini buku tahunan angkatan kita. Emangnya kamu tidak punya?" tanya kepada istrinya itu.
Dengan cepat Kanaya pun menggelengkan kepalanya, “Keliatannya aku tidak punya. Boleh enggak kita lihat buku tahunan ini?” tanyanya kepada suaminya itu.
“Boleh lah, tetapi sambil duduk ya … masak kamu mau berdiri terus seperti ini?” tanyanya dan dia menarik tangan istrinya itu untuk mengikuti langkahnya, duduk di kursi sofa yang berada di dalam kamarnya itu.
Mata Kanaya tampak berbinar-binar saat membuka sampul layaknya hard cover dari buku angkatannya itu. “Kita dulu kelas berapa sih?” tanyanya dengan begitu tertarik, mencari terlebih dahulu bagian dari kelasnya dulu.
__ADS_1
“XII IPA 2.” jawab Bisma dengan cepat.
Sama halnya dengan Kanaya, dia pun mencari bagian dari kelas XII IPA 2 seperti yang dijawab oleh suaminya itu. Jari jemarinya terus bergerak untuk mendapatkan bagian dari kelas tersebut. Layaknya penyusunan buku angkatan, biasanya mereka yang dari kelas IPA akan disusun terlebih dahulu, baru diikuti oleh siswa dari kelas IPS, dan Bahasa.
“Aku tuh enggak yakin kalau dulu kita satu kelas loh, kadang itu aku kayak enggak ingat sama kamu.” akunya dengan terus membuka lembar demi lembar halaman buku angkatan itu.
Bisma pun tertawa, “Mungkin karena dulu aku gendut dan jelek kali, jadi kamu sama sekali tidak mengingatku. Namun, harusnya kamu ingat aku loh. Manusia kan punya kecenderungan kinerja otaknya akan mengingat orang yang paling cantik atau cakep, orang yang paling pinter, orang yang tidak pinter di kelas, dan orang yang tergemuk, biasanya otak manusia bisa merekam semua itu.” ucap Bisma dengan penuh keyakinan.
Kanaya lantas menghentikan pergerakan jarinya dan menatap suaminya itu, “Masak sih? Ini sudah bagian kelas kita, Mas … kamu yang mana ya?” tanyanya.
“Cowok dengan tubuh paling gendut itulah aku.” jawabnya.
Maka, Kanaya pun mencari berbagai foto di dalam buku angkatan itu, memfokuskan matanya pada pria dengan tubuh gemuk seperti pengakuan suaminya. Beberapa saat bola matanya mencari-cari akhirnya, dia menemukan pria dengan tubuh gemuk yang kini menjadi suaminya itu.
Bisma A. Pradana
“Jangan pernah berhenti untuk berusaha, karena dalam usaha selalu ada peluang yang terbuka.”
Kanaya mengusap foto suaminya saat SMA itu dan tersenyum, “Cita-citamu dari SMA ternyata jadi Dokter ya Mas … aku terharu. Bertahun-tahun berlalu, dan sekarang kamu beneran menjadi seorang Dokter.” ucapnya dengan memperhatikan foto remaja putra yang mengenakan celana jeans dan tubuhnya berukuran gemuk itu.
“Iya … aku pun kadang juga enggak menyangka, sekarang bisa beneran menjadi Dokter. Coba cari kamu, Sayang …” perintahnya kepada istrinya itu.
“Aku malu, Mas … kan dulu badanku juga begitu gemuk. Jelek banget waktu dulu.” sahutnya dengan wajahnya yang sudah tampak memerah.
“Biar aku yang cari ya …kamu itu cantik. Kecantikan gak hanya wajah dan berat badan kamu, tetapi hatimu baik. Itu jauh lebih penting. Lagipula aku akan menerima kamu apa adanya. Tidak peduli dengan penampilan kamu.” ucap pria itu sembari memindahkan buku angkatan berukuran besar itu ke tangannya, memangkunya di paha, dan mulai mencari-cari wajah istrinya itu.
__ADS_1
"Serius?" tanya Kanaya kepada suaminya itu.
Bisma pun lantas menganggukkan kepalanya, "Serius Kanaya Salsabilla Sayang ... aku sangat serius. Lagipula, aku sudah suka sama kamu sejak SMA kan. Dari setiap tulisan kamu, terus turun ke hati." ungkapnya dengan tertawa. Ada perasaan geli, tetapi juga bahagia bagaimana seseorang bisa jatuh cinta hanya karena membaca karya tulis yang ditulis oleh wanita yang kini telah berhasil menjadi istrinya itu.
Kanaya pun lantas tersenyum, "Makasih karena sudah menerimaku apa adanya, Mas Dogan ..." ucapnya sembari tertawa.
"Dogan apaan sih Sayang?" tanya Bisma sembari memincingkan matanya.
"Dokter ganteng." jawab Kanaya sembari tersipu malu.
Sama halnya dengan Kanaya, Bisma pun tertawa rupanya istrinya itu begitu jago membuatnya berbunga-bunga, hanya satu ucapan yang istrinya itu ucapkan, tetapi tawa kebahagiaan terasa meluap dari hatinya. Pria itu lantas melanjutkan pencariannya, mencari sosok istrinya di buku angkatan itu.
“Nah, aku menemukanmu!” ucap Bisma dengan begitu bersemangat.
Kanaya Salsabilla
Cita-cita Menjadi Orang yang Berguna
“Semua berawal dari mimpi. Jadi wujudkan mimpi itu!”
Bisma tersenyum membaca bagian dari Kanaya itu, kemudian dia kembali melihat Kanaya dengan tubuhnya yang besar, dan menggunakan kacamata. Pria itu lantas balik melihat Kanaya yang kini duduk di sampingnya itu.
“Dari semua cita-cita yang dituliskan di sini, justru cita-citamu ini yang berkesan. Menjadi orang yang berguna itu sangat tidak mudah. Sekarang, aku rasa kamu juga telah mewujudkan semuanya itu.” ucapnya dengan serius.
Kanaya pun menggeleng, “Enggak, itu hanya asal-asalan aja, lagian aku pun enggak tahu sebenarnya aku mau jadi apa. Kuliah Bisnis Manajemen dan justru menjadi penulis novel digital, kemudian sekarang bekerja di perusahaan, aneh kan. Namun, sekarang aku punya cita-cita yang pasti.” ucap Kanaya sambil tersenyum.
__ADS_1
“Apa cita-cita kamu itu?” tanya Bisma dengan menatap wajah Kanaya.
“Aku ingin menjadi istrinya Pak Dokter ini dan menjadi Ibu dari anak-anak kamu.” ucapnya sembari tertawa dan memukul lengan suaminya itu.