
Selang satu hari, Bisma benar-benar menepati janjinya. Siang ini dia membawa istrinya dan bayi kecilnya untuk kembali ke apartemen mereka. Kali ini ada pula Bunda Hesti yang menyertai kepulangan mereka dari Rumah Sakit menuju ke apartemen Bisma.
“Kamu sebaiknya duduk di kursi roda dulu saja, Naya … biar Bunda yang gendongkan Aksara. Pasca Caesar jika terlalu banyak bergerak justru bisa membuatmu semakin sakit.” Bunda Hesti menjelaskan kepada menantunya itu.
Kanaya pun mengangguk, dia segera duduk di kursi roda yang sudah disediakan oleh pihak Rumah Sakit. “Kenapa Naya justru seperti orang sakit ya Bunda?” wanita itu tertawa, dan merasa dirinya kini yang sedang duduk di kursi roda seperti orang yang tengah sakit.
“Tidak apa-apa, kamu kan ya sakit … sakit pasca bersalin,” jawab Bunda Hesti yang turut tertawa.
“Iya, ya … Naya kesakitan karena jadi korbannya Mas Bisma,” candanya kali ini yang membuat sang suaminya membolakan kedua matanya.
“Maksud kamu apa Sayang?” tanya Bisma yang seolah tidak setuju dengan ucapan istrinya itu.
Kanaya justru tertawa, “Aku teringat waktu ke Johor Bahru pas aku masih di Batam dulu, di Malaysia itu nama Rumah Sakit Ibu dan Anak atau Rumah Sakit itu bersalin itu disebutnya ‘Hospital Korban Lelaki.’ Lucu banget.” tawa Kanaya pun seolah meledak mengingat lucu dan uniknya nama Rumah Sakit bersalin di Negeri Jiran itu.
Akhirnya Bisma pun juga turut tertawa, “O …, itu memang benar sih. Jadi kamu itu korbanku ya?” tanyanya lagi kepada sang istri.
“Secara tidak langsung, aku korbanmu sih, Mas,” jawabnya lagi.
“Bukan korban juga dong, kan aku bertanggung jawab sepenuhnya kepada kamu. Kalau kamu korban, kok rasanya aku kayak pelaku kejahatan,” sahut Bisma sembari mengernyitkan keningnya. Pria itu masih saja mendorong kursi roda yang diduduki oleh Kanaya.
Sementara Bunda Hesti tersenyum mengikuti keduanya, dalam hatinya Bunda Hesti selalu berdoa semoga jalinan cinta dan rumah tangga keduanya akan selalu bahagia, tidak ada kesedihan dan lahirnya Aksara semakin menyemarakkan kehidupan rumah tangga Bisma dan Kanaya.
Hingga akhirnya, Bisma perlahan membopong Kanaya dan mendudukkannya di kursi belakang bersama dengan Bunda Hesti yang masih menggendong Aksara. Wajah Kanaya pun memerah lantaran begitu malu diperlakukan dengan begitu manisnya oleh suaminya sendiri.
“Mas, malu,” ucapnya dengan pipi yang bersemu merah.
__ADS_1
“Gak apa-apa.” sahut Bisma sembari memasuki kursi kemudinya dan mulai menjalankan mobilnya perlahan.
“Kalian kenapa enggak pulang ke rumah Ayah dan Bunda dulu? Biar ada yang membantu merawat Aksara.” tanya Bunda Hesti kepada Bisma dan Kanaya.
Bisma kemudian melirik wajah Kanaya dari kaca spion yang ada di depan, “Ada yang sudah kangen sama kamarnya, Bun …”
Kanaya kemudian menunduk, benar-benar malu karena suaminya itu menjawab dengan begitu gamblang kepada Bunda Hesti. Perlahan Kanaya pun menatap Bunda Hesti.
“Maaf Bunda … hanya saja, Naya ingin belajar dan menikmati masa-masa menjadi seorang Ibu bagi Aksara. Namun, nanti kalau ada apa-apa, Naya akan meminta bantuan dari Eyangnya.”
Bunda Hesti pun mengangguk, sebagai orang tua dan juga seorang ibu tentu Bunda Hesti tahu bahwa pengalaman pertama untuk merawat dan mengasuh bayi itu sangat berlahir. Untuk itu Bunda Hesti pun menerima keputusan menantunya itu. “Oke, baiklah … tetapi, kalian jangan bosen ya karena Eyang Putri dan Eyang Kakungnya akan sering-sering mengunjungi apartemen kalian untuk bermain sama Cucu Eyang yang cakep ini.”
***
Begitu sudah tiba di apartemen, wajah Kanaya terlihat begitu bahagia bisa kembali ke tempat yang merupakan rumahnya itu. Tempat yang membuatnya nyaman dan tenteram. Kini ruangan berbentuk persegi itu akan kian semarak dengan tangisan dan tawa dari Aksara, bayi mereka.
“Makasih Ayahnya Aksara,” jawabnya dengan menggenggam erat tangan suaminya yang seolah menuntunnya berjalan itu.
“Silakan masuk Eyang Putrinya Aksara,” ucap Kanaya yang juga mempersilakan Bunda Hesti untuk masuk ke dalam apartemennya.
Wanita paruh baya itu tertawa dengan tingkah konyol dari anak dan menantunya. Kemudian, Bunda Hesti menidurkan Aksara di dalam box bayi yang berada di sisi tempat tidur Bisma dan Kanaya. Setelah itu, Bunda Hesti mengeluarkan berbagai makanan dari kotak bekal yang sudah dia bawa dari rumah.
“Naya, ini Bunda sudah masakkan buat kamu. Ada Sup Ayam dan Sayuran, tempe goreng, dan beberapa buah. Makan yang banyak ya Sayang biar kamunya sehat dan ASI kamu lancar.” Sembari Bunda Hesti menaruh berbagai kotak bekal itu dapur itu.
“Wah, makasih banget Bunda … Naya pasti akan habiskan,” jawabnya dengan mata berbinar melihat berbagai masakan yang dibawakan Bunda Hesti itu.
__ADS_1
Kemudian Bunda Hesti mengeluarkan sesuatu lagi dari tasnya, “Ini biskuit khusus untuk Ibu hamil dan menyusui, bisa kamu makan sebagai camilan. Bunda bawakan juga ASI Booster yang kaya daun katuk, biar produksi ASI kamu lancar dan melimpah.”
“Makasih banget Bunda, enaknya menjadi Naya ya. Mertuanya Bidan dan suaminya Dokter Anak. Naya merasa bahagia banget,” celetuknya yang membuat Bunda Hesti tertawa dan mencubit lengan menantunya itu.
“Ya sudah … kamu segera istirahat ya. Bila Aksara tidur, mending kamu ikut tidur, istirahat. Jaga-jaga kalau malam dia terbangun dan mengajak begadang. Sebab hingga usia 40 hari nanti baru pola kehidupannya bisa diatur. Sekarang dia masih mengikuti ritme selama dia masih berada di dalam rahim.” Bunda Hesti menjelaskan lagi kepada menantunya itu.
Kanaya pun mendengarkan penjelasan dari Bunda Hesti dengan mengangguk. Pelajaran baru baginya sebagai orang tua baru, sudah tentu Kanaya akan mengingat-ingatnya.
***
Keesokan harinya, saat Kanaya baru saja menyusui Aksara. Busui duduk di tepi tempat tidurnya dengan mengamati wajah bayinya yang masih terlelap. Masih ada rasa tidak percaya sekarang ada sosok malaikat kecil di depan matanya yang begitu lucu dan menggemaskan.
“Kenapa kamu liatin terus Sayang?” tanya Bisma yang baru saja keluar dari kamar mandi itu kepada istrinya.
Kanaya pun menggeleng perlahan, “Enggak … rasanya masih enggak nyangka aja. Beberapa hari, dia masih berada di dalam rahimku dan sekarang aku bisa melihatnya secara langsung. Aku bahagia.”
Bisma kemudian sedikit menunduk dan menatap wajah bayinya yang terlelap itu, “Aku juga bahagia … pertama kali mendengar suara tangisannya dan melihat wajahnya usai dilahirkan, rasanya aku langsung jatuh cinta kepadanya. Dia adalah duniaku.” Pria itu berbicara dengan sepenuh hati.
Ya, lahirnya Aksara seolah benar-benar mengubah hidupnya dan sejak itu Aksara adalah dunianya. Dunia sekalipun kecil, tetapi harus dia isi dengan berbagai bekal untuk hidup putranya hingga masa yang akan datang.
“Dia juga adalah duniaku, Mas … sama halnya dengan kamu, di dalam duniaku yang kecil aku memiliki kamu dan juga Aksara.” Kanaya menyahut ucapan suaminya itu dengan tanganya perlahan bergerak dan menggenggam tangan suaminya yang saat itu tengah berada di tepi box bayi.
Pria itu tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya, “Kamu juga duniaku … bersama Aksara,” jawabnya. “Aku akan melindungi kalian berdua dengan nyawaku. Memastikan kalian berdua hidup nyaman, tentram, dan bahagia bersamaku, di sisiku.” Bisma berbicara dengan begitu serius.
Kanaya pun mengangguk, wanita itu kemudian melingkarkan tangannya di pinggang suaminya, “Makasih karena mencintai kami berdua dan menjaga kami berdua. Begitu juga dengan Ayah yang harus juga bahagia bersama kami. Jangan hanya mengutamakan kebahagiaan dan kenyamanan aku dan Aksara, tetapi Ayah juga harus bahagia dan nyaman hidup bersama kami.”
__ADS_1
“Pasti. Sudah pasti aku akan selalu bahagia bersama kalian berdua,” jawab Bisma kali ini.
Itulah sebuah keluarga yang selayaknya harus sama-sama bahagia. Bukan salah satu bertanggung jawab untuk yang lainnya. Masing-masing tiap anggota keluarga hendaknya saling bahagia dan nyaman hidup bersama dalam satu tempat yang dinamakan rumah. Tempat membina cinta kasih, tempat untuk bertumbuh, tempat untuk melimpahkan seluruh emosi itulah rumah. Sama halnya dengan Bisma, Kanaya, dan Aksara yang juga akan memulai babak baru dalam hidupnya dengan menjadi orang tua. Kali ini kebahagiaan mereka berdua seolah tumpah ruah, keduanya seakan tidak tahu bahwa mungkin saja sang Pemilik Semesta akan kembali memberikan awan gelap dan terpaan badai kepada mereka di masa-masa yang akan datang.