Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Meyakinkan Kanaya


__ADS_3

Usai pulang dari rumah Bisma, pria itu dengan segera mengantarkan Kanaya menuju rumahnya. Sekaligus ini menjadi kali pertama bagi Bisma untuk mengantar Kanaya hingga ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, keduanya sama-sama diam, Kanaya hanya sesekali menginstruksikan arah menuju rumahnya. Gadis itu sibuk menata hati dan pikirannya sendiri, sementara Bisma memilih diam dan memberi Kanaya waktu untuk berpikir tentunya.


Hingga perjalanan hampir 30 menit, mereka berdua telah tiba di depan rumah Kanaya, “aku turun sekarang ya Dok … terima kasih sudah mengantarku pulang,” pamitnya kepada Bisma yang masih berdiam diri di kursi kemudinya. Bahkan kali ini, Kanaya berpamitan tanpa menatap wajah Bisma.


Sesekali melirik, Bisma menatap punggung Kanaya yang turun dari mobilnya dan memasuki rumahnya. Pria itu hanya menatap Kanaya dalam diam, tidak langsung menyalakan mobilnya, Bisma justru mematikan mesin mobilnya, membuka kaca jendelanya sedikit dengan maksud membiarkan angin dari luar masuk dan tidak membuatnya pengap, lantas pria itu mengambil handphone dari saku celananya.


Sekian menit berlalu, hingga akhirnya Bisma memilih keluar mobilnya. Pria itu berdiri menatap rumah dua lantai yang Kanaya tempati sendiri, kemudian mulai mencari kontak Kanaya dan menekan tombol telepon di sana. Dalam diam dan tentu penuh kesabaran, Bisma menunggu hingga panggilannya tersambung.


Kanaya


Berdering


Beberapa detik berlalu dan hanya bunyi suara teleponnya tersambung, tetapi Kanaya belum menjawabnya. Nyaris pada panggilan yang ketiga, barulah terdengar suara Kanaya yang menjawab telepon itu.


“Iya, halo Dok … ada apa? Kamu sudah tiba di rumah?” tanya Kanaya melalui sambung selulernya itu.


Bisma sejenak diam, pria itu hanya berdiri dan sesekali menggerakkan kakinya, kanan dan kiri secara bergantian, “ada yang kamu lupakan Nay …,” sahut Bisma perlahan.

__ADS_1


Dari dalam kamarnya, Kanaya pun mengerjap, gadis itu berpikir bahwa tidak ada yang dia lupakan sebenarnya. Hingga lantas Kanaya pun menanyakan apa yang sudah dia lupakan, “apa yang aku lupakan? Rasanya semua barangku tidak ada yang tertinggal kok.”


“Yakin kamu tidak melupakan sesuatu?” Tanya Bisma lagi kepada Kanaya.


Menggeleng. Ya, di dalam sana Kanaya menggelengkan kepalanya, seolah-olah dia tengah berbicara dengan Bisma secara berhadap-hadapan. “Tidak … aku tidak melupakan apa pun kok.”


Bisma pun dari luar menghela napas panjang, “kamu melupakan untuk berbagi denganku, Nay … ada yang kamu simpan dalam dirimu sendiri, mungkinkah itu tadi karena Ayahku?” Tanya Bisma secara terang-terangan kepada Kanaya.


“Dokter, sebaiknya carilah wanita lain, setidaknya yang masih gadis. Menikahi seorang janda itu penuh liku … percayai kata-kataku ini, Dokter pantas mendapatkan seorang gadis.” ucap Kanaya yang lagi-lagi mengatakan bahwa supaya Bisma mencari seorang gadis saja.


“Lihatlah ke luar rumahmu, Nay …,” ucap Bisma dengan cepat melalui sambungan teleponnya.


“Aku masih di sini, Nay … aku sangat tahu dengan semua yang kamu pikirkan. Sayangnya, pria itu cukup keras kepala, Nay … aku akan menunggu di sini. Di luar. Jika, hatimu sudah yakin, keluarlah dan temui aku.” ucap Bisma dengan sungguh-sungguh.


Baru saja Bisma menutup mulutnya dan menutup panggilan selulernya, di atas sana kilatan petir nampak bergemuruh dan angin lebih besar bertiup, hingga tidak lama kemudian air hujan pun bertetesan dari langit. Dari balik kaca jendela kamarnya, Kanaya nampak mencoba menghubungi Bisma dan pria itu pun menerimanya, Ya, pria itu kembali menggeser ikon berwarna hijau di layar selulernya, “Kenapa Nay?”


“Please, masuklah ke dalam mobilmu. Sebentar lagi hujan deras. Lebih baik kamu pulang sekarang.” ucap Kanaya dengan nada yang cukup panik. Dia meminta kepada Bisma untuk masuk ke dalam mobil, memprediksi bahwa hujan akan turun.

__ADS_1


Di bawah sana tampak Bisma menggelengkan kepalanya, “hujan tidak berarti apa pun bagiku, Nay … aku akan menunggumu. Sampai besok pagi pun tidak masalah, lebih baik kamu datang jika hatimu sudah yakin. Jangan datang hanya karena mengasihani aku yang basah kuyup di sini. Tanyakan pada hatimu sendiri, bagaimana isi hatimu dan apa yang kamu rasakan saat ini.”


Gerimis yang turun, perlahan berganti menjadi hujan yang cukup lebat. Sementara di dalam kamarnya, Kanaya masih saja berjalan mondar-mandir, dia perlu meyakinkan dirinya sendiri sekarang. Terlebih saat Bisma sudah mengatakan bahwa dia cukup turun jika hatinya telah yakin, bukan turun karena merasa iba. Sejenak Kanaya menghentikan aktivitasnya yang layaknya mesin setrika, dia memilih diam. Dalam benaknya sekarang, Kanaya mencoba mencari tahu perasaan apa yang dia miliki untuk Bisma sekarang ini.


Perasaan senang saat bertemu? Ya.


Perasaan nyaman saat bertemu? Ya.


Perasaan terbuka? Ya.


Perasaan rindu sekalipun sesaat? Ya, ada.


Mungkinkah semua perasaan cukup menjelaskan bahwa menjelaskan bahwa semua perasaan itu mewakili perasaan suka? Cinta?


Hingga sesaat, Kanaya memejamkan matanya. Pria yang selalu baik dan mendukungnya, pria yang mendengarkan keluh kesahnya, dan juga pria yang selalu memotivasinya. Semua itu adalah Bisma. Perlahan, tanpa sengaja air mata gadis itu pun berderai, mungkinkah sebenarnya dia memang ada rasa untuk Bisma? Akan tetapi, pertemanan di antara keduanya yang justru menutupi rasa suka di dalam hati ini. Kanaya menyeka air mata dan memegangi dadanya yang seolah bergemuruh.


Jika aku berlari kepadamu sekarang ini, benarkah kamu menerima seorang janda ini Bisma? Benarkah kamu serius mengejar janda ini? Terkadang aku masih dengan semua luka yang kualami di masa lalu. Mungkinkah kamu adalah pria, layaknya pangeran yang Tuhan kirimkan untukku?

__ADS_1


Saat hatinya benar-benar yakin, Kanaya lantas mengambil sebuah payung yang ada di samping tempat tidurnya. Gadis itu berlari, bahkan menuruni anak tangga pun dia berlari, berharap bisa secepatnya menggapai Bisma yang sudah basah kuyup di luar sana. Dengan air mata yang kian berderai, Kanaya membuka pintu rumahnya dan lantas membuka lebar payungnya, gadis itu berlari dengan napas terengah-engah, menerobos hujan di luar sana dengan sebuah payung berwarna merah muda di tangannya. Menyadari bahwa di luar sana Kanaya tengah berlari ke arahnya, Bisma pun menyeka air hujan yang membasahi wajahnya, pria tersenyum.


Tanpa menunggu aba-aba, Kanaya berlari dan seolah menubruk Bisma begitu saja, memeluk pria itu dengan masih mempertahankan payung di satu tangannya, “perasaan kita sama, Dokter …” sebuah kata yang Kanaya ucapkan nyatanya cukup menjadi pengakuan bagi Bisma saat ini. Pria itu lantas menggerakkan kedua tangannya dan memeluk Kanaya dengan begitu eratnya. Membiarkan hujan di atasnya menjadi saksi bahwa perasaan keduanya sama, Kanaya tidak mempedulikan bilamana badannya menjadi kebasahan dengan memeluk Bisma dengan begitu eratnya.


__ADS_2