
Beberapa bulan kemudian …
Hari ini menjadi hari dinanti-nantikan bagi Sandra. Bagaimana tidak? Setelah sekian tahun menunggu, akhirnya pria yang merupakan Ayah bagi putranya Ravendra, hari ini akan bebas setelah bertahun-tahun menjalani kurungan penjara di Lembaga Permasyarakatan.
Sejak pagi, Sandra bahkan telah membersihkan apartemennya, membersihkan kamarnya dengan mengganti sprei dan selimut yang baru, tidak hanya itu Sandra juga memesan berbagai makanan kesukaan suaminya itu. Sekali pun hanya di rumah, tetapi Sandra ingin menyambut kepulangan suaminya itu.
Hingga menjelang siang tengah hari, suara bel pintu apartemennya pun berbunyi. Sandra menidurkan bayi Ravendra terlebih dahulu di dalam box bayi, kemudian membukakan pintu. Wanita itu tampak meneteskan air matanya, melihat sosok yang kini berada di hadapannya.
Ya, pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Darren, suaminya.
Sandra segera menghambur dalam pelukan suaminya itu, “Akhirnya … welcome home lagi, Babe,” sambutnya dengan berlinangan air mata.
Rasanya begitu terharu, menyambut pria yang hanya bisa dia kunjungi di Lapas selama beberapa tahun terakhir, dan akhirnya pria itu sudah pulang. Darren pun turut memeluk Sandra, pria itu juga tampak meneteskan air matanya.
“Huhh, akhirnya aku tiba juga di hari ini,” ucap Darren.
“Ayo, masuk ke dalam pasti kamu kecapean,” ajak Sandra.
Darren pun mengangguk dan mulai mengikuti Sandra memasuki apartemen itu. Sudah sekian tahun berlalu, apartemen yang dulu disinggahinya saat ingin menyalurkan hasratnya nyatanya tidak banyak berubah. Yang membuatnya berubah tentu karena kehadiran Ravendra di sana. Pria itu berkaca-kaca menatap Ravendra yang tengah tertidur, tangannya terulur ingin menyentuh Ravendra, tetapi Sandra segera mencegahnya. “Mandilah, terlebih dahulu, Babe. Sebelum memegang bayi sebaiknya tubuh kita bersih,” ucap Sandra.
Pria itu mengangguk, dan dia segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Kurang lebih 20 menit berlalu, Darren telah keluar dengan wajah yang lebih segar. Sekali pun badan pria itu terlihat lebih kurus, kulitnya yang semula putih juga menjadi lebih cokelat, tetapi di mata Sandra ketampanan Darren tidak pernah surut.
“Kamu ingin makan sekarang?” tanya Sandra.
Darren menggeleng, “Tidak, aku ingin menyentuh Ravendra,” ucapnya.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Darren pun menghampiri Ravendra. Darren memandangi bayi yang berusia hampir tiga bulan itu. Menyentuh pipinya yang chubby, pahanya juga terlihat chubby, kemudian Darren mendaratkan ciumannya di pipi Ravendra.
“Papa pulang, Nak,” ucapnya dengan menghela nafasnya.
Ada perasaan lega yang melingkupi Sandra, jikalau dulu Darren berkata bahwa dia ingin melakukan test DNA dan kini justru Darren terlihat menyayangi Ravendra, rasanya Sandra begitu bahagia. Berharap bahwa Darren benar-benar menerima Ravendra sebagai putranya dan tidak mengungkit-ungkit apa yang sudah terjadi di masa lalu.
Setelahnya, Darren lantas beralih untuk duduk di samping Sandra, “Apakah selama ini mengurus Vendra seorang diri melelahkan?” tanyanya.
“Tidak, aku justru menikmati hari-hariku menjadi seorang Ibu,” balas Sandra.
Ya, hadirnya Ravendra memang membuat perubahan dalam hidupnya. Sekali pun terkadang dia membutuhkan kehadiran Darren di sisinya, tetapi setiap kali melihat wajah Ravendra, membuat Sandra untuk kembali bangkit. Dia harus terus bersemangat dan berjuang untuk Ravendra, putranya.
Setelah itu, Sandra kemudian menilik sendiri bentuk tubuhnya sekarang ini, wanita itu menggigit bibirnya perlahan dan mulai menatap Darren, “Maaf, jika sekarang … badanku menjadi melar. Badanku tidak bisa kembali seperti dulu,” ucap Sandra kala itu.
Darren pun lantas mengamati tubuh Sandra yang bukan sekadar lebih berisi, tetapi Sandra benar-benar masih terlihat layaknya orang yang tengah hamil saat ini. Lengannya menjadi membesar, pipinya chubby, lipatan lemak di perut yang membuat Sandra terlihat gemuk. Bisa dibilang, bentuk tubuh Sandra sekarang layaknya Kanaya yang masih berbobot 89 kilogram waktu itu.
Sandra kemudian menatap Darren, “Kamu tidak suka wanita bertubuh gemuk kan? Akan tetapi, sekarang … tubuhku sebesar ini. Aku seperti kalkun bukan?” tanyanya dengan tersenyum getir.
Rupanya sekarang garis takdir berubah, dulu Sandra pernah menghina Kanaya dan memanggil wanita itu kalkun. Sekarang, Sandra justru mengalami bahwa tubuhnya melar sebanyak ini. Tidak ada lagi Sandra sang model dengan tubuhnya yang langsing dan seksibak gitar spanyol. Yang ada adalah Sandra yang gemuk, dengan lipatan lemak di area tubuhnya.
Darren hanya diam dan tak menjawab, tetapi pria itu sebenarnya menatap setiap inci tubuh Sandra dengan matanya.
“Usai melahirkan Ravendra, berat badannya tidak berkurang. Yang ada justru aku semakin merasa kelaparan karena Ravendra kuat sekali minum ASI-nya. Sehingga yang ada justru bobot tubuhnya semakin bertambah,” ucap Sandra.
Ya, mengembalikan bentuk tubuh ke posisi sebelum melahirkan memang menjadi PR besar bagi banyak wanita. Terkadang banyak wanita yang memang tidak berhasil mengembalikan berat tubuhnya ke posisi idealnya. Pun, yang dialami Sandra kini. Wanita itu justru mengalami kenaikan berat badan yang cukup drastis pasca melahirkan.
__ADS_1
“Tidak apa-apa,” sahut Darren pada akhirnya.
Akan tetapi, mengapa jawaban yang diberikan Darren nyatanya tidak membuat Sandra menerima dengan lega. Jawaban itu seolah hanya sekadar jawaban formalitas belaka. Kendati demikian, Sandra memilih diam.
“Kamu ingin makan? Aku sudah memesankan makanan kesukaanmu,” ucap Sandra pada akhirnya. Seolah mengalihkan pembicaraan itu kepada hal yang lain.
Darren mengangguk, “Baiklah, aku akan makan,” jawabnya.
Di meja makan, Sandra pun mengisi piring kosong Darren dengan nasi putih, lauk, dan sayuran. Sementara Sandra cukup duduk manis dan melihat Darren menikmati makan siangnya kala itu.
“Ayo makanlah,” ucap Sandra dengan tersenyum.
“Kamu tidak makan?” tanya Darren.
“Tidak, aku makan malam saja sekalian,” balas Sandra.
Darren pun mengangguk dan mulai menyantap makanan yang sudah diambilkan Sandra untuknya. Jika terbiasa di dalam Lembaga Pemasyarakatan memakan nasi yang keras, kali ini Darren bisa kembali merasakan nasi yang harum dan pulen. Begitu enak di indera perasanya. Jika, sayuran di Lapas hanya ala kadarnya dan sering kali hanya telor dadar, kali ini dia memakan sayuran dan lauk pauk yang enak.
Untuk itu, Darren pun menaruh sendok dan garpunya sejenak, pria itu lantas menatap Sandra, “Terima kasih buat semuanya, San,” ucapnya kali ini.
“Iya, sama-sama … makanlah yang banyak. Mau tambah lagi? Biar aku ambilkan,” tawar Sandra kemudian.
Darren menggelengkan kepalanya perlahan, “Tidak, segini dulu … nanti malam kan masih makan lagi,” jawabnya.
Akhirnya Sandra pun mengangguk dan tersenyum. Dalam hatinya, Sandra bahagia karena bisa berkumpul dengan pria yang dinikahinya itu setelah sekian tahun terpisah karena Darren masih harus mendekam di balik jeruji besi. Akan tetapi, Sandra pun merasa cemas karena berat tubuhnya yang begitu banyak sekarang. Ada ketakutan yang tersisa jika Darren tidak menginginkannya karena tubuhnya sekarang yang berukuran bigsize.
__ADS_1
Seolah-olah garis takdir memang mempermainkan Sandra. Di masa lalu, dirinya begitu membenci Kanaya dan turut membully wanita itu karena sizenya yang besar, dan sekarang Sandra pun mengalami sendiri bagaimana beratnya yang nyaris sebesar Kanaya di masa lalu. Ada kegetiran yang melanda hati Sandra kali ini, dia berharap pria yang duduk di depannya ini bisa menerima keadaannya apa adanya.