Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Takdir dan Cinta


__ADS_3

Saat seseorang yang kamu cintai mengakui bahwa kamu adalah takdirnya, sudah tentu hati layaknya berdesir dengan hebat. Itulah yang dirasakan Bisma saat ini. Dalam hatinya, pria itu begitu bahagia saat Kanaya dengan wajah yang tersipu malu mengatakan bahwa dia adalah takdirnya.


“Mas, boleh aku bertanya?” tanya Kanaya kepada suaminya itu.


Bisma pun mengangguk, “Boleh … tanyakan apa saja padaku. Apa?”


“Pernah pacaran sebelumnya?” tanya Kanaya kali ini. Sebenarnya memang Kanaya hanya ingin tahu siapa wanita yang pertama kali menjadi pacar Bisma.


Pria itu lantas menggeleng, “Enggak … enggak pernah pacaran. Lagian sekolah kedokteran dulu tidak boleh main-main, jadi aku fokus kuliah. Setelah itu jadi Koas di Rumah Sakit, hampir tidak punya waktu. Waktuku habis untuk menulis pratikum, menulis dengan tulisan tangan tidak boleh diketik. Ya, begitulah nasib para mahasiswa kedokteran, kuliah tidak bisa main-main.” ucap Bisma sembari menatap Kanaya, “Kenapa emangnya? Kamu pernah punya pacar sebelumnya?” giliran Bisma yang bertanya kepada Kanaya.


Kanaya pun menggeleng, “Enggak juga. Dulu kan aku gendut, mana ada cowok yang mau sama aku. Cowok kan biasanya enggak suka sama wanita yang gendut, menganggapnya karena tubuh mereka tidak proporsional. Malu-maluin buat dijadikan gandengan. Pacar enggak punya, kalau mantan suami punya.” jawab Kanaya sembari cemberut.


Rasanya begitu hatinya diremas, memang dia tidak pernah memiliki pacar, tetapi dia memiliki mantan suami. Hidup memang terkadang lucu, seperti yang dialami Kanaya saat ini.


Bisma pun lantas tertawa, “Semua hanya masa lalu Sayang … di masa kini dan masa yang datang, kita akan selalu bersama ya. Ya, walaupun sejak lama, aku itu sukanya sama kamu. Akan tetapi, kisah kita unik ya dari teman SMA, kita ketemu lagi waktu kamu sudah milik orang lain, aku menjadi penggemar novel-novelmu, dan pertemuan kita kembali hingga akhirnya kita bisa menikah. Bersama untuk waktu yang sangat lama.” ucapnya sembari menggenggam satu tangan Kanaya.


"Amin ... itu juga doaku. Ketemu kamu rasanya tidak menyangka juga sih, di SMA kita keliatannya jarang mengobrol juga kan. Saat kita bertemu kembali waktu aku sakit di Rumah Sakit, aku pun tidak mengenalimu. Kejutan juga tiba saat ternyata pembaca novelku itu adalah kamu. Lalu, kita bertemu di saat yang tak terduga dan kembali bertemu di Batam. Rasanya memang semua ini adalah takdir dari Tuhan." ucap Kanaya.


Bisma pun mengangguk setuju, "Ya, mungkin inilah takdir dari Tuhan. Dia yang sengaja mempertemukan kita dengan cara-Nya, dan sekarang Dia juga yang menyatukan kita berdua." ucapnya sembari menatap wajah ayu istrinya itu.

__ADS_1


Setelah makanan yang dipesan mereka habis, Bisma lantas mengajak Kanaya kembali ke dalam hotel karena angin malam di pinggiran Selat Bosporus yang bertiup semakin kencang. Menikmati berjalan kaki berdua melewati pedestrian yang menjajakan berbagai street food.


“Mau bawa makanan dari street food ini ke hotel?” tawar Bisma kepada Kanaya.


Dengan cepat Kanaya pun menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu … perutku saja sudah sangat kenyang. Lagipula Kofte yang aku makan tadi sudah mengisi perutku sampai kenyang.” jawabnya sembari memegangi perutnya yang terasa penuh.


Beberapa menit berjalan dan kini mereka berdua telah kembali memasuki kamar hotel. Kanaya memilih berdiri di dekat kaca jendela yang berukuran besar itu dengan pemandangan yang menghadap ke Selat Bosporus itu. Sementara Bisma lantas berdiri di belakang Kanaya, mendekap wanitanya itu dengan begitu erat.


“Kamu suka bisa sampai di Istanbul?” tanyanya sembari mencerukkan kepalanya ke atas pundah istrinya itu.


“Suka … aku juga enggak nyangka Papa Jaya dan Mama Sasmita mengatur semua ini untuk kita.” jawabnya.


Lantaran sudah di Istanbul, maka Kanaya ingin mengunjungi Cappadocia tentunya. “Cappadocia, Mas … mau?” tanyanya.


“Boleh.” sahut Bisma sembari mengecup leher istrinya itu.


Satu kecupan yang membuat seluruh badan Kanaya terasa begitu tegang. Wanita itu merasakan bagai sesak napas saat bibir suaminya hinggap dan mengecupi lehernya. Bahkan kedua tangannya mencengkeram kedua tangan suaminya yang melingkari pinggangnya.


Bisma kemudian memajukan kepalanya, kemudian satu tangannya berusaha memiringkan kepala Kanaya, pria itu lantas mencium bibir Kanaya dengan posisi dia masih berada di belakang istrinya itu. Menyapa bibir nan ranum itu dengan begitu lembut. Merasai rasa manis dan hangatnya rongga mulut milik istrinya itu. Pria itu baru melepaskan bibirnya saat Kanaya terasa terengah-engah.

__ADS_1


Usai ciumannya usai, Bisma dengan cepat membalik badan Kanaya hingga sekarang keduanya berhadap-hadapan. Pria itu menatap Kanaya dengan menampilkan senyuman di wajahnya, kemudian perlahan dia mengangkat pinggang Kanaya, menggendongnya di depan dan mulai menyapa kembali bibir Kanaya. Bila sebelumnya dia mencium bibir Kanaya dengan ciuman yang begitu lembut, tetapi kali ini ciumannya lebih menggebu.


Kanaya melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya dan terasa begitu malu sebenarnya dengan posisi yang seperti ini dengan suaminya itu. Lantas Bisma bergerak, tetap mempertahankan Kanaya dalam gendongannya, kemudian mendudukkan Kanaya di sebuah meja. Di sana, pria itu kembali mencium Kanaya, mengecup, dan beberapa kali membuai bibirnya itu dengan bibirnya sendiri.


“Balas ciumanku, Sayang.” ucapnya yang kali ini seolah meminta Kanaya untuk membalas ciumannya.


Mendengar permintaan suaminya itu, Kanaya semula membuka matanya, wanita itu berusaha memiringkan kepalanya, kemudian membuka bibirnya sedikit kemudian memberikan ciuman di bibir suaminya. Menciumnya dengan begitu lembut, merasakan bibir suaminya dengan memejamkan kedua matanya, dan dia seolah mengulang bagaimana cara suaminya menciumnya itulah yang dia lakukan. Memorinya cukup kuat untuk menirukan apa yang sudah dilakukan suaminya sebelumnya.


Menerima ciuman, tanpa basa-basi Bisma menyantap bibir istrinya dengan hasrat yang memburu. Berawal dari bibir, pria itu lantas menciumi area leher jenjang istrinya, meninggalkan jejak basah dan hangat di sana. Sapuannya lidah benar-benar membuat Kanaya meremang dan mendesis. Bahkan tangan pria itu yang semula berada di pinggang, kini dengan berani menyusuri lekuk tubuh istrinya. Memegang, meraba, dan menyentuh halusnya epidermis kulit istrinya yang membuat Kanaya menarik rambutnya, meremasnya sembari menghela napas.


Bisma lantas membuka matanya dan menelisipkan untaian rambut Kanaya ke belakang telinga, “Cantik …” ucapnya dengan suaranya yang parau dan dalam. Pria itu menatap wajah Kanaya dengan tatapan yang memuja, bersemu merahlah wajah Kanaya saat itu.


“Boleh malam ini Sayang?” tanyanya sembari membelai sisi wajah Kanaya.


Mendapat pertanyaan dari Bisma, Kanaya rasanya begitu malu. “Kalau sakit bagaimana?” tanyanya kepada suaminya itu. Sebab, Kanaya masih merasakan rasa sakit dari malam pertamanya bersama suaminya itu. Sakit yang seolah menjalar ke seluruh tubuhnya.


“Aku akan pelan-pelan. Masak cuma boleh satu kali aja sih?” tanya pria itu sembari menunggu jawaban Kanaya.


Kanaya pun akhirnya menganggukkan kepalanya, mengirimkan sinyal lampu hijau untuk suaminya itu. Lantaran suaminya berjanji akan pelan-pelan, maka Kanaya pun akan mengizinkan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2