Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Keusilan Suami


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan Kanaya, rupanya diam-diam Bisma mendengar perkataan istrinya itu kepada Gisell melalui sambungan telepon. Pria yang semula sibuk melihat race moto gp itu, perlahan mendekati istrinya.


"Jadi ... bagimu, aku pria sebaik itu ya?" tanya Bisma sembari menggerak-gerakkan alis matanya.


Kanaya yang usai menelpon pun menaruh handphonenya terlebih dahulu di atas nakas, barulah melihat wajah suaminya itu. "Maksudnya, kenapa Mas?" tanyanya.


"Katamu tadi aku pria yang sangat baik." ucap Bisma sembari tersenyum menatap wajah Kanaya.


Sontak saja, Kanaya merasa malu dengan ucapan suaminya. Berarti suaminya itu mendengarkan percakapannya di telepon dengan Gisell. Rasa malu yang tersirat melalui wajah Kanaya yang bersemu merah.


Kanaya pun menggelengkan kepalanya, "Enggak ... itu tadi jawaban spontanitas kok." ucapnya berusaha mengelak.


"Jujur saja Sayang ... jujur lebih bagus kok." sahut Bisma kali ini.


Kendati demikian, Kanaya justru tidak ingin memperpanjang percakapan kali ini dengan suaminya itu. Dengan segera dia mengalihkan ke pembicaraan lainnya.


"Ini Moto GPnya di sirkuit mana sih Mas? Kamu sukanya rider yang mana Mas?" tanya Kanaya kepada suaminya itu.


Akan tetapi, Bisma hanya tersenyum. Pria itu lantas kembali mengalihkan sorot matanya ke Televisi berukuran 42 inci itu.


"Sirkuit Mugello - Italia, Sayang ... harusnya di sini sih Valentino Rossi bisa menang. Namun, dia memulai start dari posisi delapan." sahutnya.

__ADS_1


Kanaya pun mengangguk, mencoba memahami jawaban dari suaminya itu. Ya, dia beberapa kali melihat Moto GP di siaran televisi saat mendiang Ayahnya masih hidup, sekarang dengan banyaknya rider, Kanaya pun juga tidak hafal. Akan tetapi, jika rider legendaris macam Valentino Rossi, sudah pasti Kanaya pun tahu.


"O ... paling sih VR46 (julukan Valentino Rossi dengan nomor sepeda motornya 46) enggak juara sih Mas. Menurutku mungkin Marquez atau Dovisiozo yang juara." sahutnya yang hanya sebatas menebak-nebak saja.


Bisma pun mengangguk, "Istriku tahu Moto GP juga ya ternyata. Obrolan kita bisa beragam dong Sayang. Biasanya kan cewek pembicaraannya sekitar make up, kecantikan, gosip, gitu-gitu. Sama kamu ya aku bisa cerita kesehatan, Moto GP, atau novel-novel yang aku baca di platform membaca dan menulis novel." ucapnya sembari tertawa.


Keduanya pun sama-sama tertawa, membina rumah tangga bersama orang yang kita sayangi dan membangun keharmonisan dengan obrolan memang terasa sangat menyenangkan. Itulah yang dilakukan oleh Bisma dan juga Kanaya saat ini. Topik sederhana, siaran televisi, atau apa pun bisa dijadikan obrolan oleh pasangan suami istri tersebut.


Akan tetapi, saat Kanaya tengah fokus melihat siaran Moto GP itu, Bisma perlahan mengikis jarak duduknya, kian mendekat dengan Kanaya. Satu tangannya kini meraih rambut istrinya itu, mengelusnya, mengacaknya, bahkan memilinnya dengan tangannya. Kanaya sendiri pun tidak keberatan dengan sikap suaminya itu.


"Sayang, jawab dong ... jadi tadi benar ya, aku pria yang baik buat kamu ya? Kalau nyatanya aku tidak sebaik itu bagaimana?" tanya Bisma dengan tiba-tiba.


Merasa mendapat pertanyaan tiba-tiba dari suaminya, Kanaya pun menoleh dan mengernyitkan keningnya, "Maksud kamu gimana Mas? Kamu cuma pura-pura baik aja sama aku?" Kanaya justru balik bertanya.


Melihat ekspresi wajah dari suaminya itu, perlahan Kanaya menaruh tangan suaminya yang masih berusaha memainkan rambutnya itu dan menghempaskannya perlahan. Mulailah wanita itu berbicara, "Mungkin memang nasibku yang tidak mujur, karena harus hidup dengan pria yang penuh pura-pura saja." jawabnya dengan mata yang membola sempurna.


Ada helaan napas yang terasa begitu berat yang diucapkan oleh Kanaya, akhirnya wanita itu memilih bangkit meninggalkan suaminya yang masih duduk di sofa di ruang keluarga itu. Kanaya memilih masuk ke dalam kamarnya. Ada perasaan kecewa, saat suaminya yang sudah dianggapnya sebagai pria baik dan juga layaknya pelangi terindah dalam hidupnya justru berkata demikian.


Tanpa Kanaya sadari, rupanya Bisma pun turut beranjak dan mengekori Kanaya menuju kamar tidur mereka. Pria itu langsung mendekap erat Kanaya dari belakang dan memeluknya dengan begitu erat. Akan tetapi, kedua tangan Kanaya hanya luruh di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Tubuhnya bahkan terasa begitu kaku dan tegang. Justru dia ingin mengelak dari dekapan hangat suaminya yang selama ini menjadi kesukaannya itu.


"Aku cuma bercanda Sayang ... aku tidak pernah berpura-pura sama kamu. Aku serius sama kamu." ucap Bisma sembari mencerukkan kepalanya di bahu istrinya.

__ADS_1


Sementara Kanaya hanya memilih diam, dia sama sekali tidak bereaksi apa pun. Bahkan, wanita hamil itu mulai menangis, tetesan air matanya secara tidak sengaja menetes di tangan suaminya yang tengah mendekapnya erat itu.


Menyadari ada tetesan air mata, Bisma pun kemudian mengurai pelukannya dan dia kini berada di depan Kanaya. Berhadapan muka dengan muka dengan istrinya itu, ibu jarinya bergerak untuk menyeka air mata yang sudah beberapa kali menetes dari sana.


"Sssttsss ... kok jadi malahan nangis sih? Aku kan bercanda Sayang." ucapnya dengan menangkup wajah Kanaya, mendekatkannya untuk bisa menatap wajahnya.


"Lihat aku, Sayang ... tatap mataku, apa aku keliatan berpura-pura, aku kan iseng tadi Sayang. Maaf, justru bikin kamu sedih kayak gini. Maaf ya." ucap Bisma yang terlihat begitu menyesal.


Satu fakta yang dia lupakan bahwa istrinya itu sedang mengandung dan perasaannya menjadi lebih sensitif. Hanya berniat iseng dan sedikit usil, justru membuat istrinya menangis.


Akan tetapi, tangisan Kanaya justru begitu terasa. Hari ini rasanya sedikit candaan dari suaminya justru menjadi kesedihan yang berubah menjadi kekecewaan baginya.


"Maaf ya ... maafkan aku." ucap Bisma lagi. Kali ini dia menarik kedua tangan Kanaya yang masih luruh di sisi tubuhnya dan melingkarkannya di pinggangnya sendiri. Kemudian pria itu kini memeluk Kanaya dengan begitu erat.


"Aku gak akan iseng lagi, maaf ya Bunda Sayang ... maafkan Ayah." Lagi-lagi Bisma meminta maaf dan berharap istrinya itu tidak lagi menangis dan bisa memaafkannya.


Sekian waktu diam, akhirnya Kanaya pun mulai berbicara.


"Jangan bercanda seperti itu lagi Mas, banyak kisah pilu di hidupku dulu. Bahkan dulu pun aku hidup di lembah air mata. Kamu tega banget sih." ucapnya sembari memukuli dada suaminya itu dengan tangannya.


Bisma pun menghela napasnya, membiarkan istrinya memukul dadanya, karena pukulan itu pun tidak terasa menyakitinya, tetapi justru bentuk istrinya tengah kesal dengannya.

__ADS_1


"Maaf ya ..." ucap Bisma lagi.


Kanaya justru masih diam, dan menangis dengan mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Setidaknya dengan menangis, rasa kecewa di dadanya bisa tersalurkan dan dengan menangis, setidaknya Bisma juga akan tahu, bahwa bercanda dengan istri yang tengah sensitif dengan istrinya yang baru mengandung bisa menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.


__ADS_2