Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Sebuah Surat


__ADS_3

Selang beberapa hari, Sandra pun berpikir bagaimana caranya menemui Kanaya. Jika menunggu pagi hari di Jaya Corp rasanya bukan waktu yang aman untuknya. Sebab jika menunggu di pagi hari, dan dirinya bertemu dengan suami Kanaya yang ada justru dirinya akan mendapatkan ancaman kembali. Untuk itu, Sandra harus mencari cara untuk memberikan surat tersebut kepada Kanaya.


Hingga akhirnya tercetuslah sebuah ide bahwa Sandra akan memberikan surat tersebut di saat jam makan siang. Mulailah Sandra bergegas menuju Jaya Corp untuk menemui Kanaya.


Dalam perjalanan, Sandra beberapa kali menatap pada amplop berwarna putih yang berada di dalam sling bagnya itu.


"Sebenarnya apa yang kamu tulis di dalam surat ini Darren? Sudah melihat semuanya ini apakah kamu masih ingin mengejar wanita itu dan berusaha mendapatkannya kembali usai hari kebebasanmu nanti. Sayangnya, aku berani bertaruh bahwa Kanaya dan suaminya sama-sama tidak akan terpisahkan." gumam Sandra.


Begitu telah berada di Jaya Corp, Sandra pun menemui resepsionis dan mengatakan ingin bertemu dengan Kanaya. Wanita itu menunggu di lobby dan berharap dirinya tidak akan terlalu lama berada di Jaya Corp. Jangan sampai Papa Jaya tahu jika dia masih berkeliaran di Jaya Corp karena urusannya bisa panjang.


Menunggu sekian menit, akhirnya Kanaya pun turun dan menemuinya. Kanaya memutar bola matanya dengan malas saat kembali berhadapan dengan Sandra.


"Ada apalagi?" tanya Kanaya dengan membawa kedua tangannya bersidekap di depan dadanya.


Lantaran memiliki pengalaman buruk dengan Sandra, maka Kanaya pun patut was-was jika harus kembali berhadapan dengan wanita yang kini berdiri di hadapannya itu.


"Tenang saja, aku kemari bukan untuk adu mulut denganmu." ucap Sandra dengan menampilkan seringai di sudut bibirnya.


Kanaya pun menghela napasnya, "Lalu untuk apa? Cepat katakan. Waktuku tidak banyak." ucapnya yang meminta Sandra untuk langsung mengatakan apa maksud kedatangannya.


Mulailah Sandra mengambil sebuah amplop berwarna putih kepada Kanaya. "Ini terimalah," ucapnya dengan menyodorkan amplop itu kepada Kanaya.


Kanaya hanya melihat amplop itu, tetapi tangannya masih diam dan enggan bergerak.


"Bukan dariku, dari seseorang yang meminta tolong padaku untuk menyerahkannya kepadamu." ucapnya dengan meraih tangan kanan Kanaya dan memaksa Kanaya untuk menerima amplop berwarna putih itu.


"Tugasku sudah selesai. Aku pamit." ucap Sandra dan kemudian berlalu pergi dari hadapan Kanaya dan keluar dari Jaya Corp.


Masih berdiri di tempatnya, Kanaya pun menatap amplop berwarna putih yang kini dalam tangannya. Setelahnya, dia memilih untuk kembali memasuki ruangannya.


***

__ADS_1


Dear Kanaya,


Kamu pasti terkejut karena mendapatkan surat ini dengan tiba-tiba. Aku memang memiliki ide dadakan dan segera menuliskannya, dan aku berharap bahwa kamu akan menerima dan sudi membacanya.


Bagaimana kabarmu Naya? Di sini aku selalu memikirkanmu. Mencari cara untuk bisa lepas dari kurungan ini, tetapi nyatanya aku tetap tidak bisa. Huh, di sini bahkan aku terkadang tidak menyadari bahwa hari telah berganti. Pagi menjadi siang, siang menjadi sore, dan malam tiba hingga kembali pagi lagi.


Naya, benarkah saat ini kamu sedang hamil? Jika, usai aku bebas dari kurungan ini dan kembali mengejarmu apakah mungkin pintu akan terbuka? Mungkin aku sudah gila, Nay ... dulu aku yang menolakmu mati-matian. Sekarang justru aku menjalani hari-hari di balik jeruji besi dengan mengingatnya sebagai hari-hari pembalasan atas buruknya sikapku dulu.


Jikalau kesempatan masih mungkin, jikalau kamu berubah pikiran, tolong datangi aku dan kunjungi aku di rumah tahanan. Aku sangat merindukanmu siang dan malam.


Sekali saja Nay, datang dan kunjungilah aku. Bila hatimu cukup lapang, maafkan juga semua dosaku di masa lalu.


Darren J. Wardhana


Usai membaca surat itu, tangan Kanaya justru merematnya. Sebuah surat yang konyol baginya. Bagaimana pun, semua pintu sudah tertutup. Lagipula, Kanaya memiliki alasan sendiri kenapa dia tidak pernah memberi kesempatan untuk pria bernama Darren itu. Pertama, Darren adalah pria yang menodai pernikahan mereka dan memiliki menghabiskan pergumulan hangat dengan Sandra. Kedua, Darren merundungnya habis-habisan saat dirinya masih gemuk. Apa yang dilakukan Darren adalah wujud kekerasan dalam rumah tangga secara verbal. Dua alasan utama ini yang membuat Kanaya tidak akan membuka celah sedikit pun untuk Darren.


"Semua ini konyol, Darren. Sampai di mana pun aku tidak akan kembali padamu. Aku akan nyaman dan mencari perlindungan pada sosok suamiku." ucap Kanaya yang kemudian memasukkan surat tersebut ke dalam amplopnya.


Dengan berbekal semuanya itu, maka Kanaya berketetapan akan jujur dan menceritakan semuanya dengan suaminya.


***


Malam hari di apartemen Kanaya dan Bisma


Pasangan suami istri itu tengah usai menikmati makan malam mereka, dan kini keduanya memilih duduk dan menatap panorama malam ibukota dari apartemennya yang terlihat begitu indah. Duduk bersama dan menatap panorama dari balik kaca jendela besar di apartemennya rasanya menjadi kesenangan Kanaya dan Bisma.


Mulailah Kanaya berdiri sejenak dan mengambil surat yang siang tadi dia terima. Dia sudah berketetapan untuk bisa menceritakan semuanya kepada suaminya. Janjinya, bahwa dia tidak akan menyembunyikan apa pun lagi dari suaminya itu.


"Mas, aku boleh cerita?" tanya Kanaya dengan menyerongkan duduk untuk bisa menatap wajah suaminya.


Perlahan Bisma pun menolehkan lehernya, hingga kini dia bisa melihat wajah istrinya itu, "Boleh ... kenapa?"

__ADS_1


"Aku mau cerita, mau jujur … tetapi, jangan marah ya." ucap Kanaya lagi.


Merasakan ada hal yang penting dan melihat keseriusan di wajah Kanaya, Bisma pun mengangguk. "Iya, aku akan mendengarkan ceritamu dulu. Jujur lebih baik, daripada jujur tetapi terlambat." ucapnya.


Kanaya pun mengangguk, "Makanya itu, lebih baik aku cerita dan jujur sekarang  ini." ucapnya lagi dan menatap wajah suaminya itu.


"Baiklah … kamu boleh cerita dan aku akan mendengarkan ceritamu terlebih dahulu." ucap Bisma perlahan.


Ya, setidaknya Kanaya juga sudah belajar dari kesalahannya sebelumnya bahwa dirinya tidak akan jujur tapi terlambat, jika sudah berkeinginan jujur, maka Kanaya akan benar-benar jujur. Ketidakjujurannya justru membuat suaminya diam dan mengabaikannya. Kanaya tidak ingin semua itu terjadi, maka dari itu dia akan berusaha terbuka dan siap menerima respons dari suaminya itu.


...🍃🍃🍃...


Dear My Bestie,


Mampir lagi yuk ke beberapa novel di bawah ini. Bisa mengisi waktu luang sambil baca-baca novel.


Aku yang Disimpan by Yuresia Ca



Ex Mafia Hot Daddy karya Bhebz



Cinta Jangan Datang Terlambat karya Aveeiii



Nada Nara karya SK Sari


__ADS_1


__ADS_2